Connect with us

Jawa Timur

Bantu Ringankan Beban Masyarakat, Koramil Benowo Gelar Pengobatan Gratis

Diterbitkan

pada

Koramil Benowo menggelar bhakti sosial pengobatan massal gratis di lapangan Pandansari, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo. Foto : muh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SURABAYA, Komando Rayon Militer (Koramil) Benowo menggelar bhakti sosial pengobatan massal gratis di lapangan Pandansari, Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Pengobatan gratis ini, disambut antusias masyarakat. Tak heran, setelah pendaftaran peserta dimulai masyarakat yang ingin mendapat pelayanan pengobatan tersebut, tumpah ruah datang di lokasi.

Disaksikan langsung oleh Danramil Benowo Mayor Inf Hendi Eko Yono, ada sekitar seribuan masyarakat datang untuk berobat.  

“Melalui kegiatan ini, kita berupaya untuk mengatasi keluhan, khususnya permasalahan kesehatan yang dialami oleh warga,” ujar Mayor Inf Hendi Eko Yono kepada awak media disela acara bhakti sosial pengobatan gratis. 

Ia mengatakan, pengobatan gratis yang digelar oleh satuannya saat ini, mampu meringankan beban warga, khususnya yang berada di ekonomi menengah ke bawah atau kurang mampu. 

“Semuanya kita berikan untuk masyarakat,” kata Mayor Eko.

Komandan Kodim 0830/Surabaya Utara, Kolonel Arh Putu Witjaksono

menambahkan, pengobatan gratis merupakan bagian dari bentuk pengimplementasian delapan wajib TNI. 

“Membantu meringankan setiap beban maupun kesulitan masyarakat, juga menjadi tanggung jawab dan tugas TNI,” tandas Kolonel Arh Putu Witjaksono. (muh)

Reporter : Muh
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kepala Cyber Kanal Kalimantan

Advertisement

Jawa Timur

Kronologi Lengkap Wali Kota Risma Ngamuk sampai Gemetar Karena Mobil PCR

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Foto: Suara.com/Dimas Angga P
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, SURABAYA – Wali Kota Surubaya Tri Rismaharini ngamuk sampai gemetar saat menelepon pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di halaman Balai Kota Surabaya, Jumat (29/5/2020).

Amukan Risma beralasan. Dia menuding bantuan mobil PCR dari BNPB yang diklaim untuk Pemkot Surabaya diserobot Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur (Jatim).

“Enggak bisa kerja, siapa yang enggak bisa kerja? Kalau ngawur nyerobot itu siapa yang enggak bisa kerja,” ujar Risma saat berbicara melalui telepon genggamnya.

Saat itu, Risma menyebut nama Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim Joni Wahyuhadi. Risma juga mengatakan, jika dirinya yang meminta bantuan mobil PCR melalui beberapa koleganya.

“Ya… Lha iya gimana saya bilang gitu, dokter Joni lagi, dokter Joni lagi. Dia itu orang mana, pak? Saya bukan itu, saya karena minta pak. Boleh dicek ke Pak Pramono, boleh ditanya ke Mbak Puan,” sambungnya saat berbicara melalui telepon genggamnya.

Usai menutup telepon itu, Risma masih terlihat kondisi emosi. Bahkan saat menyampaikan pernyataan ke awak media, nada bicaranya masih tinggi.

“Opo-opoan iki (apa-apaan ini), coba ini, dokter Joni lagi yang nyerimpetin (gangguin). Aku itu minta sendiri, ini lihat coba WA-nya Pak Doni (Monardo). Lak wis ngene iki aku enggak wedi mati, perang iki-perang iki (Kalau sudah gini saya enggak takut mati, perang ini-perang ini),” ucap Risma.

Dibenarkan Kadiskominfo Surabaya

Kadiskominfo Surabaya M Fikser membenarkan jika mobil PCR tersebut Risma sendiri yang mengusahakan peminjamannya. Namun, setelah banyak warga yang menunggu untuk tes PCR, malah mobil tersebut tidak datang.

