Connect with us

RELIGI

Fenomena Ustadz Tanpa Mazhab

Diterbitkan

pada

Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Ilustrasi foto: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanya: bolehkah beragama tanpa mazhab?

Jawab: tidak boleh.

Memang ada orang yang beragama terkesan tidak bermazhab, tapi sejatinya mereka bermazhab. Hanya saja mereka tidak mampu menjelaskan ke-bermazhaban-nya karena tidak pernah ngaji (belajar) secara serius soal rincian ilmiah cara beragama.

Mereka shalat pakai mazhab, puasa pakai mazhab, haji pakai mazhab, dan seterusnya.



Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Salahkah mereka? Tidak. Selama menjalankan semua itu untuk diri sendiri, maka mereka tidak bersalah. Meski demikian, seharusnya setiap muslim tahu dari siapa (imam mazhab) dia mengambil ilmu urusan agamanya; mengikuti mazhab siapa. Muslim model ini adalah sebagian besar.

Muslim model begini tidak boleh jadi seperti ustadz, kiai, ulama, atau tokoh agama. Karena, untuk menjadi tokoh agama yang dijadikan rujukan oleh masyakarat, orang harus mengerti soal bermazhab dalam beragama. Tokoh agama harus dapat menjelaskan dengan rinci soal metodologi dan dasar-dasar bermazhab. Jika tidak, sebaiknya jadi pendengar saja, jangan ceramah.

Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi. Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi‘in, tabi‘it tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Jadi, tidak bisa anda beragama kemudian mengaku guru anda adalah Nabi dan para sahabatnya secara langsung. Apalagi kemudian ceramah ke sana ke mari.

Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran.

Dalam Kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal. 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w. 1176 H.) menyatakan, “Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari oleh beberapa alasan:

1.Semua ulama sepakat bahwa untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat). Generasi tabi‘in berpegang teguh pada para sahabat. Generasi tabi‘it tabi‘in berpegang teguh pada para tabi‘in. Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya. Ini masuk akal karena syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath).

Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishal). Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath), mereka tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan dapat dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.

2.Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawād al-a‘zham).” Setelah aku mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat mazhab berarti mengikut golongan paling besar.

3.Karena zaman telah jauh dari masa awal Islam, maka banyak ulama palsu yang terlalu berani berfatwa tanpa didasari kemampuan menggali hukum dengan baik dan benar. Banyak amanat keilmuan yang ditinggalkan oleh mereka, dan mereka berani mengutip pendapat generasi salaf tanpa dipikirkan. Mereka mengutipnya lebih didasari oleh hawa nafsu belaka.

Ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah langsung dirujuk. Sementara mereka tidak memiliki otoritas keilmuan untuk istinbath. Mereka terlalu jauh dibanding para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan selalu berpegang teguh pada amanat ilmiah.

Kenyataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Islam akan hancur oleh perdebatan orang-orang yang bodoh terhadap Al-Qur‘an.” Ibnu Mas‘ud RA juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).” Wallahu alam.

Penulis: KH Taufik Damas  Lc, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ragam

Kali Pertama, Polwan Arab Saudi Ikut Amankan Ibadah Haji Tahun Ini

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Jemaah haji wajib menjaga jarak saat mengelilingi Ka'bah. Foto: Saudi Ministry of Media
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Polisi wanita (Polwan) Arab Saudi untuk pertama kalinya bertugas mengamankan ibadah haji tahun 2020, di tengah pandemi Covid-19. Menyusul kebijakan Arab Saudi yang memperbolehkan wanita bergabung dengan dinas militer dan kepolisian.

“Ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami. Haji adalah musim yang sangat sibuk bagi kami, tidak seperti hari-hari normal.” ujar Afnan Abu Hussein, seorang anggota polwan kepada Al-Ekbriya TV .

Haji dimulai pada hari Rabu (29/7) ketika para jemaah memulai perjalanan mereka dari Masjidil Haram di Mekah di tengah aturan keamanan yang ketat.

“Setiap kelompok jemaah memiliki pemimpin untuk memfasilitasi dan mengendalikan gerakan mereka untuk memastikan jaga jarak sosial,” kata Sari Asiri, direktur jenderal urusan Haji dan Umrah di Kementerian Kesehatan disadur dari Arab News.



 

“Selain itu, setiap kelompok juga didampingi oleh seorang profesional kesehatan untuk memantau status kesehatan dan membantu mereka ketika dibutuhkan,” tambahnya.

