Connect with us

SOSOK

Ary Egahni Perjuangkan Cara Peladang Dayak Buka Lahan dalam RUU MHA

Diterbitkan

pada

Anggota DPR RI Ary Eghani Ben Bahat. Foto : ags
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. COM, KUALA KAPUAS – Anggota DPR RI Fraksi NasDem Dapil Kalimantan Tengah, Ary Egahni Ben Bahat dikenal sebagai sosok yang sangat memperhatikan kehidupan masyarakat adat dayak. Ary yang juga merupakan anggota panitia kerja (Panja) RUU Masyarakat Hukum Adat (MHA) di badan legislasi DPR RI menyuarakan agar hak-hak masyarakat adat dayak bisa terpenuhi.

Salah satu yang lantang Ary suarakan adalah tata cara kearifan lokal masyarakat dayak dalam berladang. Mereka, kata Ary, biasa membuka lahan sebagai tempat berladang dengan cara membakar. Menurutnya, kebiasaan masyarakat adat dayak tersebut sudah ada sejak zaman Indonesia belum merdeka.

Istri dari Bupati Kapuas, Ir Ben Brahim S Bahat ini juga menilai UU nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tersebut perlu pengecualian. Pada poin H dalam UU tersebut disebutkan, dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

“Kami itu punya namanya peladang tradisional. Saya perlu jelaskan bahwa orang dayak sejak dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka, sejak zaman penjajahan pun sudah punya kearifan lokal membuka lahan pertanian dengan membakar. Dan tidak pernah terjadi Karhutla,” ujar Ary Egahni.



Anggota Komisi III DPR RI ini mengungkapkan, para peladang lokal mempunyai teknik tersendiri dalam melakukan pembakaran untuk pembukaan lahan. Teknik tersebut, Kata Ery, tidak akan menimbulkan Karhutla.

“Satu bentuk budaya lokal orang dayak asli. Mereka ketika membuka lahan ada ilmunya. Jadi melihat arah angin, mengawal lahan, dan sebagainya,” kata Ary.

“Jadi misalkan lahan yang akan dibuka luasnya 20 kali 30 meter persegi, hanya bagian itu yang terbakar, tidak lebih dari itu, apalagi sampai terjadi Karhutla, tidak akan mungkin terjadi,” tambahnya.

Perjuangan Ary yang cukup panjang akhirnya membuahkan hasil. Setelah lantang menyuarakan hak-hak masyarakat adat dayak di depan Kapolri dan badan legislasi. Keluarlah payung hukum yang melindungi masyarakat adat dayak.

“Kapolda Kalteng sudah memberikan keringanan bagi masyarakat adat untuk membuka lahan dengan cara dibakar. Para pemimpin di 13 kabupaten dan 1 kota juga akhirnya mengeluarkan Perbup dan Perwali yang melindungi masyarakat adat dalam membuka lahan secara tradisional,” ucap Ary.

“Doakan agar RUU MHA ini segera dapat dieksekusi menjadi UU MHA. Karena sudah selesai dalam pembahasan tingkat satu dan dua,” tambahnya.

Selain menyuarakan keadilan bagi para peladang tradisional masyarakat adat. Ary juga aktif menyuarakan kearifan lokal masyarakat adat fayak seperti hak ulayat dan hak atas tanah adat. (kanalkalimantan.com/ags)

 

 

Reporter: Ags
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan
Komentar

SOSOK

Cerita Gus Mus tentang Gus Iim Adik Gus Dur: Dulu Perlente Kini Mirip Sufi

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

KH Hasyim Wahid dan Gus Dur (Nu.or.id)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Adik bungsu Gus Dur, KH Hasyim Wahid atau Gus Iim meninggal dunia ada Sabtu (1/8/2020). KH Ahmad Mustofa Bisri atau dikenal Gus Mus mengenang sosoknya dan menceritakan perbedaan penampilannya dulu dan kekinian.

Menurut Gus Mus, dulu Gus Iim penampilannya sangat perlente. Namun, ia terkejut ketika bertemu kembali belakangan ini.

Cerita tersebut disampaikan Gus Mus dalam postingan di Instagram yang diunggah pada Sabtu (1/8/2020).

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini mengatakan bahwa Gus Iim merupakan sosok yang ‘misterius’. Sikapnya berbeda dengan Gus Dur.



“Sama-sama putera Pahlawan Nasional, sang kakak putera sulung dan sang adik putera bungsu. Keduanya sama-sama memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sang kakak populer dan terbuka, sang adik tak suka menonjol dan ‘misterius’,” tutur Gus Mus.

