Connect with us

Hukum

BREAKING NEWS. Perkelahian di Uniska, Mahasiswa Ayunkan Parang ke Adik Kelas

Diterbitkan

pada

Aksi perkelahian di kampus Uniska yang melibatkan dua mahasiswa beda angkatan. Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Halaman parkir kampus Uniska (Universitas Islam Kalimantan) Banjarbaru, Senin (14/10) sekitar pukul 14.17 Wita, geger. Menyusul aksi perkelahian satu lawan satu, dalam perkelahian ini salah satu mahasiswa membawa parang, sempat mengayungkan ke arah mahasiswa lain.

Informasi yang diperoleh Kanalkalimantan.com di lokasi kejadian, awalnya suasana kampus seperti biasa, sejumlah mahasiswa ada yang bolak balik masuk dan ada juga yang duduk di atas sepeda motor sambil berbincang.

Namun, suasana tersebut tiba-tiba saja pecah saat salah satu mahasiswa berteriak dan mengeluarkan parang. Mahasiswa ini langsung mengarahkan parang tersebut ke arah mahasiswa lain yang ada didekatnya.

Beruntungnya, mahasiswa yang mengayunkan parang tersebut langsung dikepung beberapa orang, sehingga ayunan parang itu berhasil dihentikan.

Seketika itu juga, mahasiswa ada yang berteriak histeris, hingga menyebabkan kegaduhan di dalam kampus Uniska. Jam perkuliahan yang sedang berlangsung pun buyar, membuat mahasiswa lainnya keluar dari kelas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

“Saya kaget ada yang teriak. Saya langsung keluar kelas, ternyata ada perkelahian. Tapi itu saya liat ada yang bawa parang,” kata Mujib.

Di halaman parkir Uniska, sempat terjadi adu gulat, hingga mahasiswa yang membawa parang tersebut tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Meski begitu, akibat aksi gulat ini mahasiswa yang membawa sajam tersebut mendapati luka di bagian jarinya. Selain itu, wajahnya juga memar.

Polres Banjarbaru yang mendapati laporan kejadian ini melalui aplikasi Siharat langsung mendatangi lokasi kejadian. Sajam milik mahasiswa langsung diamankan pihak kepolisian.

Terlihat pihak kepolisian sempat memintai keterangan mahasiswa yang membawa parang tersebut dan membawanya ke Polres Banjarbaru. Selain itu, salah satu mahasiswa yang diduga menjadi sasaran penyerangan juga dibawa pihak kepolisian.

Belakangan diketahui, yang menjadi sasaran penyerangan itu ialah H mahasiswa semester I. Menurut H, dirinya sama sekali tidak mengenal mahasiswa yang menyerangnya tersebut, namun dipastikannya bahwa mahasiswa yang membawa parang itu ialah kakak kelasnya.

Kepada kanalkalimantan, H mengakui penyerangan di halaman parkir tersebut buntut dari percekcokan yang sebelumnya terjadi di ruangan kelas.

“Jadi saya awalnya di kelas, menunggu dosen masuk. Tiba-tiba dia datang. Disitu saya sempat berkelahi dan mendorong dia sampai jatuh. Sesudah itu, dia malah mengajak saya berkelahi di halaman parkir,” ceritanya.

H yang khawatir dengan ajakan kakak kelas tersebut, lantas menghubungi teman-temannya yang lain untuk berkumpul di halaman parkir. H sendiri terkejut saat melihat kakak kelasnya datang bersama satu orang lainnya dengan membawa sajam dan mengayunkan kearahnya.

“Dia bersama temannya satu orang. Saya kaget dia bawa Sajam. Tadi sesudah diamankan polisi, saya melihat di dalam tasnya masih ada senjata tajam lain,” akunya.

Sampai saat ini H sendiri belum mengetahui apa duduk permasalahannya sehingga kakak kelasnya tersebut menyerang dirinya. H sedang dimintai keterangan oleh pihak kepolisan.

Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya melalui Kassubag Humas, AKP Siti Rohayati menerangkan bahwa pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap mahasiswa yang membawa parang tersebut. Selain itu, sejumlah saksi kejadian juga dipanggil.

