Connect with us

Khasanah

Bangun Ponpes Waria Al-Fatah, Shinta Ingin Transpuan Tetap Ingat Tuhan

Diterbitkan

pada

Ketua Ponpes Waria Al Fatah Yogyakarta, Shinta Ratri saat berbincang kepada wartawan di ponpes setempat, Senin (8/6/2020). Foto: Muhammad Ilham Baktora/SuaraJogja.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Gemercik air yang tumpah di sebuah guci pada siang itu menjadi pemecah keheningan Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta. Lokasi yang bertempat di perbatasan Kota Yogyakarta dan Bantul tersebut merupakan jujugan waria yang masih berkeyakinan bahwa Tuhan adalah Dzat yang bisa menunjukkan jalan terang untuk kehidupan mereka.

Masuk ke dalam Ponpes tersebut hanya bisa dilewati sepeda motor. Warga yang ingin berkunjung harus melintasi gang sempit dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor.

Ornamen pintu dengan ukiran Jawa berwarna hijau merupakan hal pertama kali yang terlihat ketika memasuki rumah yang disulap untuk kegiatan agama dan pembelajaran waria di Yogayakarta ini. Tikar panjang digelar saat sejumlah wartawan meminta izin berbincang dengan pengelola ponpes tersebut.

Shinta Ratri, transpuan yang juga Ketua Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta itu dengan ramah mempersilakan kami masuk. Menunggu lebih kurang 10 menit, Shinta Ratri muncul dengan memberikan sebuah buku tamu untuk diisi.

Ponpes yang secara geografis terletak di Banguntapan, Bantul ini nampak sepi akibat tidak adanya aktivitas lantaran Covid-19. Seluruh aktivitas berupa pengajian dan pembahasan agama lain dilakukan secara daring.

“Sekarang aktivitasnya kami batasi, mengingat kondisi seperti ini mau tidak mau harus mengikuti anjuran pemerintah. Potensi berkumpul dalam satu tempat bisa menimbulkan penularan virus nantinya,” ungkap Shinta Ratri ditemui di ponpes miliknya, Senin (8/6/2020).

Kegiatan agama, lanjut Shinta dilakukan pada hari Minggu dan Senin. Hari Minggu untuk pembelajaran Al-Quran sementara Senin untuk waria yang masih dalam tahap pembacaan iqro’.

“Tak dipungkiri memang kami masih banyak belajar. Aktivitas sebelum ada wabah, tiap Minggu dan Senin tempat ini selalu ramai dengan pembelajaran agama. Sekarang aktivitasnya dilakukan secara daring,” jelas Shinta.

Ponpes yang dibangun pada 2014 ini telah memiliki 42 santri. Mereka secara intensif berusaha untuk bisa berbaur dengan masyarakat termasuk mengisi ilmu agama dan juga pengetahuan.

“Bagi saya mereka ini tidak bisa memilih untuk menjadi pria atau wanita. Jadi dia lahir sebagai laki-laki namun memiliki kodrat sebagai perempuan. Beberapa orang atau keluarga tidak bisa menerima dengan keadaan mereka sehingga para waria ini memilih pergi. Konflik ini yang berbahaya, dia kehilangan banyak termasuk budi pekerti mungkin, dan terutama kehilangan agama. Maka dari itu saya membangun ponpes ini agar mereka tetap pada jalur agama yang mereka anut,” ungkap dia.

Stigma sebagai transgender sudah melekat pada masing-masing santri dan tak banyak orang yang memahami keadaan mereka. Meskipun mereka belajar agama sekalipun masih ada pandangan lain bahkan negatif dari masyarakat.

“Hal itu tak bisa dipungkiri masih ada stigma yang memandang berbeda tentang kami. Namun dari komunitas yang ada di ponpes ini kami terus mendorong mereka untuk berakhlak dan berbaur dengan warga lainnya. Hal itu pasti sulit. Namun ketika berlaku baik di lingkungan tempat kita hidup, banyak hal yang bisa menerima kami apa adanya,” terang dia.