“Jadi yang jelas mobil itu kan diupayakan oleh Bu Risma bagaimana membangun komunikasi dengan pusat supaya bisa mendapatkan bantuan laboraturium mobile (mobile pcr), karena beberapa hari ini jumlah swab yang diajukan tidak keluar-keluar. Sedangkan, proses di bawah masih banyak.”

Mobil PCR bantuan BNPB untuk Pemprov Jatim. Foto: Berita Jatim

“Pada saat mobil datang di hari pertama itu warga sudah mulai menunggu sejak jam 13.00 ya, tetapi mobilnya datang jam 16.00-17.00 karena harus melalui proses lagi di provinsi. Nah janjinya, besok pagi itu akan dilakukan pengambilan sample, pemeriksaan di warga,” ujar Fikser.

Fikser menyatakan, lantaran itu, sekitar 200 warga yang menunggu harus kecewa, karena mobil ini diduga dialihkan ke kabupaten lainnya oleh Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim.

“Pada saat itu sudah disiapkan kawasan di tanah kali kedinding, warga 200 orang sudah disiapkan, tenaga medis APD lengkap sudah menunggu, pagi harinya masih ada komunikasi kalau mobil itu akan datang. Karena memang kita sangat membutuhkan, nah tapi kenapa mobil itu dialihkan ke kabupaten lain dan itu dialihkan langsung dua mobil.”

Jawaban dokter Joni

Ketua Gugus Tugas Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi mengemukakan hal tersebut terjadi karena adanya kesalahpahaman.

“Kita sudah rundingkan semuanya waktu malam, mobil ini mau dikirim ke mana. Ternyata identifikasi di Sidoarjo sudah menunggu lama sehingga kita kirimkan ke Sidoarjo seharian di sana, hari kedua mobil sudah ada dua standby di rumah sakit darurat, sebelumnya sore kami sudah berkoordinasi, diskusi banyak sekali yang minta. Kemudian Tulungagung dan Lamongan juga banyak,” katanya Jumat (29/5/2020) malam.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi. Foto: Beritajatim

Joni mengatakan, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Febria Rachmanita saat itu juga menegaskan stafnya untuk menyampaikan apakah ada jadwal di Surabaya untuk tes swab. Namun hal itu tak disampaikan sehingga membuat Mobil PCR di kirim ke Lamongan dan Tulungagung.

“Bu Feny menugaskan staf-nya Bu Deny kalau ndak salah, tapi Bu Deny tidak menyampaikan hari ini acaranya Surabaya apa, sehingga mobil kita kirim ke Lamongan dan Tulungagung. Ternyata pagi beliau telepon, ‘saya minta mobilnya di Surabaya’,” kata Joni.

Karena terlambat mengabarkan, akhirnya dia meminta kepada Pemkot Surabaya untuk menggunakan Mobil PCR tersebut Sabtu (30/5/2020). Ia mengaku saat membicarakan hal tersebut juga dengan memakai nada yang datar tidak dengan emosi.

“Saya sudah bilang besok saja, karena sudah ada di sana, sudah janjian. Saya ngomongnya datar-datar saja,” ucapnya.

Namun, akibat kejadian ini, Wali Kota Risma emosi hingga mengucapkan deklarasi untuk ‘perang’. Sementara itu, Joni mengatakan sudah berkoordinasi dengan staf yang ditugaskan beserta pihak kepolisian untuk besoknya mobil PCR dipakai di Surabaya untuk melakukan swab.

“Tadi sudah koordinasi dengan Bu Deny, Pak Kabag Ops, besok dua-duanya direncanakan di Surabaya, di RS Soewandhi 100, RS Husada Utama 100 dan kampung tangguh. Satu mobil tapi belum pulang di Lamongan,” jelasnya.

