Connect with us

RELIGI

Guru Danau : Jangan Beda Pendapat Kita Tercerai Berai

Diterbitkan

pada

Tabligh Akbar bersama ulama kharismatik KH Asmuni berkumpul dalam satu majelis zikir dan shalawat. Foto : dewahyudi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

AMUNTAI, Ratusan jemaah hadiri Tabligh Akbar bersama ulama kharismatik KH Asmuni berkumpul dalam satu majelis zikir dan shalawat di Aula KH Dr Idham Chalid Pemkab HSU, Rabu (17/10) malam.
Zikir dan shalawat bersamaan dengan pemberian nama atau tasmiyah cucu pertama Bupati HSU H Abdul Wahid.

Saat tausiah KH Asmuni -Guru Danau- mengingatkan, agar masyarakat Hulu Sungai Utara banyak bersabar dan selalu menjaga kerukunan, agar Kabupaten HSU selalu dalam lindungan dan keselamatan dari bencana dan musibah. Serta menjaga daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara supaya selalu aman dan kondusif terutama menjelang Pemilu 2019 ini.

“Jangan jadikan perbedaan pendapat membuat kita jadi tercerai berai,” ujar Guru Danau
Guru Danau juga menceritakan riwayat Nabi Zakaria Alaihissalam dan puteranya Nabi Yahya Alaihissalam, berupa keteladanan Nabi Yahya dalam berbakti kepada orang tuanya Nabi Zakaria, sehingga dapat dijadikan contoh teladan dalam keluarga.
Terkait pemberian nama seorang anak, agar orang tua memberikan nama keturunan atau nama anak hendaknya memberikan nama yang memiliki arti baik di dalam Al Qur’an. Serta diwajibkan sebagai orang tua untuk menjaga serta mendidik anak keturunan agar nantinya menjadi anak yang sholih atau sholihah.

“Anak-anak kita harus dibekali dengan ilmu agama dan akhlaqul karimah, karena akan menjadi amal jariyah yang nantinya menambah amal kebajikan orang tua dan menjadi penolong di akhirat,” beber Guru Danau.

Sementara itu, Bupati HSU mengatakan sangat bersyukur bisa melaksanakan kegiatan ini. Dengan menuntut ilmu hendaknya lebih meningkatkan keimanan, menjalin silaturahmi, dan menambah amal ibadah.

“Kita patut bersyukur Kabupaten HSU jauh dari musibah, hendaknya menjadi renungan agar kita selalu memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah,” ucapnya.

Bupati juga mengingatkan kepada masyarakat HSU, menghadapi masa-masa Pemilu, supaya bisa menjaga suasana keamanan, damai dan sejuk. (dew)

Reporter: Dew
Editor: Abi Zarrin Al Ghifari

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

RELIGI

Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pembuktian empiris atas keberadaan Tuhan akan sia-sia belaka karena ia tak beranjak dari karakter kemakhlukan: materi. Ilustrasi: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Benarkah Tuhan itu ada? Ini adalah pertanyaan beberapa orang yang meragukan keberadaan Tuhan sebab eksistensi Tuhan tak dapat diobservasi dan tak dapat pula dideteksi keberadaannya melalui serangkaian alat-alat modern. Mencari Tuhan dengan metode empiris seperti itu takkan membuahkan hasil sebab Tuhan itu memang ghaib, wujudnya sama sekali tak dapat diakses atau diindra. Karena itulah, untuk membuktikan keberadaan Tuhan bukan dengan melakukan serangkaian tes yang bersifat indrawi tetapi dengan penarikan kesimpulan yang bersifat rasional.

Bila kita melihat jagat raya ini, kita lihat semuanya punya garis merah yang sama, yaitu semua serba berubah. Tak ada yang tak berubah di jagat raya ini, bahkan hal yang kita sangka tak pernah berubah pun ternyata berubah seiring waktu. Semua hal mengalami masa sebelum, sedang, dan setelah. Semua berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Bila demikian, maka dengan pasti kita tahu bahwa segala yang ada di jagat raya ini punya permulaan.   Seperti halnya kita tak tahu kapan tetangga kita dilahirkan, akan tetapi kita tahu pasti bahwa dia punya tanggal lahir. Kita juga tak tahu dengan pasti kapan planet ini dan segala isinya diciptakan, tapi kita tahu dengan pasti bahwa ia ada awal mulanya. Demikian juga dengan seluruh bintang, planet, galaksi, atau apa pun namanya, bagaimanapun bentuknya, kita tahu dengan pasti bahwa semuanya berawal dari sebuah titik yang mengubahnya dari kondisi tidak ada menjadi ada.

