Connect with us

HEADLINE

Bawa Bukti Politik Uang ke Bawaslu, Langkah Syaifullah Tamliha ke Senayan Terjegal?

Diterbitkan

pada

Nasrullah AR, Senin (13/5/2019) sekitar pukul 11.00 Wita mendatangi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalsel. Foto : Mario
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Laporan dugaan politik uang yang dilakukan caleg PPP Syaifullah Tamliha ke Bawaslu Kalsel kian bertambah. Seorang kader PPP, Nasrullah AR, Senin (13/5/2019) sekitar pukul 11.00 Wita mendatangi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalsel memberikan data tambahan atas laporan politik uang yang diajukan terhadap politisi senior PPP Syaifullah Tamliha.

Laporan tambahan tersebut berupa dua saksi yang menguatkan dugaan politik dan 1 petunjuk bukti sumbangan berupa kwitansi beserta uang Rp 130 juta. Berdasarkan laporan, uang tersebut akan dibagikan masing-masing Rp 100 ribu dikalikan untuk 50.000 suara. Dana tersebut diduga juga digunakan untuk membeli barang-barang berupa kipas angin, pipa, dan seng.

Kedatangan Nasrullah AR ke Bawaslu Kalsel juga dalam rangka mengklarifikasi tuduhan atas dirinya yang sempat disebutkan Syaifullah Tamliha bahwa dirinya mencoreng nama baik partai berlambang kakbah tersebut.

“Saya ini bukan pengurus inti, saya ini adalah Wakil Bendahara Pengurus Harian DPP PPP. Nah, jadi kalau beliau bilang saya memcemari nama baik partai, itu salah. Saya ini menegakkan hukum. Orang yang melanggar hukum, masa saya mencemari nama baik partai, justru ingin membersihkan nama baik partai,” ungkapnya.

Justru menurutnya, Syaifullah Tamliha lah yang mencemari nama baik partai dengan cara melakukan money politic dalam meraih suara. Apalagi mengingat PPP adalah partai yang berlandaskan Islam.

Beberapa waktu lalu, Syaifullah sempat menyatakan bahwa Nasrullah melakukan pencemaran nama baik atas dirinya dan melanggar undang-undang ITE. Hal ini pun juga ditepis oeh Nasrullah dan justru ia membeberkan pelanggaran hukum yang pernah dilakukan oleh Syaifullah.

“Dari awal saya tunggu kalau beliau mau melaporkan saya (pelanggaran ITE). Beliau ini banyak hal melanggar hukum. Pada 2008 atau 2009 kasus pemotongan dana masjid di Kotabaru. Itu masih ada jejak digitalnya. Dia juga tidak mengaku,” ungkapnya.

Begitu juga dengan SPBU dan SPBE yang dimiliki oleh Syaifullah yang berlokasi di Sungai Tabuk, Martapura. Nasrullah membeberkan bahwa ia mempunyai data dan saksi dari proses pengurusan izin hingga prosesi lapangan, serta pendistribusian SPBU dan SPBE tersebut yang tidak legal.

Bahkan jawaban Syaifullah atas klarifikasinya hari Minggu (12/5) lalu dianggap Nasrullah terlalu mengada-ada. “Itu kebiasaan, dia bilangnya (laporan di Bawaslu) bohong, tidak punya bukti kuat, dan juga pencemaran nama baik. Nah menurut saya itu ritual orang terlapor, untung beliau tidak menyatakan sakit dan hadir saja saat dipanggil,” tuturnya.

Nasrullah sendiri tidak takut jika hal ini akan berpengaruh bagi internal PPP karena tindak pidana ini bukan merupakan ranah partai tapi tindak pidana Pemilu.

“Saya sudah mengatakan, “Nabi mengatakan Demi Allah seandainya Fatimah mencuri maka saya yang potong tangannya.” Nah dalam konteks penegakan hukum, jangankan partai, keluarga pun bila melanggar harus ditegakkan. Orang-orang seperti itu mestinya tidak ada di dalam PPP,” pungkasnya.

