Connect with us

RELIGI

LENSA FOTO KEBERANGKATAN KLOTER 1 JAMAAH HAJI KALSEL

Diterbitkan

pada

Keberangkatan jamaah calon haji Kalsel di bandara Syamsudin Noor Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor, melepas keberangkat Calon Jamaah Haji (CJH) kloter 1 asal Kota Banjarmasin dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) di Embarkasi Banjarmasin, Selasa (9/7) pagi. Namun sayang, 7 CJH harus menunda keberangkatan menuju tanah Baitullah, lantaran adanya masalah kesehatan bahkan satu diantaranya meninggal dunia.

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor saat melepas keberangkatan kloter 1 meminta seluruh calon haji kloter 1 bisa menjaga kesehatan baik fisik maupun mental sehingga bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah haji.  Ibadah haji yang merupakan ibadah yang memerlukan kekuatan fisik dan mental.(Foto-foto: rico)







Reporter :Rico
Editor :Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

RELIGI

Sifat Qidam: Keberadaan Tanpa Awal Mula

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Karena Allah bersifat qidam, maka mustahil Allah bersifat huduts. Sebab alam semesta bersifat huduts, maka mustahil alam semesta bersifat qidam.
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Apabila kita mengamati seluruh apa yang ada di semesta ini, mulai hal yang terkecil sampai terbesar, maka kita bisa mengetahui dengan yakin bahwa ternyata semua hal tersebut mempunyai awal mula kejadiannya. Ketika kita melihat kerikil dengan bentuk tertentu ada di halaman rumah, meskipun kita tidak tahu kapan, tetapi dengan akal sehat kita bisa tahu dengan pasti bahwa kerikil itu tidaklah tiba-tiba dengan sendirinya ada di sana dan tiba-tiba mempunyai bentuk seperti itu melainkan pasti ada suatu proses yang membuatnya ada di halaman rumah kita dan membuatnya berbentuk seperti itu. Ini adalah kesimpulan rasional yang tak bisa ditolak.

Awal mula sendiri  ada dua macam, yakni:

1.Awal mula perubahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Ini adalah awal mula yang lumrah dilihat di semesta ini sehari-hari. Sesuatu berubah dari satu kondisi menjadi kondisi lainnya. Misalnya komputer, pada awalnya hanya bahan-bahan mineral yang ada di alam kemudian diolah sedemikian rupa menjadi bahan-bahan elektronik dan kemudian diolah kembali menjadi perangkat komputer. Dengan ungkapan lain, jenis pertama ini adalah awal mula adanya hal baru tetapi sebelumnya telah ada bahan baku untuk membentuk hal baru tersebut.

2.Awal mula perubahan dari ketiadaan murni menjadi keberadaan. Dengan kata lain, jenis ini adalah awal mula adanya sesuatu dari sebelumnya tidak ada apa-apa sama sekali, tanpa bahan baku apa pun, kemudian menjadi ada. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita amati sehari-hari sebab bukan hal yang mampu dilakukan oleh manusia.

 

Baca juga: Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan

Untuk awal mula jenis pertama, maka tidak perlu dibahas panjang lebar lagi sebab semua orang mengakui kejadiannya pada semua objek di alam semesta. Yang menjadi masalah adalah jenis awal mula kedua di mana sesuatu bisa menjadi ada dari ketiadaan. Mungkinkah ketiadaan berubah menjadi ada? Jawabannya mungkin saja, bahkan itu bisa dipastikan telah terjadi pada alam semesta ini secara keseluruhan.