Selain itu, kita lihat bahwa segala yang ada di dunia ini juga punya sifat dan karakter khusus; benda-benda besar di jagat raya mempunyai gaya tarik yang kita sebut gravitasi, api mempunyai karakter membakar, es mempunyai karakter dingin, batu mempunyai karakter keras dengan bentuk tertentu, gelombang punya karakter merambat dan menembus, air punya karakter cair, dan begitu juga pohon, udara, dan segala makhluk hidup punya karakternya masing-masing. Segala karakter ini pun saling melengkapi dan membentuk sistem kehidupan yang saling menopang satu sama lain. Meski kita tak tahu dengan detail bagaimana semua itu terbentuk, tapi kita bisa memastikan bahwa seluruh sifat dan karakter itu dibentuk dan dirancang dengan penuh kesadaran oleh aktor yang berada di luar jangkauan kita sebab mustahil hal yang begitu rumit terjadi dengan sendirinya dan membentuk sistem yang begitu hebatnya.

Ketika melihat keberadaan dinding dari batu bata di tengah hutan, kita bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa dinding itu dirancang dan dibuat oleh suatu makhluk berkesadaran, bukan oleh angin, air, panas mentari, pohon-pohon atau gempa bumi. Padahal susunan dinding batu bata sangat sederhana, tetapi akal kita menolak ketika ada yang mengatakan bahwa dinding itu tercipta dengan sendirinya. Maka bagaimana mungkin kita sanggup mengatakan bahwa jagat raya ini ada dengan sendirinya?

Bila demikian, maka sampailah kita pada pertanyaan paling penting, siapakah aktor yang membuat semuanya ada dari tiada? Siapakah yang merancang dan membentuk seluruh karakter yang kita lihat di setiap hal di jagat raya ini? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Meskipun kita tak pernah melihatnya, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan itulah penyebab utama dari segala keberadaan di alam semesta. Keberadaannya adalah pasti dan tak bisa didebat lagi.

Keberadaan Tuhan inilah yang disebut para ulama sebagai “wajibul wujud”, keberadaan yang pasti, harus, dan tak bisa disangkal. Adapun keberadaan selain Tuhan sifatnya hanya “mumkinul wujud”, yakni sesuatu yang keberadaannya relatif dalam arti bisa saja ada dan boleh juga tidak ada. Tak ada alasan yang memastikan bahwa kita ini harus ada, planet ini harus ada, dan segala hal di semesta harus ada. Tapi Tuhan harus ada sebab keberadaannya merupakan keniscayaan dari seluruh keberadaan hal lain yang sudah ada ini. Inilah yang membedakan antara keberadaan Tuhan dan keberadaan selain Tuhan. Meskipun semua sama-sama ada, tapi pada hakikatnya keberadaan keduanya jauh berbeda.

Lalu siapa yang mencipta Tuhan dan memberikan karakter ketuhanan pada-Nya? Ini pertanyaan konyol yang hanya akan membuat lingkaran tak berujung yang pasti mustahil. Ketika kita melihat orang lain, kita tahu bahwa dia punya bapak, bapaknya punya bapak dan demikian seterusnya tapi haruslah ada ujung dari semua rantai kebapakan itu di mana ujung rantai itu tak punya bapak lagi. Bapak paling tua itu yang lewat bocoran wahyu kita kenal sebagai Adam. Demikian juga seluruh hal lainnya harus punya ujung pertama di mana ujung pertama itu tak berasal dari apa pun. Yang paling ujung dari semua penciptaan adalah Tuhan dan pastilah Tuhan itu sendiri tak diciptakan, tak dirancang, tak disusun, tak dibentuk, dan memang sudah ada tanpa awal mula.

