Connect with us

HEADLINE

Duet Sahbirin-Muhidin di Pilgub Kalsel, dari Rival jadi Pasangan?

Diterbitkan

pada

Kabar Sahbirin memilih Muhidin sebagai pasangan menguat Foto: ilustrasi/trb/mujib
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Kabar incumbent Sahbirin Noor akan memilih mantan rival di Pilgub 2015, H Muhidin sebagai pasangan baru pada Pilkada Kalsel 2020 cukup menyeruak. Bergabungan pasangan ini patut diantisipasi kubu penantang Denny Indrayana yang hingga kini masih menyimpan pasangannya.

Sinyal jika Muhidin akan mendampingi Sahbirin ini disampaikan oleh Ketua DPD PAN Banjarbaru Emi Lasari usai menerima pendaftaran pasangan incumbent di Pilkada Banjarbaru, Nadjmi-Jaya. Kepada kanalkalimantan.com, Emi mengatakan jika Muhidin akan maju di Pilgub Kalsel.

Pada kesempatan tersebut, ia memang tidak menegaskan apakah maju sebagai Gubernur atau Wakil Gubernur. Namun, merujuk pada sejumlah fakta politik yang berkembang saat ini, PAN Kalsel yang memiliki 6 kursi di DPRD akan cukup sulit mengembangkan poros baru.

Mengingat sejumlah parpol, telah ‘dikunci’ oleh dua pasangan yang saat ini muncul yakni Sahbirin dan Denny Indrayana. Sebelumnya memang ada harapan koalisi PAN-Gerindra, tapi sebagaimana diketahui, Gerindra bersama Demokrat sudah menjatuhkan sinyal politik ke Denny Indrayana.



Walhasil, yang memungkinkan bagi PAN adalah duduk di DA 2 untuk mendampingi Sahbirin. Apalagi sebelumnya, Muhidin juga tertarik untuk menjadi duet incubent. “Insyaallah jika memang ada umur panjang, saya siap menjadi bakal calon Wakil Gubernur Kalsel mendampingi Sahbirin Noor pada pilkada mendatang,” kata Muhidin beberapa waktu lalu.

Muhidin sudah kepincut disandingkan dengan Gubernur Sahbirin Noor. Meski di Pilgub Kalsel tahun 2015 sempat bertarung sengit melawan pasangan Sahbirin Noor-Rudy Resnawan, Muhidin menganggap dunia politik bersifat dinamis.  “Memang kemarin saya menjadi rival, tapi siap juga bila memang dijadikan wakil,” ujarnya.

Jika melihat kilas balik tarung Sahbirin vs Muhidin pada Pilgub 2015 silam, keduanya memang memiliki kekuatan yang nyaris seimbang. Dari tiga pasangan yang berlaga ketika itu, Sahbirin yang berduet dengan Rudy Resnawan unggul sebanyak 731.643 (41,07%). Diikuti Muhidin yang berpasangan dengan Gusti Farid Hasan Aman yang meraup 719.938 suara (40,41%). Sementara Zairullah Azhar yang berpasangan dengan M Syafi’i meraih 330.070 (18,53%) suara.

Salah satu lumbung suara bagi Muhidin saat itu adalah kota Banjarmasin. Di kota berjuluk seribu sungai ini, Muhidin yang maju melalui kursi independen, unggul 77.820 suara dari Sahbirin. Ketika  Sahbirin hanya mendapatkan 73.143 suara, sedangkan Muhidin meraih 150.963 suara.

Bisa dibayangkan ketika dua kekuatan ini bersatu pada Pilgub 2020 nanti.

Di sisi lain, jika mempertimbangkan hasil surevi Lembaga Saiful Murjani Researc and Consulting (SMRC) pada 9 – 19 Oktober lalu, nama Muhidin menempati posisi pertama dengan persentase 11,9 persen sebagai cawagub Kalsel yang berpasangan dengan Sahbirin.

Setelah itu, ada sepuluh nama di bawah Muhidin, seperti Rudy Resnawan 7,5 persen, Rosehan Noor Bahri 7,3 persen, Mardani H Maming 6,2 persen, Aboe Bakar Alhabsy 4,7 persen, Zairullah Azhar 4,0 persen, Habib Abdurrahman Bahasyim 3,3 persen, Gusti Khairul Saleh 3,1 persen, Ibnu Sina 3,1 persen, Gusti Farid Hasan Aman 2,0 persen, dan Abdul Wahid 1,5 persen.

