Connect with us

OBITUARI

Gus Sholah, dari Komnas HAM hingga Pilpres 2004

Diterbitkan

pada

Gus Sholah wafat di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta tadi malam Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA– Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah lahir pada 11 September 1942 di Jombang, Jawa Timur dari pasangan KH Wahid Hasyim-Sholehah. Dia tumbuh di dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah sempat kritis, Gus Sholah pun menghembuskan nafas terakhirnya malam ini. Itu dikabarkan putra Gus Sholah, Irfan As’ari Sudirman Wahid atau Ipang Wahid dalam akun twitternya @ipangwahid. Gus Sholah, ujar Ipang, wafat pada pukul 20.55 WIB, Minggu (2/2).

Kakek Gus Sholah adalah KH Hasyim Asyari yang mendirikan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Sementara ayahnya, Wahid Hasyim, adalah Menteri Negara Urusan Agama dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Wahid Hasyim juga diketahui turut dalam penyusunan rencana kemerdekaan RI sebagai anggota anggota BPUPKI dan PPKI.

Gus Sholah juga merupakan adik kandung Presiden keempat RI, mendiang Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Selayaknya kakak kandungnya, Gus Dur, Gus Sholah pun hidup di lingkungan tokoh-tokoh besar yang berperan penting dalam sejarah Indonesia.



Gus Sholah remaja lulus dari SMAN 1 Jakarta. Dia lanjut menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik arsitektur.

Dia aktif berorganisasi. Misalnya, pernah menjadi anggota senat mahasiswa ITB, Bendahara Dewan Mahasiswa ITB, Komisariat PMII ITB, Wakil Ketua PMII Cabang Bandung, serta anggota Dewan Pengurus Pendaki Gunung Wanadri.

Usai lulus dari kuliah, kegiatan berorganisasi tak ditinggalkan. Dia terus menjalaninya. Salah satunya ketika menjadi Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pada tahun 1968, Gus Sholah menikahi Farida, putri mantan Menteri Agama Syaifudin Zuhri. Mereka dikaruniai tiga orang anak yakni Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Keaktifan berorganisasi semakin mendekatkan Gus Sholah dengan panggung politik. Tercatat, Gus Sholah pernah mendirikan Partai Kebangkitan Ulama.

Gus Sholah sempat terlibat polemik dengan kakak kandungnya, Gus Dur. Mereka berdua memiliki pendapat berbeda tentang pemahaman kakeknya, yaitu Hasyim Asyari.

Pada masa awal reformasi 1998, Gus Sholah sempat menjadi anggota MPR. Lalu dilanjut dengan menjadi Wakil Ketua Komnas HAM sejak 2002.

Gus Sholah pernah memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) guna menyelidiki kasus Kerusuhan Mei 1998, kemudian Ketua Tim Penyelidik Adhoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998.

Pada Pilpres 2004, Gus Sholah menjadi calon wakil presiden. Dia mendampingi Wiranto yang menjadi calon presiden. Namun, perolehan suara yang sedikit gagal membuat mereka mengisi kursi pimpinan pemerintahan. Kala itu, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menang.

Pada 2006, Gus Sholah menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pada 2010 dan 2015, Gus Sholah maju menjadi calon Ketum PBNU. Namun, Said Aqil Siradj yang terpilih.

Gus Sholah lalu menjadi anggota Dewan Etik Mahkamah Konstitusi. Kemudian dia mengundurkan diri pada 2018 karena sakit. Posisinya lalu digantikan oleh Ahmad Syafii Maarif, sesepuh Muhammadiyah.

Selama hidupnya, Gus Sholah juga suka bergelut dengan dunia literatur. Dia pun sudah menghasilkan sejumlah karya yang telah dibukukan.

Di antaranya, Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Sejak 2018, kesehatan Gus Sholah kerap memburuk. Dia dirawat di RSUD Jombang, Jawa Timur karena sakit di bagian lambung. Dia lalu dirujuk ke RSCM Kencana, Jakarta. Kemudian pada Januari 2020, dia dirujuk ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Sakit Gus Sholah semakin parah. Dokter lalu menerapkan tindakan ablasi. Namun, pada awal Februari, Gus Sholah justru dikabarkan kritis. Hal itu disampaikan putranya, yakni Irfan Hasyim alias Ipang Wahid. Dan, akhirnya Gus Sholah pun kembali ke pangkuan Allah SWT, menyusul kakaknya, Gus Dur, yang telah wafat satu dasawarsa lalu. Syafii Maarif Dipercaya Gantikan Gus Sholah Jadi Dewan Etik MK. (bmw/cnnindonesia)

Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

OBITUARI

Sapardi Djoko Damono Wafat, Selamat Jalan Penyair Rendah Hati  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sapardi Djoko Damono. Foto: suara.com/pebriansyah ariefana
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Penyair kondang Sapardi Djoko Damono meninggal dunia hari ini, Minggu (19/7/2020). Penulis puisi “Hujan Bulan Juni” itu menghembuskan nafas terakhirnya di usia 80 tahun.

