Connect with us

Pariwisata

Disbudpar Banjar Akan Tembus Benteng Orange Nassau, Ada Apa?

Diterbitkan

pada

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARTAPURA, Wisata sejarah Benteng Orange Nassau merupakan bagian dari wisata budaya yang saat ini gencar dipromosikan oleh Disbudpar Kabupaten Banjar. Berbagai hal dilakukan untuk lebih meningkatkan jumlah wisatawan.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Banjar, Aidy Hikmatullah SSTP MAP mengatakan, wisata sejarah yang saat ini lagi ‘booming’ dan dari segi kunjungan sudah mulai banyak ada di Orange Nassau. Benteng Orange Nassau ini merupakan pertambangan batubara pertama dan tertua di Indonesia. Perang Banjar pun meletus pertama kali di sekitar kawasan itu.

”Dalam satu hari pengunjung sudah mencapai 200-an orang. Lokasinya berada di Pengaron, dulunya merupakan pertambangan batubara di zaman kolonial Belanda. Jadi ke depannya lokasi ini akan dijadikan wisata budaya sejarah serta edukasi, bisa masuk dalam kategori wisata alam juga,” ujar Aidy.

Beberapa waktu yang lalu, Disbudpar Kabupaten Banjar beserta Tim Arkeologi dari Banjarmasin telah melakukan penggalian bekas tambang itu. ”Karena ini dibuat di zaman kolonial Belanda, maka pertambangan ini dilengkapi dengan benteng. Tapi untuk sekarang bentuk secara keseluruhan benteng itu tidak kelihatan, hanya sisa pundak-pundaknya saja,”



Yang tersisa dari benteng Orange Nassau ini menurut istilah masyarakat sekitar hanya berupa sumur putaran, sejenis alat untuk memasukkan udara ke lorong-lorong bawah tanah. Pada zaman kolonial Belanda itu, sistem pertambangan mereka berada di bawah tanah melalui lorong-lorong.

”Semoga dalam waktu dekat ini kami bisa terus melakukan penggalian lorong-lorong itu, untuk ditembuskan ke lorong-lorong lainnya. Misal masuknya dari lorong satu, bisa keluar ke lorong lainnya. Jadi seperti Gua Jepang yang ada di Sulawesi itu,” harapnya.

Tim Arkeologi Banjarmasin, dengan dibantu pendanaan dari Disbudpar Kabupaten Banjar,  telah berhasil melakukan penggalian, walaupun baru sedalam 5 meter. Pasalnya kondisi tanah di lorong-lorong ini sudah labil dan rawan longsor, dan inipun memerlukan biaya yang cukup besar dari sisi teknik sipil penggaliannya. Untuk memperkuat dinding-dinding lorong yang berhasil digali, juga memerlukan biaya besar.

Benteng Orange Nassau yang dibidik Pemkab Banjar sebagai salah satu magnet wisatawan.

”Terkait anggaran dana perawatan atau penguatan itu, pemerintah kabupaten sepertinya tidak sanggup. Makanya perlu intervensi dari pemerintah pusat,” imbuhnya.

Tahun 2018 nanti, dari kementerian pariwisata pusat akan membuat zonasi kawasan. Dengan dasar zonasi kawasan ini, bisa ada intervensi dari berbagai instansi untuk bekerjasama mengembangkan destinasi wisata potensial Orange Nassau ini.

”Misalnya dari Dinas PU membuatkan jalannya, teknik sipil untuk menembuskan lorong-lorong tadi, serta instansi-instansi lain untuk menunjang sarana dan prasarananya,” pungkasnya.

Untuk menjaga dan memelihara lokasi wisata di Orange Nassau ini, 2 orang dari masyarakat sekitar telah ditunjuk. Ada pula di sana Kelompok Masyarakat Sadar Wisata.

Selain dikunjungi wisatawan domestik, beberapa waktu yang lalu lokasi ini pernah dikunjungi oleh beberapa warga asing dari Belanda yang mencari makam leluhur mereka di sana.

