Connect with us

Kecelakaan

Jasa Raharja Jamin Bayarkan Klaim Penumpang Pesawat Lion JT 610

Diterbitkan

pada

Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo S Foto : net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA, Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo S memastikan pihaknya akan melakukan pembayaran klaim bagi keluarga korban kecelakaan pesawat Lion JT 610.

Menurut dia, berdasarkan Undang-Undang No 33 dan PMK No 15 tahun 2017, bagi korban meninggal dunia, maka Jasa Raharja siap menyerahkan hak santunan sebesar Rp 50 juta. Sedangkan bagi korban luka, Jasa Raharja akan menjamin biaya perawatan rumah sakit dengan biaya perawatan maksimum Rp 25 juta.

“Kita siap membayarkan santunan kepada keluarga korban sesuai Undang-Undang yang berlaku. Kami berharap santunan ini bisa meringankan beban keluarga korban yang terkena musibah kecelakaan,” ungkapnya kepada awak media, Senin (29/10/2018).

Menindaklanjuti kejadian ini, Jasa Rahaja yang telah menerima laporan dan langsung berkoordinasi dengan Basarnas, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI dan pihak maskapai Lion Air, serta hadir langsung di Crisis Center Bandara Dipati Amir Pangkal Pinang, kantor Lion Air Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta dan Kantor Basarda DKI Jakarta untuk memastikan keterjaminan dari para penumpang.

“Sehubungan dengan kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 PQ LQP yang telah dinyatakan jatuh oleh pihak Basarnas di perairan laut utara Karawang yang terbang dari Bandar Udara Soekarno Hatta Banten (CGK) menuju Bandar Udara Dipati Amir di Pangkal Pinang (PGK) pada hari ini sekitar pukul 06.33 WIB. Kami Jasa Raharja menyampaikan turut prihatin atas peristiwa tersebut dan seluruh penumpang pesawat tersebut terjamin perlindungan Jasa Raharja,” pungkasnya. (rif)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Kecelakaan

4 Kabar Bohong di Medsos Terkait Kecelakaan Lion JT610

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Hoaks Lion Air JT 610 Foto : net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Kecelakaan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang pada Senin (29/10/2018) lalu menjadi kabar duka bagi Indonesia. Sayangnya, seperti rentetan bencana-bencana sebelumnya, banyak pihak yang memanfaatkan momen duka ini untuk menyebar kabar bohong alias hoaks. Di saat pihak berwenang seperti SAR, TNI AL, dan KNKT terus berupaya menyisir lokasi jatuhnya pesawat untuk mencari puing pesawat dan korban, oknum “iseng” justru menyebarkan hoaks yang tak jarang meresahkan. Setidaknya, KompasTekno menemukan empat hoaks yang tersebar di berbagai platform media sosial sejak Senin (29/10) kemarin.

 

Berikut adalah hoaks yang beredar dan telah

 

Foto bangkai pesawat terbelah

Tersebar siaran berantai di beberapa platform media sosial, menyebutkan jika bangkai pesawat yang tertera di gambar tersebut adalah bodi pesawat Lion Air JT610. Bodi pesawat digambarkan terbelah menjadi dua dan terlihat beberapa orang yang sedang berusaha mengevakuasi. Namun kabar itu disanggah oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho melalui akun Twitter-nya.
Menurut Sutopo, foto itu adalah foto lama dan bangkai pesawat di foto itu adalah milik Lion Air JT904. Pesawat tersebut mengalami kecelakaan di kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali pada 13 April 2013 lalu. Hingga Selasa (30/10/2018) pagi, badan pesawat Lion Air JT610 masih belum ditemukan.

Video pesawat tergelincir di laut

 

Salah satu video yang beredar di Facebook menampilkan sebuah pesawat yang tergelincir di atas permukaan laut. Pesawat dalam video itu diklaim sebagai Lion Air JT610 dengan judul “Detik Jatuhnya Pesawat Lion Air”, yang disebut direkam oleh salah satu nelayan. Beradasarkan penelusuran laman Facebook Indonesia Hoaxes, gambar tersebut terbukti hoaks. Kebenarannya adalah pesawat itu merupakan pesawat Ethiopian Airlines Flight 961 yang mengalami kecelakaan pada 1996. Video itu sejatinya adalah potongan video dari YouTube dengan judul “Hijacked Plane Disaster-Water Crash Landing” yang sudah diunggah tahun 2014 lalu.

Video kepanikan penumpang

Sebuah video yang mengambarkan kepanikan di dalam kabin pesawat juga turut tersebar di media sosial. Dalam video tersebut tampak kabin pesawat yang gelap dengan suara-suara penumpang yang memanjatkan doa. Narasi yang tersebar bersama video ini adalah kepanikan penumpang Lion Air JT610. Namun Sutopo kembali meluruskan jika video tersebut bukan berasal dari salah satu penumpang Lion Air JT610, melainkan dari pesawat Lion Air JT353.

Pesawat dalam video itu diketahui sedang mengalami turbulensi dalam penerbangan dari Padang ke Jakarta. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi Ferdinandus Setu juga mengatakan jika video tersebut adalah Hoaks. “Video situasi di dalam pesawat yang beredar itu termasuk hoaks,” ujar Ferdinandus.

