Connect with us

Kota Banjarbaru

Berbagi Bingkisan ke Petugas Jaga Malam dan Cleaning Service

Diterbitkan

pada

Berbagi bingkisan dengan petugas jaga malam dan cleaning service di lingkungan SKPD Kota Banjarbaru. Foto : humpro banjarbaru
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Banjarbaru Syarifah Mariatul berbagi bingkisan dengan petugas jaga malam dan cleaning service di lingkungan SKPD Kota Banjarbaru, Selasa (21/5/2019). Penyerahan bingkisan berlangsung di sekretariat DWP Kota Banjarbaru, Jalan Sarikaya Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Ketua DWP Kota Banjarbaru Syarifah Mariatul menyebutkan, ada sekitar 64 bingkisan yang dibagikan kepada petugas jaga malam dan cleaning service yang bertugas di lingkungan SKPD Kota Banjarbaru.

“Ini suatu kepedulian dari Dharma Wanita Persatuan Kota Banjarbaru, berbagi dengan sesama khususnya untuk petugas jaga malam dan claning servive yang bertugas di lingkungan SKPD Kota Banjarbaru,” ujarnya.

Mungkin tak banyak yang dapat diberikan oleh DWP Kota Banjarbaru, ia berharap bermanfaat bagi para penerima. (bie)

Reporter:Bie
Editor:KK

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Kota Banjarbaru

Gelombang Kedua Covid-19 Mengancam, Penemuan Vaksin Jadi Kunci Akhir Pandemi

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mengukur Puncak Pandemi Covid-19 di Kalsel Lewat Pemodelan Matematika (4-Habis)


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sejumlah negara berlomba menemukan vaksin Covid-19. Foto: suara
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU –Pemerintah saat ini mulai mewacanakan new normal (kenormalan baru). Tentunya, dengan adanya kenormalan baru secara tidak langsung dapat disebut sebagai relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun konsekuensinya, akan terjadi lagi peningkatan kasus positif Covid-19. Atau bahasa lainnya adalah gelombang kedua atau secobd wave. “Jika terjadi relaksasi PSBB maka perlu sekali mewaspadai peningkatan kembali kasus infeksi dan kematian akibat Covid-19. Kurvanya bisa naik bahkan lebih tinggi lagi,” papar akademisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Dr. M. Ahsar Karim saat dihubungi, Rabu (27/5/2020).

Diakui Dr. Ahsan, di beberapa kasus pandemi virus sebelum Covid-19, gelombang kedua ini sangat rawan terjadi. Sehingga, masyarakat dan pemerintah diminta mewaspadai adanya gelombang kedua.

Dr. Ahsar menyarankan, jika relaksasi PSBB itu harus dijalankan suatu saat, maka harus ada penelitian atau upaya untuk dapat menemukan vaksin Covid-19. Tujuannya, untuk mencegah terjadinya gelombang kedua penyebaran Covid-19. “Kalau tidak ada seperti itu, kami sangat curiga akan terjadi second wave itu,” tegasnya.

Bahkan, bukan tidak mungkin orang yang sebelumnya terinfeksi Covid-19 dan telah sembuh, dapat terinfeksi kembali. Hal inilah yang perlu diwaspadai dari gelombang kedua Covid-19. Apalagi, saat ini belum ada penelitian yang dapat membatasi gelombang kedua ini.

Sehingga Dr. Ahsar merekomendasikan kepada pemerintah untuk memperbanyak upaya rapid test massal. Kendati diakui, persoalan biaya menjadi kendala dalam upaya ini. “Kalau rapid test ini dilaksanakan massal dan menyeluruh, kemudian data-data lebih terbuka, maka kami bisa melakukan prediksi yang lebih akurat lagi. Perlu sikap hati-hati, kalaupun relaksasi itu dilakukan kita semua harus menghitung untung ruginya,” ucapnya. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kota Banjarbaru

Rapid Test Saat Ini Baru ‘Membaca’ 1 Persen dari Total Populasi Kalsel

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mengukur Puncak Pandemi Covid-19 di Kalsel Lewat Pemodelan Matematika (3)


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pelaksanaan rapid test yang lebih masif perlu dilakukan untuk memetakan angka sebenarnya dari kasus Covid-19 di Kalsel. Foto: fikri
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Penyebaran Covid-19 di Kalimantan Selatan saat ini cukup masif. Ini terbukti dengan tingginya temuan kasus berdasarkan hasil tracing yang dilakukan oleh Tim Surveilans Epidemiologi di kabupaten dan kota.

