Connect with us

Ragam

Kalsel Kebagian Penambahan Kuota Haji, Daftar Tunggu Jadi Pendek

Diterbitkan

pada

Kepala Kemenag Kalsel, H Noor Fahmi. Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sukses meminta tambahan jumlah kuota haji Indonesia sebanyak 10.000 jemaah. Hal itu dipastikan usai Jokowi bertemu Raja Salman di Istana Pribadi Raja (Al-Qahr al-Khas) di Riyadh.

Saat ini kuota jemaah haji Indonesia sebanyak 221.000 jamaah, dengan adanya tambahan 10.000 jemaah, maka totalnya akan mencapai 231.000 jemaah. Penambahan kuota haji ini akan mengurangi daftar tunggu jamaah haji Indonesia yang saat ini rata-rata 18 tahun.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kalsel H Noor Fahmi mengatakan Kalimantan Selatan akan mendapatkan pembagian dari penambahan kuota jamaah haji Indonesia sebanyak 10.000 jemaah yang diberikan Pemerintah Arab Saudi itu kepada Indonesia.

“Alhamdulillah, tentunya Embarkasi Banjarmasin (BDJ) juga mendapat tambahan kuota 10.000 jamaah,”  katanya saat membuka kegiatan Qur`ah Kelompok Terbang (Kloter) Jamaah Haji Kalsel di Hotel G Sign Banjarmasin, Senin (22/4/2019).

Meski dipastikan akan mendapat tambahan kuota jamaah, mengenai berapa jumlah tambahan yang akan didapat, pihak Kemenag Kalsel masih menunggu surat resmi dari Kemenag R. “Kita tunggu saja surat resminya, semoga saja kita dapat tambahan lebih banyak mengingat daftar tunggu di Kalsel yang sudah mencapai 29 tahun, daftar tunggu ini terlama se Indonesia setelah Sulawesi Selatan dengan daftar tunggu 39 tahun,”katanya.

Lebih lanjut Fahmi menjelaskan,  dari jumlah penambahan yang akan didapat nanti direncanakan 50 persen untuk reguler berdasarkan cadangan atau urutan porsi berikutnya. Kemudian 50 persennya adalah untuk Lansia yang terbagi dalam dua pembagian,  yakni 25 persen untuk Lansia dan 25 persen untuk pendampingnya ini adalah hasil rapat penjadwalan Kloter di Jakarta. “Terkait ketentuan untuk Lansia yang dimaksud adalah bedasarkan Lansia yang memiliki umur tertua,  bukan Lansia berdasarkan nomor porsi,” tambahnya.

Selanjutnya,  terkait kegiatan Qur`ah, Kasi Akomodasi, Transportasi dan Perlengkapan Haji, Edy Murdianto menjelaskan, dalam  kegiatan Qur`ah Kloter tersebut, yang perlu dilakukan adalah melakukan cross check data jamaah calon haji kabupaten/kota dengan Kantor Kemenag kabupaten/kota se Kalsel dengan cara menyusun Jamaah Calon Haji (JCH) ke dalam beberapa  kelompok terbang dengan cara-cara bagi kabupaten/kota yang jumlah JCH mencapai 320 orang, maka dijadikan satu Kloter utuh untuk kabupaten/kota tersebut, sisanya akan digabungkan dengan kabupaten/kota lainnya.

“Bagi kabupaten/kota yang jumlah JCH yang tidak mencapai 320 orang, maka akan digabungkan dengan kabupaten/jota lainnya untuk menjadi satu Kloter,” jelasnya.

Selanjutnya untuk menentukan Kloter pertama,  kedua,  ketiga dan seterusnya,  pihaknya melakukan undian  sesuai dengan jadwal pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji yang disepakati antara Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kanwil Kemenag Kalsel dan Kanwil Kemenag Kalteng serta Garuda Indonesia.

Undian qur`ah tersebut dilaksanakan menggunakan sistem aplikasi e-qur`ah sehingga urutan Kloter akan diacak dan ditentukan secara otomatis.

Pengundian melalui e-qur’ah tersebut disaksikan oleh seluruh peserta kegiatan yang berasal dari Kepala Kantor Kemenag beserta Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah dan Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Kalsel. (rico)

Berikut rincian lamanya antrean haji di 34 provinsi.

