Connect with us

RELIGI

Empat Jenis Keimanan Manusia atas Penularan Wabah Penyakit

Diterbitkan

pada

Penularan wabah penyakit berlaku hanya secara hukum kebiasaan/adat. Foto: nuonline
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karyanya Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un mencoba menyimpulkan sikap teologis manusia atas penularan wabah penyakit. Ia menyebut setidaknya empat pandangan manusia atas penularan wabah penyakit.

1. Wabah penyakit secara alamiah semata dapat menular kepada sesama manusia atau makhluk hidup secara umum. Ini pandangan orang kafir.

2.Wabah penyakit dapat menular kepada sesama manusia atau makhluk hidup secara umum melalui kekuatan atau sebab yang Allah ciptakan dan titipkan padanya, sesuatu kekuatan yang tidak pernah lepas darinya. Hanya karena mukjizat (untuk nabi) atau karamah (untuk wali), seseorang dapat tercegah dari penularan wabah penyakit. Ini salah satu pandangan sekte dalam Islam, tetapi pandangan ini lemah. (Kelompok yang dimaksud Al-Asqalani bisa jadi adalah Muktazilah).

3.Wabah penyakit dapat menular kepada sesama makhluk hidup bukan secara alamiah, tetapi secara hukum kebiasaan/adat yang diberlakukan oleh Allah (sunnatullah) pada ghalibnya sebagaimana Allah membuat sunnatullah pada pembakaran oleh api. Hukum kebiasaan ini dapat tidak berlaku pada saat-saat tertentu atas kehendak Allah. Namun demikian, ketidakberlakuan hukum kebiasaan ini jarang sekali terjadi dalam kebiasaan.

4.Wabah penyakit tidak menular secara alamiah sama sekali. Tetapi penyakit yang menjangkiti seseorang pada saat yang bertepatan dengan wabah, maka Allah menciptakan penyakit pada dirinya sedari mula, (bukan karena penularan). Oleh karena itu, “Kau melihat banyak orang sakit dikatakan bahwa mereka dapat menularkan penyakitnya, sementara orang sehat banyak melakukan kontak dengannya tanpa tertular sedikitpun. Tetapi kau melihat banyak orang yang tidak pernah sama sekali melakukan kontak langsung dengan penderita penyakit ‘menular’ justru mengidap penyakit yang sama. Semua itu terjadi berkat takdir Allah SWT.

والمذهبان الأخيران مشهوران والذي يترجح في باب العدوى هو الأخير عملا بعموم قوله صلى الله عليه وسلم لا يعدي شيء شيأ وقوله ردا على من أثبت العدوى فمن أعدى الأول؟ كما تقدم تقريره والله سبحانه وتعالى أعلم

Artinya, “Kedua pandangan terakhir cukup terkenal (dianut banyak orang). Pandangan yang paling kuat dari keduanya adalah pandangan terakhir (keempat) dengan mengamalkan keumuman hadits, ‘Sesuatu (penyakit) tidak menular pada sesuatu’ dan penolakan Rasulullah atas pandangan masyarakat (jahiliyah) yang menetapkan penularan dengan sabdanya, ‘Lalu siapa yang menulari penderita pertama?’ sebagaimana ketetapan yang telah lalu. Wallahu SWT a‘lam,” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun], halaman 344)

Al-Asqalani sebelumnya menjelaskan bantahan atas pandangan penularan wabah penyakit. Ia mengutip Qadhi Tajuddin RA yang mengatakan bahwa penularan wabah penyakit berlaku hanya secara hukum kebiasaan/adat. Sedangkan maksud hadits Rasulullah SAW yang menapikan penularan wabah penyakit adalah penularan penyakit secara alamiah, (bukan atas kehendak dan kuasa Allah). (Al-Asqalani, tanpa tahun: 342).

Penjelasan Al-Asqalani sejalan dengan hukum ‘adi, satu dari tiga kategori hukum dalam kajian Ilmu Kalam menurut pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu hukum aqli (wajib, mustahil, ja’iz), hukum sya’ri (wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram), dan hukum ‘adi (hukum kebiasaan yang sah bersalahan/la ta’tsira li syai’in minal ka’inati bi quwwatihi wa thab’ihi).

