Connect with us

Ragam

Ibnu Sina Bayar Zakat ke Baznas, Baznas Banjarmasin Buka Layanan di Balaikota

Diterbitkan

pada

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina menyalurkan pembayaran zakat ke Baznas Kota Banjarmasin yang membuka layanan di Balaikota. Foto : Mario
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Banjarmasin membuka pelayanan pembayaran zakat di Balaikota Banjarmasin.
Kegiatan yang bertujuan untuk menghimpun zakat dari kepala daerah, para pimpinan SKPD, dan para direksi BUMD Kota Banjarmasin itu, dilaksanakan di Aula Kayuh Baimbai Balai Kota Banjarmasin, Rabu (22/5/2019).
Menurut Ketua Basnaz Kota Banjarmasin, H Murjani Sani, keaktifan kepala daerah, para pimpinan SKPD, dan para direksi BUMD menyalurkan zakat ke Baznas Kota Banjarmasin memberikan motivasi tersendiri bagi seluruh pengurus Baznas Kota Banjarmasin untuk terus beraktifitas menghimpun dan zakat infaq sadaqah (ZIS).

Ditahun 2019 ini, jelasnya, pengurus Baznas Kota Banjarmasin telah melakukan beberapa program dan aktifitas untuk menghimpun ZIS. Diantaranya seperti melaksanakan distribusi modal bergilir yang dilaksanakan 2 kali pada tahun 2019, kemudian pengumpulan infak haji di Kemenag Kota, pengumpulan infak umrah bekerjasama dengan travel penyelenggara umrah, penyerahan kupon infaq mohon dua ribu, melaksanakan program ibu hamil sehat, distribusi ZIS untuk 1000 orang dhuafa se Kota Banjarmasin, dan membuka kegiatan pelayanan pembayaran zakat kepala daerah, para pimpinan SKPD, dan para direksi BUMD Kota Banjarmasin. “Kegiatan ini bersifat nasional dan dilaksanakan di seluruh Baznas kabupaten dan kota,” ujarnya.

Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina sangat mengapresiasi langkah Baznas Kota Banjarmasin yang telah menggelar kegiatan tersebut. Serta dalan dalam kesempatan tersebut, orang nomor satu di kota berjuluk seribu sungai itu langsung menyalurkan zakat kepada petugas Baznas. Dengan adanya kegiatan tersebut, instansi lain bisa menjadikan contoh untuk melakukan hal yang sama. Sehingga produktivitas zakat yang diterima Baznas bisa terus meningkat dan penyerahannya terhadap masyarakat bisa lebih luas lagi. Harapan lain yang disampaikan saat itu, agar zakat yang telah terhimpun selain diserahkan kepada masyarakat Banjarmasin yang membutuhkan, juga bisa diberikan kepada korban kebakaran, dan juga bisa digunakan sebagai modal usaha. (mario)

Reporter:Mario
Editor:Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Ragam

Mengintip Kualitas Speaker di Masjidil Haram Makkah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Imam Masjidil Haram. (Foto: Dok. Haramain)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagi Anda yang pernah shalat di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, mungkin akan merasa kagum pada kualitas speaker (pelantang) dan sound system (tata suara) yang digunakan. Di setiap sudut masjid, nyaris suara bacaan imam dan muadzin dapat terdengar merata dan jelas. Tidak terdengar sedikit pun gangguan suara-suara seperti storing ‘nging’, ‘kresek-kresek’ ataupun check sound ‘test… satu, dua, tiga’.

Dikutip dari laman Haramain, jumlah speaker yang digunakan di masjid terbesar di dunia ini sebanyak 6.000 buah. Pelantang-pelantang itu ditempatkan di pelataran dalam dan luar serta sepanjang jalan. Sound system di Masjidil Haram ini menjadi salah satu rangkaian tata suara terbesar di dunia.

Ruang kontrol. foto: dok.Haramain

Tata suara ini terhubung ke ruang kontrol yang dikendalikan oleh 50 teknisi khusus. Tidak hanya satu unit mesin yang digunakan untuk menjaga kualitas suara di masjid suci umat Islam ini. Ada tiga mesin sound system keluaran Sennheiser, Jerman, yang dioperasikan dengan fungsi masing-masing.

“Setiap imam dan muadzin memiliki pengaturan suara khusus disesuaikan dengan jenis suara dan nadanya untuk memastikan kejernihan dan keseimbangan suara di seluruh sudut Masjidil Haram,” jelas laman Haramain.

Microfon di tempat imam Masjidil Haram Makkah. foto: dok.Haramain

Tiga mesin yang digunakan ini terdiri dari satu mesin utama dan dua mesin sebagai cadangan (back up). Ini bisa terlihat dari mikrofon yang berada di depan imam saat shalat. Mikrofon sebelah kanan merupakan mic utama, bagian tengah adalah cadangan pertama dan bagian kiri merupakan cadangan kedua.