Koordinator gugus tugas jelaskan kronologi

Koordinator Gugus Tugas Rumpun Logistik Subhan Wahyudiono menjelaskan, kronologis permohonan bantuan Mobil PCR tersebut hingga tiba Jatim. Subhan menjelaskan, sebenarnya pihaknya sudah meminta bantuan ke Gugus Tugas Percepatan Covid-19 pusat sejak 11 Mei 2020.

Koordinator Gugus Tugas Rumpun Logistik Covid-19 Jatim Subhan Wahyudiono. Foto: Suara.com/Arry Saputra

“Permohonan itu berupa dukungan percepatan penegakan diagnosis Covid-19. Di surat itu, permohonan mesin PCR 15 unit. Malam hari Ibu Gubernur telepon Kepala BNPB Doni Monardo dan Pangdam, komunikasi untuk segera ada bantuan mobil unit PCR,” jelas Subhan saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (29/5/2020).

Untuk surat Wali Kota Risma yang meminjam mobil PCR tersebut, Subhan mengatakan diterima oleh Tim Gugus Tugas pada 22 Mei 2020. Surat itu belum dijawab, lantaran daerah lain sudah memesannya terlebih dahulu. Dia menduga, lantaran itu yang kemudian membuat Risma emosi sampai muncul ungkapan pernyataan perang.

“Mobil Unit ini datang 27 Mei, jadi surat wali kota pun saat ini belum kita jawab karena mobil ini langsung beroperasi. Tanggal 28 mobil diarahkan ke Sidoarjo dan Lamongan karena di sana juga banyak yang harus di lab,” ujarnya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Jawa Timur

Sholat Menghadap ke Timur, Marhawi dan Jemaah Wirid dengan Tangan Menyilang

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ada praktik sholat dan wirid tak lazim karena menghadap ke arah timur di sebuah mushola di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Foto: Beritajatim
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Ada praktik sholat dan wirid tak lazim  karena menghadap ke arah timur di sebuah mushola di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, cara sholat dan wirid itu terjadi di Mushola Desa Batu Sendi, Kecamatan Sangkapura. Di dalam mushola itu, ada puluhan orang lengkap mengenakan busana muslim, sarung dan peci.

Mereka sedang melakukan sholat dan wirid dengan dipimpin oleh Marhawi (46) yang menjadi ketua kelompoknya.

Selain sholat menghadap ke timur. Gerakan wirid yang dilakukan kelompok itu aneh. Pasalnya, mereka melakukan gerakan tangan dengan posisi menyilang yang tidak lazim yang biasanya dilakukan orang saat wirid.

Terkait adanya aliran peribadah tak lazim itu,  Kepala Desa Lebak Fadal bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Sangkapura langsung mendatangi kediaman Marhawi. Kebetulan, Marhawi adalah warganya.

Dari pertemuan tersebut, Marhawi mengakui adanya ajaran menyimpang. Salah satu contohnya, datangnya wahyu yang langsung kepada Marhawi.

“Semalam kami sudah mendatangi ke kediaman Marhawi dan langsung membuat surat pernyataan,” ucap Fadal saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Kamis (28/05/2020).

Dalam surat pernyataan tersebut, Marhawi selain mengakui ajarannya menyimpang juga akan kembali kepada ajaran islam dan membubarkan kelompok pengikutnya.

Sebelumnya, Marhawi ini adalah seorang nelayan dan dikenal sebagai dukun atau supranatural di desanya.

Marhawi saat dikonfirmasi membenarkan bahwa telah membuat surat pernyataan itu. Warga Desa Lebak ini mengaku memiliki kelompok sebanyak 30 orang.

Ia menjelaskan, saat itu sholat dan wirid menghadap timur karena keadaan saja. Bukan disengaja atau dibuat-buat.

“Saat itu mushola penuh. Kami akhirnya menghadap ke timur dan itu spontan tidak disengaja,” paparnya.

Saat ditanya kenapa wirid dengan posisi tangan menyilang. Dikatakan Marhawi, dirinya tidak menampik menggunakan gerakan itu dan itu sangat wajar.