  1. Aceh, rata-rata lama antrean haji 24 tahun
  2. Sumatera Utara, rata-rata lama antrean haji 15 tahun
  3. Riau, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
  4. Kepri, rata-rata lama antrean haji 15 tahun
  5. Jambi, rata-rata lama antrean haji 24 tahun
  6. Sumatera Barat, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
  7. Bengkulu, rata-rata lama antrean haji 24 tahun
  8. Sumatera Selatan, rata-rata lama antrean haji 16 tahun
  9. Babel, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
  10. Lampung, rata-rata lama antrean haji 16 tahun
  11. Jakarta, rata-rata lama antrean haji 19 tahun
  12. Banten, rata-rata lama antrean haji 19 tahun
  13. Jawa Barat, rata-rata lama antrean haji 20 tahun
  14. Jawa Tengah, rata-rata lama antrean haji 22 tahun
  15. Jawa Timur, rata-rata lama antrean haji 24 tahun
  16. Yogyakarta, rata-rata lama antrean haji 23 tahun
  17. Bali, rata-rata lama antrean haji 20 tahun
  18. NTB, rata-rata lama antrean haji 26 tahun
  19. NTT, rata-rata lama antrean haji 17 tahun
  20. Kalimantan Barat, rata-rata lama antrean haji 17 tahun
  21. Kalimantan Tengah, rata-rata lama antrean haji 19 tahun
  22. Kalimantan Selatan, rata-rata lama antrean haji 29 tahun
  23. Kalimantan Timur, rata-rata lama antrean haji 28 tahun
  24. Kalimantan Utara, rata-rata lama antrean haji 24 tahun
  25. Sulawesi Barat, rata-rata lama antrean haji 30 tahun
  26. Sulawesi Tengah, rata-rata lama antrean haji 16 tahun
  27. Gorontalo, rata-rata lama antrean haji 11 tahun
  28. Sulawesi Utara, rata-rata lama antrean haji 11 tahun
  29. Sulawesi Tenggara, rata-rata lama antrean haji 19 tahun
  30. Sulawesi Selatan, rata-rata lama antrean haji 39 tahun
  31. Maluku Utara, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
  32. Maluku, rata-rata lama antrean haji 11 tahun
  33. Papua Barat, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
  34. Papua, rata-rata lama antrean haji 18 tahun
Reporter: Rico
Editor: Bie

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Ragam

Khalifa Conversation Diskusi Virtual Muslim Peduli Lingkungan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sakinah dan Omari bersama anak-anak mereka. Footo: courtesy via VOA
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, WASHINGTON DC – Kori Majeed biasanya lebih aktif ke masjid selama Ramadan. Ia bahkan mengajak keluarganya berbuka puasa di masjid dan baru pulang setelah tarawih bersama.

Pandemi virus corona mengubah cara warga Muslim menjalankan puasa Ramadan di Amerika Serikat tahun ini, termasuk Majeed. Karena masjid-masjid ditutup, ia lebih banyak berada di rumah.

Walaupun begitu, pendiri Green Ramadan yang tinggal di Maryland, itu aktif secara online. Bekerjasama dengan Green Muslim di Virginia, ia meluncurkan Khalifa Conversation, bincang-bincang di media sosial dengan sesama Muslim pegiat lingkungan.

Dalam pertemuan virtual itu, Majeed dan Muslim lainnya berbagi ide tentang hal-hal yang dilakukan secara lokal. Selepas berbincang dan saling berbagi pengalaman dalam Khalifa Conversation, semua yang terlibat menjadi termotivasi untuk lebih banyak berbuat bagi lingkungan, sesuai ajaran Islam.

Khalifa Conversation secara online merupakan salah satu cara bagi saya menjangkau sekaligus menghubungkan mereka yang tertarik untuk memberi dampak yang lebih positif pada lingkungan berdasarkan ajaran Islam,” tukas Kori Majeed.

Walaupun bentuknya adalah bincang-bincang, bukan berarti dalam kegiatannya setiap minggu, orang-orang yang hadir dalam Khalifa Conversation hanya berbicara panjang-lebar tanpa makna. Dalam setiap pertemuan, ditetapkan materi dan dihadirkan seseorang yang lebih berpengalaman dalam materi pembahasan untuk berbagi ilmu.

