Connect with us

Kisah Sufi

Kisah Orang Saleh yang Sempat Berhenti Mengamalkan Shalawat Nabi

Diterbitkan

pada

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada suatu zaman terdapat seorang yang cukup saleh. Ia melazimkan bacaan shalawat nabi setiap harinya. Ia sendiri kerap bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya. Ia diperlakukan dengan hangat oleh Rasulullah SAW pada setiap perjumpaan.

Tetapi suasana perjumpaannya pada malam kali ini berbeda. Ketika tertidur, ia bermimpi melihat Rasulullah SAW.

Tidak seperti biasanya, Rasulullah bersikap dingin. Rasulullah SAW tidak menoleh kepadanya dan tidak menyapanya.

“Wahai Rasulullah, apakah yang mulia sedang murka terhadapku?” ia bertanya dengan masygul. “Tidak,” jawab Rasulullah SAW.



“Lalu mengapa yang mulia tidak sudi memandangku?”

“Karena aku tidak mengenalimu,” kata Rasulullah SAW.

“Bagaimana bisa yang mulia tidak mengenaliku? Padahal, aku adalah salah seorang dari umat Anda yang mulia. Sementara, ulama yang menjadi ahli waris yang mulia meriwayatkan bahwa yang mulia lebih mengenal umat yang mulia sendiri dibanding pengenalan ibu terhadap anaknya.”
“Mereka itu benar. Hanya saja kau tidak mengingatku melalui shalawat. Sementara daya pengenalanku terhadap umatku bergantung pada kekuatan mereka membaca shalawat,” kata Rasulullah SAW.

Ia pun terbangun. Hatinya begitu sedih. Tetapi ia menyadari bahwa sudah sekian bulan ia tidak membaca shalawat. Ia kemudian bertekad dalam hatinya untuk membaca shalawat nabi sebanyak 100 kali setiap hari. Ia pun kemudian membuktikan tekadnya dengan baik.

Pada suatu malam kemudian ia berjumpa dengan Rasulullah SAW dalam mimpinya. Ia disapa dengan hangat oleh Rasulullah.

“Sekarang aku mengenalimu dan aku memberikan syafaatku untukmu,” kata Rasulullah SAW dengan perhatian.

Tanggapan Rasulullah SAW begitu hangat karena orang saleh tersebut dengan amalan shalawatnya menunjukkan diri sebagai pecinta Rasulullah SAW.  *

Kisah ini disadur dari Bab Ketujuh fil Mahabbah, Kitab Mukasyafatul Qulub Al-Muqarribu ila Hadhrati ‘Allamil Ghuyub fi Ilmit Tashawwuf karya Imam Al-Ghazali (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2019 M/1440 H), halaman 30. Wallahu a’lam. (alhafiz kurniawan/nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Komentar

Kisah Sufi

Saat Ibnu Hajar al-Asqalani Digugat karena Kekayaannya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Keimanan dan kekayaan adalah dua hal yang berbeda, meski keduanya bisa saling mempengaruhi. Foto ilustrasi: ebctv.net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ibnu Hajar al-Asqalani adalah ulama kenamaan pada masanya. Ibnu hajar al-Asqalani termasuk salah satu ulama yang mendapat sebutan “al-Hafidh”, sebuah gelar yang diberikan kepada ulama ahli hadits, dengan syarat mampu menghafal 100 ribu hadits lebih, lengkap dengan rawi, matan, asbabul wurud, serta rijalul haditsnya.

Tidak hanya itu, Ibnu Hajar al-Asqalani yang ahli hadits ini juga kaya raya. Pada masa itu, ketika akan berkunjung ke suatu daerah, ia menunggang kuda yang paling gagah. Di punggung kudanya terdapat kain lembut menyelimutinya. Sungguh, kuda itu layaknya mobil super mewah di masa kini.

Hingga suatu ketika di tengah jalan. Ada seorang non-Muslim nan fakir miskin memandang sinis al-Asqalani yang sedang  lewat dengan kuda gagahnya. Tiba-tiba ia berujar dengan suara meninggi,

“Wahai kisanak, sesungguhnya siapakah yang bergelar pembohong, engkau atau Nabimu?”



Tiba-tiba saja orang itu melontarkan pertanyaan nyinyir nan  menyakitkan hati. Padahal, Ibnu Hajar merasa pernah melukai si non-Muslim. Lantas, gerangan apakah yang membuatnya seperti banteng yang lepas dari kendali, menyeruduk penuh emosi?

“Apa maksudmu?” al-Asqalani menimpali keheranan.

“Ya, bukankah nabimu pernah bilang bahwa dunia itu adalah penjara bagi orang yang mengimaninya dan menjadi surga bagi orang yang ingkar terhadapnya,” non-Muslim pun mengutarakan argumentasinya.

Oh ternyata, ia menggugat salah satu hadits Nabi yang berbunyi:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah  radliallahu ‘anhu  ia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dunia adalah penjara orang yang beriman, dan surganya orang kafir” (HR Muslim).

Seketika, Ibnu Hajar al-Asqalani terkekeh sambil menjawab,

“Kau memandang kehidupanku begitu indahnya. Memilki harta melimpah nan kaya raya, tungganganku kuda tergagah seantero kota, tak hanya itu, aku pun Muslim pula. Sungguh kenikmatan yang tiada bandingannya.”

“Sedang engkau, kau tak beriman pada nabiku. Hidupmu pun serba kurang tak menentu. Sungguh, mungkin bagimu, hal itu sudah cukup pilu.”

