Connect with us

HEADLINE

BENCANA AWAL 2021: Pontang-panting Banjir di Kalsel, Total 21.506 Jiwa Terdampak!

Diterbitkan

pada

Banjir yang terjadi di Kabupaten Banjar merendam ribuan rumah warga Foto: bpbd/ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Di tengah upaya membentengi diri dari pandemi Covid-19, masyarakat Kalimantan Selatan dipaksa mengungsi dari rumah mereka akibat terjangan banjir yang melanda pada awal tahun.

Deretan peristiwa banjir sejak beberapa hari terakhir, terpantau di 5 wilayah Kabupaten Kota. Yakni, Kabupaten Tanah Laut, Kota Banjarbaru, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tapin.

Menilik data BPBD Provinsi Kalsel, total korban terdampak banjir secara keseluruhan di Banua, ada sebanyak 21.506 jiwa. Sedangkan, untuk total rumah warga yang terkena imbas banjir ada sebanyak 6.235 unit.

“Jumlah ini masih akan bertambah, karena data laporan banjir di beberapa wilayah belum kita masukan. Contohnya, di Kecamatan Pengaron (Kabupaten Banjar, -red) dan di Kecamatan Landasan Ulin (Kota Banjarbaru, -red),” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kalsel, Abriansyah, Selasa (12/1/2021).



Akumulatif jumlah korban terdampak banjir yang saat ini tercatat, didominasi berasal dari Kabupaten Tanah Laut. Dengan total warga yang terdampak sebanyak 16.248 jiwa. Mencangkup di Kecamatan Bati-Bati, Tambang Ulang, Kurau, Bumi Makmur, Kintap, Jorong, serta Pelaihari yang merupakan pusat perkotaan daerah Tanah Laut.

Kemudian disusul Kabupaten Banjar, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 3.490 jiwa. Di wilayah ini, banjir terjadi di Kecamatan Pinang, Astambul, Martapura Kota, dan Martapura. Serta yang baru-baru ini terjadi, banjir besar di Kecamatan Pengaron.

Korban terdampak banjir terbanyak selanjutnya berasal dari Kota Banjarbaru, dengan jumlah 1.023 jiwa. Mencangkung di Kecamatan Cempaka, Liang Anggang, dan yang baru saja terjadi yakni di Landasan Ulin.

Sementara, untuk Kabupaten Tabalong setidaknya 490 jiwa yang terdampak dan di deretan akhir ialah Kabupaten Tapin tercatat ada sebanyak 225 jiwa.

Faktor utama penyebab banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kota di Kalsel, menurut Abriansyah tak lepas dari anomali iklim La Nina yang menyebabkan peningkatan curah hujan.

“Peningkatan curah hujan telah terjadi di Kalsel. Penampung air seperti halnya embung di masing-masing Kabupaten/Kota sudah tidak mampu lagi menahan tingginya curah hujan dan akhirnya meluber ke pemukiman rumah warga,” tandasnya.

Hingga kini, BPBD bersama TNI Polri serta Basarnas terus melakukan upaya penanganan banjir di masing-masing wilayah. Posko darurat telah didirikan sebagai tempat pengungsian sementara warga yang terdampak. Termasuk pula, dibukanya dapur umum untuk menyuplai makanan kepada para korban. (Kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Komentar

HEADLINE

Nenek 90 Tahun Menolak Dievakuasi dari Lokasi Banjir di Kabupaten Banjar!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Nenek Berlian (90), warga Desa Dalam Pagar Ulu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, tidak mau dievakuasi oleh tim gabungan dari lokasi banjir, Selasa (19/1/2021). Ia tetap memilih bertahan di dalam rumah.

Kepala UPT Damkar Banjar Gusti Yudhir mengatakan, tim gabungan UPT Damkar dan EBR tidak berhasil membujuk Berlian meninggalkan rumahnya.

“Ini yang kali kedua dibujuk evakuasi tetapi beliau tidak mau, setelah sebelumnya pernah dibujuk oleh petugas tim yang lain,” ucapnya.



 

 

Dia juga mengatakan, perjalanan menuju rumah Nenek Berlian lumayan cukup jauh. Mobil ambulans EBR dan Pick up Damkar hanya dapat sampai pada kompleks pengajian Habib Zen untuk menurunkan perahu.

“Selanjutnya tim berjalan Kaki sejauh kurang lebih 3 km dengan membawa perahu karet, ketinggian air di lalui bervariasi dengan kedalaman tertinggi mencapai atas pinggang orang dewasa,” tuturnya.

 

Di titik lokasi, lanjut Gusti Yudhie, yang bersangkutan tidak bersedia dievakuasi. Walaupun sudah dibujuk langsung keponakannya dari Banjarmasin. Juga oleh anaknya sendiri yang menemaninya di rumah.

 

“Akhirnya Tim balik kanan dan memberikan bekal makanan serta air minum,” bebernya.
Sebelumnya, sebuah rekaman video yang memilukan memperlihatkan tangisan seorang pria yang memaksa seorang nenek untuk dievakuasi, beredar di jejaring media sosial. Nenek tersebut menolak untuk dievakuasi dari rumahnya yang terkena banjir.

Seorang pria bersama petugas pun membujuk nenek tersebut agar mau dievakuasi. Akan tetapi, si nenek bersikukuh untuk tetap tinggal di rumahnya. Dalam video tersebut, terlihat seorang pria yang memakai peci berwarna putih menggenggam tangan nenek itu.