Ketika tata suara utama tidak berfungsi, maka cadangan pertama akan secara otomatis hidup dan berfungsi. Dan ketika cadangan pertama juga tidak berfungsi, maka cadangan kedua akan hidup secara otomatis. Inilah sistem yang menjadikan hampir tidak ada masalah tata suara di Masjidil Haram.

Teknisi khusus sound system di Masjidil Haram. foto: dok. Haramain

Kualitas tata suara ini sangat mendukung kekhusyuan dan kualitas jamaah dalam beribadah khususnya shalat berjamaah. Para jamaah mampu meresapi dan menikmati suara adzan dan bacaan imam Masjidil Haram yang terkenal memiliki kekhasan suara masing-masing.

Para imam dan muadzin di Masjidil Haram pun memiliki kriteria khusus yang telah ditentukan oleh pihak pengelola masjid.

Muadzin ditentukan oleh pengelola Masjidil Haram. foto: dok.Haramain

Di antaranya harus berkebangsaan Arab Saudi, tidak boleh berumur di bawah 30 tahun, dan minimal lulusan S2 dari salah satu perguruan tinggi Ilmu Agama Islam di Arab Saudi. Imam juga harus hafal Al-Qur’an dan memiliki kualitas suara yang bagus.

Di samping suara yang bagus, muadzin Masjidil Haram juga harus memiliki kemampuan ilmu di bidang hukum dan tata cara adzan serta shalat.

Kualitas suara imam dan muadzin masjid yang dipadu dengan kualitas tata suara ini tentu semakin menjadikan umat Islam seluruh dunia yang beribadah di dalamnya kian menikmati ibadahnya. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor munculnya rasa kangen setiap muslim untuk dapat datang kembali ke Masjidil Haram. (muhammad faizin/nuonline)

Reporter : muhammad faizin/nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Khalifa Conversation Diskusi Virtual Muslim Peduli Lingkungan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sakinah dan Omari bersama anak-anak mereka. Footo: courtesy via VOA
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, WASHINGTON DC – Kori Majeed biasanya lebih aktif ke masjid selama Ramadan. Ia bahkan mengajak keluarganya berbuka puasa di masjid dan baru pulang setelah tarawih bersama.

Pandemi virus corona mengubah cara warga Muslim menjalankan puasa Ramadan di Amerika Serikat tahun ini, termasuk Majeed. Karena masjid-masjid ditutup, ia lebih banyak berada di rumah.

Walaupun begitu, pendiri Green Ramadan yang tinggal di Maryland, itu aktif secara online. Bekerjasama dengan Green Muslim di Virginia, ia meluncurkan Khalifa Conversation, bincang-bincang di media sosial dengan sesama Muslim pegiat lingkungan.

Dalam pertemuan virtual itu, Majeed dan Muslim lainnya berbagi ide tentang hal-hal yang dilakukan secara lokal. Selepas berbincang dan saling berbagi pengalaman dalam Khalifa Conversation, semua yang terlibat menjadi termotivasi untuk lebih banyak berbuat bagi lingkungan, sesuai ajaran Islam.

Khalifa Conversation secara online merupakan salah satu cara bagi saya menjangkau sekaligus menghubungkan mereka yang tertarik untuk memberi dampak yang lebih positif pada lingkungan berdasarkan ajaran Islam,” tukas Kori Majeed.

Walaupun bentuknya adalah bincang-bincang, bukan berarti dalam kegiatannya setiap minggu, orang-orang yang hadir dalam Khalifa Conversation hanya berbicara panjang-lebar tanpa makna. Dalam setiap pertemuan, ditetapkan materi dan dihadirkan seseorang yang lebih berpengalaman dalam materi pembahasan untuk berbagi ilmu.

Misalnya, ahli berkebun permakultur yang dalam bincang-bincang itu berbagi pengalamannya berkebun. Ia juga memberi sejumlah tips berkebun di tempat terbatas dengan memanfaatkan lahan yang tidak luas. Ia bahkan memotivasi peserta bincang-bincang untuk berkebun secara kecil-kecilan di pekarangan sendiri.

Dalam kesempatan lain, kolaborasi dua perempuan dari Green Muslim dan Green Ramadan itu membahas cara hidup praktis secara Islam dengan semangat peduli lingkungan. Yang berbagi pengalaman adalah pasangan suami istri yang memutuskan keluar dari ingar-bingar kehidupan kota Washington, DC untuk hidup sebagai peternak dan petani organik di Virginia, dan mendirikan Fitrah Farm.

“Kami juga mendatangkan tamu pembicara dengan keluarga beranggotakan 11 orang. Rumah tinggal mereka awalnya tidak menetap, di dalam rumah mobil, lalu membeli lahan di pinggiran Virginia untuk pertanian organik dan menyediakan daging halal bagi masyarakat,” tambah Kori.

