Connect with us

Budaya

Gubernur Sahbirin Resmikan Balai Temu Rakyat Dayak Pitab di Balangan

Diterbitkan

pada

Gubernur Sahbirin saat meresmikan balai temu rakyat Dayak Pitab Foto: tribun
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PARINGIN, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor meresmikan Balai Temu Rakyat Dayak Pitab, di Desa Langkap, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Balangan, Senin (16/9). Hadir juga pada acara tersebut Bupati Balangan, H Ansharuddin dan jajaran beserta Forkopimda Balangan.

Keberadaan balai temu rakyat Dayak Pitap rupanya baru dimiliki. Sebelumnya warga setempat tidak memiliki tempat atau aula yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan.

Pemimpin Lembaga Adat Dayak Pitap, Aliudur, dilansir tribunnews.com, begitu terharu akan keberadaan balai tersebut. Ia bahkan sempat menangis sembari berterimakasih kepada Gubernur Kalsel karena telah membantu untuk biaya pembangunan. Apalagi tempat tersebut ujarnya sudah 20 tahun dinanti. “Sejak 20 tahun lalu kami mengharapkan adanya bangunan balai rakyat ini. Kami sangat bangga dan berterimakasih sekali karena saat pimpinan Paman Birin ini, kami bisa punya balai adat,” ucapnya.

Bangunan balai temu rakyat Dayak Pitap ujarnya akan dimanfaatkan sebagai balai serbaguna. Sehingga digunakan untuk berbagai kegiatan. Baik acara adat maupun acara keagamaan.



Tak hanya kepada Paman Birin, ucapan terimakasih juga disampaikan oleh Aliudur kepada Bupati Balangan. Terutama pada pembangunan yang sudah dilakukan oleh pimpinan wilayah berjuluk bumi sanggam ini di daerahnya.

“Kami telah menikmati sejumlah pembangunan yang dilakukan. Di antaranya nyamannya jalan atau akses menuju desa ini. Sehingga kami yang jadi masyarakat terpencil diharapkan bisa lebih berkembang,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, selain peresmian bangunan tersebut, Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor juga dinobatkan sebagai warga kehormatan Dayak Pitap. Secara simbolis, Paman Birin menerima mandau dan butah yang digunakan oleh warga setempat dalam keseharian ke hutan.(cel/trb)

Reporter : Cel/trb
Editor : chell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Budaya

Ancaman Budaya Modern dan Sampah, Baduy Ajukan Dicoret dari Daftar Wisata  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Perkampungan Suku Baduy Luar. foto: Geotimes
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Masyarakat adat Baduy merasa wisatawan dan modernisasi mengancam kelangsungan masyarakat adat. Selain itu, masalah sampah juga menjadi persoalan di sana.

Makanya Adat Baduy mengajukan untuk menghapus wilayahnya dari daftar wisata Indonesia. Mereka pun berkirim surat ke Presiden Jokowi. Baduy ada di Kecamatan Kanekes, Kabupaten Lebak. Surat itu diajukan 6 Juli 2020 kemarin. Masyarakat adat Baduy menyampaikan beberapa alasan permintaan mereka tidak lagi menjadi destinasi wisata.

Pertama, perkembangan modernisasi yang semakin pesat dan beragam menjadi sebuah tantangan yang makin lama terasa semakin berat bagi para tokoh adat. Para tokoh adat makin sulit memberikan pemahaman konsistensi menjalani proses kehidupan sosial-kultural kepada generasi saat ini.

Tetua adat khawatir akan runtuhnya tatanan nilai adat pada generasi berikutnya.



“Meningkatnya kunjungan wisatawan ke wilayah Baduy menimbulkan dampak negatif, berupa pelanggaran-pelanggaran terhadap tatanan adat yang dilakukan oleh wisatawan dan jaringannya,” dalam surat itu yang ditandatangani dengan cap jempol oleh Jaro Saidi, Jaro Aja, dan Jaro Madali.