Misalnya, ahli berkebun permakultur yang dalam bincang-bincang itu berbagi pengalamannya berkebun. Ia juga memberi sejumlah tips berkebun di tempat terbatas dengan memanfaatkan lahan yang tidak luas. Ia bahkan memotivasi peserta bincang-bincang untuk berkebun secara kecil-kecilan di pekarangan sendiri.

Dalam kesempatan lain, kolaborasi dua perempuan dari Green Muslim dan Green Ramadan itu membahas cara hidup praktis secara Islam dengan semangat peduli lingkungan. Yang berbagi pengalaman adalah pasangan suami istri yang memutuskan keluar dari ingar-bingar kehidupan kota Washington, DC untuk hidup sebagai peternak dan petani organik di Virginia, dan mendirikan Fitrah Farm.

“Kami juga mendatangkan tamu pembicara dengan keluarga beranggotakan 11 orang. Rumah tinggal mereka awalnya tidak menetap, di dalam rumah mobil, lalu membeli lahan di pinggiran Virginia untuk pertanian organik dan menyediakan daging halal bagi masyarakat,” tambah Kori.

Kepada VOA, Sakina dari Fitrah Farm mengemukakan upayanya menyediakan daging dan sayuran organik, dan menjelaskan pentingnya mengonsumsi daging halal dan baik bagi Muslim sesuai ajaran Islam.

“Cara kita memelihara ternak sedemikian rupa menjadi sangat penting sebagai wujud menjalankan kaidah mengonsumsi daging yang halal,” ujar Sakinah.

Sakinah McDowell and Omari Grey pemilik “Fitrah Farm”. Foto: courtesy via VOA

Selain mengutamakan tanaman organik, Fitrah Farm, kata Sakina, memandang penting perlakuan terhadap hewan ternak. Dan di peternakannya, ia menambahkan, ia senantiasa memperhatikan pakan ternak-ternaknya.

Sakina menyayangkan warga Amerika dihadapkan pada pilihan untuk mengonsumsi daging tanpa mengetahui darimana daging itu berasal dan bagaimana hewan itu disembelih, misalnya daging ayam, yang menjadi kesukaan banyak warga dari berbagai kelompok masyarakat di Amerika Serikat.

“Cara hewan itu dipelihara … banyak mengatakan hewan peliharaan itu hidup di kandang ayam besar yang, Anda tahu, ratusan ribu ekor ayam itu tidak pernah keluar, mendapatkan udara segar bahkan sinar matahari,” imbuh Sakina.

Khalifa Conversation berawal dari Kori Majeed dan Sevim Kalyoncu saling bertukar pesan singkat secara spontan dua minggu sebelum Ramadan 2020 di tengah pandemi COVID-19. Perempuan sekaligus ibu dari seorang anak berusia 6 tahun itu agak kecewa karena anak-anak, dan kaum muda Green Muslim khususnya, tahun ini tidak dapat menjalankan Ramadan dengan belajar di alam bebas. Namun, perempuan asal Alabama itu merasa bangga dengan bincang-bincang virtual tersebut.

Sevim Kalyoncu menjelaskan, “Karena melibatkan dua organisasi, maka kami melanjutkan pertemuan bulanan setelah Ramadan. Rencananya tetap mengundang orang untuk menyajikan program atau bisnis mereka, juga pengetahuan tentang lingkungan, dan bisa langsung dikaitkan dengan Islam dan lingkungan hidup.”

Kini, semakin banyak Muslim hadir dalam bincang-bincang itu dan mereka tersebar di kawasan Metropolitan Washington, mencakup Maryland, Washington DC dan Virginia. Baik Kori maupun Sevim sepakat, melanjutkan Khalifa Conversations sekali sebulan.(mg/ka-VOA)

Reporter : Metrini
Editor : VOA

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Cara Memandikan dan Mengafani Jenazah Positif Corona dari MUI

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Komisi fatwa MUI Indonesia Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh ketika membuka FGD di Kantor MUI, Selasa (16/3/2020). Foto: Suara.com/Muhaimin A Untung
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar masyarakat tetap berhati-hati saat memandikan jenazah yang terpapar virus corona Covid-19.

Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF menyampaikan, proses memandikan dan mengafani jenazah pasien virus corona harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, namun tetap memperhatikan ketentuan syariat.