“Lantas, adakah yang keliru dengan sabda nabiku?”

“Ketahuilah, kehidupanku yang engkau lihat senyaman ini, sungguh jika dibanding dengan nikmat surga nanti, adalah layaknya penjara dunia yang disabdakan nabi. Sedang hidupmu yang sudah kau rasa pilu di dunia ini sudah merupakan gambaran surgamu di akhirat nanti. Tidak merasakan panasnya api neraka di dunia ini, sudah merupakan bentuk nikmat surga dunia bagi engkau di kemudian hari nanti,” terang al-Asqalani sambil berlalu, meninggalkan non-Muslim yang masih saja menggerutu.

Pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut seolah hendak menjelaskan bahwa tak ada larangan menjadi kaya dalam Islam. Hadits “dunia itu penjara orang mukmin” hanyalah gambaran minimal tentang kenikmatan yang bakal diterima kelak. Status mukmin dan kaya adalah dua hal yang berbeda meskipun keduanya bisa saling mempengaruhi. Bagi orang alim yang zuhud seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, kekayaan harta tak lebih dari sekadar alat: tempatnya hanya di genggaman tangan, tak sampai menghujam ke dalam hati.  (ulin nuha karim/nuonline)

Dikisahkan oleh KH. Arifin Fanani, Pengasuh Ponpes. Ma’had Ulumis Syari’ah Yambu’ul Quran (MUS-YQ) Kudus dalam tausiahnya pada momen Reuni Alumni Angkatan Tahun 2007 di Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.

Reporter : ulin nuha karim/nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kisah Sufi

Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan Peletak Dasar Mazhab Cinta

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ucapan terkenal Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun.” foto: ilustrasi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, Abdul Wahhab As-Sya’rani merasa tidak perlu memperkenalkan riwayat Rabiatul Adawiyah atau Rabiah. Dalam At-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul Anwar fi Thabaqatil Akhyar, sebuah hagiografi karya As-Sya’rani, ia mengatakan, kelebihan sufi perempuan yang satu ini cukup banyak dan begitu populer.

Rabiah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia adalah ibu dari para sufi besar setelahnya. Pandangan-pandangan spiritualnya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. Ulama yang menaruh hormat kepadanya antara lain adalah Sufyan At-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, dan Syaqiq Al-Balkhi.

Rabiatul Adawiyah ahli ibadah perempuan yang kerap menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabiah jatuh tak sadarkan diri untuk beberapa saat.

Rabiatul Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau superistimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan (awam) dan tingkat orang istimewa (khawash). Kalau kebanyakan orang beristighfar atau meminta ampunan Allah atas dosa, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna.



Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut.

Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut. Ahli makrifat menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh. Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah SAW beristighfar tiga kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka. (As-Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah).

Kita kemudian mengenal ucapan yang populer dari Rabiatul Adawiyah, “Istighfāruna yahtāju ilā istigfārin” atau “Kalimat istighfar atau permohonan ampun kita (baca: ibadah) perlu juga dimintakan ampun kembali.”  (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin; An-Nawawi, Al-Adzkar; dan As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 65).

Rabiah bukan tipe orang yang mudah menerima pemberian orang lain. Ia begitu zuhud. Ia kerap menolak pemberian orang lain. Ia akan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia.”

Memasuki usia ke-80, fisiknya melemah. Tubuhnya begitu kurus sehingga hampir-hampir jatuh ketika berjalan. Tempat sujud Rabiah persis seperti tempat genangan air. Tempat sujudnya selalu basah dengan air mata.

Rabiah sering terlibat percakapan dengan Sufyan At-Tsauri. Suatu ketika, ia mendengar Sufyan At-Tsauri menyatakan prihatin atas dirinya, “Alangkah sedihnya.” Rabiah lalu menjawab, “Betapa kecil kesedihan itu. Andai aku bersedih, niscaya tidak ada kehidupan di sana.”

Sufyan At-Tsauri pernah berdoa di dekat Rabiah, “Ya Allah, berikanlah ridha-Mu padaku.” Rabiah menanggapinya, “Apakah kau tidak malu kepada Allah dengan meminta ridha-Nya. Sedangkan dirimu tidak ridha atas ketentuan-Nya.” Sufyan At-Tsauri kemudian beristighfar. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin: 346).

Rabiah pernah ditanya kapan seorang hamba dikatakan ridha atas ketentuan Allah. Ia mengatakan, “Ketika musibah membuatnya bahagia sebagaimana kebahagiaannya ketika mendapatkan nikmat.” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 89).

Di tengah luapan rindunya yang tak terkendali, Rabiah pernah melontarkan kalimat ini dalam munajatnya, “Apakah dengan api aku harus membakar hati ini yang mencintai-Mu?” (Imam Al-Qusyairi, Risalatul Qusyairiyah: 147).

Rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini:

Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka.

Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.//

Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila//

Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.

Rabiah wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H. Ia wafat pada usia 83 tahun. Rabiah ingin memastikan kafan pembungkus jenazahnya berasal dari harta yang jelas. Oleh karena itu, ia telah menyiapkan jauh-jauh hari kain kafan yang kelak membungkus jenazahnya. Ia semasa hidup meletakkan kain kafan itu di depannya, tepatnya di tempat sujudnya. (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66). Wallahu a’lam. (nuonline/alhafiz kurniawan)

Reporter : nuonline
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->