Connect with us

Hukum

Jenguk Diananta, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel: Bentuk Solidaritas Sekaligus Keprihatinan

Diterbitkan

pada

Direktur Walhi Kalsel Kisworo saat menjenguk Diananta di tahanan, Rabu (13/5/2020). Foto : fikri

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Wujud keprihatinan atas penahanan eks pimpinan redaksi Banjarhits.id Diananta Putra S terkait dugaan pelanggaran UU ITE ditunjukkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Selatan bersama Aliansi Meratus. Pegiat lingkungan di Kalsel menyambangi Rutan Dit Tahti Polda Kalsel, jalan DI Panjaitan Banjarmasin, Rabu (13/5/2020) sore.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono mengaku ia bersama teman-temannya mengaku prihatin dengan langkah Polda Kalsel yang menahan Diananta. Kunjungan ini merupakan bentuk solidaritas sekaligus keprihatinan atas ditahannya Diananta.

“Kami menyatakan sikap. Pertama bebaskan Dinanata tanpa syarat. Kedua, usut juga konflik agraria yang ada indikasi atau diduga dilakukan oleh perusahaan,” ucap Cak Kis -biasa ia disapa.

Ia menduga, akar permasalahan terletak pada konflik agraria yang terjadi, bukan karena dari konten pemberitaan yang diunggah Diananta di laman Banjarhits.id pada bulan November 2019 lalu. Apalagi dari 3,7 juta hektare lahan di Kalimantan Selatan separuhnya dikuasai oleh izin tambang dan perkebunan kelapa sawit.

“Jadi konflik agrarianya luar biasa. Belum lagi bencana ekologis dan salah satunya saat pandemi ini, dimana wartawan yang menyuarakan keadilan dan kebenaran serta salah satu pilar demokrasi kita malah ditahan,” keluh Cak Kis.

Ia meminta kepada Kapolda Kalsel hingga Presiden RI untuk menjamin Diananta, sehingga ia dapat dibebaskan tanpa syarat. Serta meminta untuk mengusut konflik agraria yang sebenarnya terjadi di lapangan, karena selama ini, lanjut Cak Kiss, justru isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) yang justru diungkit pada kasus Diananta ini.

“Tapi akar masalahnya, mengapa ini (konflik agraria) tidak diusut dan dilaporkan. Apa hasilnya? Maka kami menagih Polda Kalsel untuk mengusut juga konflik agrarianya,” tegasnya.

Syukurlah, di saat ia menemui Diananta, Cak Kis memastikan ia dalam kondisi yang sehat. Bahkan sempat tersenyum saat disambangi oleh sejumlah pegiat lingkungan.

Cak Kis pun mendapat pesan dari Diananta untuk tetap semangat dan meminta dukungan dari teman-teman termasuk dari kalangan jurnalis. Karena, ini sudah menjadi risiko perjuangan.

“Kita jangan takut dan malu untuk berbuat baik, dan Diananta tadi masih semangat dan meminta dukungan moril,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Bie

 

Advertisement
Komentar

Hukum

Lukai Warga Pakai Pisau, Satu Napi Asimilasi Asal Banjarmasin Diamankan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Penangkapan terhadap Darmajaya alias Jaya (30) warga Jalan Karang Mekar, Banjarmasin yang melakukan penusukan terhadap korban yang bernama Rama Dhanie. Foto: Polsek Banjarmasin Tengah for kanalkalimantan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Seorang warga yang diketahui narapidana (Napil asimilasi Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A Kota Banjarmasin kembali berurusan dengan hukum. Dia pun terpaksa harus kembali mendekam di balik dinginnya jeruji besi akibat perbuatannya.

Adalah Darmajaya alias Jaya (30) warga Jalan Karang Mekar, Banjarmasin yang melakukan penusukan terhadap korban yang bernama Rama Dhanie, di kawasan Jalan Kampung Melayu, Kota Banjarmasin, pada Senin (25/5/2020) malam sekitar pukul 19:30 Wita.

Kapolsek Banjarmasin Tengah, Kompol Irwan Kurniadi mengatakan, penusukan bermula saat korban keluar dari salah warung makan di sekitaran TKP, dan langsung ditusuk pelaku dengan senjata tajam jenis pisau kearah korban.

Mendengar adanya kejadian tersebut, segera Unit Buser Polsek Banjarmasin Tengah dibantu dengan Unit Jatantas Polresta Banjarmasin, segera melakukan lidik guna meringkus pelaku.

“Kurang dari tiga jam setelah kejadian itu, pelaku akhirnya berhasil kami amankan saat berada di kawasan Jalan Soetoyo S, Banjarmasin Barat,” terang dia.

Kemudian, dari introgasi yang dilakukan oleh petugas, pelaku mengakui bahwa dia adalah salah satu napi asimilasi yang bebas pada masa pendemi Covid-19.

“Terkait motif penusukan kami masih melakukan penyelidikan mendalam,” ucap kapolsek.

Kapolsek menambahkan, saat ini keadaan korban masih dalam perawatan di salah satu rumah sakit, sedangkan pelaku kini diamankan di Mapolsek Banjarmasin Tengah guna pemeriksaan hukum lebih lanjut.