Pelajaran agama yang dibahas bermacam-macam. Mulai dari Fiqih, Bulughal Maram serta pelajaran agama lain.

“Kami mendapat pelajaran untuk menguatkan agama kami masing-masing. Waria yang berkeyakinan muslim dibimbing oleh enam ustad yang secara bergantian mengisi materi,” kata dia.

Shinta menjelaskan, waria berkeyakinan Kristen-Katolik juga mendapat bimbingan keagamaan. Ia menuturkan sejak satu tahun lalu pihaknya telah bekerjasama dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).

“Ada empat orang yang berkeyakinan Kristen-Katolik. Mereka sudah setahun ini mengikuti bimbingan keagamaan bersama UKDW. Mereka juga diarahkan menjadi pastor nantinya,” jelas dia.

Berbaur dengan masyarakat menjadi hal utama yang selalu digaungkan di ponpes tersebut. Shinta menuturkan setiap Sabtu sore, ketika belum ada Covid-19, warga sekitar kerap diundang untuk belajar bersama. Mulai dari berbahasa inggris, cara memasak hingga merias.

“Harapannya ini menjadi hasil baik untuk kami. Walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah stigma tersebut,” kata dia.

Kondisi ponpes saat ini hanya ditempati oleh empat orang waria. Shinta mengaku pandemi covid-19 membuat penghuni lainnya beraktivitas lebih giat untuk kebutuhan hidup, termasuk santri-santri yang kebanyakan bekerja di salon, bahkan pengamen.

“Pandemi kali ini jelas mengurangi pendapatan mereka. Apalagi yang membuka salon, saat ini sangat sepi sekali. Maka dari itu, kami juga memberi bantuan kepada 130 waria termasuk kepada 42 santri kami,” terang Shinta.

Shinta tak memungkiri bahwa mengubah pandangan masyarakat akan teras sulit. Apalagi dengan budaya yang dianut di Indonesia saat ini. Namun begitu ia berharap para santrinya memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya sehingga mampu menjaga dan memahami yang baik dan buruk untuk mereka. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement
Komentar

Khasanah

Kisah Khalifah Umar Lindungi Kaum Nasrani saat Pembebasan Yerusalem

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Yerusalem menjadi empat kapling atau khai (dan sekarang masih ada). Foto : google
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hingga kini, Yerusalem masih diyakini masing-masing pemeluk agama samawi, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani sebagai kota suci. Sejarah mencatat, kota ini sudah terbentuk ratusan tahun, bahkan ribuan tahun silam. Bagaimana tidak, Yerusalem sudah menjadi tempat lahir dan tinggalnya para nabi, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Dawud, dan Nabi Isa, bahkan Nabi Muhammad pun pernah singgah saat menjalani Isra’ dan Mi’raj, tepatnya sebelum naik ke Sidratul Muntaha (Nurcholis Madjid, Fatsoen, Nurcholis Madjid, Jakarta: Penerbit Republika, 2002, hal. 57).   Tak heran jika kota ini mendapat banyak julukan yang populer di masa para penguasanya, antara lain Jerusalem, al-Quds, Yerushaláyim, dan Aelia, yang menurut Abul Fida’, nama terakhir ini berarti ‘baiturrabb’ atau ‘rumah tuhan’ (Tarikh Abul Fida, 49).

