Connect with us

Hukum

Hendak Melarikan Diri, Akhir Perjalanan Ferdian Paleka YouTuber Sampah

Diterbitkan

pada

Ferdian Paleka. Foto: YouTube

KANALKALIMANTAN.COM – YouTuber Ferdian Pelaka ditangkap polisi saat ingin melarikan diri melalui Pelabuhan Merak. Hal tersebut terungkap dalam unggahan akun Instagram @garizluis37 yang merupakan personel Polda Jawa Barat (Jabar) dengan pangkat Brigadir Satu (Briptu).

Unggahan video dan foro penangkapan youtuber Ferdian Paleka itu terjadi di ruas tol Tangerang-Merak (Tamer).

Dia mengunggah satu video dan tiga foto Ferdian Paleka pemberi sembako ke waria yang nyatanya berisikan sampah. Dalam unggahannya, dia menuliskan caption “Main-main sama Polda Jabar. Jangan kan orang, hantu pun kita garap (guyon).”

Unggahannya itu telah di sukai oleh 17.078 netizen dan mendapatkan 2.134 komentar. @aya_ibrahim04 memberikan komentarnya.

Ferdian Paleka, YouTuber yang diburu polisi setelah dikecam publik karena membuat video prank sembako berisi sampah serta batu bata untuk transpuan, akhirnya tertangkap. Foto: Instagram/garizluis37

“Buuk dipikok hideung, Kumis dikurud, samaruk Polda Jabar rek terkecoh mereunnya, juara Polda Jabar, apresiasi setinggi-tinggina. (Rambut dicat hitam, kumis dicukur, dikira Polda Jabar bakal terkecoh kali ya, juara Polda Jabar, apresiasi setinggi-tingginya)

Begitupun dengan akun @miqdadsy, aktris yang bermain di sinetron Para Pencari Tuhan (PPT), dia ikut membubuhkan komentarnya dalam unggahan itu.

“Tong di bawa ka sel ris, bawa ka barudak abi weh rek di ajak maen karambol,” (Jangan di bawa ke sel ris, bawa ke anak-anak saya aja, mau diajak main karambol).

Tak ketinggalan akun @dickysatriaputra, yang berperan sebagai Jupri dalam sinetron Preman Pensiun ikut berkomentar. Dia menuliskan kata-kata “hakan tah sia,” (Rasain lo) tulisnya.

Dalam unggahan Gariz, terlihat Ferdian Paleka sudah merubah warna rambutnya menjadi hitam dan mencukur kumisnya. Tangan kirinya pun diborgol dengan seseorang disebelahnya.

Saat ditangkap, Ferdian Paleka mengenakan kaos dan celana berwarna hitam lengkap mengalungkan masker.

Ferdian Paleka ditangkap pada Kamis malam, 07 Mei 2020 sekitar pukul 23.30 wib oleh personel Polda Jawa Barat (Jabar).

Setelah ditangkap, Ferdian Paleka kemudian dibawa ke Polsek Benteng, Polres Metro Tangerang, Kota Tangerang untuk pendataan. Pelaku kini sedang dalam perjalanan menuju Bandung, Jawa Barat (Jabar).

“Kejadian di tol Jakarta-Tanggerang, km 19 arah Jakarta. jm 23.30 mas. Bukan wilayah saya,” ungkap Kasat PJR Serang, AKP Catur, melalui pesan singkatnya.

Akibat kelakuannya, Ferdian Paleka terancam dikenakan Undang-Undang (UU) ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun kurungan penjara. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

Advertisement
Komentar

Hukum

Lukai Warga Pakai Pisau, Satu Napi Asimilasi Asal Banjarmasin Diamankan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penangkapan terhadap Darmajaya alias Jaya (30) warga Jalan Karang Mekar, Banjarmasin yang melakukan penusukan terhadap korban yang bernama Rama Dhanie. Foto: Polsek Banjarmasin Tengah for kanalkalimantan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Seorang warga yang diketahui narapidana (Napil asimilasi Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A Kota Banjarmasin kembali berurusan dengan hukum. Dia pun terpaksa harus kembali mendekam di balik dinginnya jeruji besi akibat perbuatannya.

Adalah Darmajaya alias Jaya (30) warga Jalan Karang Mekar, Banjarmasin yang melakukan penusukan terhadap korban yang bernama Rama Dhanie, di kawasan Jalan Kampung Melayu, Kota Banjarmasin, pada Senin (25/5/2020) malam sekitar pukul 19:30 Wita.

Kapolsek Banjarmasin Tengah, Kompol Irwan Kurniadi mengatakan, penusukan bermula saat korban keluar dari salah warung makan di sekitaran TKP, dan langsung ditusuk pelaku dengan senjata tajam jenis pisau kearah korban.

Mendengar adanya kejadian tersebut, segera Unit Buser Polsek Banjarmasin Tengah dibantu dengan Unit Jatantas Polresta Banjarmasin, segera melakukan lidik guna meringkus pelaku.

“Kurang dari tiga jam setelah kejadian itu, pelaku akhirnya berhasil kami amankan saat berada di kawasan Jalan Soetoyo S, Banjarmasin Barat,” terang dia.

Kemudian, dari introgasi yang dilakukan oleh petugas, pelaku mengakui bahwa dia adalah salah satu napi asimilasi yang bebas pada masa pendemi Covid-19.