Hal itu disampaikan Hasanuddin terkait fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19.  Fatwa tersebut diteken oleh Hasanuddin pada Senin (16/3/2020) hari ini.

“Sedangkan untuk menyalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19,” kata Hasunuddin.

Dalam fatwanya, MUI mengharamkan upaya menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker sehingga bisa menimbulkan kepanikan yang tak berarti.

“Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram,” kata Hasanuddin.

Ketimbang melakukan hal tersebut, Hasanuddin justru mengajak seluruh warga muslim di Indonesia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak cara yang bisa dilakukan warga muslim seperti memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak salawat, memperbanyak sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (doa daf’u al-bala’), khususnya dari wabah Covid-19.

Kemudian terkait pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19, MUI menuturkan ketika memandikan dan mengafani maka harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang namun tetap memperhatikan ketentuan syariat

MUI juga memberikan rekomendasi yakni umat Islam wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar Covid-19, supaya penyebaran virus tersebut dapat dicegah.

Kemudian MUI meminta masyarakat hendaknya proporsional dalam menyikapi penyebaran Covid-19 dan orang yang terpapar Covid-19 sesuai kaidah kesehatan.

“Oleh karena itu masyarakat diharapkan menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan atau dinyatakan sembuh,” katanya.

Fatwa yang dikeluarkan MUI tersebut mulai berlaku sejak ditetapkan. Dengan catatan bisa diperbaiki dan disempurnakan apabila memang ada ketentuan tambahan dikemudian hari. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

PCNU Kabupaten HSU 2020-2025 Dilantik

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

PCNU Kabupaten HSU resmi dilantik, Rabu (19/2/2020), di aula Dr KH Idham Chalid kota Amuntai. Foto : dew
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Setelah Konferensi Cabang ke-11 Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) pada 25 Desember 2019, akhirnya PCNU Kabupaten HSU resmi dilantik, Rabu (19/2/2020), di aula Dr KH Idham Chalid kota Amuntai.

Pelantikan PCNU Kabupaten HSU Masa Khidmat 2020-2025 memposisikan H Muhammad Taufik sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten HSU dan Wakil Ketua H Humaidi Lc, Kifli Buqran, Abdul Muthalif, Ahmadar Rifa’i, dan nama lainnya dalam kepengurusan. Begitupula untuk posisi Sekretaris diisis Soleh Maulana serta sejumlah aktivis NU muda di Kabupaten HSU.

Pelantikan tersebut dipimpin Ketua Tanfidziyah PWNU Kalsel H Abdul Haris Makkie.

Ketua Tanfidziyah PWNU Kalsel H Haris Makkie mengharapkan kepengurusan yang baru dilantik ini agar dapat merebut kembali kejayaan NU seperti masa lalu.

“NU betul-betul di kelola tetap mempertahankan tradisi-tradisi NU yang sudah ada dan mengembangkannya dengan tekhnologi secara modern agar dapat mempermudah kita untuk melakukan koordinasi,” ujar Haris Makkie.

Sementara itu, Ketua Tanfiziyah PCNU HSU H Muhammad Taufik mengaku bersyukur dan berterimakasih kepada seluruh keluarga besar NU atas kepercayaan yang telah diberikan untuk melanjutkan kepengurusan dengan mengemban amanah sebagai Ketua Tanfiziyah PCNU Kabupaten HSU masa khidmat 2020-2025.

 

“Kami berserta seluruh pengurus cabang tidak akan mennyia-nyiakan amanah dan kepercayaan yang diberikan, kami juga akan bertekad dan berkomitmen akan menjadikan kepengurusan NU masa khidmat 2020-2025 ini menjadi lebih,” ungkap Taufik.

Selain itu, dirinya juga mengaku akan berusaha maksimal untuk menggerakkan organisasi NU untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat, berperan dalam menjaga stabilitas kehidupan di masyarakat berbangsa dan beragama.

Seiring dengan itu, Bupati HSU H Abdul wahid HK sekaligus membuka secara resmi Musyawarah Kerja PCNU HSU mengatakan, PCNU HSU harus mampu mengemban amanah dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

“Menjalin kebersamaan dan kerjasama pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas dan pembinaan kepada masyarakat demi terwujudnya kemajuan daerah,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/dew)

 

Reporter : Dew
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->