Yang terakhir ini memang jarang terdengar, tetapi faktanya nama inilah yang disebutkan Umar bin Khattab dalam surat perjanjian dengan kaum Nasrani. Sebab, pada masa Khalifah Umar bin Khathab-lah Yerusalem, sebuah kota yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘damai’, menjadi wilayah kekuasaan Islam. Sementara pada masa Nabi Muhammad, begitu pula zaman khalifah pertama Abu Bakar, Yerusalem belum terbebaskan (Tim Sunrise Pictures, (Ed.) Astutiningsih, Seratus Keajaian Dunia, Jakarta: Cikal Aksara-AgroMedia, 2010, hal. 18).   Ada yang menarik untuk dicermati dalam peristiwa pembebasan kota Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khathab. Dikisahkan, pada tahun 637 M, pasukan Islam sudah mendekati wilayah Yerusalem, yang saat itu di bawah tanggung jawab Uskup Sophronius selaku perwakilan Bizantium sekaligus kepala Gereja Kristen Yerusalem. Tatkala pasukan muslim pimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash sudah mengepung kota itu, Sophronius tetap tidak bersedia menyerahkan Yerusalem kepada kaum Muslimin. Pasalnya, sang uskup ingin langsung menyerahkannya kepada Khalifah Umar bin Khattab. (Tim Penusun, Al-Muslimun, Penerbit Yayasan Al-Muslimun, 1994, hal. 42).

Mendengar kabar itu, Umar pun bergegas ke Yerusalem dengan berkendara seekor keledai, ditemani seorang pengawalnya. Setiba di Yerusalem, Umar disambut Sophronius yang benar-benar merasa kagum atas kesederhanaan dan kesahajaan sosok pemimpin yang satu itu. Kagum karena seorang penguasa bangsa yang kuat kala itu hanya bersandangkan busana lusuh ala kadarnya yang banyak jahitan dan tidak jauh berbeda dengan busana ajudannya. Sungguh jauh dengan penampilan para pemimpin dunia sekarang (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Zaman-Serambi, 2009, hal. 95).   Oleh Uskup Sophronius, Umar sempat diajak mengelilingi Yerusalem, bahkan mengunjungi Gereja Makam Suci, yang menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa pun dimakamkan di sana. Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilakan Umar untuk shalat di dalam gereja, namun Umar menolaknya, “Jika mendirikan shalat dalam gereja ini, saya khawatir orang-orang Islam nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya sebagai masjid.” Mereka mengambil alih gereja untuk dibangun masjid, dengan alasan Umar pun pernah shalat di situ, yang akibatnya kaum Nasrani jadi tersisih dan terzalimi (Kisah Hidup Umar bin Khattab, hal. 96; Rahasia di Balik Penggalian Al Aqsha, Jakarta: Ramala Books, 2007, hal. 54).   Akhirnya, Umar memilih shalat di luar gereja, yang di kemudian hari, tepat di tempat Umar shalat itu dibangunlah masjid bernama Masjid Umar bin Khattab yang posisinya bersebarangan dengan Gereja Makam Suci kaum Nasrani. Untuk menunjukkan tingginya toleransi, maka shalat berjamaah pun tidak dilakukan di masjid itu, yang berarti agar kumandang azan tidak mengganggu jamaah gereja. Sungguh sebuah model kerukunan yang mengagumkan bagi pemeluk agama samawi di mana pun. (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Penerbit Zaman-Serambi, 2009, hal. 96).   Pembebasan Yerusalem pada masa pemerintahan Umar bin Khattab di tahun 637 M benar-benar peristiwa yang sangat penting dalam sejarah kerukunan dan perdamaian. Selama 462 tahun ke depan wilayah ini terus menjadi daerah kekuasaan Islam dengan jaminan keamanan memeluk agama dan perlindungan terhadap kelompok minoritas berdasarkan pakta yang dibuat Umar ketika membebaskan kota tersebut. Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, dan Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk pada pakta itu sebagai solusi konflik antara umat bergama di sana.   Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab hubungan antara kaum Muslimin dengan kaum Nasrani berlangsung harmonis. Hubungan itu tertuang dalam perjanjian Aelia, yaitu perjanjian antara orang-orang muslim dengan Kristen pasca-perang Yarmuk yang dimenangkan oleh tentara Umar. Ketika itu, Shapharnius selaku pemimpin Kristen kelahiran Damaskus, menyepakati untuk menyerahkan kunci-kunci kota Al-Quds kepada Umar bin Khattab, dengan syarat Umar harus memberikan jaminan untuk menghormati ritual dan tradisi umat Nasrani. Umar pun menyepakati persyaratan itu, sehingga ketika memasuki kota Al-Quds tak ada setetes darah pun yang tercecer. Dan setelah pembebasan pun, tak ada satu pun perlakuan buruk Khalifah Umar kepada kaum Nasrani. (Zuhairi Misrawi, Al-Quran Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lilalamin, Jakarta: Pustaka Oasis, 2010, hal. 355).   Abdul Husein Sya’ban sebagaimana dikutip Zuhairi Misrawi, menyebut perjanjian Umar bin Khattab itu dengan Uhdah Umariyyah (Perjanjian Umariyah), yang isinya mengatur hak dan kewajiban antara umat muslim Yerusalem dengan penduduk non-Muslim. Perjanjian ini ditandatangani langsung oleh Umar bin Khattab, Uskup Sophronius, dan beberapa perwakilan kaum muslimin.