Terkait Benteng Orange Nassau menjadi salah satu wisata edukasi, tim arkeologi Banjarmasin sering dikunjungi oleh sekolah-sekolah untuk pembelajaran sejarah. Mereka diarahkan langsung untuk mengunjungi benteng sarat sejarah ini. ***


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pariwisata

Warga Tiwingan Tanyakan Status Objek Wisata Pulau Bekantan di Riam Kanan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pulau Bekantan di waduk Riam Kanan, sebuah destinasi anyar berupa hutan konservasi yang dibangun Dishut Kalsel. Foto : ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Rusdiansyah bersama 30 warga desa Tiwingan, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar mendatangi DPRD Kalsel meminta solusi kepada Dinas Kehutanan Kalsel terkait penanganan Pulau Bekantan yang akan dijadikan objek wisata.

Kepala Desa Tiwingan ini meminta agar program pemerintah dapat memberikan solusi atas beberapa tanaman masyarakat yang masuk dalam kawasan pariwisata.

“Intinya kami ke sini meminta tali asih untuk tanaman yang ada di wilayah itu, karena akan dijadikan objek wisata oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel,” ungkap Kades Rusdiansyah bersama warganya.

Dijelaskan Kades Tiwingan, tanaman warga yang ada di wilayah tersebut seperti pohon karet, pohon durian, dan masih banyak pohon buah lainnya, sudah puluhan tahun dimiliki oleh masyarakat Tiwingan Lama dan Tiwingan Baru.



Bahkan beberapa masyarakat ada yang bertahan hidup dari hasil tanaman tersebut. Wilayah yang akan dijadikan objek wisata tersebut akan dijadikan sebagai wadah penangkaran hewan endemik Kalimantan yaitu Bekantan.

Rusdi mengatakan, masyarakat sempat dijanjikan oleh oknum bahwa mereka akan diajak kerja sama oleh Dishut Kalsel dan mendapatkan ganti rugi atas tanaman yang telah dibabat. Di wilayah tersebut nantinya akan dibuat menjadi seperti wadah persitirahatan.

Meski baru mendapat arahan secara lisan, Rusdi sebenarnya berharap agar pihaknya bisa rembuk dan mendapat kesepakatan dengan para warga desa terlebih dahulu. Apalagi mengingat adanya tanaman warga di kawasan tersebut dan disamping itu pihaknya sangat ingin agar sumber daya warga sekitar dilibatkan dalam pengelolaan objek wisata tersebut. “Objek wisata sudah dibuka, meski belum ada penarikan retribusi,” terangnya.

Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kalsel, Imam Suprastowo

Sebelum diberi nama Pulau Bekantan oleh Dishut Kalsel, pulau dengan lahan 40 hektare itu bernama Gunung Sapi dan tidak ada tanaman apa-apa selain semak belukar di wilayah tersebut. Sampai akhirnya warga sekitar mulai bercocok tanam di wilayah tersebut dan meraup untung dari hasil yang ditanam.

Sehingga jika objek wisata kelak semakin ramai, Rusdi takut para warga sekitar tidak bisa lagi mengambil hasil tanaman-tanaman di wilayah tersebut.

Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kalsel, Imam Suprastowo mengatakan, dampak dari pembangunan objek wisata ini selain wilayah tanaman warga masuk dalam kawasan wisata sehingga masyarakat akan kesulitan dalam bercocok tanam, ada juga yang berdampak pada penebangan tanaman. Namun di lain hal, ia juga menemukan sedikit kejanggalan dalam proses pembuatan objek wisata ini.

“Memang banyak sekali kejanggalan. Itu katanya hutan konservasi. Saya katakan ada keanehan karena di situ ada dua pemerintahan desa yang diakui oleh pemerintah (Tiwingan Lama dan Tiwingan Baru), sehingga rancu sekali. Ini yang nanti akan kita diskusikan dengan dinas terkait untuk mencari solusinya,” ungkap Imam.

Sebab, jika wilayah itu berada di hutan konservasi, statusnya tidak seperti di hutan lindung di mana boleh menanam, tapi tidak boleh ditebang. Sedangkan untuk hutan konservasi, tidak boleh ada apa-apa di kawasan tersebut, termasuk destinasi wisata.