Akal manusia hanya mempunyai dua opsi tentang awal mula wujud alam semesta ini. Pertama, ia berasal dari bahan baku yang sebelumnya telah ada dan bahan baku tersebut juga berasal dari bahan baku sebelumnya lagi dan demikian seterusnya tanpa titik akhir. Hal ini disebut sebagai tasalsul (infinite regress of causes). Tasalsul ini merupakan sesuatu yang mustahil sebab segala yang mengalami perubahan pastilah berawal dari satu titik awal. Bila titik awal banyak hal adalah bahan baku yang ada sebelumnya, maka secara logis pastilah ada titik paling awal dari bahan baku paling awal yang berupa ketiadaan murni. Mustahil sesuatu yang mengalami perubahan sama sekali tidak mempunyai titik awal bagi wujudnya. Hal ini tidak bisa dibantah kecuali oleh para ateis yang mengabaikan logika sehat. Karena itu hanya tersisa opsi kedua untuk dipilih, yakni alam semesta berasal dari ketiadaan. Dengan kata lain, ujung paling awal dari rentetan keberadaan semesta ini pastilah ketiadaan.

Ketiadaan itu sendiri hanya bisa berubah menjadi ada apabila ada oknum lain yang mengubahnya. Artinya tak mungkin kondisi kosong tanpa apa-apa tersebut kemudian berubah menjadi “ada sesuatu” dengan sendirinya. Sebab itulah maka dipastikan ada oknum yang menciptakan sesuatu yang ada (semesta) tersebut. Oknum tersebut tak lain dan tak bukan adalah Allah. Hanya Allah-lah yang bisa membuat sesuatu menjadi ada tanpa bahan baku apa pun.

Lalu pertanyaannya, apakah keberadaan Allah juga didahului oleh ketiadaan sebelumnya atau dengan kata lain keberadaannya juga mempunyai awal mula? Bila dijawab ya maka kita akan terjatuh pada tasalsul kembali yang secara rasional mustahil tersebut. Akhirnya hanya ada satu opsi untuk dipilih, yakni keberadaan Allah tidak mempunyai awal mula alias tidak didahului  ketiadaan.

Keberadaan tanpa awal mula inilah yang disebut sebagai sifat qidam. Seorang Muslim wajib mempercayai bahwa Allah bersifat qidam, bila tidak maka keimanannya tidak sah. Lawan dari qidam adalah huduts yang berarti punya awal mula, baik berupa awal mula dalam bentuk materi lain atau awal mula berupa ketiadaan. Karena Allah bersifat qidam, maka mustahil Allah bersifat huduts. Sebab alam semesta bersifat huduts, maka mustahil alam semesta bersifat qidam.

Bahasan rumit di atas adalah argumen rasional dari para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah untuk berdialog dengan non-Muslim yang  tidak mempercayai Al-Qur’an dan hadits sehingga otomatis tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Tidak mungkin meyakinkan mereka tentang sifat ketuhanan kecuali memakai argumen rasional. Adapun bagi seorang Muslim yang mempercayai Al-Qur’an dan hadits, maka dalil sifat qidam cukup dengan ayat dan hadits berikut:

 هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ

“Dialah Yang Maha Awal [yang tidak didahului ketiadaan] dan Maha Akhir [yang tidak diikuti ketiadaan]” (QS. al-Hadid: 3).

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tidak melahirkan sesuatu dan tidak pula dilahirkan/berasal dari sesuatu” (QS. al-Ikhlas: 3).

(كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ. (بخاري

“Allah sudah ada dan tak ada apapun selain Dia” (HR Bukhari).

Adapun dalil naqli sifat huduts seluruh alam, dalam Al-Qur’an dinyatakan:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ بَل لَا يُوقِنُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa berasal dari sesuatu pun [yang menciptakan mereka] ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” (QS At-Thur: 35-36).

Ayat tersebut menafikan dua kemungkinan dari alam semesta. Kemungkinan pertama adalah alam semesta ada sendiri dari ketiadaan tanpa ada yang menciptakan. Kemungkinan kedua adalah alam semesta menciptakan dirinya sendiri. Keduanya adalah hal mustahil sehingga orang-orang ateis yang meyakini hal itu sesungguhnya tidak bisa benar-benar yakin bahwa mereka benar. Satu-satunya opsi yang masuk akal adalah alam semesta bersifat huduts dan diciptakan oleh Tuhan yang bersifat qidam.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ulas Kitab

Ini Karakter Orang Mendadak Religius Menurut Ibnu Athaillah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi berdoa. foto: Pexels
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tobat adalah pintu masuk pertama seorang hamba menuju Allah SWT. Tobat itu sendiri memiliki banyak ruangan yang harus dilewati mulai dari ruang depan, ruang tengah, hingga ruang terakhir. Ini yang disebut oleh Imam As-Sya‘rani sebagai wa lahâ bidâyah wa nihâyah.

