Connect with us

Kota Banjarmasin

Dianggarkan Rp 15 Miliar, Masjid Bambu Terbesar Akan Hadir di Kiram Kalsel

Diterbitkan

pada

Desain masjid bambu yang menjadi pemenang lomba Foto: net/radarbanjarmasin
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Satu lagi bangunan megah akan menjadi kebanggan masyarakat Kalsel. Tahun ini, Pemprov Kalsel akan mulai melakukan pencanangan proyek Masjid Bambu yang diklaim akan menjadi yang terbesar di Indonesia. Masjid yang akan dibangun di Desa Kiram, Karang Intan Kabupaten Banjar tersebut, akan menelan dana Rp 15 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kalsel Roy Rizali Anwar mengatakan, pembangunan Masjid Bambu ini dilakukan untuk mendukung kawasan ekonomi khusus pariwisata di Kiram, Tahura dan Mandi Angin. Masjid tersebut nantinya akan dibangun dengan desain arsitektur dan ornamen bahan baku batang-batang bambu.

Agar awet, tentunya bahan diolah dan dapatkan perawatan kimia untuk dukung ketahanannya terhadap cuaca. Konsep tersebut dipilih untuk menciptakan kesan unik dan berbeda dibanding konsep arsitektur masjid pada umumnya. “Bambu kan juga sebagai material lokal, bahwa bambu di Kalsel banyak dan akan dimanfaatkan. Jadi nanti masjid terlihat lebih etnik dan menyatu dengan alam,” kata Roy.

Melimpahnya bahan baku bambu di Kalsel yang berkaitan dengan kemudahan akses bahan baku menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam perencanaan proyek tersebut. Namun untuk pondasi dan struktur utama yang menjadi penahan beban menurutnya tetap akan dibangun menggunakan bahan beton.



Masjid Bambu ini rencananya akan dibangun dengan luas bangunan kurang lebih 200 meter persegi dan mampu menampung hingga 400 jamaah. Dinas PUPR Provinsi Kalsel menargetkan bisa menyelesaikan pembangunan Masjid Bambu tersebut selama 10 bulan di tahun ini. Demikian dilansir tribunnews.com.

Harapannya, Masjid Bambu kedepannya tak hanya menjadi fasilitas ibadah bagi warga dan para wisatawan, namun juga menjadi ikon wisata baru di kawasan ekonomi khusus pariwisata di Kiram, Tahura dan Mandi Angin.

Sementara terkait rencana tersebut, Ketua Komisi III DPRD Kalsel Sahrujani menilai pembangunan Masjid Bambu tersebut bisa jadi potensi sumber yang mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata. “Ini pasti sudah melalui konsultan perencanaan dan konsultan pengawas saat nanti dibangun. Untuk membuat masjid yang indah dan menarik wisatawan itu sudah sesuai saja,” katanya.

Ide membuat masjid berarsitektur dari bambu berawal dari inspirasi Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor. Menurut Paman Birin salah satu latar pemikiran pembangunan masjid berbahan bambu selain ramah lingkungan, juga karena Kalsel termasuk daerah penghasil bambu. “Cita- cita kita bikin masjid terbesar di dunia dengan bahan dari bambu. Salah satunya karena tanaman bambu penyimpan cadangan air paling banyak dan ramah lingkungan ,” terangnya.

Untuk mempunyai masjid yang terbuat dari bambu bukan hanya wacana semata. Namun, hal itu sudah masuk perencanaan pembangunan Pemprov Kalsel.

Konsep pembangunan Masjid Bambu ini sebelumnya juga telah disayembarakan. Hasil sayembara itu akan dijadikan DED. Roy menambahkan, tiga tim pemenang sayembara itu adalah: Juara 1 Studio 5, Juara II ARCH 14, Juara III Kayuh Baimbai.
Ditetapkannya pemenang sayembara tersebut berdasarkan penilaian profesional dari tim ahli. Dan salah satu juri kehormatan adalah Paman Birin, Gubernur Kalsel.

Dikatakan Roy, secara umum semua peserta desaiannya cukup baik. Tetapi tiga pemenang itu memiliki kelebihan desain antara lain dari sisi kekuatan pada telaahan konsep filosofis arsitektur Banjar dan penerapan karakteristik struktur bambu pada masjid.

Masjid berbahan bambu ini menggunakan bahan bambu lokal yaitu dari Loksado dan daerah sekitarnya. Dengan itu pembangunan masjid tersebut juga menguntungkan bagi masyarakat lokal yang berprofesi sebagai pencari bambu karena tentu saja akan banyak bambu yang digunakan.

Masjid yang terbuat dari bambu sudah ada beberapa yang dibangun di Indonesia. Contohnya, adalah di Cirebon Jawa Barat. Begitu pula, di luar negeri, Malaysia juga sudah mempunyai masjid dengan arsitektur dari bambu. Selain modelnya yang unik, masjid yang terbuat dari bambu dianggap memberikan rasa kesejukan bagi pengunjungnya. (cel/net)

 

Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kota Banjarmasin

Ibnu Sina Dua Kali Lakukan Swab, Hasilnya Negatif

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pengambilan Swab dilakukan kepada Wali Kota Banjarmasin pertama kali setelah sempat kontak erat dengan orang posisif Covid-19. foto: humpro banjarmasin
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Setelah sempat kontak dengan Wali Kota Banjarbaru H Nadjmi Adhani yang belakangan terpapar Covid-19, Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina melakukan pengambilan swab. Di mana, pengambilan swab pertama dilakukan pada 30 Juli 2020 lalu, dan yang kedua dilakukan pada Senin (3/8/2020) kemarin.