“Terkait motif penusukan kami masih melakukan penyelidikan mendalam,” ucap kapolsek.

Kapolsek menambahkan, saat ini keadaan korban masih dalam perawatan di salah satu rumah sakit, sedangkan pelaku kini diamankan di Mapolsek Banjarmasin Tengah guna pemeriksaan hukum lebih lanjut.

“Dari tangan pelaku kami berhasil mengamankan barang bukti berupa satu bilah senjata tajam jenis pisau yang digunakan untuk melakukan penusukan pada korban,” katanya.

Hasil penyelidikan sementara, Jaya (30) ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal 351 ayat 2 Tentang Penganiayaan Berat(kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Dhani
Lanjutkan membaca

Hukum

Ancam Didoakan Bakal Sengsara, Habib Palsu Berkeliaran Palak Jemaah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Keluarga besar Habib Sholeh Tanggul, saat menggiring pelaku yang mengaku sebagai habib,ke Polsek Kencong, Kamis (21/05/2020). Foto: suara indonesia

KANALKALIMANTAN.COM – Abdul Aziz, warga Dusun Ponjen Kidul, Kampung Baru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, digelandang warga ke polsek setempat, karena mengaku sebagai habib atau keturunan nabi pada Kamis (21/05/2020).

Seperti diwartakan Suara Indonesia–jaringan Suara.com, selain berpura-pura sebagai habib, Abdul juga mengaku masih keluarga besar Habib Sholeh Tanggul. Modus itu dilakukan untuk mengelabui warga dengan meminta sejumlah uang.

Mirisnya, selain memakai nama tokoh besar di Jember itu, pelaku juga mengancam akan mengirimkan doa untuk menyengsarakan hidup calon korbannya jika tidak diberi apa yang ia minta.

Kejadian itu terungkap, saat pelaku mendatangi salah seorang murid Habib Abdullah Bin Ahmad yang bernama Fauzi.

Fauzi mulai curiga, dengan gerak-gerik orang yang memiliki perawakan sopan itu dengan maksud menanyakan zakat, yang dikeluarkan oleh salah seorang warga kaya raya di daerah itu.

“Saya curiga, saya foto karena benar menuju ke rumah orang kaya bernama H Ahmad warga Grenden Puger,” kata Fuazi.

Terkejutnya lagi, sambung Fauzi, pria penipu itu mengaku bernama Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Sholeh.

“Karena saya tidak percaya, saya kontak guru saya Habib Abdullah dengan mengirim gambarnya. Benar saja, dia bukan keluarga besar Habib Sholeh,” tegasnya.

Dari peristiwa itulah, keluarga besar Habib Sholeh mencari oknum tersebut dan mendapatinya.

Dari kejadian itulah, pelaku akhirnya digiring dan diamankan di Mapolsek Kencong, untuk dimintai keterangan. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Hukum

Kawal Pembebasan Habib Bahar, Identitas Panglima Kumbang Ternyata Palsu

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Panglima Kumbang. Foto: Hops.id

KANALKALIMANTAN.COM – Seiring dengan hebohnya penangkapan kembali Habib Bahar bin Smith, publik sempat mengaitkannya dengan seorang lelaki yang dijuluki Panglima Kumbang.

Panglima Kumbang sempat mengawal pembebasan Habib Bahar bin Smith dari Lapas Gunung Sindur Bogor Jawa Barat pada Sabtu (16/5/2020) lalu.

Menyadur dari Hops.id –jaringan Suara.com, ketika Habib Bahar bin Smith ditangkap kembali pada Selasa (19/5/2020) lalu,  polisi sempat mencari keberadaan Panglima Kumbang itu.

Belakangan diketahui bahwa identitas Panglima Kumbang ternyata palsu. Panglima Kumbang tersebut tak lain adalah Udin Balok.

Tahun lalu, Udin Balok pernah jadi pembicaraan usai beredar foto dirinya tengah menjenguk Habib Bahar bin Smith di penjara.

Habib Bahar bin Smith dan Panglima Kumbang. (Facebook)

Identitas pria bertato yang kerap dikaitkan dengan kaum Dayak itu kemudian diungkap oleh Biro Hukum Dewan Adat Dayak (DAD).

Biro Hukum DAD Letambunan Abel membantah bahwa Panglima Kumbang merupakan orang Dayak. Ia bahkan bukan merupakan keturunan Dayak.

“Bahwa kedua orang ini (mengaku Panglima Baonk dan Panglima Kumbang) yang selalu membawa-bawa nama Dayak di mana-mana, dan mengaku sebagai Panglima Dayak, setelah kami telusuri bahwa mereka ini bukan orang Dayak dan tidak ada keturunan Dayak,” tulis Letambunan lewat keterangan di Facebook-nya.

Letambunan juga meminta agar Panglima Kumbang menghentikan aktivitasnya dngan mengatasnamakan Dayak.

“Agar yang bersangkutan menghentikan aktivitasnya yang berhubungan dengan mengatasnamakan Dayak,” lanjut keterangan klarifikasi Letambunan.

Alhasil, keterangan Letambunan ini membuat foto Habib Bahar dan Panglima Kumbang yang mengatasnamakan Dayak yang tersebar di Faceboook diberi label sebagai konten disinformasi. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->
Share via
Copy link
Powered by Social Snap