“Masih kita dalami motifnya apa. Untuk sajam sudah kita amankan. Perkembangan lebih lanjut akan kita kabarkan,” katanya. (rico)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Uploader Terpercaya Kanal Kalimantan

Advertisement

Hukum

Tiga Hakim Perempuan Memutus Presiden Melanggar Hukum Dalam Pemblokiran Internet di Papua

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Majelis hakim PTUN Jakarta yang memimpin sidang putusan gugatan internet Papua. Foto: Courtesy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tata Usaha (PTUN) Jakarta memutuskan Presiden Joko Widodo dan Menteri Komunikasi dan Informatika telah melanggar hukum dalam pemblokiran internet di Papua dan Papua Barat. Persidangan ini dipimpin oleh Hakim Ketua Nelvy Christin dengan dua anggotanya Baiq Yuliani dan Yeni Yeaniwilda.

Hakim Ketua Nelvy Christin juga menghukum presiden dan menteri kominfo untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.457 ribu secara bersama atau tanggung renteng.

“Menghukum tergugat satu dan tergugat dua untuk membayar biaya perkara sebesar Rp457 ribu,” ucap Nelvy Christin saat membacakan putusan secara online pada Rabu (3/6).

Putusan majelis hakim ini sesuai dengan permohononan yang diajukan Tim Pembela Kebebasan yakni menyatakan tindakan tergugat sebagai perbuatan melawan hukum dan menghukum tergugat membayar biaya yang timbul dalam perkara ini. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menolak eksepsi atau bantahan dari Kementerian Kominfo dan Presiden RI mulai dari tenggang waktu, mekanisme gugatan hingga kejelasan gugatan.

 

Sementara dalam pokok perkara, majelis hakim menilai Pasal 40 ayat (2a) dan (2b) UU ITE yang dijadikan dasar pemerintah dalam memutus internet tidak tepat. Sebab, pembatasan internet, menurut pasal tersebut, hanya dapat dilakukan terhadap informasi atau dokumen elektronik yang melanggar hukum, tidak mencakup pemutusan akses jaringan internet.

Majelis hakim juga menyatakan pembatasan HAM hanya dibolehkan jika sesuai undang-undang. Karena itu, pemerintah semestinya menggunakan UU tentang keadaan bahaya jika hendak melakukan pembatasan hak. Namun pada praktiknya, pemerintah tidak pernah menggunakan mekanisme sebagaimana diatur dalam UU tentang Keadaan Bahaya tersebut.

Tanggapan Penggugat dan Tergugat

Tim Pembela Kebebasan Pers ini terdiri dari AJI, Safenet, LBH Pers, YLBHI, Kontras, Elsam dan ICJR. Gugatan ini diajukan ke PTUN Jakarta pada 21 September 2019 setelah pemerintah tidak menanggapi keberatan TIM Pembela Kebebasan Pers.

Adapun tindakan pemblokiran yang dipersoalkan adalah pelambatan akses internet (bandwidth throttling) di beberapa wilayah Papua dan Papua Barat pada 19 Agustus 2019. Kedua, pemblokiran layanan data atau pemutusan akses internet secara menyeluruh di 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua dan 13 kota/kabupaten di Papua Barat, pada 21 Agustus-4 September 2019.

Dan terakhir, perpanjangan pemblokiran layanan data dan pemutusan akses internet di empat kabupaten/kota Papua dan dua kabupaten/kota di Papua Barat pada 4 September hingga 9 September 2019.

Kuasa Hukum Tim Pembela Kebebasan Pers Ade Wahyudin mengapresiasi keputusan majelis hakim yang menyatakan tindakan pemerintah sebagai perbuatan melanggar hukum. Ia berharap putusan ini dapat membawa iklim yang baik bagi kebebasan internet di Indonesia.

“Gugatan ini sangat baik dan akan menjadi preseden yang bagus juga untuk kebebasan berekspresi, khususnya kebebasan berinternet di Indonesia. Kita dengar dalam pertimbangan hakim, pertimbangan HAM sangat mendominasi,” jelas Ade kepada VOA pada Rabu (3/6).

Ade menjelaskan gugatan dialamatkan ke presiden karena dianggap melakukan pembiaran terhadap tindakan yang melanggar hukum di Papua dan Papua Barat. VOA sudah berusaha meminta tanggapan kementerian komunikasi dan informatika, serta juru bicara presiden terkait putusan ini. Namun, hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari pemerintah. (sm/ab)

Reporter : Sasmito
Editor : VOA


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Pernah Tes Urine Narkoba di Basarnas Banjarmasin, Kepala Kantor Basarnas: Waktu Itu Tidak Ditemukan Ada Pegawai Positif

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kepala Kantor Basarnas Banjarmasin. Foto: rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Penangkapan IS (36) seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Basarnas Banjarmasin atas dugaan pemakaian narkoba, mengejutkan seluruh unsur jajaran di Lembaga pemerintah non kementrian tersebut.