Berdasarkan data dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (P2) Kalsel pada Rabu (27/5/2020) sore, tercatat sebanyak 703 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Bahkan, pakar epidemiologi dr. H. IBG Dharma Putra menyebut sebanyak 2.100 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dari 2.100 orang itu, 15.750 orang merupakan orang tanpa gejala dan 5.250 orang yang terpapar Covid-19 dan perlu perawatan.

Terkait hal ini, akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Dr. M. Ahsar Karim berharap adanya keterbukaan data dan informasi terkait Covid-19 di Kalimantan Selatan. Langkah ini guna memberikan kemudahan dalam melakukan kajian penyebaran Covid-19.

“Kita sangat berharap mereka mempunyai data yang valid,” kata Dr. Ahsar, Rabu (27/5/2020) malam.

Data valid yang dimaksud, seperti pelaksanaan rapid test di Kalsel dilakukan secara besar-besaran. Karena sepengetahuan Dr. Ahsar, baru 5.000 rapid test yang digunakan untuk tracing.

“Sementara jumlah penduduk Kalsel ini, jika berdasarkan data Badan Pusat Statistik itu sebanyak 4,3 juta. Kalau sebelumnya kita buat prediksi, jumlah penduduk Kalsel ini bisa mencapai 5 juta. Jika (rapid test) 5.000 buah, maka itu hanya satu persen yang melakukan rapid test,” paparnya.

Sementara, orang-orang yang dinyatakan positif, meninggal dunia dan sembuh karena Covid-19, lanjut Dr. Ahsar, baru berdasarkan data-data yang ada. Atau hanya satu per seribu. “Sekarang kita bayangkan, baru satu per seribu saja sudah segitu angkanya, bagaimana kalau rapid test ini mencapai 80 persen? Tapi itu akan mahal sekali,” lugasnya.

Tanpa adanya hal-hal seperti itu, menurut akademisi FMIPA ULM ini, maka pihak-pihak yang melakukan penelitian pada umumnya melakukan prediksi. (Kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Chell

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kota Banjarbaru

PSBB Berakhir, 80 Persen Program JPS Tersalurkan ke Masyarakat Terdampak Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penyerahan bantuan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Foto: Dinsos Kota Banjarbaru
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru memutuskan tidak memperpanjang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berakhir pada Jumat (29/5/2020).

Lantas, sudah sejauh mana penyaluran bantuan program Jaring Pengaman Sosial (JPS), kepada masyarakat yang terdampak Covid-19?

Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani, mengklaim penyaluran JPS telah berjalan baik selama berlangsungnya penerapan PSBB. Bahkan, jika dipersentasekan penyaluran bantuan JPS telah mencapai 80 persen.

“Alhamudillah, penyaluran JPS berjalan baik selama berlangsungnya PSBB di Banjarbaru. Sampai hari ini 80 persen bantuan sudah menyentuh masyarakat yang terdampak Covid-19 Banjarbaru,” katanya, Kamis (28/5/2020) sore.

Menurut dia, program bantuan JPS ini terdiri atas empat jenis, yakni Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Bantuan Sembako Murni dan Bantuan Sosial dari APBD Kota dan Provinsi.

Sejak hari pertama PSBB di Banjarbaru, Pemko Banjarbaru telah menyalurkan Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial. Tak lama setelah itu, Bantuan Sosial dari APBD Kota dan Provinsi juga mulai dialirkan kepada masyarakat.

Adapun jika digabungkan seluruh program JPS, BST, PKH, Bantuan Sembako Murni dan Bantuan Sosial dari APBD, maka ada total 27.688 KK yang menerima bantuan sosial, dari total 71.000 KK yang ada di Banjarbaru. Artinya, jika dikomposisikan, maka 38 persen masyarakat Banjarbaru menerima bantuan sosial.

Dengan berakhirnya PSBB, kata Nadjmi, pihaknya bersiap menuju konsep New Normal sesuai arahan Pemerintah Pusat. Tetapi ditegaskannya, meskipun PSBB berakhir, program JPS akan tetap disalurkan selama dua bulan ke depan.

“Biarpun PSBB berakhir, namun tetap diterapkan protokol pencegahan Covid-19 di masyarakat. Khususnya tempat keramaian seperti mal, pasar dan lainnya. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Dhani

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->