Pandangan ini tidak menafikan perintah agama untuk menjaga diri dari penyebaran wabah penyakit secara hukum kebiasaan. Wallahu a’lam. (alhafiz kurniawan/nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

RELIGI

Kembali Gelar Sholat Jum’at, Ini Kata Imam Masjid At Taqwa Amuntai

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Imam Rawatib Masjid At Taqwa Amuntai KH Sam'uni. foto: dew
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Meski pandemi Covid-19 belum tuntas, ratusan jemaah tampak memenuhi Masjid At Taqwa Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), setelah kembali melaksanakan sholat jumat, usai memperoleh izin memfungsikan kembali tempat ibadah.

“Alhamdulillah, hari ini kita laksanakan sholat Jumat setelah beberapa waktu yang lalu ditiadakan,” ungkap Imam Rawatib Masjid At Taqwa Amuntai KH Sam’uni kepada kanalkalimantan.com, Jumat (29/5/2020).

Muallim Sam’uni -biasa disapa- menyebut dalam pelaksanaannya tetap sesuai dengan aturan protokol standar kesehatan Covid-19 yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Pelaksanaan sholat Jumat tetap dilakukan imbauan yang berkenaan dengan pencegahan penularan Covid-19 melalui pengumuman dan isi khotbah, serta memperpendek proses sholat Jumat itu sendiri,” ujar imam tetap masjid terbesar di Kabupaten HSU ini.

Masjid At Taqwa Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), kembali menggelar sholat Jumat mulai Jumat (29/5/2020). foto: dew

Baca juga : Pemkab HSU Beri Izin, Mesjid At Taqwa Amuntai Gelar Sholat Jumat

Sementara itu, untuk keselamatan dan kenyamanan jemaah yang hendak melakukan ibadah sholat Jumat, telah dilakukan penyemprotan disinfektan oleh tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten HSU.

Termasuk penyedian sarana cuci tangan dan bilik disinfektan di setiap pintu masuk masjid.

“Setiap jamaah diharuskan mengikuti aturan sebelum memasuki mesjid dan tetap menjaga jarak saat mengikuti proses sholat Jumat,” kata Muallim Sam’uni.

Pelaksanaan sholat Jumat di Masjid At Taqwa tak lepas dari adanya izin pembukaan kembali tempat ibadah oleh Menteri Agama dalam persiapan penerapan new normal, kemudian ditindaklanjuti Bupati HSU dengan memberikan izin untuk melaksanakan sholat Jumat di masjid (kanalkalimantan.com/dew)

Reporter : dew
Editor : bie

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

MUI: Sholat Jumat Wajib Bagi Warga di Wilayah Terkendali Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

MUI menyampaikan sholat Jumat wajib bagi warga di daerah yang pandemi Covid-19 sudah terkendali. Foto: suara
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA– Pemerintah menyatakan, kurva kasus virus Corona (Covid-19) di sejumlah daerah di menunjukkan adanya penurunan. Terkait hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan, bahwa sholat Jumat wajib dilakukan di daerah yang sudah dinyatakan terkendali.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh mengatakan, umat Islam kembali memiliki kewajiban untuk melaksanakan sholat Jumat secara berjemaah di masjid. Pelaksanaan itu hanya bisa dilakukan di wilayah yang benar-benar sudah dinyatakan virus terkendali.

“Dengan kondisi ini, berarti sudah tidak ada lagi udzur syar’i yang menggugurkan kewajiban Jumat. Dan karenanya, berdasarkan kondisi faktual yang dijelaskan ahli yang kompeten dan kredibel, umat Islam yang berada di kawasan yang sudah terkendali wajib melaksanakan sholat Jumat,” kata Niam dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2020).

Adapun dasar dibolehkannya umat Islam melaksanakan sholat Jumat sebagaimana biasanya di wilayah zona hijau Covid-19 yakni tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020. Dalam fatwa tersebut disebutkan apabila kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, maka umat Islam wajib menyelenggarakan sholat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan banyak orang dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19.