Teks perjanjian tersebut berbunyi sebagaimana di bawah (Muhammad Mas’ad Yaqut, Nabiyurr Rahmah: ar-Risalah wal-Insan, Kairo: az-Zahra lil-I’lam al-Arabiy, 2007, hal. 72):

Dengan nama Allah Yang Maha Esa Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah jaminan keamanan yang diberikan hamba Allah, Umar, Amir al-Mu`minin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin mereka keamanan untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, serta dalam keadaan sakit ataupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya; serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak dari seorang pun dari mereka boleh diganggu. Dan di Aelia tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka.   Atas penduduk Aelia (Yerusalem) diwajibkan membayar jizyah sebagaimana jizyah itu dibayar oleh penduduk kota-kota yang lain (di Syria). Mereka berkewajiban mengeluarkan orang-orang Romawi dan kaum al-Lashut dari Aelia (Yerusalem). Tetapi jika dari mereka (orang-orang Romawi) ada yang keluar (meninggalkan Aelia) maka ia (dijamin) aman dalam jiwa dan hartanya sampai tiba di daerah keamanan mereka (Romawi). Dan jika ada yang mau tinggal, maka ia pun akan dijamin aman. Dia berkewajiban membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia. Dan jika ada dari kalangan penduduk Aelia yang lebih senang untuk menggabungkan diri dan hartanya dengan Romawi, serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salib mereka, maka keamanan mereka dijamin berkenaan dengan jiwa mereka, gereja mereka dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di daerah keamanan mereka sendiri (Romawi). Dan siapa saja yang telah berada di sana (Aelia) dari kalangan penduduk setempat (Syria) sebelum terjadinya perang tertentu (yakni, perang pembebasan Syrya oleh tentara Muslim), maka bagi yang menghendaki ia dibenarkan tetap tinggal, dan ia diwajibkan membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia; dan jika ia menghendaki, ia boleh bergabung dengan orang-orang Romawi, atau jika ia menghendaki ia boleh kembali kepada keluarganya sendiri. Sebab tidak ada suatu apa pun yang boleh diambil dari mereka (keluarga) itu sampai mereka memetik panenan mereka. Atas apa yang tercantum dalam lembaran ini ada janji Allah, perlindungan Rasul-Nya, perlindungan para Khalifah dan perlindungan semua kaum beriman, jika mereka (penduduk Aelia) membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka.   Menjadi saksi atas perjanjian ini Khalid Ibn al-Walid, Amr Ibn al-Ashsh, Abdurrahman Ibn Auf, dan Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Ditulis dan disaksikan tahun lima belas (Hijriah). (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Zaman-Serambi, 2009, hal. 95. Meski dalam redaksi Arabnya tertulis Elia, sebagaimana dalam Tarikh Al-Quds Al-Arabiyyah, tetapi dalam menerjemahkan perjanjian tersebut, penerjemah menggunakan istilah Yerusalem. Lihat pula: Muin Hasib Farajullah, Tarikh Al-Quds Al-Arabiyyah, Yerusalem: Daru Saad As-Shabah, 1997).  