Sebelumnya pada Minggu (12/5/2019), politisi senior PPP yang duduk di DPR RI Komisi I, Syaifullah Tamliha mendatangi kantor Bawaslu Kalsel. Kedatangan Syaifullah untuk diperiksa atas pelanggaran kampanye dan dugaan politik uang yang dilaporkan atas dirinya. Selama tiga jam lebih, sejak pukul 14.00 Wita, proses pemeriksaan dilakukan tertutup.

Ditemui usai pemeriksaan, pria yang di DPR menjabat Wakil Ketua Fraksi PPP ini mengatakan, kedatangannya ke Bawaslu adalah untuk mengklarifikasi terkait laporan atas dirinya yang dituduhkan berkampanye di masa tenang. Tepatnya satu hari sebelum pemilu berlangsung juga tuduhan atas uang sebesar Rp 25 ribu yang dibagikan saat reses.

Syaifulah yang selaku salah satu tokoh PPP ini pun menepis semua tuduhan tersebut.

“Saya bukan politisi kemarin sore. Saya kan di Jakarta (sehari sebelum pemilu), saya tidak punya tim kampanye, jadi tidak ada orang-orang bagi duit,” jelasnya.

Disampaikannya lebih lanjut, si pelapor yang mengatakan Syaifullah melakukan money politik adalah rekan satu partainya yakni Nasrullah AR. Ia sangat menyayangkan bahwa ada rekan satu partainya yang ingin menjatuhkannya. Ia menyebut hal ini seperti istilah ‘jeruk makan jeruk’.

Atas adanyakejadian ini pihaknya merencanakan akan melakulan rapat DPP yang jika nanti kejadian ini merusak citra dan martabat partai, tak menutup kemungkinan dilakukan pemecatan terhadap Nasrullah.

Sementara itu, Kasubag Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kalsel Doddy Yulihartanso, mengatakan dugaan money politik yang dilakukan Syaifullah ini bertitik di daerah Haruyan dan Paramasan. Serta ada beberapa alat bukti berupa uang, replik surat suara, dan kartu nama.

Bawaslu akan melakukan pembahasan berikutnya pada hari Senin (13/5) untuk memenuhi unsur-unsur laporan dan jika tidak terpenuhi maka pihaknya akan memberhentikan pemeriksaan. “Bila ada terpenuhi unsur maka naik ke sidik,” jelas Doddy. (mario)

Reporter:Mario
Editor:Bie

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

HEADLINE

Di Balik Aksi ‘Teroris Lokal’, Paparan Paham Radikalisme dan Terorisme di Kalsel Meningkat?

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Terorisme dan radikalisme menjadi ancaman yang harus diwaspadai/ilustrasi. Foto: Tempo
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kasus penyerangan Mapolsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, pada Senin (1/6/2020) dini hari lalu, menjadi catatan khusus akan potensi ancaman paham radikalisme dan terorisme. Sebab diketahui pelaku penyerangan berinisial AR yang mengaku sebagai simpatisan ISIS ini, ternyata adalah warga lokal.

Lalu, seberapa besar ancaman paham ini bagi Kalsel yang selama ini masyarakatnya dikenal memiliki sikap toleransi dan pemahaman keagamaan inklusif?

Sebelumnya, dalam suatu acara ‘Bersama Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan’ yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel pada Selasa (31/12/2019), disebutkan bahwa sepanjang 2019, skala masyarakat Kalsel yang terpapar paham radikalisme dan terorisme berada pada angka 55.

Berdasarkan besaran angka yang didapatkan dari hasil riset dan suvei FKPT Kalsel tersebut, maka ancaman tersebut dikatakan masih dalam ambang menengah.

