Connect with us

HEADLINE

Disentil Soal Jalan ‘Mulus’ hanya di Kiram, Sahbirin: Berarti Melaksanakan Proyek dengan Baik!

Diterbitkan

pada

Cagub Sahbirin Noor saat debat versus Denny Indrayana di putaran akhir kampanye Foto: ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pembangunan infrastruktur di Kiram, Kabupaten Banjar, menjadi salah satu topik panas yang muncul di debat paslon Gubernur Kalsel, yang ditayangkan langsung TVRI pada Sabtu (28/11/2020).

Cagub Denny Indrayna sempat beberapa kali menyentil ketimpangan dalam pembangunan infrastruktur di Kalsel, dengan Kiram sebagai contoh. Berbeda dengan daerah lain yang jalanan masih banyak rusak, di Kiram jalanan mulus dan berhotmix.

Debat soal Kiram ini dipicu pertanyaan soal infrastruktur dan revitalisasi sungai di Kalsel. Haji Denny—panggilan Denny Indrayana, mengatakan, bicara sungai maka tak bisa jika mengenyampingkan data-data terkait infrastruktur.

Bagaimana sungai direvitalisasi adalah satu hal, dan bagaimana kemudian jalan-jalan diperbaiki, adalah juga penting untuk dibicarakan.



“Kalau kita lihat sungai dan jalan disampingnya, maka bisa membayangkan berlarutnya masalah ini. Kemarin di Batola, di pinggir sungai jalan dikeluhkan. Masyarakat menyampaikan kepada saya, tak pernah Gubernur ke sini. Berpuluh-puluh tahun seperti ini. Dimana jalan hanya selebar 2 meter,” katanya.

Haji Denny mengatakan, saat ini prosentase jalan yang sedang rusak/rusak berat saat ini mencapai 58 persen. Data BPS tahun 2019 menyatakan, jalan baik provinsi menurun, 33 %. “Sepertiga jalan provinsi rusak. Mungkin ada jalan hotmix, tapi mohon maaf Pak Sahbirin, itu menuju Kiram. Pertanyaan, kenapa?” ungkap pakar hukum Tata Negara ini.

Menanggapi sentilan Haji Denny soal Kiram, Sahbirin memberikan tanggapan khusus. “Kenapa di Kiram dihotmix? Mulus. Saya bersyukur, berarti yang bekerja melaksanakan proyek dengan baik. Kalau diaspal tebalnya 5 cm, berarti benar-benar dilakukan 5 cm. Tapi boleh saya katakan, bahwa jalan yang dibangun di Kiram adalah bagian seluruh jalan yang kita dibangun di Kalsel. Menuju Kotabaru, Lontar, Jejangkit, dan banyak lainnya. Kiram adalah segitiga emas, yang dulu untuk mencapai ke sana hanya bisa ditembus dengan berjalan kaki. Padahal hanya 17 km dari pusat kota,” katanya.

Terkait data kerusakan jalan, Sahbirin pun mempertanyakan data yang dimiliki Haji Denny. Ia mengatakan, bahwa kondisi jalan provinsi yang mantab, baik, dan sedang adalah 71,7 persen pada 2017, dan menjadi menjadi 80,20 persen pada 2020.

“Saya meragukan data anda, kalo bisa data yang benar pun menjadi salah. Atau boleh kita lihat pada kesemptan lain. Irigasi yang baik 10,1 tahun 2016, lalu meningkat 47 persen di tahun 2020. Apa yang tidak baik? Kalsel mendapat 100 penghargaan dari pusat,” katanya.

Pada kesempatan segmen lain, Sahbirin juga mempertanyakan berbagai tayangan youtube Haji Denny terkait rencana perbaikan jalan di Kalsel. Bagaimana postur anggarannya, karena APBD Kalsel juga terbatas.

Menanggapi hal ini, Haji Denny mengatakan bukan hal susah jika dilakukan dengan komitmen dan kebersamaan. Ia memberikan contoh, infrastruktur jalan provinsi yang rusak jika dilakukan pada tahun 2016 hanya butuh Rp 300 miliar aja. Tapi jika baru dibangun tahun 2019, menjadi bengkak sebesar Rp 1,4 triliun.