Dia pun menangis. Sementara, seorang petugas ikut membujuk nenek tersebut. Nenek tersebut bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya meski rumahnya tergenang banjir. Petugas meminta nenek tersebut untuk mengungsi. (Kanalkalimantan.com/wahyu)

Reporter: Wahyu
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Walhi Kalsel Kritik Kedatangan Jokowi yang Cuma ‘Salahkan’ Hujan!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Walhi Kalsel kritisi kedatangan Jokowi saat tinjau banjir di Kalsel Foto: andy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– Kedatangan Presiden Jokowi untuk meninjau korban banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) mendapat kritik dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel. Alih-alih melakukan investigasi penyebab banjir oleh rusaknya lingkungan akibat masifnya tambang dan perkebunan sawit, Jokowi malah menyalahkan hujan dan sungai.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, menyikapi tidak adanya statemen kuat dari Jokowi terkait musibah banjir Kalsel yang merupakan kejadian terburuk selama 50 tahun terakhir.

“Harusnya Jokowi hadir dengan lebih kuat di hadapan masyarakat Kalsel. Selain penanganan korban dan menjamin keselamatan rakyatnya, mestinya beliau berani memanggil pemilik perusahaan-perusahaan tambang, sawit, HTI, HPH. Menggelar dialog terbuka dengan rakyat dan organisasi masyarakat sipil,” tegasnya.


Bukannya melakukan itu, dalam pernyataannya Jokowi hanya menyampaikan bahwa banjir besar yang melanda 10 kabupaten kota di Kalsel disebabkan tingginya intensitas curah hujan La Nina hingga 10 hari lamanya. Hal itu menyebabkan daya tampung air di Sungai Barito yang notabenenya adalah sungai terbesar dan terpanjang di Kalsel melebihi kapasitas.



“Mestinya jangan Cuma bisa salahkan hujan dan sungai,” tegas Kisworo yang akrab dipanggil Cak Kis ini.

Ia mengatakan, Walhi sudah sering mengingatkan bahwa Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Kalsel dengan luas 3,7 juta Ha, ada 13 Kab/Kota 50 % lahan yang sudah dibebani izin tambang 33 % dan perkebunan kelapa sawit 17 %, belum HTI dan HPH.

“Selain carut marut tata kelola lingkungan dan SDA, rusaknya daya tamping dan daya dukung lingkungan, termasuk tutupan lahan dan DAS. Banjir kali ini juga sudah bisa diprediksi terkait cuaca oleh BMKG. Dan pemerintah lagi-lagi tidak siap dan masih gagap,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, Cak Kis mendesak agar pemerintah, baik Presiden, Gubernur, Bupati dan Wali Kota untuk segera turun tangan dan segera bertindak. Menetapkan status darurat dan benar-benar serius dan tidak gagap dalam penanganannya.

“Selain kerugian harta benda petani juga mengalami kerugian. Misalnya di Desa Sei Batang, Kecamatan Martapura Barat. Pada musim tanam tahun ini benih/bibit padi ikut terganggu bahkan terjual. Belum lagi daerah lain ikan tambak, ternak, dll. Pemerintah kedepan harus menyiapkan bibit gratis, agar musim tanam tidak terganggu,” terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Walhi Kalsel mendesak Presiden dan Pemerintah untuk melakukan beberapa langkah strategis sebelum kerusakan lingkungan semakin parah. Dimulai dengan langkah tanggap bencana (sebelum, pada saat dan pasca bencana/pemulihan), lalu melakukan review dan audit seluruh perizinan industri ekstraktif.

Walhi juga mendesak penyetopan izin baru tambang, penegakan hukum terutama terhadap perusak lingkungan, perbaikan/pemulihan kerusakan Lingkungan termasuk sungai, dan dainase/DAS. “Tak kalah penting adalah review RTRW, serta RPJM dan APBD/N yang pro tehadap keselamatan rakyat dan lingkungan serta mampu menghilangkan bencana ekologis,” tambahnya.

Disebutkan sebelumnya, banjir nyaris melumpuhkan wilayah di Kalsel. Banjir yang melanda Kalimantan Selatan hingga Minggu (18/1/2021) meluas. Jika sebelumnya tersebar di 10 kabupaten/kota, kini bertambah menjadi 11, menyusul Kabupaten HSU yang kini juga terendam.

Ketinggian banjir berkisar antara 1 hingga 2 meter. Dan yang paling parah masih terjadi di Kabupaten Banjar dan Tanahlaut. Berdasar data yang dipablis Kominfo Kalsel, Senin (18/1/2021), hanya Kabupaten Kotabaru, Tanahbumbu dan yang tidak terdampak banjir.

Berdasar data yang dirilis Kominfo Kalsel di laman facebooknya, Diskominfo Mckalsel, itu, yang terdampak di Kabupaten Banjar Kabupaten Banjar 17.996 KK yang terdiri atas 72.994 jiwa. Sedangkan di Kabupaten HST 16.600 KK yang terdiri atas 64.400 jiwa.

Sementara untuk total rumah yang terendam semuanya berjumlah 47.742 buah.
Sementara menyikapi hal ini, dalam kunjungan ke Kalsel Jokowi yang juga turut didampingi kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo hari ini, Presiden melakukan peninjauan di sejumlah titik-titik lokasi terdampak banjir. Termasuk juga melihat secara langsung posko evakuasi terbesar di Kabupaten Banjar yakni dipusatkan di Stadion Demang Lehman.

Presiden juga menginstruksikan perbaikan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan logistik, serta evakuasi terhadap korban banjir dengan segera. (Kanalkalimantan.com/andy)

 

Reporter : Andy
Editor : Cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->