Andai dipaksakan bahwa ada lingkaran penciptaan yang tak berujung hingga ke belakang di mana Tuhan diciptakan oleh sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain itu juga diciptakan oleh sesuatu sebelumnya secara terus-menerus tanpa ada ujungnya, maka seharusnya alam semesta takkan tercipta. Logikanya, bila penciptaan semesta ini tergantung pada keberadaan Tuhan sedangkan keberadaan Tuhan itu pun juga bergantung pada keberadaan Tuhan lain sebelumnya dan terus demikian, maka pasti alam semesta belum ada sebab keberadaannya bergantung pada lingkaran yang tak pernah berhenti. Tatkala kita lihat alam semesta ada, itu artinya ada ujung paling akhir yang berperan menentukan segalanya. Ujung paling akhir itulah yang absah disebut Tuhan, Sang Pencipta segalanya.

Penjelasan di atas adalah penjelasan universal yang  dapat dipahami seluruh manusia di mana pun, apa pun agamanya, dan apa pun bangsanya. Ini adalah kebenaran rasional yang bisa diketahui oleh semua orang berakal. Dengan penjelasan semacam inilah para ulama berkomunikasi dengan semua orang dari semua penjuru dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Bahasa universal inilah yang dapat diyakini kebenarannya oleh seluruh manusia sebab bukan berdasarkan dogma atau klaim apa pun yang sifatnya subjektif.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Fenomena Ustadz Tanpa Mazhab

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Ilustrasi foto: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanya: bolehkah beragama tanpa mazhab?

Jawab: tidak boleh.

Memang ada orang yang beragama terkesan tidak bermazhab, tapi sejatinya mereka bermazhab. Hanya saja mereka tidak mampu menjelaskan ke-bermazhaban-nya karena tidak pernah ngaji (belajar) secara serius soal rincian ilmiah cara beragama.

Mereka shalat pakai mazhab, puasa pakai mazhab, haji pakai mazhab, dan seterusnya.

Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Salahkah mereka? Tidak. Selama menjalankan semua itu untuk diri sendiri, maka mereka tidak bersalah. Meski demikian, seharusnya setiap muslim tahu dari siapa (imam mazhab) dia mengambil ilmu urusan agamanya; mengikuti mazhab siapa. Muslim model ini adalah sebagian besar.

Muslim model begini tidak boleh jadi seperti ustadz, kiai, ulama, atau tokoh agama. Karena, untuk menjadi tokoh agama yang dijadikan rujukan oleh masyakarat, orang harus mengerti soal bermazhab dalam beragama. Tokoh agama harus dapat menjelaskan dengan rinci soal metodologi dan dasar-dasar bermazhab. Jika tidak, sebaiknya jadi pendengar saja, jangan ceramah.

Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi. Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi‘in, tabi‘it tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Jadi, tidak bisa anda beragama kemudian mengaku guru anda adalah Nabi dan para sahabatnya secara langsung. Apalagi kemudian ceramah ke sana ke mari.

Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran.

Dalam Kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal. 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w. 1176 H.) menyatakan, “Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari oleh beberapa alasan:

1.Semua ulama sepakat bahwa untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat). Generasi tabi‘in berpegang teguh pada para sahabat. Generasi tabi‘it tabi‘in berpegang teguh pada para tabi‘in. Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya. Ini masuk akal karena syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath).

Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishal). Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath), mereka tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan dapat dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.

2.Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawād al-a‘zham).” Setelah aku mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat mazhab berarti mengikut golongan paling besar.

3.Karena zaman telah jauh dari masa awal Islam, maka banyak ulama palsu yang terlalu berani berfatwa tanpa didasari kemampuan menggali hukum dengan baik dan benar. Banyak amanat keilmuan yang ditinggalkan oleh mereka, dan mereka berani mengutip pendapat generasi salaf tanpa dipikirkan. Mereka mengutipnya lebih didasari oleh hawa nafsu belaka.

Ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah langsung dirujuk. Sementara mereka tidak memiliki otoritas keilmuan untuk istinbath. Mereka terlalu jauh dibanding para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan selalu berpegang teguh pada amanat ilmiah.

Kenyataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Islam akan hancur oleh perdebatan orang-orang yang bodoh terhadap Al-Qur‘an.” Ibnu Mas‘ud RA juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).” Wallahu alam.

Penulis: KH Taufik Damas  Lc, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Mengintip Kualitas Speaker di Masjidil Haram Makkah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Imam Masjidil Haram. (Foto: Dok. Haramain)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagi Anda yang pernah shalat di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, mungkin akan merasa kagum pada kualitas speaker (pelantang) dan sound system (tata suara) yang digunakan. Di setiap sudut masjid, nyaris suara bacaan imam dan muadzin dapat terdengar merata dan jelas. Tidak terdengar sedikit pun gangguan suara-suara seperti storing ‘nging’, ‘kresek-kresek’ ataupun check sound ‘test… satu, dua, tiga’.

Dikutip dari laman Haramain, jumlah speaker yang digunakan di masjid terbesar di dunia ini sebanyak 6.000 buah. Pelantang-pelantang itu ditempatkan di pelataran dalam dan luar serta sepanjang jalan. Sound system di Masjidil Haram ini menjadi salah satu rangkaian tata suara terbesar di dunia.

Ruang kontrol. foto: dok.Haramain

Tata suara ini terhubung ke ruang kontrol yang dikendalikan oleh 50 teknisi khusus. Tidak hanya satu unit mesin yang digunakan untuk menjaga kualitas suara di masjid suci umat Islam ini. Ada tiga mesin sound system keluaran Sennheiser, Jerman, yang dioperasikan dengan fungsi masing-masing.

“Setiap imam dan muadzin memiliki pengaturan suara khusus disesuaikan dengan jenis suara dan nadanya untuk memastikan kejernihan dan keseimbangan suara di seluruh sudut Masjidil Haram,” jelas laman Haramain.

Microfon di tempat imam Masjidil Haram Makkah. foto: dok.Haramain

Tiga mesin yang digunakan ini terdiri dari satu mesin utama dan dua mesin sebagai cadangan (back up). Ini bisa terlihat dari mikrofon yang berada di depan imam saat shalat. Mikrofon sebelah kanan merupakan mic utama, bagian tengah adalah cadangan pertama dan bagian kiri merupakan cadangan kedua.

Ketika tata suara utama tidak berfungsi, maka cadangan pertama akan secara otomatis hidup dan berfungsi. Dan ketika cadangan pertama juga tidak berfungsi, maka cadangan kedua akan hidup secara otomatis. Inilah sistem yang menjadikan hampir tidak ada masalah tata suara di Masjidil Haram.

Teknisi khusus sound system di Masjidil Haram. foto: dok. Haramain

Kualitas tata suara ini sangat mendukung kekhusyuan dan kualitas jamaah dalam beribadah khususnya shalat berjamaah. Para jamaah mampu meresapi dan menikmati suara adzan dan bacaan imam Masjidil Haram yang terkenal memiliki kekhasan suara masing-masing.

Para imam dan muadzin di Masjidil Haram pun memiliki kriteria khusus yang telah ditentukan oleh pihak pengelola masjid.

Muadzin ditentukan oleh pengelola Masjidil Haram. foto: dok.Haramain

Di antaranya harus berkebangsaan Arab Saudi, tidak boleh berumur di bawah 30 tahun, dan minimal lulusan S2 dari salah satu perguruan tinggi Ilmu Agama Islam di Arab Saudi. Imam juga harus hafal Al-Qur’an dan memiliki kualitas suara yang bagus.

Di samping suara yang bagus, muadzin Masjidil Haram juga harus memiliki kemampuan ilmu di bidang hukum dan tata cara adzan serta shalat.

Kualitas suara imam dan muadzin masjid yang dipadu dengan kualitas tata suara ini tentu semakin menjadikan umat Islam seluruh dunia yang beribadah di dalamnya kian menikmati ibadahnya. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor munculnya rasa kangen setiap muslim untuk dapat datang kembali ke Masjidil Haram. (muhammad faizin/nuonline)

Reporter : muhammad faizin/nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->