Kepala Kantor Basarnas Banjarmasin Sunarto mengaku tak menyangka bahwa ASN di Basarnas Banjarmasin tersebut tersandung penyalahgunaan narkotika. Mengingat, IS dalam kesehariannya berkerja selayaknya petugas yang taat aturan.

“Kesehariannya bekerja dan aktifitasnya di sini berjalan baik. Siaga piket juga selalu masuk. Memang kita tidak memonitoring secara langsung kegiatannya di luar, tapi saya tidak menduga kejadian ini,” akunya, Selasa (2/6/2020) siang.

Baca juga: BREAKING NEWS. Oknum ASN di Basarnas Banjarmasin Ditangkap, Diduga Tersandung Kasus Narkoba

Sebenarnya antisipasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan kerja, kata Sunarto, selalu dilakukan dengan melakukan tes urine. Dalam hal ini, Basarnas Banjarmasin menggandeng pihak BNN.

“Dua bulan lalu, bersama BNN kita mengadakan tes urine. Tapi saat itu hasilnya petugas kita tidak ada yang dinyatakan mengkonsumsi narkoba. Makanya, saya kaget dengan kejadian ini,” lanjut Sunarto.

Seperti yang diberitakan, IS ditangkap Satres Narkoba Polres Banjarbaru, pada Senin (1/6/2020) kemarin. Informasi yang dihimpun, IS menjabat di bidang humas Kantor Basarnas Banjarmasin, ditangkap di pinggir jalan, usai membeli serbuk kristal dari seorang pengedar. (kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Sejumlah Perusahaan Tambang Tak Bayar Pajak Puluhan Triliun ke Negara

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di Kalimantan Ada Penambangan Dilakukan di Belakang Kantor KPU.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Mantan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Foto: Tangkapan layar live streaming Youtube Penutupan Sidang Rakyat
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Eks pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif mengungkapkan sejumlah perusahaan tambang mineral dan batu bara menunggak pembayaran royalti, penerimaan negara bukan pajak/PNBP kepada negara. Tunggakan pajak perusahaan-perusahaan tambang itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang.

Hal tersebut dibeberkan Laode dalam Sidang Paripurna Pembacaan Putusan dan Penutupan Sidang Rakyat dengan topik Membatalkan Undang-undang Minerba yang baru melalui live streaming, Senin (1/6/2020).

“Waktu saya di KPK masih ada puluhan triliun pajak/PNBP yang belum mereka bayar sampai sekarang,” kata Laode.

Dia mengkritisi UU Minerba yang baru hasil produk pemerintah dan DPR tersebut. Sebab Uu tersebut merugikan rakyat dan bernuansa melanggengkan perusakan lingkungan oleh perusahaan tambang minerba di tanah air.

Banyak permasalahan yang dilahirkan dari eksploitasi pertambangan selama ini. Mulai dari masalah kerusakan lingkungan, konflik lahan antara perusahaan dengan masyarakat dan sebagainya.

“UU Minerba yang baru itu juga tidak menjawab masalah keadilan antara pusat dan daerah,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, Uu yang baru tersebut lebih menguntungkan investor pertambangan. Banyak perusahaan tambang di berbagai daerah yang izin AMDAL-nya bermasalah.

“Bahkan di Kalimantan, ada penambangan dilakukan di belakang kantor KPU. Lalu di Sulawesi lokasi tambangnya di lingkungan sekolah,” katannya.

Dia menambahkan, pada tahun lalu saat masih menjabat Wakil Ketua KPK, pihaknya menerima laporan 10 perusahaan tambang bonafit izin kontrak karyanya berakhir pada akhir 2019 dan 2020. Sementara itu Uu Minerba yang baru justru memfasilitasi dan memudahkan para perusahaan tambang tersebut untuk bebas untuk mengeksploitasi alam berikutnya.

“Jadi presiden dan DPR tidak memihak lingkungan dan kepentingan rakyat,” katanya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->