Sekretaris FKPT Kalsel, Mariatul Asiah menyebutkan, skala tersebut berarti paham radikalisme maupun terorisme di Bumi Lambung Mangkurat masih berada pada posisi tengah. “Masih sebatas pemikiran masyarakatnya, tidak ada aksi-aksi radikal yang ditemukan,” katanya ketika itu.

Namun demikian, posisi itu bukan berarti Kalsel yang dikenal kondusif ini dikategorikan aman dari paham-paham tersebut. “Kita harus tetap waspada agar Kalsel yang kondusif ini tetap bisa terjaga, serta yang terpenting bagaimana agar kita selalu mensinergikan semua elemen maupun kelompok masyarakat guna bersama-sama menangkal paham radikalismen dan terorisme,” tuturnya.

Sejauh ini, FKPT Kalsel telah melakukan berbagai upaya guna mencegah paham-paham tersebut supaya tidak tumbuh ataupun mengakar di kalangan masyarakat. Upaya-upaya tersebut dituangkan dalam riset tentang kearifan lokal sebagai daya tangkal berkembangnya paham radikalisme dan terorisme.

Sementara itu, sebelumnya juga ratusan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari 5 provinsi di Kalimantan mengikuti kegiatan rapat koordinasi daerah (Rakorda) Wilyah V Kalimantan juga membahas isu radikalisme ini.

“Radikalisme itu ada bagai bayang -bayang,” ujar Ketua MUI Kalimantan Selatan, KH Husin Nafarin ketika itu.

KH Husin Nafarin mengatakan, Islam itu Rahmatan lil alamin artinya orang Islam itu rahmat bagi semesta alam sebenarnya. “Tapi kalau ada orang Islam yang membuat kerusakan itu tidak benar Islamnya, tidak sempurna,” tegasnya.

Ditambahkan Sekretaris MUI Kalsel M Fadhli Mansur, bahwa sekarang ini harus terus kita waspadai terutama soal radikalisme. Namun, hal itu juga, katanya harus kita kenali apa saja ciri kelompok yang menganut paham yang bisa saja merugikan orang banyak.

Ia menegaskan, MUI sudah mengeluarkan fatwa! Bahwa perbuatan yang merugikan orang banyak apalagi mencelakakan orang itu haram. “Islam adalah agama wasatiah yakni berada di tengah-tengah. Daerah Banjar ini termasuk mayoritas muslim yang toleran terhadap ragam agama,” katanya dalam sebuah acara ‘Kupas Tuntas Radikalisme Terorisme dan Separatisme’ di Aula Kampus Uniska, ketika itu.

Ia ingin, kajian-kajian dakwah misalnya pada kampus-kampus dan masyarakat, perlu juga dibahas meluruskan apa radikalisme ini. Jangan sampai pemahaman sesuatu agama cendrung ke ekstrim kiri, sedikit sedikit menyalahkan orang seperti itu. Kemudian, ektrim kanan seperti memahami ayat yang hanya sepotong-sepotong.

“Perlu terus didakwahkan, Islam itu wasatiah, tolong menolong, toleransi mau bergandeng tangan ditengah perbedaan,” katanya.

Kegiatan rakor bertema ‘Bersama Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan’ yang digelar FKPT Kalsel pada Selasa (31/12/2019). Foto: Rico

Perlu Counter Narasi

Dikatakan Mariatul Asiah, saat ini perlu terus menggalakkan sarana counter terhadap berita atau informasi yang boleh dibilang menyesatkan. Oleh karena itu penting adanya counter narasi yang diinisiasi dari kawula muda sendiri.

Maka, kami sangat mendorong agar anak-anak muda membuat video pendek yang kemudian akan dibagikan kembali ke media-media sosial yang banyak mereka gunakan,” tegasnya.