“Di sini ada surat resmi dari RSUD Sultan Suriansyah, yang menyatakan hasilnya swab 1 hasilnya negatif SARS-Cov-2,” kata Ibnu di Balaikota Banjarmasin, Selasa (4/8/2020) sore.

Pun dengan pengambilan swab kedua, hasil swab Ibnu pun juga dinyatakan negatif SARS-Cov-2. Ia menyebut, hasil swab kedua baru ia terima pada siang Selasa (4/8/2020).

Pengambilan swab pertana sendiri dilakukan di rumdin Wali Kota Banjarmasin di jalan Dharma Praja Banjarmasin. Sedangkan pengambilan swab kedua dilakukan di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin.



Ditambahkan Ibnu, pengambilan swab hanya dilakukan untuk dirinya. Karena, ia mengakui sempat berkontak dengan Nadjmi, saat menghadiri kunjungan kerja Mendagri Tito Karnavian di Gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin, pada 18 Juli 2020 lalu.

“Kemarin memang rekomendasinya ke saya saja. Karena yang kontak erat dengan pak Wali (Nadjmi) kan saya saat itu duduk satu meja,” bebernya.

Kendati begitu, Ibnu mengatakan saat menghadiri pengarahan dari Mendagri, seluruh peserta sudah mengenakan alat pelindung diri (APD). Seperti masker dan sarung tangan, guna meminimalisir penularan Covid-19.

“Kalau saya terpapar, semua harus diisolasi. Termasuk tim pendamping, bahkan Pemko ini harus disterilisasi. Tetapi hasilnya saya dinyatakan sehat dan negatif Covid-19,” lugasnya.

Ditanya apakah ajudan Ibnu dan tim humas juga menjalani pengambilan swab, ia menyebutkan bahwa mereka tidak menjalaninya. Karena disebutnya, tidak terjadi kontak langsung dengan Nadjmi saat itu.

“Karena kontaknya ke saya. Kalau misalnya clear, Insyaallah aman. Tapi kami minta saran Kepala Dinkes Banjarmasin selaku otoritas. Karena tidak bisa sembarangan swab, namun jika diperlukan kita persilakan,” tandasnya. (kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Bie



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kota Banjarmasin

Setahun Tak Makan Daging, Sarbini dan Keluarga Bersyukur Terima Daging Kurban Rumah Yatim

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rumah Yatim menyalurkanhewan kurban kepada anak yatim seperti Sarbini dan dua adiknya Foto : rumah yatim
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN– Idul Adha menjadi salah satu momen untuk berbagi. Ini sebagaimana dilakukan seluruh cabang Rumah Yatim yang menyampaikan amanah dari para donatur untuk menyalurkan daging kurban hingga ke pelosok nusantara.

Di antaranya yaitu Rumah Yatim area Kalimantan Selatan. Tahun ini, sebanyak 500 mustahik di Kota Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Barito Kuala telah merasakan nikmatnya daging kurban.

Salah satunya, Sarbini (15) beserta kedua adik kembarnya bernama Jala dan Jama. Mereka mengaku begitu senang menerima pemberian daging kurban. Pasalnya, sudah lebih dari satu tahun mereka tidak merasakan daging.

“Kami sudah 1 tahun tidak memakan daging. Tapi Alhamdulillah, berkat Rumah Yatim kami bisa merasakan nikmatnya daging kurban di masa pandemi seperti ini. Terima kasih Rumah Yatim, semoga selalu diberikan keberkahan oleh Allah SWT,” tutur Isar, sapaan akrab Sarbini kepada Rumah Yatim, Jumat (31/7).



Diketahui, Sarbini dan ketiga adiknya merupakan anak yatim yang ditinggal ayahnya kurang lebih 1,5 tahun lalu. Sang ayah mengalami kecelakaan. Sejak kepergian sang Ayah, Sarbini terpaksa harus putus sekolah karena Ibunya yang hanya penjual sayur tak mampu membiayai pendidikan Sarbini dan kedua adiknya.

“Sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan sekolah, tapi apalah daya dengan keterbatasan ekonomi terpaksa saya berhenti menuntut ilmu. Ini pula adik kembar saya ini sudah masuk usia sekolah,” tuturnya.

“Saya berdoa, semoga adik saya bisa sekolah dengan kondisi ekonomi keluarga kami seperti ini. Agar kami bisa membahagiakan ibu kami,” harap Sarbini.

Dalam kesempatan ini, tim Rumah Yatim area Kalimantan Selatan mengunjungi kediaman Sarbini di Jl. Trans Kalimantan, Desa Sei Lumbah, Kecamatan Alalak, untuk memberikan daging qurban kepadanya. Sarbini beserta ibu dan adik-adiknya sangat senang menerima bantuan ini.(Kanalkalimantan.com/rls)

Reporter : Rls
Editor : Cell



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->