Kabar meninggalnya Sapardi Djoko Damono telah ramai di media sosial. Sastrawan Indonesia terkemuka, Goenawan Mohammad mengungkapkan berita duka itu.

“Innalilahi wa inailahi roji’un: Penyair Sapardi Djoko Damono wafat pagi ini setelah beberapa bulan sakit. Maret 1940-Juli 2020,” tulis Goenawan Mohammad lewat akun Twitter pribadinya, @gm_gm, Minggu (19/7/2020).

Maman Suherman, notulen Indonesia Lawyer Club (ILC) turut mengungkapkan jasa-jasa yang telah diberikan Sapardi selama menjadi penyair.



 

“Kita tak jadi tampil bersama, sesuatu yang selalu kubanggakan, tapi namamu abadi. Ilmumu abadi di hati dan pikiranku,” tulis Maman Suherman.

Baca juga: Sudah 2.453 Peserta Daftar Online, Talkshow Virtual Bersama Najwa Shihab Dihelat 24 Juli  

Pemimpin Redaksi Tempo, Arif Zulkifli juga turut mengcapkan belasungkawa atas kepergian salah satu penyair atau sastrawan kondang Indonesia itu.

“Selamat jalan penyair rendah hati: Sapardi Djoko Damono,” ujar Arief lewat Twitternya, @arifz_tempo, Minggu (19/7/2020).

Arif kemudian mengutip salah satu sajak terkenal milik Sapardi dalam lanjutan cuitannya di Twitter.

“Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri….”

Menurut informasi yang dituturkan akun @PuisiJokpin, Sapardi meninggal dunia di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pada pukul 09.17 WIB tadi. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

OBITUARI

Panjat Pembatas hingga Nyebrang Tol, Massa Penolak RUU HIP Meluber di DPR

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penampakan massa penolak RUU HIP di gedung DPR panjat dan nekat menyebrang tol. (Suara.com/Bagaskara).
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Ratusan orang dari sejumlah elemen masyakarat mengggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2020) dengan berbagai tuntutan terutama penolakan terhadap RUU HIP dan Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

Dalam aksi kali ini, tampak sejumlah pendemo terus berdatangan menuju gedung DPR.

Berdasarkan pantauan Suara.com pada pukul 10.40 WIB banyak massa peserta aksi unjuk rasa terutama yang tergabung dalam Anak NKRI yang diisi PA 212, FPI dan kawan-kawan nekat menyebrang di jalan Tol dalam kota depan gedung DPR RI.

Mereka terpaksa nekat menyeberang lantaran barierr atau pembatas kawat berduri sudah terpasang oleh pihak aparat kepolisian sehingga yang datang terlambat tal bisa bergabung dengan massa yang sudah berkumpul.



Melihat para massa nekat menyeberang jalan Tol dalam kota yang masih dilalui kendaraan roda empat dan bus, salah satu orator dari atas mobil komando kemudian meminta aparat kepolisian membuka pembatas agar para mssa tak menyeberang sembarangan.

FIFA Konfirmasi Kepastian Piala Dunia 2022 di Qatar

“Pak polisi tolong rekan-rekan kami diberi jalan dulu untuk bergabung dengan kami pak. Mereka terlihat menyeberang, memanjat pembatas,” kata salah satu orator.

Adapun dari adanya sejumlah massa yang nekat menyeberang jalan tol lalu lintas sempat tersendat. Tak lama, aparat kemudian membuka pembatas memberi akses massa yang terlambat datang.

Hingga kini aksi unjuk rasa ini masih terus digelar. Sejumlah massa melakukan unjuk rasa dengan berbagai atribut.

Hari ini gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta menjadi sasaran para pengunjuk rasa. Bahkan, ada tiga kubu sekaligus yang menggelar aksi dengan tuntutan pembatalan pembahasan Omnibus Law dan pembatalan pembahasan RUU HIP.Terkait adanya tiga kubu yang berdemo di DPR, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan membagi ruang antara massa yang berbeda tuntutan. Mereka akan ditempatkan di sebelah kiri Gedung DPR/ MPR dan sebelah kanan Gedung Manggala Bakti

Amalia Rezeki Berbicara Ekowisata Bekantan pada Webinar Internasional Eco Halal Tourism

“Ada dari 2 elemen utama untuk yang uu hip maupun maupun rancangan Omnibus Law. Nanti kedua masa itu kami akan pisahkan baik sebelah kiri dari DPR/MPR maupun sebelah kanan dari Manggala Wanabakti,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yugo di kawasan Senayan, Kamis pagi.

Sambodo mengatakan, pihaknya juga akan melakukan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa. Hal tersebut dilakukan agar arus lalu lintas dapat berjalan dengan lancar.(Suara)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->