Menyikapi berbagai kemungkinan ini, Ketua Umum PAN Zulhas mengarahkan agar jaringan PAN di daerah mesti merangkul semua partai dalam Pilgub nanti. Apalagi, saat ini PAN memiliki kekuatan elektoral yang patut diperhitungkan di Kalsel. Sebab pada Pileg 2019 lalu, partai besutan Amin Rais ini berhasil meraih 6 kursi DPRD Kalsel. Sedangkan Golkar sendiri meraih 12 kursi, disusul PDIP dan Gerindra dengan 8 kursi, baru kemudian PAN.

Patah Hati

Pilihan Sahbirin untuk menggandeng Muhidin, tentunya bisa menyebabkan sejumlah kandidat Cawagub lain yang sebelumnya berharap digandeng incumbent, bisa patah hati. Diketahui, sebelumnya ada beberapa kandidat yang mengajukan calon sebagai pendamping Sahbirin.

Dari pendaftaran di Partai Golkar saja, setidaknya ada 5 nama. Mereka adalah Gusti Iskandar Sukma Alamsyah, Gusti Syahyar, H Abdul Wahid, M Syaripuddin, dan H Rosehan NB. Hal tersebut sebagaimana disampaikan Ketua Harian DPD Golkar Kalsel H Supian HK.

Bupati HSU H. Abdul Wahid HK adalah salah satu yang melamar sebagai pendamping Sahbirin. Sebelumnya, nama Wahid juga sempat mencuat, sebelum akhirnya merujuk pada Muhidin.

Sebelumnya, diiringi sejumlah pengurus DPD Partai Golkar HSU, berkas pendaftaran bakal cawagub diserahkan Abdul Wahid HK kepada Ketua Harian DPD Partai Golkar Kalsel H. Supian HK. Usai penyerahan berkas pendaftaran, Abdul Wahid HK mengaku siap menanggalkan jabatannya yang masih tersisa dua tahun lagi jika dirinya maju mendampingi Sahbirin. “Kami akan mengakhiri masa jabatan sebagai Bupati HSU di tahun 2022,” kata Abdul Wahid.

Sebelumnya juga, Ketua Bidang Politik Hukum dan Keamanan DPD PDI Perjuangan Kalsel, H Rosehan Noor Bahri bersama rombongan menyerahkan formulir pendaftaran ke Golkar, Senin (14/10). Anggota DPRD Kalsel ini antar lamaran politik sebagai bakal calon wakil gubernur.

Kedatangan Rosehan cs ini seiring dengan optimism PDIP Kalsel untuk medampingi bakal calon gubernur H Sahbirin Noor untuk memimpin Kalsel periode kedua. “Mudah-mudahan Allah meridhoi. Kalau sudah jodoh, tidak akan ke mana,” ucap mantan Wakil Gubernur Kalsel era Rudy Ariffin ini.

Tidak hanya Rosehan, DPD Perjuangan Kalsel juga menyerahkan berkas lamaran kader lain yakni Syaripuddin -Wakil Ketua DPRD Kalsel-. Berkas lamaran Syaripuddin juga sebagai bakal calon wakil gubernur.(rico/fikri)

Reporter : Rico/Fikri
Editor : Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Terbujuk Rayu ‘Lolos’ Masuk Akpol, Polisi Aktif Tertipu Rp1,3 Miliar

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kombes Pol Sugeng Riyadi. foto: fikri
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Polda Kalimantan Selatan mengungkap aksi penipuan senilai Rp1,35 miliar. Kedoknya yaitu calo seleksi untuk bisa masuk Akademi Kepolisian (Akpol). Tercatat, ada dua pelaku yang diamankan di Jakarta.

“Ada dua tersangka kami tangkap di Jakarta yang telah menipu korban dengan janji meluluskan seleksi Taruna Akpol,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kombes Pol Sugeng Riyadi, Rabu (12/8/2020).

Sugeng memaparkan, kasus penipuan bermula dari laporan korban ke Polda Kalsel pada 20 Juli 2020. Tak lama, laporan itu ditindaklanjuti oleh Kasubdit 3 Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kompol Riza Muttaqien yang memimpin penyelidikan, hingga akhirnya menangkap terlapor berinisial IR dan IL.

Aksi penipuan ini memanfaatkan seleksi masuk calon Taruna Akpol itu, dengan korban PS. Saat itu, korban yang berdinas di Polres Banjarbaru bertemu tersangka IR yang menawarkan jika anak korban bisa lulus masuk polisi.