Kepada VOA, Sakina dari Fitrah Farm mengemukakan upayanya menyediakan daging dan sayuran organik, dan menjelaskan pentingnya mengonsumsi daging halal dan baik bagi Muslim sesuai ajaran Islam.

“Cara kita memelihara ternak sedemikian rupa menjadi sangat penting sebagai wujud menjalankan kaidah mengonsumsi daging yang halal,” ujar Sakinah.

Sakinah McDowell and Omari Grey pemilik “Fitrah Farm”. Foto: courtesy via VOA

Selain mengutamakan tanaman organik, Fitrah Farm, kata Sakina, memandang penting perlakuan terhadap hewan ternak. Dan di peternakannya, ia menambahkan, ia senantiasa memperhatikan pakan ternak-ternaknya.

Sakina menyayangkan warga Amerika dihadapkan pada pilihan untuk mengonsumsi daging tanpa mengetahui darimana daging itu berasal dan bagaimana hewan itu disembelih, misalnya daging ayam, yang menjadi kesukaan banyak warga dari berbagai kelompok masyarakat di Amerika Serikat.

“Cara hewan itu dipelihara … banyak mengatakan hewan peliharaan itu hidup di kandang ayam besar yang, Anda tahu, ratusan ribu ekor ayam itu tidak pernah keluar, mendapatkan udara segar bahkan sinar matahari,” imbuh Sakina.

Khalifa Conversation berawal dari Kori Majeed dan Sevim Kalyoncu saling bertukar pesan singkat secara spontan dua minggu sebelum Ramadan 2020 di tengah pandemi COVID-19. Perempuan sekaligus ibu dari seorang anak berusia 6 tahun itu agak kecewa karena anak-anak, dan kaum muda Green Muslim khususnya, tahun ini tidak dapat menjalankan Ramadan dengan belajar di alam bebas. Namun, perempuan asal Alabama itu merasa bangga dengan bincang-bincang virtual tersebut.

Sevim Kalyoncu menjelaskan, “Karena melibatkan dua organisasi, maka kami melanjutkan pertemuan bulanan setelah Ramadan. Rencananya tetap mengundang orang untuk menyajikan program atau bisnis mereka, juga pengetahuan tentang lingkungan, dan bisa langsung dikaitkan dengan Islam dan lingkungan hidup.”

Kini, semakin banyak Muslim hadir dalam bincang-bincang itu dan mereka tersebar di kawasan Metropolitan Washington, mencakup Maryland, Washington DC dan Virginia. Baik Kori maupun Sevim sepakat, melanjutkan Khalifa Conversations sekali sebulan.(mg/ka-VOA)

Reporter : Metrini
Editor : VOA

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Cara Memandikan dan Mengafani Jenazah Positif Corona dari MUI

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Komisi fatwa MUI Indonesia Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh ketika membuka FGD di Kantor MUI, Selasa (16/3/2020). Foto: Suara.com/Muhaimin A Untung
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar masyarakat tetap berhati-hati saat memandikan jenazah yang terpapar virus corona Covid-19.

Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF menyampaikan, proses memandikan dan mengafani jenazah pasien virus corona harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, namun tetap memperhatikan ketentuan syariat.

Hal itu disampaikan Hasanuddin terkait fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.  Fatwa tersebut diteken oleh Hasanuddin pada Senin (16/3/2020) hari ini.

“Sedangkan untuk menyalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19,” kata Hasunuddin.

Dalam fatwanya, MUI mengharamkan upaya menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker sehingga bisa menimbulkan kepanikan yang tak berarti.

“Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram,” kata Hasanuddin.

Ketimbang melakukan hal tersebut, Hasanuddin justru mengajak seluruh warga muslim di Indonesia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak cara yang bisa dilakukan warga muslim seperti memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak salawat, memperbanyak sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (doa daf’u al-bala’), khususnya dari wabah Covid-19.

Kemudian terkait pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19, MUI menuturkan ketika memandikan dan mengafani maka harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang namun tetap memperhatikan ketentuan syariat

MUI juga memberikan rekomendasi yakni umat Islam wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar Covid-19, supaya penyebaran virus tersebut dapat dicegah.

Kemudian MUI meminta masyarakat hendaknya proporsional dalam menyikapi penyebaran Covid-19 dan orang yang terpapar Covid-19 sesuai kaidah kesehatan.

“Oleh karena itu masyarakat diharapkan menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan atau dinyatakan sembuh,” katanya.

Fatwa yang dikeluarkan MUI tersebut mulai berlaku sejak ditetapkan. Dengan catatan bisa diperbaiki dan disempurnakan apabila memang ada ketentuan tambahan dikemudian hari. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->