Menurut Imam As-Sya‘rani dalam Al-Minahus Saniyyah, tobat memiliki jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Tobat dari kekufuran, kemusyrikan, larangan-larangan haram, larangan makruh, dari amalan khilaful aula, dan seterusnya.

Tetapi biasanya orang yang baru bertobat cenderung tak bisa menahan nafsunya dari kehausan ibadah. Di luar ibadah wajib, orang yang baru tobat ini cenderung menghabiskan waktunya untuk ibadah-ibadah tambahan (nafilah atau sunah). Mereka mengamalkan dengan semangat puasa sunah, shalat-shalat sunah, berkali-kali ke Masjidil Haram hanya untuk umrah, menggelar santunan-santunan sosial, gerakan politik yang bertopeng gerakan keislaman, dan hal-hal yang tidak perlu lainnya.

Jelasnya mereka menghabiskan waktu untuk ibadah tambahan demi memuaskan nafsu dahaga ibadahnya. Ini yang disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam sebagai ibadah karena dorongan nafsu.

 

من علامة اتباع الهوى المسارعة إلى نوافل الخيرات والتكاسل عن القيام بالواجبات

Artinya, “Salah satu tanda (seseorang) menghamba pada hawa nafsu adalah kesegeraan dalam (memenuhi panggilan) kebaikan tambahan dan kelambatan dalam (memenuhi panggilan) kewajiban.”

Pernyataan Ibnu Athaillah ini kemudian diuraikan lebih lanjut oleh Ibnu Abbad dalam Syarhul Hikam-nya yang lazim dibaca di kalangan santri sebagai berikut.

هذه من الصور التى يتبين بها خفة الباطل وثقل الحق على النفس وما ذكره هو حال أكثر الناس فترى الواحد منهم اذا عقد التوبة لا همة له الا في نوافل الصيام والقيام وتكرار المشي الى بيت الله الحرام وما أشبه ذلك من النوافل وهو مع ذلك غير متدارك لما فرط من الواجبات ولا متحلل لما لزم ذمته من الظلامات والتبعات

Artinya, “Ini merupakan salah satu bentuk di mana sesuatu yang semu itu jelas sangat ringan dikerjakan bagi nafsu. Sedangkan yang hakiki terasa berat bagi nafsu. Apa yang disebutkan Ibnu Athaillah merupakan pengalaman kebanyakan orang. Kaulihat kemudian salah seorang dari mereka itu kalau sudah bertobat itu tidak memiliki keinginan apapun selain mengamalkan puasa sunah, tahajud, pergi-pulang umrah sunah ke masjidil haram, dan amalan tambahan (nawafil/sunah) lainnya. Sedangkan pada saat yang bersamaan salah seorang dari mereka tidak bergerak menutupi kewajiban yang telah dilalaikannya dan tidak berupaya mengembalikan hak orang lain yang telah dizaliminya, serta menyelesaikan tanggung jawabnya,” (Lihat Ibnu Abbad An-Nafzi Ar-Randi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 30).

Padahal tugas paling mendasar dari seseorang yang bertobat adalah menunaikan kewajiban seperti membayar utang, mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas secara zalim, meminta maaf kepada korban yang telah dicederai harga diri dan martabatnya, dan tentu saja menambal bolong-bolong kewajiban shalat, puasa, zakat yang telah dilalaikan di waktu-waktu yang sudah. Di samping itu tugas orang yang baru tobat adalah menahan diri dari segala maksiat, baik maksiat mulut, tangan, kaki, kelamin, mata, telinga, dan tentu saja maksiat hati.