“Awalnya anak korban ini daftar Akpol 2019 dan gugur di tes akademik. Namun oleh pelaku dijanjikan bisa lulus dengan bayaran Rp1 miliar karena pelaku punya kenalan di Mabes Polri yaitu tersangka IL,” ungkap Sugeng.

Terbujuk rayu pelaku, uang Rp1 miliar pun diberikan oleh korban. Namun, ada tambahan uang operasional Rp200 juta ikut diminta pelaku IR.

Bahkan terakhir, pelaku meminta uang Rp150 juta. Sehingga total kerugian korban Rp1,35 miliar dari hasil penipuan yang dilakukan oleh tersangka.

“Jadi korban, anaknya mau masuk Akpol ini sempat beberapa kali berangkat ke Semarang karena kata pelaku sudah diterima tinggal masuk pendidikan. Bahkan dijanjikan pula pada pendaftaran tahun 2020 ini bisa lulus. Namun itu semua hanya modus pelaku untuk meyakinkan korban,” imbuh Sugeng.

Tersangka IR sendiri diamankan di kawasan Blok M Jakarta Selatan. Sementara IL di daerah Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan oleh tim gabungan Subdit 3 Jatanras dan Subbid Paminal Bidang Propam Polda Kalsel.

Namun begitu, untuk tersangka IL ternyata terungkap berstatus tersangka Polda Banten dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi yang kasusnya memasuki tahap II di Kejari Serang. Dimana, IL selaku Direktur PT Satria Lautan Biru terjerat kasus pinjaman modal kerja BUMD PT BGD pada Oktober 2015 senilai Rp5,9 miliar untuk proyek tambang di perairan Bayah bagian selatan Banten.

Tersangka IL sendiri kini ditahan di Mapolda Banten dalam perkara lain. Sedangkan IR langsung dibawa dan ditahan di Mapolda Kalsel.

“Keduanya dijerat Pasal 378 sub 372 jo 55, 56 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” tandas Sugeng.

Hasil pemeriksaan polisi, tersangka IR mengaku anggota Polri berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) yang berdinas di Mabes Polri. Kemudian dia mengaku kepada korban yang merupakan teman semasa sekolah memiliki kenalan yaitu tersangka IL dekat dengan Karo Dalpers SSDM Brigjen Sudarsono yang punya dua slot untuk taruna Akpol. Bahkan tersangka IL pernah mengirimkan foto-fotonya bersama pejabat tinggi Polri termasuk Irwasum. (kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : fikri
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

SK Mendagri Terbit, Wawali Banjarbaru Jaya Pegang Kendali Pemerintahan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sekda Banjarbaru: Posisi Wali Kota Masih Kosong


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Konfernsi pers, Rabu (12/8/2020) siang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru Said Abdullah. foto: rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU –  Memastikan roda pemerintahan tetap berjalan pasca wafat Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani, mandat penuh kini diberikan kepada Wakil Wali Kota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan kendali di Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru.

Dalam konfernsi pers, Rabu (12/8/2020) siang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru, Said Abdullah mengatakan, kebijakan tersebut tertuang dalam surat keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) nomor T. 131. 63/4035/OTDA yang terbit pada 10 Agustuts.

“Jadi, untuk sementara waktu roda pemerintahan Kota Banjarbaru dikendalikan Wakil Wali Kota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan. Namun, tetap saja jabatan Wali Kota sementara ini masih kosong,” ujarnya.

Saat ini, Pemko Banjarbaru akan memproses pemberhentian Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani karena meninggal dunia melalui sidang paripurna di DPRD Banjarbaru. Kemudian nantinya akan diteruskan ke Gubenur Kalimantan Selatan hingga Mendagri.



Jika sudah selesai, maka proses akan dilanjutkan dengan penetapan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Darmawan Jaya Setiawan sebagai Wali Kota Banjarbaru definitif. Dalam proses ini, Mendagri akan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) penetapan dan akan digelar kembali sidang paripurna.

Sekda Banjarbaru menambahkan, pihaknya berusaha menyelesaikan seluruh proses ini sebelum dimulainya pendaftaran kandidat Pilkada 2020, pada 4-6 September mendatang. Pasalnya, Darmawan Jaya Setiawan sendiri rencananya tetap berencana maju kembali dalam pencalonan.

“Kita usahakan di Agustus ini, pak Jaya sudah ditetapkan sebagai Wali Kota Banjarbaru secara definitif. Nah, jika beliau September ini mendaftar sebagau kandidat Pilkada, maka secara otomatis beliau harus mengambil cuti sebagai Wali Kota Banjarbaru,” lanjut Said. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : rico
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->