“Dari tangan pelaku kami berhasil mengamankan barang bukti berupa satu bilah senjata tajam jenis pisau yang digunakan untuk melakukan penusukan pada korban,” katanya.

Hasil penyelidikan sementara, Jaya (30) ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal 351 ayat 2 Tentang Penganiayaan Berat(kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Dhani
Lanjutkan membaca

Hukum

Ancam Didoakan Bakal Sengsara, Habib Palsu Berkeliaran Palak Jemaah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Keluarga besar Habib Sholeh Tanggul, saat menggiring pelaku yang mengaku sebagai habib,ke Polsek Kencong, Kamis (21/05/2020). Foto: suara indonesia

KANALKALIMANTAN.COM – Abdul Aziz, warga Dusun Ponjen Kidul, Kampung Baru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, digelandang warga ke polsek setempat, karena mengaku sebagai habib atau keturunan nabi pada Kamis (21/05/2020).

Seperti diwartakan Suara Indonesia–jaringan Suara.com, selain berpura-pura sebagai habib, Abdul juga mengaku masih keluarga besar Habib Sholeh Tanggul. Modus itu dilakukan untuk mengelabui warga dengan meminta sejumlah uang.

Mirisnya, selain memakai nama tokoh besar di Jember itu, pelaku juga mengancam akan mengirimkan doa untuk menyengsarakan hidup calon korbannya jika tidak diberi apa yang ia minta.

Kejadian itu terungkap, saat pelaku mendatangi salah seorang murid Habib Abdullah Bin Ahmad yang bernama Fauzi.

Fauzi mulai curiga, dengan gerak-gerik orang yang memiliki perawakan sopan itu dengan maksud menanyakan zakat, yang dikeluarkan oleh salah seorang warga kaya raya di daerah itu.

“Saya curiga, saya foto karena benar menuju ke rumah orang kaya bernama H Ahmad warga Grenden Puger,” kata Fuazi.

Terkejutnya lagi, sambung Fauzi, pria penipu itu mengaku bernama Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Sholeh.

“Karena saya tidak percaya, saya kontak guru saya Habib Abdullah dengan mengirim gambarnya. Benar saja, dia bukan keluarga besar Habib Sholeh,” tegasnya.

Dari peristiwa itulah, keluarga besar Habib Sholeh mencari oknum tersebut dan mendapatinya.

Dari kejadian itulah, pelaku akhirnya digiring dan diamankan di Mapolsek Kencong, untuk dimintai keterangan. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Hukum

Kawal Pembebasan Habib Bahar, Identitas Panglima Kumbang Ternyata Palsu

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Panglima Kumbang. Foto: Hops.id

KANALKALIMANTAN.COM – Seiring dengan hebohnya penangkapan kembali Habib Bahar bin Smith, publik sempat mengaitkannya dengan seorang lelaki yang dijuluki Panglima Kumbang.

Panglima Kumbang sempat mengawal pembebasan Habib Bahar bin Smith dari Lapas Gunung Sindur Bogor Jawa Barat pada Sabtu (16/5/2020) lalu.

Menyadur dari Hops.id –jaringan Suara.com, ketika Habib Bahar bin Smith ditangkap kembali pada Selasa (19/5/2020) lalu,  polisi sempat mencari keberadaan Panglima Kumbang itu.

Belakangan diketahui bahwa identitas Panglima Kumbang ternyata palsu. Panglima Kumbang tersebut tak lain adalah Udin Balok.

Tahun lalu, Udin Balok pernah jadi pembicaraan usai beredar foto dirinya tengah menjenguk Habib Bahar bin Smith di penjara.

Habib Bahar bin Smith dan Panglima Kumbang. (Facebook)

Identitas pria bertato yang kerap dikaitkan dengan kaum Dayak itu kemudian diungkap oleh Biro Hukum Dewan Adat Dayak (DAD).

Biro Hukum DAD Letambunan Abel membantah bahwa Panglima Kumbang merupakan orang Dayak. Ia bahkan bukan merupakan keturunan Dayak.

“Bahwa kedua orang ini (mengaku Panglima Baonk dan Panglima Kumbang) yang selalu membawa-bawa nama Dayak di mana-mana, dan mengaku sebagai Panglima Dayak, setelah kami telusuri bahwa mereka ini bukan orang Dayak dan tidak ada keturunan Dayak,” tulis Letambunan lewat keterangan di Facebook-nya.

Letambunan juga meminta agar Panglima Kumbang menghentikan aktivitasnya dngan mengatasnamakan Dayak.

“Agar yang bersangkutan menghentikan aktivitasnya yang berhubungan dengan mengatasnamakan Dayak,” lanjut keterangan klarifikasi Letambunan.

Alhasil, keterangan Letambunan ini membuat foto Habib Bahar dan Panglima Kumbang yang mengatasnamakan Dayak yang tersebar di Faceboook diberi label sebagai konten disinformasi. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->
Share via
Copy link
Powered by Social Snap