Connect with us

Jawa Timur

Bulan Puasa, Nenek Siti Asyik Pesta Sabu Bareng Dua Pria di Kamar Tidur

Diterbitkan

pada

Ibu-ibu gelar pesta sabu di kamar bareng dua lelaki di Sidoarjo. foto: suara.com

KANALKALIMANTAN.COM – Polisi meringkus wanita paruh baya bernama Siti Choiriyah (52), warga Jalan Raden Wijaya 36A, RT 04, RW 04, Desa Sawotratap, Kecamatan Gedangan setelah digerebek sedang berpesta sabu-sabu.

Dalam penggerebekan di siang bolong pada Minggu (17/5/2020), Siti kedapatan sedang bersama dua laki-laki di kamar tidurnya.

Kasatreskoba Polresta Sidoarjo AKP Indra Nadjib mengatakan polisi sudah lama mengintai aktivitas yang menyimpang di rumah tersangka.

Kecurigaan polisi selama ini terbukti, seusai digerebek ternyata ditemukan beberapa barang bukti berupa sabu.

“Kami temukan 7 paket sabu siap edar atau siap konsumsi,” katanya seperti dilaporkan Berita Jatim, kemarin.

Saat digerebek polisi, ternyata Choiriyah mengaku baru saja selesai pesta sabu dengan dua teman lelakinya dalam kamar tidurnya. Sedangkan dua teman Bagas dan Pentol, berhasil lolos.

Kedatangan petugas kurang tepat waktu, dan dua lelaki itu meninggalkan tempat karena berangkat kirim sabu.

“Dua teman tersangka yang berhasil lolos, kita tetapkan jadi DPO,” kata dia.

Indra mengungkapkan, rumah tersangka Siti Choiriyah, sering dijadikan tempat transaksi peredaran narkoba. Di depan penyidik, tersangka mengakui semua perbuatannya.

Terkait asal mula barang haram yang ditemukan polisi dalam kotak kacamata itu, Siti Choiriyah mendapatkan telepon dari Bagas (DPO). Bagas menyuruh tersangka Siti Choiriyah untuk menerima kiriman sabu dari Syaiful alias Obet (DPO) yang diantar oleh Pentol yang sebentar lagi akan datang. Sedangkan uang pembayaran sabu akan dikasihkan Bagas ke tersangka.

“Alasan Bagas tak mau menerima barang, karena ada orang yang berniat jelek padanya, sehingga ia tak mau transaksi,” ungkapnya.

Beberapa saat kemudian Bagas datang dan disusul Pentol dengan membawa sabu. Tapi Bagas langsung membayar sabu tersebut tanpa melalui tersangka. Namun Pentol tak mau menerima uang pembayaran sabu tersebut, karena uang pembayaran kurang Rp 100 ribu. Akhirnya uang di simpan tersangka Choiriyah. Setelah itu, Bagas membuka paket sabu itu dan mengajak pesta sabu dulu.

“Mereka bertiga pesta sabu dalam kamar tidur tersangka,” tambahnya.

Setelah mendapatkan dua kali hisapan Bagas pamit akan mengirim barang ke temannya, sedangkan sisa barang haram disimpan tersangka. Pentol pun juga langsung kembali.

“Beberapa saat kemudian, anggota langsung menggerebek tersangka dan menyita barang bukti 7 poket sabu. Kini anggota memburu para DPO,” kata dia. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Advertisement
Komentar

Jawa Timur

Tradisi Colok Songo di Bumi Wali Tuban, Doa Bertemu di Ramadhan Tahun Depan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Foto: TimesIndonesia via suara.com

KANALKALIMANTAN.COM – Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Tradisi ini melambangkan doa agar warga yang menjalankan tradisi Colok Songo bisa kembali bertemu di Ramadhan tahun depan selanjutnya.

Tradisi colok songo atau nyala sembilan di lakukan di Kabupaten Tuban pada akhir bulan Ramadhan. Nuansa akan terasa berbeda bila memasuki akhir bulan puasa, di mana tradisi Colok Songo masih tetap berjalan di kalangan masyarakat, khususnya di perbatasan pedesaan wilayah Kabupaten Tuban, tepatnya di Kecamatan Bangilan, Kecamatan Singgahan.