Pejabat kementerian melakukan proses seleksi yang ketat untuk memastikan kesejahteraan jemaah sebelum kedatangan mereka di Mekah.

“Kami mengunjungi setiap jemaah di rumah mereka dan melakukan tes keseluruhan untuk kondisi kesehatannya, dan kami memantau mereka setiap hari sampai mereka tiba di hotel,” kata Asiri.

Jemaah haji wajib menjaga jarak saat mengelilingi Ka’bah. Foto: Saudi Ministry of Media

Semua pekerja yang melayani jemaah haji tahun ini juga sudah menjalani pemeriksaan kesehatan untuk memastikan mereka bebas dari Covid-19, dan rumah sakit dan pusat kesehatan Mekah sudah disiapkan untuk menghadapi keadaan darurat apa pun.

Hari Tarwiyah (mengambil air), pada hari Rabu, adalah hari pertama ritual haji. Jemaah menuju ke Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf dan Saee antara bukit Safa dan Marwah.

Ratusan jemaah yang datang ke Masjidil Haram tahun ini berjalan dalam kelompok-kelompok kecil di sepanjang jalur khusus mengikuti pemandu mereka.

Protokol kesehatan selama haji dirancang dan diimplementasikan oleh Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci bekerja sama dengan Kementerian Haji dan Umrah dan otoritas keamanan.

Kepresidenan juga membuat pintu masuk dan keluar khusus untuk setiap kelompok jemaah haji untuk mencegah keramaian dan menginhadari antrean.

Pasukan Pertahanan Sipil meningkatkan kesiapan mereka di Mina untuk menerima para jemaah di mana mereka akan menghabiskan malam sebelum pindah ke gunung Arafat.

Jemaah haji wajib menjaga jarak saat mengelilingi Ka’bah. Foto: Saudi Ministry of Media

Sementara itu, Keamanan Publik Saudi mengumumkan bahwa mereka menangkap 244 pelanggar pedoman haji yang berusaha memasuki wilayah haji tanpa izin.

Seorang juru bicara Keamanan Publik Saudi meminta warga dan ekspatriat untuk mematuhi hukum dan instruksi haji, juga menekankan bahwa pasukan keamanan memberlakukan penjagaan ketat di sekitar Mekah dan tempat-tempat suci lainnya.

Mereka yang ditangkap di tempat-tempat suci tanpa izin berisiko terkena denda hingga 10.000 riyal (sekitar Rp 39 juta), denda dapat meningkat juga mereka mengulang kesalahan yang sama.

Setiap tahun, sekitar 2,5 juta jemaah haji datang ke Mekah, namun karena pandemi Covid-19 hanya sekitar 1.000 yang akan dapat melaksanakannya tahun ini. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

PENTING. Ini Protokol Kesehatan Penyembelihan Hewan Kurban Menurut MUI

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penyembelihan hewan kurban harus memperhatikan protokol kesehatan Foto: suara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Selain Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan panduan protokol kesehatan penyembelihan hewan kurban. Seperti kita ketahui, hari raya Idul Adha tahun ini jatuh pada tanggal 31 Juli 2020 di mana masyarakat masih waspada terhadap Covid-19.

MUI mengeluarkan panduan menyembelih hewan kurban dengan maksud agar masyarakat tetap aman dari potensi penularan dan juga langkah pencegahan Covid-19.

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah tanggal 10 Dzulhijjah atau 31 Juli 2020 dan tiga hari Tasyriq, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Adapun keutamaan kurban menyadur dari Nu Online, sudah tertulis dalam hadist Hasan yang berbunyi.



 

Baca juga :

Ini Lima Provinsi Teratas Sebaran Covid-19 Hari Ini, Kalsel Peringkat 4 Nasional

Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan.

Baca juga :

Saat KPK Mulai ‘Membidik’ Gajah, Macan, dan Kijang POP Kemendikbud

Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)
Begitu juga dengan firman Allah dalam surat Al-Hajj, yang berbunyi.

“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj, 22:28)

Lihat Grafis Protokol kesehatan menurut MUI tertuang dalam Fatwa Nomor 36 Tahun 2020 tentang Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Wabah COVID-19:

Infografis : kanalkalimantan/yuda

Itulah protokol kesehatan penyembelihan hewan kurban menurut MUI. (Kanalkalimantan.com/suara)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->