Selain itu banyak tersebar foto-foto wilayah adat Baduy, khususnya Baduy Dalam di Kampung Cikeusik, Cikertawarna, dan Cibeo. Bahkan direkam dan dipublikasikan oleh sebuah lembaga milik asing.

Padahal tatanan adat masyarakat Baduy yang masih berlaku tidak mengizinkan siapapun untuk mengambil gambar. Apalagi mempublikasikan wilayah adat Baduy, khususnya wilayah Baduy Dalam.

Selain itu, akibat derasnya arus wisatawan ke wilayah Cagar Budaya Baduy, banyak sekali sampah plastik yang tertinggal sehingga mencemari lingkungan sekitar.

Persoalan sampah

Masalah sampah pun jadi alasan. Kini Kampung Baduy Dalam sudah kotor. Lingkungan tersebut setiap hari dipakai untuk beraktivitas seperti mandi, mencuci, dan mengambil air minum.

Sampah plastik itu juga banyak ditemukan berserakan di jalur, terlebih di wilayah Baduy Luar. Selain itu, kedatangan wisatawan berimbas pada munculnya pedagang untuk berjualan, padahal berdasarkan kesepakatan adat Baduy sebetulnya mereka dilarang berjualan.

Anak-anak Suku Baduy Luar. foto: Tagarid

“Baduy sudah tak sepenuhnya damai dan tentram. Apa yang ditampilkan melalui pencitraan dan promosi sudah sangat berbeda dengan kenyataan di lapangan,” tertulis dalam penegasan.

Heru Nugroho, salah satu pihak yang mendapat amanat menyampaikan surat tersebut kepada Presiden Jokowi menyebutkan kegelisahan yang dialami masyarakat adat Baduy.

Pria yang sudah 15 tahun kerap berkunjung dan dikenal baik oleh masyarakat adat Baduy itu menuturkan bahwa kecemasan akan pengaruh modernisasi menjadi salah satu alasan tetua adat menghentikan wisatawan untuk masuk ke Baduy.

“Saya sering tanya, seberapa kuat mereka menahan arus modernisasi dan tetap patuh pada tatanan nilai adat? Kurang lebih sampai 5 tahun yang lalu, pertanyaan itu masih dijawab dengan rasa percaya diri, bahwa mereka masih bisa tahan. Meski saya melihat ada nada khawatir, tapi itu pendapat saya,” kata Heru sambil menceritakan bagaimana ia sampai mendapatkan mandat khusus itu dari masyarakat adat Baduy.

Dalam suasana saling percaya dan saling menghargai prinsip dan pilihan hidup untuk berdampingan dengan alam itu, Heru mengaku salut dengan ketatnya etika hidup masyarakat adat Baduy.

“Kami sama-sama saling menghargai pilihan keyakinan masing-masing. Contoh aja, kalo saya suruh mengikuti cara hidup yang patuh dengan tatanan adat di sana, wah saya terus terang nggak akan sanggup. Tapi saya menghargai pilihan mereka untuk tetap patuh terhadap tatanan nilai adat yang mereka yakini,” ucap Heru, Senin (6/7/2020) kemarin.

Pria yang kerap berdiskusi dengan tetua adat Baduy Dalam maupun Baduy Luar itu menuturkan bahwa tema soal ketahanan suku Baduy terhadap nilai-nilai adat dan tidak bersedia menyentuh atmosphere modernisasi merupakan tema yang paling sering menjadi bahan diskusi.

“Saya waktu itu ngobrol dengan Jaro Tangtu Cikeusik (Jaro Alim) dan ada Puun Cikeusik juga. Saya ditemani Jaro Saidi,” jelasnya.

Puncaknya, pada tanggal 16 April lalu, ketika gencar isu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat wabah Covid-19 masyarakat Baduy menikmati betul suasana itu di mana orang luar tidak bisa masuk ke Baduy.

“Pada tanggal 16 April itulah, Jaro Alim memberi amanah kepada saya, barangkali saya bisa membantu mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang ada. Saat itu kami sepakat, sebaiknya Baduy dihapus dari peta wisata nasional. Jadi, mandat itu saya dapat secara lisan, disaksikan Puun Cikeusik dan Jaro Saidi. Kultur mereka kan emang lisan,” ujarnya.