Apalagi saat ini pelaku terorisme telah menyasar kelompok perempuan. Hal inilah, yang ditegaskan agar menjadi perhatian bersama seluruh komponen masyarakat. “Oleh karena itu ketahanan keluarga harus terus dikuatkan, di antaranya dengan menanamkan nilai-nilai agama yang moderat serta memberikan pendidikan kebhinekaan. Sehingga nantinya perempuan dan anak sebagai kelompok rentan, tidak mudah terpapar paham radikal,” imbaunya.

Kasus penyerangan Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) hingga kini masih didalami oleh Polda Kalsel maupun Polres HSS. Sempat beredar informasi bahwa pelaku penyerangan yang dilumpuhkan oleh kepolisian dengan timah panas ini merupakan warga setempat.

Hal ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Moch Rifa’i, Selasa (2/6/2020) siang. “Ya, betul. Warga setempat,” kata Kombes Rifa’i.

Ia menambahkan, pelaku yang merupakan OTK (orang tak dikenal) ini diketahui tinggal satu kampung dengan Brigadir Leonardo Latupapua. Sehingga, rumah keluarga pelaku dapat diketahui. “Tinggal satu kampung antara pelaku dengan korban. Bahkan agamanya pun sama yaitu Islam,” tambah Kombes Rifa’i. (Kanalkalimantan.com/rico/fikri)

 

Reporter : Fikri/Rico
Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Satu Keluarga Pedagang Terpapar Covid-19, Berujung Penutupan Pasar di Banjarbaru Utara

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Temuan kasus positif Covid-19 satu keluarga pedagang di sebuah pasar jalan Karang Anyar II, Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara. Buntut temuan kasus Covid-19 tersebut berujung pada penutupan pasar yang dilakukan oleh pihak Kecamatan Banjarbaru Utara, Selasa (2/6/2020) pagi.

Informasi ini sendiri dibenarkan Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Banjarbaru Rizana Mirza. Melalui sambungan telepon, ia mengatakan bahwa satu keluarga pedagang di pasar tersebut memang dinyatakan terpapar.

Namun begitu, satu keluarga ini tidaklah bertempat tinggal di kota Banjarbaru. Mereka merupakan warga Kabupaten Banjar yang berdagang di pasar yang ada di wilayah Banjarbaru.

“Jadi tidak ada warga kota Banjarbaru yang positif. Keluarga ini adalah warga Kabupaten Banjar dan karena bejualan di wilayah kita, maka menjalani pemeriksaan di Puskesmas Banjarbaru Utara,” kata Rizana.

Lantaran tidak terdata di tim Gugus Tugas P2 Covid-19 Banjarbaru,  Rizana mengaku tidak mengetahui jumlah pasti dari keluarga tersebut. Hanya saja, informasi yang dihimpun ialah pemeriksaan swab dari satu keluarga berjumlah 5 orang tersebut, hasilnya 4 orang dinyatakan positif terpapar Covid-19.

Atas temuan kasus baru Covid-19 ini, pihak Kecamatan Banjarbaru Utara memutuskan untuk menutup aktifitas pasar tersebut. Hal yang tak kalah mengejutkan, rupanya pasar itu juga tidak terdata di Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru.

“Sebagai antisipasi penyebaran Covid-19, pasar dadakan ini kita tutup. Kita akan sterilkan dulu area pasar ini lewat penyemprotan disinfektan. Keputusan menutup pasar juga didukung adanya bukti kuat bahwa ini bukan pasar resmi,” terangnya.

Penyemprotan disinfektan di pasar jalan Karang Anyar II oleh tim gugus tugas Covid-19 Banjarbaru. Foto: Camat for Kanal

Fakta bahwa pasar dadakan ini tidak resmi, juga turut dipekuat oleh pernyataan Camat Banjarbaru Utara, Aqli. Dalam hal ini, Aqli menuturkan bahwa pasar tersebut berdiri atas izin pemilik tanah. Hanya saja, belum mengantongi izin resmi sebagai pasar di bawah pembinaan dari Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru.