Dengan adanya sejumlah daerah yang sudah dinyatakan masuk ke zona hijau atau mampu mengendalikan Covid-19, maka pemerintah wajib memfasilitasi pelaksanaan ibadah umat Islam di kawasan tersebut.

“Pemerintah wajib memfasilitasi pelaksanaan ibadah umat Islam di kawasan yang sudah terkendali, yang ditandai adanya pelonggaran aktifitas sosial yang berampak kerumunan, melalui relaksasi,” ujarnya.

Selain itu, Niam juga mengingatkan kepada umat Islam untuk tetap menjalani protokol kesehatan dengan berperilaku hidup bersih dan sehat, membawa sajadah sendiri untuk mencegah terjadinya penularan kembali. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Besok Matahari Tepat di Atas Kabah, Saatnya Sejajarkan Arah Kiblat

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Besok matahari tepat berada di atas Kabah Foto: bmkg
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan peristiwa Matahari berada tepat di atas Kabah pada Rabu (27/5/2020) dan Kamis (28/5/2020). Fenomena ini waktu yang tepat untuk mengecek arah kiblat arah salat untuk umat Muslim.

Menurut BMKG untuk mengecek kembali arah kiblat yakni tepatnya pada pukul 16.18 WIB dengan menggunakan sebuah batang.

“Besok pada pukul 16.18 WIB, kita bisa mencoba mengukur dengan menancapkan tiang pada permukaan tanah yang datar. Kalau misalkan ada bayangan dari tiang itu, maka dari bayangan tiang itu sampai ke tiang adalah arah kiblatnya,” ucap Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Hendra Suwarta, Selasa (26/5).

“Jadi kalau tiang kita tancapkan, kemudian ada bayangan berkat sinar Matahari. Nah, dari titik bayangan yang di tanah itu sampai ke tiang, itulah arah kiblat kita. Itu yang tepat,” katanya dilansir Antara.

Jika arah kiblat yang ditentukan dari arah bayangan tiang tersebut berbeda dengan arah kiblat di masjid, maka masyarakat, katanya, cukup dengan memiringkan arah sajadah sesuai dengan arah yang ditentukan dari bayangan tersebut.

“Jadi kalau memang ada penyimpangan agak melenceng sedikit, masjidnya, bukan berarti masjidnya harus dirobohkan. Tidak. Hanya sajadah saja dimiringkan dengan kondisi bayangan yang kita lihat besok itu,” katanya.

Namun demikian, jika Matahari pada pukul 16.18 WIB besok tidak terlihat sehingga tidak bisa memunculkan bayangan, maka masyarakat bisa menentukan arah kiblatnya dengan menggunakan aplikasi arah kiblat.

“Kalau di aplikasi menggunakan perhitungan manusia. Hitung-hitungannya itu diketahui dari koordinat di Kabahnya dan koordinat di tempat kita, masjid kita. Nah, arah koordinat itu bisa dihitung antara koordinat itu bisa dihitung dengan rumusan,” kata Hendra.

“Itu aplikasi dari rumusan yang dihitung manusia. Walaupun koreksinya memang tidak terlalu besar, tetapi sudah bisa benar. Hanya saja kalau mau lebih mantap bisa dengan menggunakan alam karena Allah SWT yang tentukan,” katanya.

Sementara itu, Hendra mengatakan peristiwa Matahari di atas Ka’bah tersebut hanya untuk waktu Indonesia bagian barat dan tengah. Sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian timur, masyarakat di sana tidak akan bisa melihat peristiwa itu.

“Karena di timur, di Papua sudah malam. Jadi enggak akan mungkin. Tapi di Papua sana juga bisa melihatnya di hari yang lain. Jadi bukan sama dengan barat dan tengah, tapi di sana itu nanti (akan bisa melihat kejadian itu) pada tanggal 16 Januari atau tanggal 28 November,” kata Hendra. (Antara)

 

Reporter : Antara
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->