Connect with us

Kesehatan

Di Rumah Aja Bukan Berati Gak Gerak, Ini Tips Dokter Reisa Broto Asmoro!

Diterbitkan

pada

Dr Reisa Broto Asmoro. Foto: Suara.com/Ade
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Imbauan tetap di rumah aja terus digaungkan demi meminimalisir penularan virus corona penyebab sakit Covid-19. Tapi tentu saja, berada di rumah seharian penuh dalam jangka waktu berhari-hari bukan berarti tak melakukan apa-apa ya!

Satu hal yang perlu kamu ingat, niat utamamu diam di rumah agar terhindar dari penyakit Covid-19 seharusnya tidak menuntunmu pada jenis penyakit lain terutama jenis penyakit yang diakibatkan karena malas gerak.

Selalu ingat bahwa kesehatan tubuh harus tetap terjaga agar imunitas tak menurun. Salah satunya dengan memanfaatkan sinar matahari pagi dan tetap bergerak.

“Berjemur tidak apa-apa asalkan di sekitar rumah,” kata dr Reisa Broto Asmoro dalam siaran langsung di media sosialnya bersama Mother & Baby, Selasa (24/3/2020).

Reisa menyarankan, saat berjemur di luar rumah sebaiknya tetap menjaga jarak dengan tetangga atau pun orang lain dan tetap menerapkan aturan physical distancing

“Karena ada kasus tanpa gejala. Sudah terinfeksi tapi baru timbul gejala 14 hari kemudian,” ucapnya.

Konsumsi vitamin dan suplemen juga sangat dibutuhkan tubuh untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.

“Vitamin dan suplemen, multivitamin A, C, B, B9, B12, D, K, harus masuk semua ke tubuh kita. Juga makan dan olahraga teratur,” paparnya.

Olahraga sederhana bisa kamu lakukan selama di rumah. Seperti lari keliling area rumah, sit up, push up atau sekadar senam diiringi lagu yang enerjik.

Reisa juga menegaskan, tetap berada di rumah sangat membantu mencegah pandemi corona Covid-19 yang semakin meluas. Tetap bugar selama di rumah aja ya! (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Kesehatan

Virus G4 Mirip Flu Babi Sudah Menginfeksi 35 Pekerja Industri Babi di China

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi flu babi.
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Pada Senin (29/6/2020) illmuwan mengidentifikasi strain virus influenza baru pada babi di China. Virus yang dinamai G4 ini memiliki kemiripan dengan virus H1N1, penyebab wabah flu babi pada 2009 dan berpotensi pandemik.

Para ilmuwan mengidentifikasi virus melalui pengawasan virus influenza pada babi yang mereka lakukan dari 2011 hingga 2018 di sepuluh provinsi di China.

Selama waktu ini, lebih dari 29.000 sampel swab hidung dikumpulkan dari babi yang disembelih. Mereka juga mengumpulkan lebih dari 1.000 jaringan paru-paru babi ternak yang memiliki tanda-tanda penyakit pernapasan.

Dari sampel ini, peneliti mengisolasi 179 virus flu babi yang sebagian besar berasal dari strain G4 yang baru diidentifikasi.

Mereka juga menemukan bahwa strain G4 memiliki kemampuan mengikat reseptor tipe manusia, bereplikasi dalam sel epitel saluran napas manusia.

“Babi adalah inang perantara pemicu pandemi virus influenza. Karenanya, pengawasan sistematis virus influenza pada babi adalah kunci untuk pra-peringatan kemunculan pandemi influenza berikutnya,” kata penulis studi, George F. Gao, dilansir dari Indian Express.

Namun, peneliti tidak yakin bahwa strain ini disebut baru, sebab sudah ditemukan di populasi babi di China sejak 2016.

Dalam makalahnya yang terbit di PNAS, peneliti juga menulis bahwa 35 dari 338 (10,4%) pekerja di industri babi di China telah positif terinfeksi virus G4 EA H1N1 ini, diketahui berdasarkan tes serologi atau tes darah untuk mendeteksi antibodi.

“Terutama untuk pekerja berusia 18 hingga 35 tahun, yang memiliki tingkat seropositif 20,5%. menunjukkan bahwa virus G4 EA H1N1 yang dominan telah memperoleh peningkatan infektivitas manusia,” tulis peneliti.

“Infektivitas seperti itu sangat meningkatkan peluang adaptasi virus pada manusia dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kemungkinan generasi virus pandemi,” sambung mereka.