Berlanjut pada pembicaraan agar Heru Nugroho diminta berkolaborasi dengan Jaro Saidi untuk mencari solusi untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat Baduy.

“Setelah tanggal 16 April itu, saya ke sana sekali lagi dan kita diskusi yang akhirnya sepakat membuat surat untuk Presiden,” katanya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Budaya

Walikota Ibnu Sina Bertemu ‘Kulaan’ dan Presiden Pertumbuhan Banjar Malaysia

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pertemuan antara walikota Ibnu Sina dengan Presiden PBM H Burhan Kasim Foto : ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina bertemu dengan Presiden Pertumbuhan Banjar, Malaysia, H Burhan Kasim Oham serta Jawatan Kuasa PBM, Ir H Saleh Shamlani Mohd Saleh di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain menyambung silaturahim negeri serumpun, pertemuan juga menghasilkan beberapa kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Ada tiga kesepakatan dalam pertemuan di Kuala Lumpur. Antara lain menginisiasi terbentuknya Kantor Bersama di Kuala Lumpur dan Banjarmasin. Kedua, menggali potensi peluang usaha yang dapat dikembangkan, memperluas usaha atau memasarkan produknya.

“Wadah berhimpunnya para pegiat silaturahim yang peduli dengan banua dan masyarakat banjar,” ungkap Ibnu Sina, beberapa saat setelah pertemuan.

Ia mengatakan, pemerintah Kota Banjarmasin sangat mendukung silaturahim antar kulaan Banjar yang bertujuan untuk pengembangan bisnis jasa pariwisata dan industri diantara kedua negara serumpun. “Terjalinnya silaturahim dan terhubungnya juriat keluarga kulaan Banjar antar negara, membuka kesempatan terjadinya transaksi bisnis antar kulaan,” katanya.



Selain itu, dengan adanya Kongres Budaya Banjar yang diselenggarakan Bulan November 2019 nanti, diharapkan juga dapat memperkaya materi bahasannya dalam kajian budaya Banjar dalam bidang usaha.  Hal ini karena budaya urang Banjar dan penyebarannya melalui tradisi “madam” di nusantara, juga terdorong oleh semangat dagang (wirausaha).

“Kota Banjarmasin sudah sejak lama diakui sebagai kota perdagangan, pengusahanya berasal dari kulaan dari berbagai daerah di banua banjar, yaitu urang Martapura, Hulu Sungai, urang Nagara, Amuntai, Alabio, Barabai, Tapin dan lain-lain,” ucapnya.

Terlebih dengan adanya penerbangan langsung Banjarmasin ke Kuala Lumpur di akhir tahun 2019 nanti, tentunya ini akan lebih memudahkan para kulaan dua negara saling berkunjung. Selain susur galur atau berwisata, terbukanya penerbangan itu juga bisa membuka peluang pengembangan bisnis bagi kulaan Banjar diantara dua negara.

Demikian juga dengan adanya rencana perpindahan Ibu Kota Negara Indonesia ke Provinsi Kaltim yang berdekatan dengan kawasan Kalsel akan memberi peluang usaha bagi kulaan di Banjarmasin dan investor kulaan dari Malaysia, harapnya.

Sementara itu, Presiden Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM) H. Burhan Kasim atau Ohan Kasim yg didampingi Jawatan Kuasa PBM, Ir H Saleh Shamlani Mohd Saleh Shamlani menyampaikan, banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan oleh kulaan Banjar se nusantara, terlebih dengan dikembangkannya jalinan silaturrahmi kulaan ini ke dalam bidang usaha.

Sehingga kemajuan bidang industri, pertanian, perkebunan, dan perikanan serta pariwisata dimasing-masing negara, dapat saling menginspirasi dan dikembangkan jadi jaringan pemasaran atau bahkan produksi bersama.(mario)

Reporter : Mario
Editor : Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->