“Ada kabar sewaktu melakukan gerakan tersebut, saya bisa memanggil malaikat, dan mendapat wahyu langsung dari Allah. Hal itu sama sekali tidak benar alias bohong. Semua itu adalah fitnah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, usai dirinya membuat surat pernyataan bermaterai langsung membubarkan kelompoknya yang baru dibentuk beberapa bulan lalu.

“Langsung saya bubarkan, kelompok itu juga belum ada namanya,” imbuhnya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Jawa Timur

Tradisi Colok Songo di Bumi Wali Tuban, Doa Bertemu di Ramadhan Tahun Depan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Foto: TimesIndonesia via suara.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Tradisi ini melambangkan doa agar warga yang menjalankan tradisi Colok Songo bisa kembali bertemu di Ramadhan tahun depan selanjutnya.

Tradisi colok songo atau nyala sembilan di lakukan di Kabupaten Tuban pada akhir bulan Ramadhan. Nuansa akan terasa berbeda bila memasuki akhir bulan puasa, di mana tradisi Colok Songo masih tetap berjalan di kalangan masyarakat, khususnya di perbatasan pedesaan wilayah Kabupaten Tuban, tepatnya di Kecamatan Bangilan, Kecamatan Singgahan.

Di banyak sudut, bahkan mulai pintu masuk, pemilik rumah menyalakan api sembilan (colok songo) diawali saat masuk petang atau tiba waktu buka puasa, dan selesai atau nyala api padam ketika masuk waktu sahur.

“Kala keluarga nyalakan ini masuk bulan puasa 28 sampai malam lebaran,” kata Arifin, salah satu warga yang menyalakan colok songo di Singgahan.

Dalam bahasa Jawa, Colok merupakan istilah untuk potongan kayu-kayu kecil. Ujung pangkal kayu dibalut kain untuk dibuat sumbu kemudian dicelupkan ke dalam minyak tanah sebagai bahan bakar menjadi api penerangan. Sedangkan, kata songo berarti sembilan.

Colok Songo dengan kata lain, adalah obor kecil tradisi leluhur yang disulut dan ditancap ke dalam tanah (bumi) dan tempat lain seperti pintu, sudut rumah, depan kamar mandi, tempat pembuangan sampah sampai di tepi jalan lingkungan, bahkan tiap jalan raya penghubung antar kecamatan.

Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Foto: TimesIndonesia via suara.com

Tokoh masyarakat, Mbah Marno (55) menyatakan Colok Songo tidak tahu kapan pastinya dimulai. Sebab sejak kecil dirinya diajarkan eyang buyutnya untuk menyalakan api setiap sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.

“Tepatnya masuk akhir Ramadhan ganjil. Biasanya tepat malam songo likuran (29) atau jatuh sepuluh hari pamungkas akhir bulan puasa,” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat percaya Colok Songo selain dilaksanakan di malam kemulyaan songo likuran, juga sebagai penghormatan terhadap para leluhur yang sudah tiada. Diyakini di waktu itu, secara tanpa kasat mata para ahli kubur pulang ke rumah berkunjung ke sanak saudara yang masih hidup.

“Kerabat yang sudah meninggal berharap meminta doa serta melihat kondisi keluarga sebelum Hari Raya idul Fitri,” imbuhnya.

Sedangkan untuk simbol dian penerang, nyala api Colok Songo dimaknai lambang pembakaran penebusan dosa dan kesalahan diri manusia. Juga pelita kecerahan di saat mulai datangnya malam gelap.

Selain itu, Colok Songo yang dilakukan pada malam akhir Ramadhan antara petang sampai subuh saja, nyala api yang hanya semalam dimaknai bahwa di dunia tidak ada yang kekal abadi.

“Dunia, usia, harta dan anak adalah titipan. Dinyalakan colok songo ini, akan mengingatkan setiap diri manusia untuk bermuhasabah dengan pengharapan kepada Allah SWT untuk dipertemukan kembali bulan puasa ke depannya nanti.” tutup tokoh masyarakat di Kabupaten Tuban ini. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->