Foto penumpang menggunakan masker oksigen

 

Selain video, foto yang diklaim detik-detik terakhir pesawat Lion Air JT610 sebelum mengalami kecelakaan juga tersebar. Dalam foto itu beberapa penumpang tampak mengambil selfie saat Fasilitas itu adalah fasilitas keselamatan di dalam kabin pesawat, yang hanya dikenakan saat pesawat mengalami keadaan darurat. Sutopo kembali mengatakan jika foto tersebut tidak berasal dari penumpang Lion Air JT610, namun kondisi penumpang pesawat Sriwijaya Air saat mengalamai turbulensi beberapa waktu lalu.

Konfrmasi itu juga ditegaskan oleh Ferdinandus. “Foto selfie yang diduga korban di pesawat Lion Air JT610 ini merupakan hoaks,” ujar Ferdinandus dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno pada Senin (29/10/2018). Ferdinandus menambahkan jika saat ini Kemenkominfo tengah mencoba mencari tahu sumber unggahan tersebut melalui mesin pengais konten.

 

Imbauan Kominfo

 

Kominfo, dalam keterangan resminya juga telah mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan hoaks terkait kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Segala infromasi yang tidak berasal dari pihak berwenang, tidak diperkenankan untuk disebarluaskan.
Pun dengan foto-foto korban dari musibah tersebut, tidak dibenarkan untuk disebar di media sosial. “Kami ingatkan kembali bahwa setiap aktivitas kita di ruang siber (cyber space), termasuk aktivitas mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi hoaks diatur dengan UU RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE),” tulis Kemenkominfo. (kmps)

Editor:bie

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kecelakaan

Mantan Hakim PN Marabahan Ikut Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Lion Air

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Almarhum Muhammad Ikhsan Riadi Fitrasyah (tengah) menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 Foto: facebook
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Muhammad Ikhsan Riadi Fitrasyah, mantan hakim di Pengadilan Negeri (PN) Marabahan, Batola, ikut menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Kerawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Seminggu lalu, tepatnya Selasa (23/10) Ikhsan pamit ke rekannya karena menjalani tugas barunya di PN Koba, Bangka Tengah.

Kepergian Ikhsan tak ayal menggoreskan duka mendalam bagi rekan-rekannya yang ditinggal di PN Marabahan. Kabar Ikhsan menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 didapat dari isterinya, Septiana Damayanti yang bertugas sebagai Panitera Penganti di PN Marabahan. Hal ini setelah ia menghubungi rekannya untuk membantu mencari informasi mengenai suaminya.

Humas PN Marabahan Damar Kusuma Wardana dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (29/10) mengatakan, Ikhsan baru seminggu lalu pindah tugas di PN Koba. “Beliau dulu berdinas di PN Marabahan yang sekarang menjadi hakim pada Pengadilan Negeri Koba,” katanya.

Terkait hal ini, Damar mengatakan PN Marabahan turut mengucapkan rasa duka dan belasungkawa atas meninggalnya rekan kerjanya tersebut. Ikhsan yang kelahiran 1989 dikaruniai tiga orang anak, yang paling kecil baru berusia sekitar lima bulan.

Pesawat Lion Air JT 610 rute penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawan, Jawa Barat, Senin (29/10) ternyata sempat mampir ke Bandara Syamsudin Noor beberapa pekan lalu. Hal ini disampaikan Communication and Legal Section Head Bandara Syamsudin Noor, Adit Putra.

Namun, ketika itu masih menggunakan no JT 222 dan JT 223 dengan melayani rute penerbangan Banjarmasin-Surabaya. “Pesawat kategori brand new. Tanggal 22 Oktober lalu mampir di Bandara Syamsudin Noor untuk jadi JT 222 dan JT 223,” ucap Adit Putra.

Terkait musibah tersebut, kesedihan dirasakan juga oleh seluruh jajaran awak personel di Bandara Syamsudin Noor. “Jadi pesawat itu di Bandara Syamsudin Noor sebagai JT 222 Sub-BDJ dan JT 223 BDJ-Sub, ya penerbangan Surabaya Banjarmasin dan sebaliknya, dalam satu Minggu terakhir ini,” ungkap Adit seperti dilansir Tribunnews.com.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) mengungkapan bahwa Pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang belum lama mengudara. Pesawat JT 610 milik maskapai Lion Air itu memilki kurang lebih 800 jam terbang. Pesawat JT 610 yang jatuh merupakan pesawat series Boeing 737 terbaru yakni Boeing 737 Max.(rendy/ant)

<

div class=”reporter”>
Reporter: Rendy/ant
Editor: Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kecelakaan

Serba Serbi Kotak Hitam, Penyimpan Misteri Kecelakaan Pesawat

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

kecelakaan yang menimpa pesawat Lion Air JT 610 Foto: dtc/dml
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA, Black Box, demikian banyak orang menyebutnya. Selain para korban, perangkat ini adalah benda paling dicari bila terjadi kecelakaan pesawat, termasuk tentu tragedi Lion Air JT610. Namun meski sering mendengarnya, banyak orang yang tak benar-benar tahu seperti apa Black Box itu.