Tetapi kenapa itu bisa terjadi? Kenapa mereka yang baru tobat lebih memilih amaliyah nafilah-sunah yang semu itu ketimbang amaliyah wajib yang hakiki sebagai tanggung jawab mereka? Pertama, aktivitas menunaikan kewajiban terkesan tidak mengandung keistimewaan dan keutamaan apa pun. Lain dengan amalan sunah yang “menjanjikan” sesuatu bagi yang mengamalkannya. Kedua, mereka tidak menggembleng dan mendidik nafsu ibadah yang menipu mereka. Mereka tidak sanggup mengendalikan kehendak-kehendak nafsu yang menyenangkan dan menguasai mereka. Wallahu a‘lam. (alhafiz k/nuonline)  

Reporter : nuonline
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

RELIGI

Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pembuktian empiris atas keberadaan Tuhan akan sia-sia belaka karena ia tak beranjak dari karakter kemakhlukan: materi. Ilustrasi: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Benarkah Tuhan itu ada? Ini adalah pertanyaan beberapa orang yang meragukan keberadaan Tuhan sebab eksistensi Tuhan tak dapat diobservasi dan tak dapat pula dideteksi keberadaannya melalui serangkaian alat-alat modern. Mencari Tuhan dengan metode empiris seperti itu takkan membuahkan hasil sebab Tuhan itu memang ghaib, wujudnya sama sekali tak dapat diakses atau diindra. Karena itulah, untuk membuktikan keberadaan Tuhan bukan dengan melakukan serangkaian tes yang bersifat indrawi tetapi dengan penarikan kesimpulan yang bersifat rasional.

Bila kita melihat jagat raya ini, kita lihat semuanya punya garis merah yang sama, yaitu semua serba berubah. Tak ada yang tak berubah di jagat raya ini, bahkan hal yang kita sangka tak pernah berubah pun ternyata berubah seiring waktu. Semua hal mengalami masa sebelum, sedang, dan setelah. Semua berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Bila demikian, maka dengan pasti kita tahu bahwa segala yang ada di jagat raya ini punya permulaan.   Seperti halnya kita tak tahu kapan tetangga kita dilahirkan, akan tetapi kita tahu pasti bahwa dia punya tanggal lahir. Kita juga tak tahu dengan pasti kapan planet ini dan segala isinya diciptakan, tapi kita tahu dengan pasti bahwa ia ada awal mulanya. Demikian juga dengan seluruh bintang, planet, galaksi, atau apa pun namanya, bagaimanapun bentuknya, kita tahu dengan pasti bahwa semuanya berawal dari sebuah titik yang mengubahnya dari kondisi tidak ada menjadi ada.

Selain itu, kita lihat bahwa segala yang ada di dunia ini juga punya sifat dan karakter khusus; benda-benda besar di jagat raya mempunyai gaya tarik yang kita sebut gravitasi, api mempunyai karakter membakar, es mempunyai karakter dingin, batu mempunyai karakter keras dengan bentuk tertentu, gelombang punya karakter merambat dan menembus, air punya karakter cair, dan begitu juga pohon, udara, dan segala makhluk hidup punya karakternya masing-masing. Segala karakter ini pun saling melengkapi dan membentuk sistem kehidupan yang saling menopang satu sama lain. Meski kita tak tahu dengan detail bagaimana semua itu terbentuk, tapi kita bisa memastikan bahwa seluruh sifat dan karakter itu dibentuk dan dirancang dengan penuh kesadaran oleh aktor yang berada di luar jangkauan kita sebab mustahil hal yang begitu rumit terjadi dengan sendirinya dan membentuk sistem yang begitu hebatnya.