Di banyak sudut, bahkan mulai pintu masuk, pemilik rumah menyalakan api sembilan (colok songo) diawali saat masuk petang atau tiba waktu buka puasa, dan selesai atau nyala api padam ketika masuk waktu sahur.

“Kala keluarga nyalakan ini masuk bulan puasa 28 sampai malam lebaran,” kata Arifin, salah satu warga yang menyalakan colok songo di Singgahan.

Dalam bahasa Jawa, Colok merupakan istilah untuk potongan kayu-kayu kecil. Ujung pangkal kayu dibalut kain untuk dibuat sumbu kemudian dicelupkan ke dalam minyak tanah sebagai bahan bakar menjadi api penerangan. Sedangkan, kata songo berarti sembilan.

Colok Songo dengan kata lain, adalah obor kecil tradisi leluhur yang disulut dan ditancap ke dalam tanah (bumi) dan tempat lain seperti pintu, sudut rumah, depan kamar mandi, tempat pembuangan sampah sampai di tepi jalan lingkungan, bahkan tiap jalan raya penghubung antar kecamatan.

Tradisi Colok Songo di Tuban, Jawa Timur masih bertahan. Foto: TimesIndonesia via suara.com

Tokoh masyarakat, Mbah Marno (55) menyatakan Colok Songo tidak tahu kapan pastinya dimulai. Sebab sejak kecil dirinya diajarkan eyang buyutnya untuk menyalakan api setiap sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.

“Tepatnya masuk akhir Ramadhan ganjil. Biasanya tepat malam songo likuran (29) atau jatuh sepuluh hari pamungkas akhir bulan puasa,” tuturnya.

Menurutnya, masyarakat percaya Colok Songo selain dilaksanakan di malam kemulyaan songo likuran, juga sebagai penghormatan terhadap para leluhur yang sudah tiada. Diyakini di waktu itu, secara tanpa kasat mata para ahli kubur pulang ke rumah berkunjung ke sanak saudara yang masih hidup.

“Kerabat yang sudah meninggal berharap meminta doa serta melihat kondisi keluarga sebelum Hari Raya idul Fitri,” imbuhnya.

Sedangkan untuk simbol dian penerang, nyala api Colok Songo dimaknai lambang pembakaran penebusan dosa dan kesalahan diri manusia. Juga pelita kecerahan di saat mulai datangnya malam gelap.

Selain itu, Colok Songo yang dilakukan pada malam akhir Ramadhan antara petang sampai subuh saja, nyala api yang hanya semalam dimaknai bahwa di dunia tidak ada yang kekal abadi.

“Dunia, usia, harta dan anak adalah titipan. Dinyalakan colok songo ini, akan mengingatkan setiap diri manusia untuk bermuhasabah dengan pengharapan kepada Allah SWT untuk dipertemukan kembali bulan puasa ke depannya nanti.” tutup tokoh masyarakat di Kabupaten Tuban ini. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Jawa Timur

Langgar PSBB, Polda Jatim Pastikan Sanksi Hukum kepada Habib Umar Assegaf

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Tangkapan layar video yang viral di media sosial yang memperlihatkan keributan antara pria yang diduga Habib Umar Assegaf dari Pasuruan dengan petugas Satpol PP saat penerapan PSBB.

KANALKALIMANTAN.COM, SURABAYA – Video di media sosial yang mempertontonkan keributan antara pria berpakaian gamis putih cekcok dengan petugas di cek poin Exit Tol Satelit Surabaya, yang belakangan diketahui adalah Habib Umar Assegaf dari Bangil, Pasuruan dengan petugas menjadi viral di kalangan warganet.

Habib Umar yang menggunakan kendaraan berplat nomor N 1 B berusaha masuk ke wilayah Surabaya saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung. Dalam video tersebut, dia keluar dari mobilnya dan terlihat tidak terima dengan keputusan petugas yang memintanya untuk kembali putar balik pulang serta teguran yang dilakukan petugas karena pengemudi sempat tak mengenakan masker dan jumlah penumpang melebihi ketentuan PSBB.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko memastikan, pria bergamis yang melanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan diberhentikan di cek poin Exit Tol Satelit Surabaya pada Rabu (20/5/2020) merupakan Habib Umar Abdullah Assegaf, pengasuh Majelis Roudhotus Salaf, Bangil, Pasuruan.