“Terlepas adanya temuan kasus Covid-19 dari salah satu pedagang. Fakta bahwa pasar ini tidak punya izin dari Pemerintah Kota Banjarbaru, maka kita putuskan untuk ditutup. Dimulai dari hari ini hingga waktu yang tidak ditentukan,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : rico
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Pesan Sabu Lewat Telepon ke RH, Awal Mula ASN Basarnas Banjarmasin Ditangkap

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penggeledahan di ruang kerja IS di Kantor Basarnas Banjarmasin. Foto: humas polres banjarbaru for kanalkalimantan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kepala Satuan Reserse (Satres) Narkoba Polres Banjarbaru AKP Elche akhirnya angkat bicara terkait penangkapan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Basarnas Banjarmasin.

Kepada Kanalkalimantan.com, AKP Elche menceritakan kronologi penangkapan terhadap IS (36) yang bertugas di bidang humas Kantor Basarnas Banjarmasin tersebut. Berawal, saat pihak kepolisan mendapati informasi dari masyarakat sejak beberapa bulan lalu.

“Pelaku berinisial IS ini telah menjadi target operasi kita sejak Maret lalu. Tapi, giat penangkapannya tidak menjadi prioritas,” katanya, Selasa (2/6/2020) sore.

Awalnya, Satres Narkoba melakukan penangkapan terhadap pelaku berinisal RH yang merupakan seorang pejual narkoba pada Senin (1/6/2020) kemarin. Dalam hal ini petugas mendapati barang bukti 2,15 gram sabu dari tangan RH.

Dari pengakuan RH inilah, diketahui bahwa kristal haram tersebut sering dibeli oleh IS. Sialnya, bertepatan saat RH sedang diamankan, IS menelpon dengan maksud membeli serbuk putih itu.

Walhasil, pihak kepolisian menjebak dan mengamankan IS di lokasi yang dijanjikan sebagai tempat bertransaksi yakni di sebuah pinggir jalan di Kecamatan Landasan Ulin.

“IS tidak berkutik saat kita amankan sedang bertransaksi narkoba. Saat itu, kita minta IS menunjukan sisa sabu yang dikonsumsi. Ternyata disimpan di jok motor seberat 0,27 gram berserta alat hisap,” lanjut Kasatres Narkoba.

Baca juga: Pernah Tes Urine Narkoba di Basarnas Banjarmasin, Kepala Kantor Basarnas: Waktu Itu Tidak Ditemukan Ada Pegawai Positif

Fakta lainnya, IS mengkonsumsi narkoba dengan kategori kecanduan parah. Selain itu, IS berdalih kepada petugas dirinya mengkonsumsi narkoba lantaran permasalahan rumah tangga.

“Dengan tertangkap tangan dan temuan barang bukti sabu-sabu serta alat pipet, pelaku kita kenakan pasal 122 subsider 127 UU Narkotika dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” pungkas AKP Elche.

Baca juga: BREAKING NEWS. Oknum ASN di Basarnas Banjarmasin Ditangkap, Diduga Tersandung Kasus Narkoba

Selasa (2/6/2020) pagi, Satres Narkoba Polres Banjarbaru juga melakukan penggeledahan di ruang kerja IS di Kantor Basarnas Banjarmasin. Penggeledahan yang berlangsung kurang lebih satu jam itu, petugas mendapati plastik klip dan korek api yang sudah dimodifikasi berada dalam lemari kerja IS.

Sementara itu, Kepala Basarnas Banjarbaru Sunarto menegaskan, pihaknya akan selalu kooperatif dalam kasus tertangkapnya IS. Ia juga menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak kepolisian.

“Kita tidak akan ikut campur, meskipun yang bersangkutan adalah petugas dari Basarnas. Jika, terbukti maka kita ikuti proses hukumnya. Sanksi dari Basarnas kepada yang bersangkutan bisa jadi pemecatan, jika kasus ini sudah inkrah,” tuturnya. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : rico
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->