Melalui perjanjian itu, Umar bin Khattab membebaskan para penduduk Yerusalem beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, termasuk kaum Yahudi. Ini merupakan fakta penting dalam sejarah kerukunan umat beragama yang pernah ditampilkan oleh seorang Khalifah Umar yang sebelum masuk Islam terkenal sebagai sosok yang keras. Memang dalam perjanjian itu disebutkan, kaum Yahudi tidak diperbolehkan tinggal di Yerusalem, namun hal itu bukan berasal dari permintaan Umar, melainkan permintaan Uskup Sophronius. Pasalnya, kaum Nasrani tidak menyukai kaum Yahudi (Tim Balitbang PGI, Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia: Theologia Religionum, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007, hal. 182).   Dalam sebuah riwayat, Umar bertanya, “Mengapa orang Yahudi tidak boleh? Harus boleh!” Uskup Sophronius menjawab, “Kalau begitu jangan dicampur sama orang Kristen, karena orang Kristen tidak menyukai orang Yahudi.” Dengan sangat terpaksa, Umar mengkapling Yerusalem menjadi empat kapling atau khai (dan sekarang masih ada), yang terdiri dari (1) kapling Kristen Armenia, (2) kapling Ortodoks, yang keduanya tidak dipersatukan, (3) kapling Yahudi, dan paling besar (3) kapling kaum muslimin. Sejak itu Yerusalem menjadi kota multiagama. Namun, menurut Nurcholis Madjid, setelah Yerusalem menjadi kota Kristen, para pemimpin Kristen sama sekali tidak memperbolehkan pemeluk Yahudi tinggal di kota tersebut (Nurcholish Madjid dan Asrori S. Karni, Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid: Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina, Jakarta: Paramadina, 2000, hal. 115).  (nu.or.id)
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Khasanah

Ini Karya Robotik Al Jazari yang Mempesona Ilmuwan Barat

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Salah satu ilustrasi karya robotik Al Jazari. Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Teknologi automata yang dikembangkan Al Jazari mencapai 50 jenis dan semuanya ditulis dan digambarkan dalam kitabnya yang sangat legendaris, Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Karyanya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Dalam kitab itu, Al-Jazari membeberkan secara detail beragam hal terkait mekanika.

Selain itu, Al Jazari juga menciptakan teknologi automata lainnya yang berfungsi untuk membantu dan memudahkan tugas manusia. Ia antara lain menciptakan peralatan rumah tangga dan musik automata yang digerakkan  tenaga air.

Semua robot yang ditemukan peradaban Islam lewat Al Jazari sungguh sangat mencengangkan.

”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin,” ungkap sejarawan  Inggris, Donald R Hill, dalam tulisannya berjudul, Studies in Medieval Islamic Technology.

Sejarawan lainnya yang terpesona dengan risalah penemuan Al Jazari adalah Lynn White.

”Jelas sudah bahwa penemu roda gigi pertama adalah Al-Jazari. Barat baru menemukannya pada 1364 M.” Menurut Lynn, kata gear (roda gigi) baru menjadi perbendaharaan kata atau istilah dalam desain mesin Eropa pada abad ke-16 M.

Dalam pandangan Donald Hill, tak ada satu pun dokumen yang mampu menandingi karya Al-Jazari sampai abad modern ini. Menurut dia, risalah penemuan Al Jazari begitu kaya akan instruksi mengenai desain, pembuatan, dan perakitan mesin-mesin

”Al Jazari tak hanya mampu memadukan teknik-teknik para pendahulunya dari Arab dan non-Arab, tapi juga dia benar-benar seorang insinyur yang kreatif,” papar Donald Hill yang begitu mengagumi Al Jazari.

Ketertarikannya atas karya sang insinyur Muslim itu, Donal Hill pun terpacu dan terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974. Begitulah peradaban Islam mengembangkan teknologi robotnya.

Secara khusus Mark E Rosheim menyimpulkan, kemajuan yang dicapai dunia Islam di era kejayaan dalam bidang robotika sebagai sebuah penemuan lebih maju dibandingkan zaman Yunani.