“Iya. Ditelusuri dari plat nomor mobil yang digunakan, yang bersangkutan adalah Habib Umar,” kata Truno, Kamis (21/5/2020).

Truno membeberkan, ada tiga poin kesalahan yang dilakukan Habib Umar. Pertama, yang bersangkutan menggunakan plat kendaraan selain L dan W, maka dilakukan pengecekan juga maksud dan tujuannya datang di Kota Surabaya.

“Kedua sopir tidak menggunakan masker dan ketiga kapasitas melebihi batas empat orang. Semangat dan pengabdian petugas di pos cek poin adalah amanah undang-undang dalam rangka memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. Untuk itu, kita berharap kesadaran masyarakat untuk menegakkan disiplin,” terangnya.

Ditanya mengenai sanksi penegakan hukum yang akan diberikan pihak kepolisian terhadap pelanggar, Truno memastikan akan ada prosedur hukum yang diberikan.

“Akan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sebelumnya, beredar video di media sosial yang mempertontonkan kendaraan berplat nomor N 1 B yang masuk ke wilayah Surabaya diduga melanggar aturan saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung.

Dalam video itu, seorang pria mengenakan pakaian serba putih cekcok dengan petugas karena mobil yang ditumpanginya dipaksa putar balik karena melanggar PSBB. Pria itu disebut-sebut sebagai Habib Umar Assegaf Bangil.

Ia keluar dari mobilnya terlihat tak terima dengan keputusan petugas yang memintanya untuk kembali putar balik pulang. Teguran yang dilakukan petugas karena pengemudi sempat tak mengenakan masker dan jumlah penumpang melebihi ketentuan PSBB.

Bahkan ketika petugas kembali mengingatkan, pria bergamis tersebut tetap menolak hingga terjadi aksi saling dorong.

Saat dikonfirmasi mengenai kejadian itu, Kasat Lantas Polrestabes Surabaya AKP Teddy Chandra menjelaskan, peristiwa itu terjadi di exit tol Satelit sekitar pukul 17.00 WIB pada Rabu (20/5/2020).

“Benar itu di Surabaya, lokasinya di exit tol satelit kemarin sore kejadiannya sekitar jam 17.00 WIB,” kata Teddy saat dihubungi Kontributor Suara.com pada Kamis (21/5/2020). (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Jawa Timur

TKI Asal Gresik Meninggal di Atas Pesawat saat Kembali ke Tanah Air

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Evakuasi jasad TKI oleh petugas di bandara. Foto: Beritajatim.com

KANALKALIMANTAN.COM – Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Gresik dikabarkan meninggal di atas pesawat Malaysia Air System (MAS) saat akan kembali ke tanah air.

TKI yang diketahui bernama Mohammad Syafii bin Abdul (51) yang beralamat di Desa Ketanen, Kecamatan Panceng. Dalam penerbangan tersebut, dia tercatat sebagai penumpang pesawat MAS nomor penerbangan MH871 di kursi 2C.

Setelah mendarat di Bandara Juanda, jenazah korban langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Polda Jatim menggunakan ambulans KKP Kelas 1 Surabaya. Sebelum meninggal, anak korban, Syafaul Huda (26), mengatakan jika orang tuanya mengaku sudah sakit lambung.

“Tiga hari yang lalu ayah saya sudah cerita kalau sakit lambung,” katanya seperti dilansir Beritajatim.com-jaringan Suara.com pada Selasa (19/5/2020).

Bersama korban, tercatat ada 27 TKI lain yang menumpang di dalam pesawat MAS dari berbagai daerah di Gresik. Sebelum kembali ke rumah, mereka terlebih dahulu melakukan pengecekan kesehatan di Puskesmas Kebomas.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik Syaifuddin Ghozali mengatakan, 27 TKI yang diperiksa hasilnya belum keluar sehingga usai dipulangkan ke rumah masing-masing mereka harus diisolasi selama dua pekan.

“Tim kesehatan dari puskesmas yang akan memeriksa kesehatannya saat isolasi dan sampai hasil tesnya yang keluar dinyatakan negatif,” katanya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->