Oleh karenanya, peneliti menekankan untuk segera mengendalikan virus G4 Eurasian-Avian (EA) H1N1 pada babi ini dan memonitor populasi manusia, terutama pekerja di industri babi. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kesehatan

Belum Selesai Covid-19, Giliran Flu Babi G4 Berpotensi Jadi Pandemi

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Dunia dikejutkan dengan temuan flu babi jenis G4 yang berpotensi menjadi pandemi Foto: ussfeed
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Pandemi Covid-19 belum usai, publik kembali dikejutkan dengan temuan tipe baru virus flu babi (swine flu). Virus anyar yang dinamai Genotip 4 (G4) ini ditemukan oleh para peneliti dari China Agricultural University, Center for Disease Control and Prevention (CDC) China, dan University of Nottingham. G4 merupakan turunan dari virus flu babi H1N1 yang sempat jadi pandemi pada 2009 lalu.

“Virus G4 memiliki semua ciri penting dari kandidat virus pandemi,” sebut peneliti dalam studi, mengutip Euro News.

Sama halnya seperti SARS-CoV-2, virus flu babi G4 ini menginfeksi sistem pernapasan manusia dan mampu memperbanyak diri dengan cepat. Mengutip Health Shots, infeksi flu babi G4 bisa menimbulkan gejala klinis parah termasuk bersin, mengi, batuk, dan rata-rata penurunan berat badan maksimal 7,3-9,8 persen dari massa tubuh.

Gejala ini tidak jauh berbeda dengan infeksi virus flu babi H1N1. Mengutip WebMD, pada virus H1N1, infeksi umumnya bisa mengarah pada penyakit yang lebih serius termasuk pneumonia, infeksi paru, dan masalah pernapasan lainnya.

Sayangnya, manusia disebut tidak kebal terhadap virus baru ini. Studi mencatat, manusia tidak terlindungi dari virus G4.
Studi ini dilakukan selama kurun waktu 2011-2018. Peneliti mengumpulkan lebih dari 30 ribu sampel hasil swab nasal babi di rumah pemotongan hewan dan rumah sakit khusus hewan di 10 provinsi China.

Hasilnya, sebanyak 179 virus flu babi teridentifikasi. Namun, hanya virus G1 yang muncul terus menerus dari tahun ke tahun. Sebelumnya, peneliti menemukan kasus infeksi virus flu babi G4 pada tahun 2016 dan 2019. Dua pasien berusia 46 tahun dan 9 tahun dilaporkan terinfeksi virus tersebut. (els/asr)

 

Reporter : Els
Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kesehatan

Awas! Jangan Asal Percaya Klaim Obat Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sebuah toko jamu di pasar tradisional di Yogyakarta menjual berbagai ramuan tradisional untuk meningkatkan kekebalan tubuh di tengah pandemi virus corona (Covid-19), 3 Maret 2020. Foto: AFP via VOA
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya kasus Covid-19-19 di dunia dan Indonesia, tentu publik berharap obatnya segera ditemukan. Sejumlah klaim pun bermunculan. Mulai dari Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) mengklaim menemukan obat penawar tradisional, hingga Rektor Universitas Airlangga mengklaim efektivitas kombinasi lima obat, meski tidak melakukan uji kepada makhluk hidup (in vitro).

Kenyataannya, sampai saat ini, obat untuk menyembuhkan Covid-19 belum tersedia.

Humas RSUP Persahabatan, DR. Dr. Erlina Burhan, mengatakan tenaga medis saat ini menggunakan beberapa jenis obat untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan. Hal ini berdasarkan pengalaman negara-negara lain.

“Obatnya merupakan obat yang spesifik dan kerjanya masing-masing berbeda, maka kami memberikan beberapa tidak satu saja,” jelasnya dalam sebuah diskusi virtual, Minggu (28/6) sore.

Erlina menjelaskan, jika pasien tidak merespons obat tersebut, ada beberapa terapi yang bisa dilakukan antara lain terapi stem cell, interferon, atau human immunoglobulin.

Seorang apoteker menunjukkan kaplet Deksametason di London, 16 Juni 2020. Foto: AFP

Awas Deksametason

Erlina menyoroti penggunaan Deksametason yang ramai diperbincangkan publik. Dia menjelaskan, berdasarkan studi di Inggris, obat ini dapat membantu pasien kritis.

“Deksametason dosis rendah itu ada manfaatnya untuk pasien-pasien yang kritis, yang dalam ventilator. Itu bisa menurunkan sepertiga dari kematian, dan seperlima kematian pada pasien-pasien yang membutuhkan oksigen,” tegasnya.