“Jadi jika tidak dibiarkan akan lebih mudah melakukan politik anggaran perbaikan jalan. Dan tentu misalnya, dengan sumber dana Rp 200 triliun uang batu baru tentu tidak akan susah sebenarnya mengalokasikan Rp 1,4 triliun,” katanya. (Kanalkalimantan.com/ putra)

Reporter : Putra
Editor : Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Jembatan Bailey Kamis Rampung, Martapura-Hulu Sungai Bisa Terhubung

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pekerja terus merangkai jembatan bailey di perbatasan Kecamatan Mataraman-Astambul, Kabupaten Banjar. Foto: ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Jalan nasional terputus di jembatan Sungai Salim, Desa Banua Hanyar-Bawahan Pasar, jalan A Yani Km 55,500, perbatasan Kecamatan Astambul-Mataraman, Kabupaten Banjar, mulai dibangun jembatan bailey.

Pemerintah menargetkan pemasangan jembatan bailey paling lama pada Kamis (21/1/2021) lusa, bisa rampung. Perbaikan jembatan ini untuk mendukung pemulihan konektivitas di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Konstruksi jembatan Bailey telah dikirim untuk memulihkan jalan nasional lintas Kalsel-Kalteng-Kaltim yang terputus tergerus banjir.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, perbaikan jembatan ini sesuai instruksi presiden Jokowi dalam pemulihan konektivitas jalan nasional lintas Kalsel-Kalteng-Kaltim.



 

 

 

Pemasangan jembatan bailey untuk menggantikan jembatan Sungai Salim saat ini sudah dalam tahap dirangkai dan dipasang sejak Senin (18/1/2021) sore.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Banjar AKP Faizal Rahman mengatakan, untuk akses jalan Banjarmasin menuju Hulu Sungai masih belum bisa dilewati.

“Bagi masyarakat yang berpergian, menuju Hulu Sungai, lebih baik urungkan diri dulu, sampai benar-benar jembatan bailey sudah aman dilewati,” ucap Kasat Lantas kepada Kanalkalimantan.com, Selasa (19/1/2021) siang.

Dia mengimbau, kepada masyarakat agar tetap mematuhi peraturan lalu lintas, patuhi arah petugas di lapangan, kalau pun diakan buka tutup arus, sabar lah untuk mengantre, menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

“Dari hasil kordinasi pihak lantas bersama pihak petugas pekerja jembatan, diperkiraan jembatan rampung sekitar hari Rabu atau hari Kamis,” tutupnya. (kanalkalimantan.com/wahyu)

Reporter: Wahyu
Editor: Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Menag: Belum Ada Kepastian Soal Pelaksanaan Ibadah Haji 2021

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Para jemaah haji menjaga jarak aman saat beribadah di dalam Masjid Namira di Arafat, di tengah pandemi Covid-19, di Makkah, Arab Saudi, 30 Juli 2020. (Foto: Saudi Press Agency via Reuters)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Pemerintah belum mendapatkan kepastian dari pemerintah Arab Saudi perihal pelaksanaan haji tahun 2021 ini.

Dalam rapat kerja dengan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (18/1), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjelaskan sampai saat ini belum ada kepastian mengenai pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

Dia menekankan keputusan mengenai pelaksanaan rukun Islam kelima itu menjadi kewenangan pemerintah Arab Saudi.

Yaqut menambahkan Kementerian Agama sudah menempuh sejumlah upaya untuk mencari informasi tentang kepastian pelaksanaan ibadah haji tahun ini, termasuk melangsungkan pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi pada Senin pekan lalu (11/1) di kantor Kementerian Agama di Jakarta.



 

Umat ​​Muslim, menunaikan ibadah umrah di Masjidil Haram sambil menjaga jarak sosial yang aman, setelah otoritas Saudi meringankan restriksi untuk pencegahan Covid-19, di kota suci Mekkah, Arab Saudi, 1 November 2020. (Kantor Pers Saudi / Handout via REUTERS)

Yaqut juga telah menyurati Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Muhammad Saleh bin Tahir al-Bantani. Selain itu, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama telah bertemu dan berkoordinasi dengan otoritas terkait di Arab Saudi pada Desember 2020.