”Tak seperti desain Yunani, contoh robot yang diciptakan dunia Islam (Arab) mampu mengundang daya tarik. Tak hanya dalam ilusi dramatis, tetapi mampu menghadirkan lingkungan yang bisa membuat manusia lebih nyaman,” ungkap Rosheim.

Menurut Rosheim, robot ciptaan Al-Jazari itu merupakan salah satu kontribusi peradaban Islam yang sangat penting bagi teknologi. Menurut dia, robot yang diciptakan peradaban Islam di awal abad ke-13 M sudah berbentuk manusia robot dan mampu membantu manusia untuk tujuan praktis. Sayangnya, kata dia, robot itu tak diciptakan untuk kepentingan industri.(cel/rep/berbagai sumber)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Khasanah

Al Qarafi, Sang Penemu Asli Teori Pelangi dari Mesir

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pemikiran Al Qarafi tentang teori pelangi benar-benar orisinal dan tidak terpengaruh oleh pemikiran ilmuwan sebelumnya. Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Al Qarafi yang nama lengkapnya Shihab al-DÄ«n Abu Al Abbas Ahmad Ibn Idris Al Sanhaji Al-Qarafi merupakan seorang ilmuwan penemu asli teori pelangi yang pandai di bidang astronomi dan fisika. Dia dilahirkan di distrik Bahnasa, Mesir bagian atas sekitar tahun 1228 Masehi.

Menurut seorang ahli sejarah Islam yang bernama Haji Khalifah, nama Al Qarafi berhubungan dengan nama sebuah pemakaman umum di kota Kairo yang pernah menjadi tempat bermukimnya. Hal ini yang mendukung asumsi bahwa Al Qarafi benar-benar seorang ilmuwan yang berasal dari Mesir.

Menurut sejumlah catatan sejarah yang dikutip dalam buku Para Tokoh Sejarah Klasik, Al Qarafi justru tertarik kepada ilmu optik dan ilmu astronomi pada masa usia senjanya. Sebab pada masa mudanya, dia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan bergelut di bidang hukum Islam.

Salah satu karya ilmiahnya yang membahas tentang optik ini berjudul Kitab Al-Istibar fi ma Tudrikuhu Al-Abshar (Buku tentang penjelasan apa yang dapat ditangkap oleh mata).

Buku tersebut sebenarnya oleh Al Qarafi dibuat untuk menjawab lima buah pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia Frederick II (1194-1250) kepada Sultan Kamil Muhammad dari Dinasti Ayyubiyah (1218-1238).

Catatan sejarah tidak bisa mengungkapkan secara jelas apakah pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia tersebut sama dengan pertanyaan yang disebut Sicilian Question. Yang jelas, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Raja Sisilia terhadap Sultan Kamil Muhammad tersebut, Al Qarafi banyak merenung, berpikir dan membuat sejumlah penelitian dan eksperimen terhadap masalah pelangi.

Hingga akhirnya dia bisa menemukan jawaban tentang bagaimana pelangi itu bisa muncul di angkasa seusai hujan dengan warnanya yang begitu indah yakni merah, kuning, biru di langit yang begitu luas.

Menurut Al Qarafi pelangi bisa muncul di langit begitu indah karena adanya pancaran sinar matahari terhadap asap (uap) yang berada di udara. Penjelasan ini sebenarnya sama dengan penjelasan yang telah diungkapkan oleh Ibn Sina, seorang ahli filsafat, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan).

Selain Ibn Sina, Aristoteles, seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander yang Agung yang ahli di bidang fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi juga pernah menuliskan hal tersebut.

Meskipun pendapat munculnya pelangi sudah diungkapkan oleh para ilmuwan lain sebelumnya, tetapi dalam hal menjelaskan tentang kerangka maupun aturan timbulnya warna pelangi, pemikiran Al Qarafi benar-benar orisinal dan tidak terpengaruh oleh pemikiran ilmuwan sebelumnya. Sehingga dia sering disebut sebagai penemu asli Teori Pelangi.(cel/berbagai sumber)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->