Namun, dia menegaskan, obat keras ini bukan untuk pasien ringan atau pencegahan. Sementara obat keras haruslah dikonsumsi berdasarkan resep dokter.

“Saya dengar masyarakat banyak yang borong Deksametason secara online. Padahal itu adalah obat keras yang banyak efek sampingnya,” tandasnya lagi.

Erlina mengatakan, di samping klaim obat, klaim ramuan herbal pun harus dibuktikan secara ilmiah.

Inovasi Perlu Ikuti Aturan

Dr. M. Nasser dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, inovasi dan kreativitas warga negara memang harus dihargai. Namun, untuk digunakan masyarakat luas, tetap ada syaratnya.

“Menjaga kreativitas ini arus tetap sesuai peraturan perundangan. Tidak bisa kita mengatakan karena basis kita sendiri,” pungkasnya dalam kesempatan yang sama.

Dia mengatakan, tak sedikit pula orang yang memanfaatkan situasi krisis untuk mencari keuntungan.

Dr. M. Nasser mengatakan, inovasi dan kreativitas harus dihargai, api tetap berada dalam koridor undang-undang (Foto: tangkapan layar)

“Ini banyak juga mengambil kesempatan di tikungan. Saya kira tugas kita adalah mendorong hal-hal yang baik namun menutup celah orang-orang yang spekulatif kayak ini,” ujarnya tegas.

Ada baiknya, ujar Nasser, pemerintah bertemu dengan pihak-pihak yang mengklaim efektivitas obat secara berlebihan. Di situ, harus dilakukan klarifikasi kepada masyarakat luas.

“Beliau harus diundang untuk mempresentasikan (obatnya) di sana kemudian terjadi dialog. Aturan disampaikan, dan kepada beliau dilakukan klarifikasi atas produk ini,” usulnya.

BPOM Takkan Halangi Inovasi

Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan tidak akan menutup pintu inovasi dan kreativitas warga negara. Namun, ujar Direktur Registrasi Obat Dr. Rizka Andalucia, setiap temuan obat tetap harus diuji khasiat dan keamanannya.

“Tentunya kita harus tetap memastikan sebelum digunakan masyarakat obat itu dapat menyertakan khasiat dan keamanannya,” tegas Rizka, yang memperingatkan obat yang tidak aman bisa menyebabkan kegagalan dalam pengobatan.

Direktur Registrasi Obat Dr. Rizka Andalucia menegaskan, uji khasiat penting supaya tidak menimbulkan treatment failure atau kegagalan pengobatan. (Foto: tangkapan layar)

Rizka menegaskan, obat yang telah diberi izin edar BPOM harus menyertakan khasiat yang lengkap, objektif, dan jelas. Segala klaim tidak boleh melampaui hasil uji klinis.

“Untuk menjamin bahwa penggunaan obat tersebut digunakan secara rasional. Artinya tidak boleh ada overclaim (klaim berlebihan). Tidak boleh ada klaim yang tidak dapat dibuktikan dengan data uji klinik,” imbuhnya.

BPOM Percepat Registrasi Obat

Seorang teknisi lab menunjukkan “Favipiravir”, yang masih dalam pengujian untuk pengobatan virus corona (Covid-19) di Eva Pharma Facility di Kairo, Mesir, 25 Juni 2020. Foto: Reuters via VOA

BPOM sendiri telah memangkas durasi registrasi obat dalam masa pandemi Covid-19. Jika sebelum Covid-19 proses registrasi bisa memakan total 400 hari kerja, kini diringkas sampai 25 hari kerja saja. Selain itu, tambah Rizka, fase uji klinis pun bisa dipercepat. Sebuah obat bisa diberikan izin penggunaan darurat meski baru lolos tahap dua.

“Setelah uji klinis fase dua dilakukan dan diperoleh data interim analysis yang menunjukkan bahwa obat tersebut mempunyai kemanfaatan dan aman digunakan pada pasien, pada subjek sakit, kita dapat memberikan yang namanya emergency use authorization,” jelasnya.

Namun, ketika obat digunakan, fase 3 dan fase 4 tetap harus dijalankan. Dan jika ditemukan keganjilan, obat itu akan ditarik kembali.

Ketua Harian Pengurus Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan meski keinginan akan obat sangat tinggi, jangan sampai mengkompromikan keselamatan publik.

“Sehingga proses penemuan obat baru, jamu baru, segala macam untuk Covid-19 memang harus dilakukan. Tapi memang harus mengarusutamakan keselamatan dan standar-standar yang ada,” tutupnya. (rt/em)

 

Reporter : Rio
Editor : VOA

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->