Black Box diburu karena perangkat tersebut menyimpan misteri yang bisa mengungkap penyebab kejadian kecelakaan. Black Box bisa menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada krunya atau menara pengawas.

Selain itu, Black Box juga bisa menyimpan berbagai informasi yang didapat dari banyak sensor di pesawat terkait masalah yang bisa jadi penyebab kecelakaan. Nantinya, informasi yang terekam di Black Box akan dijadikan petunjuk oleh pihak berwenang untuk mengungkap misteri penyebab kecelakaan.

Tapi selain hal itu, sebenarnya masih ada hal lain terkait Black Box yang jarang diketahui. Penasaran apa saja? Berikut ringkasannya seperti dikutip dari ABC News.

  1. Black Box tak berwarna hitam

Namanya memang Black Box, tapi aslinya perangkat ini tak memiliki warna hitam sama sekali. Warna perangkat Black Box itu adalah oranye. Tentu bukannya tanpa tujuan, pemilihan warna oranye ditentukan agar Black Box lebih mudah ditemukan karena warnanya yang mencolok.

  1. Black Box punya dua bagian

Meski hadir dalam satu paket, Black Box sebenarnya punya dua bagian yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (VCR). Seperti penjelasan di atas, masing-masing bagian punya tugasnya masing-masing. FDR bertugas menyimpan data penerbangan, sedangkan VCR menyimpan percakapan antara pilot kepada krunya atau menara pengawas yang terekam selama beberapa waktu sebelum kecelakaan.

Black Box terbaru telah menggunakan memori jenis solid-state sebagai media penyimpanannya. Adapun kapasitas penyimpanannya bisa menampung sampai 700 parameter data penerbangan.

  1. Asal Teknologi Black Box

Perusahaan pembuat pesawat terbang paling populer saat ini memang diisi oleh Boeing dan Airbus yang berkantor di Amerika Serikat dan Prancis. Tapi teknologi Black Box yang merupakan salah satu bagian penting sebuah pesawat juga ada yang berasal dari Australia.

Penciptanya bernama Dr David Warren yang pertama kali mendesainnya pada tahun 1950. Ia menciptakan Black Box karena terinspirasi dari kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya pada tahun 1934 saat ia masih berusia 9 tahun.

Prototipe pertama Black Box dibuat tahun 1956 dengan nama ARL Flight Memori Unit. Namun ternyata butuh sekitar 5 tahun bagi Warren hingga Black Box buatannya baru dianggap penting oleh dunia penerbangan.

  1. Pakar Tak Menyebutnya Black Box

Bila kalangan awam menyebutnya Black Box, lain lagi dengan para pakar. Mereka biasa menyebut Black Box dengan sebutan electronic flight data recorders. Sejauh ini memang tak jelas siapa yang mengawali penggunaan nama Black Box pada perangkat tersebut. Spekulasi yang beredar, awal penyebutan Black Box berasal dari model pertamanya yang punya bagian dalam berwarna gelap.

Sementara spekulasi lainnya mengatakan, Black Box pertama kali dipopulerkan oleh seorang jurnalis yang mendeskripsikannya sebagai kotak hangus. Alasannya, karena perangkat Black Box kerap ditemukan dalam kondisi hangus setelah kecelakaan pesawat.

Dalam kotak hitam, tak cuma suara pilot yang akan terdengar, melainkan seluruh ruangan kokpit. Dengan demikian, tim penyelidik bisa mereka-reka seperti apa kejadian yang terjadi di kokpit menjelang kecelakaan terjadi.

  1. Tahan di Kondisi Ekstrim

Mengantisipasi lokasi berkondisi ekstrim, Black Box dibekali material titanium atau stainless steel yang dibuat dua lapis. Bagian yang melindungi komponen-komponen penting Black Box bahkan diklaim bisa tahan tekanan sampai 3.400G.

Material pelindung Black Box juga tahan ditimpa beban ratusan kilogram dari ketinggian 3 meter. Selain itu, pelindung Black Box juga tahan semburan api sampai ribuan derajat celcius. Ketahanannya terhadap panas juga dibuktikan dengan merebusnya di dalam tanki pesawat jet yang punya suhu luar biasa tinggi.

  1. Black Box Tak Sepintar Smartphone

Dengan kelebihan yang dimiliki, Black Box bisa dibilang sebagai salah satu perangkat canggih yang ada di dunia. Namun ternyata kecanggihannya tak lebih baik dari sebuah smartphone. Sebuah smartphone, meski yang harganya cuma ratusan ribu rupiah, bisa diketahui lokasinya secara real time melalui teknologi GPS dan sambungan seluler. Faktanya, hal semacam itu malah sulit dilakukan pada Black Box.

Alasannya, Black Box butuh bandwidth super besar untuk mengirimkan informasi karena besarnya data yang disimpannya. Selain itu, kecepatan akses data di tiap negara juga berbeda-beda sehingga cara tersebut masih sulit diimplementasikan. (cel/abc/dtc)

Reporter: Cel/abc/dtc
Editor: Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->