Ketika melihat keberadaan dinding dari batu bata di tengah hutan, kita bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa dinding itu dirancang dan dibuat oleh suatu makhluk berkesadaran, bukan oleh angin, air, panas mentari, pohon-pohon atau gempa bumi. Padahal susunan dinding batu bata sangat sederhana, tetapi akal kita menolak ketika ada yang mengatakan bahwa dinding itu tercipta dengan sendirinya. Maka bagaimana mungkin kita sanggup mengatakan bahwa jagat raya ini ada dengan sendirinya?

Bila demikian, maka sampailah kita pada pertanyaan paling penting, siapakah aktor yang membuat semuanya ada dari tiada? Siapakah yang merancang dan membentuk seluruh karakter yang kita lihat di setiap hal di jagat raya ini? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Meskipun kita tak pernah melihatnya, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan itulah penyebab utama dari segala keberadaan di alam semesta. Keberadaannya adalah pasti dan tak bisa didebat lagi.

Keberadaan Tuhan inilah yang disebut para ulama sebagai “wajibul wujud”, keberadaan yang pasti, harus, dan tak bisa disangkal. Adapun keberadaan selain Tuhan sifatnya hanya “mumkinul wujud”, yakni sesuatu yang keberadaannya relatif dalam arti bisa saja ada dan boleh juga tidak ada. Tak ada alasan yang memastikan bahwa kita ini harus ada, planet ini harus ada, dan segala hal di semesta harus ada. Tapi Tuhan harus ada sebab keberadaannya merupakan keniscayaan dari seluruh keberadaan hal lain yang sudah ada ini. Inilah yang membedakan antara keberadaan Tuhan dan keberadaan selain Tuhan. Meskipun semua sama-sama ada, tapi pada hakikatnya keberadaan keduanya jauh berbeda.

Lalu siapa yang mencipta Tuhan dan memberikan karakter ketuhanan pada-Nya? Ini pertanyaan konyol yang hanya akan membuat lingkaran tak berujung yang pasti mustahil. Ketika kita melihat orang lain, kita tahu bahwa dia punya bapak, bapaknya punya bapak dan demikian seterusnya tapi haruslah ada ujung dari semua rantai kebapakan itu di mana ujung rantai itu tak punya bapak lagi. Bapak paling tua itu yang lewat bocoran wahyu kita kenal sebagai Adam. Demikian juga seluruh hal lainnya harus punya ujung pertama di mana ujung pertama itu tak berasal dari apa pun. Yang paling ujung dari semua penciptaan adalah Tuhan dan pastilah Tuhan itu sendiri tak diciptakan, tak dirancang, tak disusun, tak dibentuk, dan memang sudah ada tanpa awal mula.

Andai dipaksakan bahwa ada lingkaran penciptaan yang tak berujung hingga ke belakang di mana Tuhan diciptakan oleh sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain itu juga diciptakan oleh sesuatu sebelumnya secara terus-menerus tanpa ada ujungnya, maka seharusnya alam semesta takkan tercipta. Logikanya, bila penciptaan semesta ini tergantung pada keberadaan Tuhan sedangkan keberadaan Tuhan itu pun juga bergantung pada keberadaan Tuhan lain sebelumnya dan terus demikian, maka pasti alam semesta belum ada sebab keberadaannya bergantung pada lingkaran yang tak pernah berhenti. Tatkala kita lihat alam semesta ada, itu artinya ada ujung paling akhir yang berperan menentukan segalanya. Ujung paling akhir itulah yang absah disebut Tuhan, Sang Pencipta segalanya.

Penjelasan di atas adalah penjelasan universal yang  dapat dipahami seluruh manusia di mana pun, apa pun agamanya, dan apa pun bangsanya. Ini adalah kebenaran rasional yang bisa diketahui oleh semua orang berakal. Dengan penjelasan semacam inilah para ulama berkomunikasi dengan semua orang dari semua penjuru dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Bahasa universal inilah yang dapat diyakini kebenarannya oleh seluruh manusia sebab bukan berdasarkan dogma atau klaim apa pun yang sifatnya subjektif.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->