“Sampai saat ini, kepastian tentang ada atau tidaknya penyelenggaraan ibadah haji pada tahun 2021 belum diperoleh. Pemerintah Arab Saudi saat ini masih fokus pada penanganan Covid-19 di dalam negeri mereka serta pemantauan penanganan Covid-19 pada negara-negara pengirim jamaah haji,” kata Yaqut.

Seorang jemaah haji asal Indonesia di Masjid Namira di Arafat, Makkah, Arab Saudi, Jumat, 9 Agustus 2019. (Foto: Amr Nabil/AP)

Meski begitu, Yaqut menegaskan Kementerian Agama akan terus melakukan upaya terbaik terkait pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Kementerian Agama memiliki tiga opsi, yakni kuota penuh, kuota terbatas, dan seperti tahun lalu tidak memberangkatkan jamaah haji.

Yaqut menjelaskan pemerintah tetap berpegang pada opsi pertama dalam persiapan pengiriman jamaah haji tahun ini. Dia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga peelaksanaan haji 2021 dapat berjalan normal seperti tahun-tahun sebelum ada pandemi Covid-19.

Kalau segalanya berjalan normal, Yaqut memperkirakan pemberangkatan pertama kloter pertama jamaah haji mulai 15 Juni 2021. Sehingga waktu tersisa untuk persiapan pelaksanaan ibadah haji tinggal 15 bulan saja.

Berdasarkan informasi masuk ke Kementerian Agama, jumlah jamaah umrah berangkat ke Arab Saudi hingga 11 januari 2021 sebanyak 1.090 yang diberangkatkan oleh 112 biro perjalanan. Mereka diberangkatkan dengan empat maskapai, yakni Saudia Airlines, Garuda Indonesia, Lion Air, dan Citylink melalui dua bandar udara, yaitu Soekarno Hatta di Tangerang dan Juanda di Surabaya.

Jemaah Stres

Menanggapi persoalan ibadah haji, Anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Diah Pitaloka mengungkapkan pihaknya menerima laporan banyak calon jamaah yang stres karena tahun lalu tidak dapat berangkat untuk beribadah haji.

Para jemaah haji di sekitar Kabah saat pelaksanaan puncak ibadah Haji, Jumat, di Makkah, Jumat, 31 Juli 2020. (Foto: AFP)

Seharusnya ketika gagal berangkat, ujar Diah, harus ada konsultasi atau komunikasi, serta pendekatan psikologis terhadap jamaah yang batal menunaikan ibadah haji.

“Di Jawa Barat, banyak sekali yang stres karena nunggunya kan lebih dari sepuluh tahun. Mereka bisa menerima alasan, tapi secara psikologis untuk mereka tetap berat,” ujar Diah.

Asli Chaidir dari Fraksi Partai Amanat Nasional mengusulkan calon jamaah haji yang akan berangkat tahun ini disuntik vaksin Covid-19.

Restoran Indonesia “Wong Solo” di kota Jeddah, Arab Saudi, mencoba bertahan di masa pandemi, di tengah ketiadaan jemaah umrah dan haji (foto: courtesy).

“Mungkin bisa saja kita merencanakan yang mau berangkat haji ini kita pikirkan bagaimana mereka sudah bisa terealisasi vaksin. Kalau nanti Insyaallah dapat berangkat mereka sudah tidak ada masalah lagi tentang vaksin tersebut dan juga ada gunanya untuk memutus mata rantai Covid-19,” tutur Chaidir.

Karena pandemi Covid-19, Saudi memutuskan ibadah haji tahun lalu cuma bagi penduduk negara Kabah itu (warga Saudi dan ekspatriat). Jumlah mereka pun dibatasi maksimal seribu orang dengan penerapan protokol Covid-19 sangat ketat, termasuk selalu memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan.

Haji tahun lalu hanya diperuntukkan bagi penduduk Arab Saudi yang berumur 18-59 tahun dan memiliki bukti hasil tes menunjukkan tidak terinfeksi virus Covid-19. (voaindonesia)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->