Ia pertama kali mengenal Gus Iim karena dikenalkan oleh Gus Dur. Saat itu, Gus Iim selalu tampil perlente.

“Waktu itu setiap ketemu, kulihat sang adik selalu tampil perlente, dengan rambut kribo, berdasi, dan menenteng aktentas yang tampak mewah,” cerita Gus Mus.

Berdasarkan penuturan Gus Dur, saat itu adiknya menjadi pengusaha dan berkantor di salah satu hotel berbintang.

Lalu selama beberapa tahun Gus Mus tidak pernah bertemu dengan adik Gus Dur itu lagi. Sosoknya seperti ‘hilang ditelan bumi’.

“Setelah beberapa tahun, muncul kembali dengan penampilan yang sangat berbeda,” ungkap Gus Mus.

Saat diajak Gus Dur ke rumah adik bungsunya itu, Gus Mus betul-betul tercengang. Penampilan Gus Iim tidak lagi perlente.

Gus Iim saat ditemui hanya memakai kaus oblong dan sarungan. Cara bicaranya dianggap seperti sufi, kata Gus Mus.

“Sikapnya kepadaku pun berbeda. Kalau dulu, seperti umumnya pengusaha, terkesan acuh tak acuh kepada orang biasa, sekarang begitu ramah dan semanak sebagaimana kakaknya. Bicaranya kelihatan seperti seorang Sufi yang arif,” ujarnya.

Cerita Gus Mus tentang Gus Lim Adik Gus Dur: Dulu Perlente Kini Mirip Sufi (Instagram)

Tidak hanya itu, sosok Gus Iim juga pernah membuat kejutan dengan menulis Antologi puisi berjudul “Bunglon”. Banyak orang tidak menyangka karya tersebut berasal dari adik bungsu Gus Dur.

“Dan yang mungkin tak diketahui oleh banyak orang, tokoh ‘misterius’ yang sempat dijuluki pengamat Internasional ini, pernah menulis Antologi puisi berjudul ‘Bunglon’ yang dahsyat dan saat peluncurannya di TIM mengejutkan kalangan seniman yang tidak menyangka bahwa tokoh ini juga menguasai bidang seni seperti kakaknya,” ungkap Gus Mus.

Untuk diketahui, KH Hasyim Wahid atau Gus Iim, meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2020) menjelang subuh, di Rumah Sakit Mayapada Jakarta.

Menurut keluarga, adik bungsu KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini dimakamkan di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

KH Hasyim Wahid atau Gus Iim merupakan salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Ia memiliki pengalaman di bidang pemerintahan sebagai salah satu pejabat di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).

Selain itu, ia juga pernah menjadi salah satu anggota dan pengurus dari PDI Perjuangan dan anggota YKPK (Yayasan Keluarga Pembina Kesatuan).

Gus Iim juga pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), satu almamater dengan kakaknya, Gus Sholah yang lebih dulu wafat pada 2 Februari 2020.

Berbeda dengan Wahid bersaudara yang lainnya, Gus Iim ini tidak banyak muncul di publik, maka biasa disebut tokoh di balik layar. (suara.com)

Reporter: suara.com
Editor: kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

SOSOK

Desainer Muda Indonesia Juarai Asia Young Designer Awards 2020  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Menampilkan karya Rumah Kopi yang mengadaptasi unsur lokal Kampung Buni Kasih, Jawa Barat, Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan (UPH), menjuarai Asia Young Designer Awards 2020.
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Desainer muda Indonesia, Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan (UPH) jadi pemenang utama dalam Asia Young Designer Awards 2020.

Ia menampilkan Rumah Kopi  yang mengadaptasi unsur lokal Kampung Buni Kasih, Jawa Barat.

Kemenangan ini Greta raih setelah berkompetisi dengan banyak mahasiswa dari berbagai negara.

Ada 26 mahasiswa Arsitektur dan Desain Interior dari 15 negara telah mempresentasikan karya terbaiknya melalui ajang kompetisi Asia Young Designer Awards (AYDA) Summit yang ke-13 bertema “Forward: A Sustainable Future”.



 

Pada AYDA Summit tahun ini, Indonesia diwakili oleh dua mahasiswa, untuk kategori Arsitektur diwakili oleh Febri Aji Prasetyo dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dan Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan untuk kategori Desain Interior.

Para dewan juri AYDA Summit telah menobatkan Greta Elsa Nurtjahja dari Indonesia sebagai pemenang utama kategori Desain Interior dan Lin Honghan dari China sebagai pemenang utama kategori Arsitektur.

Baca juga: Covid-19 di Kalsel Hari Ini Tembus 5 Ribu, Pasien Meninggal Capai 257 Orang!