Imam sendiri berharap agar nanti dapat ditemukan solusi seperti halnya hutan Mangunan di Yogyakarta. Hutan tersebut berhasil dikelola masyarakat dan pemda hanya menerima 25 persen dari hasil pengelolaan sedangkan 75 persen untuk masyarakat.

“Cuma karena posisi hutan konservasi ini masalahnya. Kalau hutan produksi atau hutan lindung masih bisa kita otak-atik. Sebenarnya kita sebut konservasi pun masih sedikit membingungkan, karena di sana dua pemeintahan desa,” pungkasnya.

Pantja Satata, Kabid Perlindungan Konservasi SDA Dishut Kalsel.
Foto : mario

Ditemui usai melakukan pertemuan dengan para anggota dewan, Pantja Satata, Kabid Perlindungan Konservasi Sumber Daya Alam Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel mengatakan, memang ada dua buah pohon karet yang ditebang dan pihaknya sudah mengganti rugi secara pribadi. Satu pohon karet tersebut dihargai 500 ribu rupiah. Selain itu pihak masyarakat di kawasan tersebut juga sudah mereka libatkan dalam pengelolaan.

Pantja menjelaskan bahwa hutan konservasi, boleh dijadikan kawasan wisata dan tidak apa-apa masuk dalam kawasan desa, selama tidak merusak lingkungan. Contoh hutan konservasi yang menjadi kawasan objek wisata adalah Tahura Sultan Adam Mandiangin. (mario)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Pariwisata

Mataya Flashmob Jogja Undang Perhatian Pengunjung Patung Bekantan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Tarian Flashmob Beksan Wanara atau Tari Kethekan (Tari Kera) di kawasan Malioboro unjuk tampil di kawasan Patung Bekantan Banjarmasin. Foto : Mario
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Setelah sempat viral di media sosial dengan menampilkan Tarian Flashmob Beksan Wanara atau Tari Kethekan (Tari Kera) di kawasan Malioboro, kali ini mereka tampil di dua tempat wisata Kota Banjarmasin, yakni di kawasan Patung Bekantan dan Siring Menara Pandang, Kota Banjarmasin.

Berbeda dengan tari tradisional yang menggunakan busana adat, tarian flashmob ini justru dibawakan dengan menggunakan pakaian kasual. Salah satu penari yang sempat menarik perhatian pengunjung adalah Mohan Kalandara alias Momo yang masih berusia 12 tahun dan merupakan penari termuda yang ikut menarikan flashmob tersebut.

Penampilan Mataya (penari) Flashmob Jogja itu pun disambut dengan tepuk tangan pengunjung pusat wisata kota Banjarmasin tersebut. Ditambah dengan kehadiran Walikota Banjarmasin Ibnu Sina dan beserta istri, Siti Wasilah semakin menambah riuh suasana.



Tari yang ditampilkan di dua tempat wisata di kota Banjarmasin itu, salah satunya sama seperti yang mereka bawakan di Malioboro yaitu Tari Kethekan yang merupakan Tari Klasik Kraton Yogyakarta dan satu tari tradisional yang berasal dari kota Banjarmasin.

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina berharap pertukaran budaya dengan tampilnya para penari flashmob di kota Banjarmasin ini bisa lebih menguatkan persatuan Indonesia. “Mudah-mudahan pertukaran budaya ini bisa saling menguatkan Indonesia dan pada saatnya nanti juga mungkin kota Banjarmasin akan mempromosikan ini di Yogyakarta. Kemudian interaksi budaya ini saya kira penting untuk menghibur warga kota Banjarmasin dan juga pengunjung di Siring Menara Pandang Pasar Terapung,” harapnya, Minggu (25/8).

Ia juga mengucapkan rasa terima kasih kepada para penari dari Jogja yang sudah mempersembahkan flashmob di Siring Menara Pandang pusat kawasan wisata sungai yang ada di kota Banjarmasin. (mario)

Reporter : mario
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->