Kedua pemenang utama ini mendapatkan beasiswa senilai 10.000 dolar AS di Harvard Graduate School of Design di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Inilah Rumah Kopi karya Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan (UPH) yang mengadaptasi unsur lokal Kampung Buni Kasih, Jawa Barat. Berkat karyanya ini Elsa menjadi pemenang utama di Asia Young Designer Awards 2020.

Chief Executive Officer (CEO) Decorative Paints Nippon Paint Indonesia, Jon Tan pada malam penghargaan AYDA Summit mengungkapkan bahwa tema kompetisi tahun ini diharapkan memotivasi para desainer muda untuk menciptakan konsep desain berkelanjutan yang dapat menjawab berbagai tantangan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitar

“Kami bangga atas pencapaian Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan yang menjadi warga negara Indonesia pertama memenangkan Asia Young Designer of The Year di ajang International AYDA Summit 2020, sekaligus meraih beasiswa di Harvard University Graduate School of Design (GSD) di Boston, Massachusetts, United States. Greta berhasil menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa,” ujar Jon Tan, beberapa waktu lalu.

Greta Elsa Nurtjahja dengan karyanya berjudul “Rumah Kopi – A Communal House of Coffee” menampilkan perspektif manusia yang memiliki naluri alami untuk dekat dengan alam.

Rumah Kopi mengusung peran dari arsitektur vernacular yang memerlukan proses kontinyu dengan mengadaptasi perilaku, kebiasaan, dan budaya setempat.

Menampilkan karya Rumah Kopi yang mengadaptasi unsur lokal Kampung Buni Kasih, Jawa Barat, Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan (UPH), menjuarai Asia Young Designer Awards 2020.

Rumah Kopi, kata Greta, terinspirasi dari rumah penduduk setempat di Kampung Buni Kasih, Jawa Barat, yang mengadaptasi unsur kelokalan,

“Rumah tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk dengan tetap menghormati kepercayaan, kebudayaan, sejarah, alam serta bagaimana melestarikan esensinya,” jelasnya.

Lebih lanjut Greta menjelaskan bahwa konsep dari Rumah Kopi yang dirancang sebagai ekspresi paling murni dari hubungan arsitektur dengan bumi dan topografi melalui struktur atap yang berlapis, dengan tujuan untuk menciptakan atmosfer interior lingkungan alami.

Desainnya bertujuan untuk mempertahankan sebanyak mungkin lanskap asli.

“Keberadaan Rumah Kopi diharapkan akan menjadi bentuk baru dari ruang hunian sebagai ruang kontemplatif manusia dengan alam, pusat budaya bagi masyarakat, juga sebagai ikon ekonomi Kampung Buni Kasih,” ujar Greta.

Menampilkan karya Rumah Kopi yang mengadaptasi unsur lokal Kampung Buni Kasih, Jawa Barat, Greta Elsa Nurtjahja dari Universitas Pelita Harapan (UPH), menjuarai Asia Young Designer Awards 2020.

Salah satu dewan juri kategori Desain Interior, Lea Aziz yang sekaligus Founder PT Elenbee Cipta Desain, mengakui bahwa para peserta kompetisi tahun ini menunjukkan inovasi hebat, konsep yang kuat, dan interaksi sosial, terutama dalam situasi yang tidak pasti seperti saat ini.

Tidak hanya terampil mengenai hal teknis, para peserta juga memiliki kemampuan mengenai pentingnya kelestarian lingkungan untuk mengubah masa depan desain.

“Kami bangga dengan karya-karya mereka yang sangat mengesankan. Greta Elsa Nurtjahja sungguh melampaui harapan dalam kompetisi ini dengan tingkat detail dan visi di dalam desainya,” ujar Lea.

Ada kisah menarik pada penyelenggaraan AYDA Summit 2020, karena untuk pertama kalinya, presentasi dan penjurian pada 8–9 Juli 2020 dilakukan secara virtual.

Demikian pula dengan penganugerahan pemenang pada 10 Juli 2020 disiarkan secara langsung di Youtube AYDA.

Semua ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan penyebaran COVID-19.

“Selama lebih dari 12 tahun, Asia Young Designer Awards berkomitmen terhadap inovasi dan keberlanjutan. Dengan menanamkan tanggung jawab dalam diri para desainer muda ini, kami percaya bahwa mereka mampu berkontribusi pada kemajuan sosial dan lingkungan masyarakat melalui profesi mereka. Kami bangga telah membangun jaringan yang menghubungkan industri profesional dan desainer berbakat dari seluruh wilayah,” ungkap Wee Siew Kim, Group CEO of NIPSEA Management Company Pte, Ltd (subsidiary of Nippon Paint Holdings Co.). (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->