Connect with us

HEADLINE

Membaca ‘Isyarat’ Petahana di Pilbup Banjar, Kembali Maju atau Tidak?

Diterbitkan

pada

Bupati Banjar KH Khalilurrahman belum memutuskan akan maju atau tidak pada Pilkada 2020 Foto: rendy
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARTAPURA, Seperti tujuh kabupaten/kota lain yang akan menggelar Pilkada Serentak 2020 nanti, Banjar menjadi medan pertarungan politik yang tak kalah sengit. Sejumlah nama muncul ke permukaan guna menjadi ‘penantang’ bagi incumbent alias petahana Bupati Banjar H Khalilurrahman. Namun, kepada media usai mengikuti rapat paripurna DPRD Banjar, Rabu (26/6), Bupati memberikan ‘isyarat’ politik menarik. Sebuah pertanda siap maju kembali, atau justru memutuskan tak ikut pertarungan?

Usai paripurna, kanalkalimantan.com menanyakan kepastian petahana untuk bertarung lagi pada Pilkada 2020. Mengingat saat ini, sudah muncul sejumlah nama sebagai penantang. Tapi, Guru Khalil—demikian Bupati Khalilurrahman biasa diakrapi, mengatakan masih belum bisa menjawab pasti. “Kalau pertanyaannya seperti itu, saya masih belum bisa menjawab. Kita lihat suasananya dulu,” ungkapnya singkat.

Akan halnya sokongan masyarakat dan parpol untuk mengusung kembali, Guru Khalil pun berkelit halus. “Kalau saya mencalonkan kembali, nanti takutnya tidak ada calon yang berani (maju) jadi bupati,” kelakarnya disambut tawa wartawan.

Umumnya, petahana memang antusias bertarung kembali di Pilkada maupun Pilgub. Sebab mereka memiliki kelebihan yang tak dimiliki penantang. Salah satunya, aspek pengaruh dan popularitas selama masa pemerintahan. Maka banyak bukti, petahana yang sukses memperpanjang kursi kekuasaan. Meski tak sedikit pula yang kalah.

Selama masa kepemimpinannya, dinamika politik memang kerap ‘mengganggu’ kinerja pasangan Bupati Khalilurrahman dan Wakil Bupati Saidi Mansyur. Mulai isu hubungan yang kurang harmonis, hingga pada drama hak angket yang digulirkan sejumlah fraksi di DPRD Banjar.

Meskipun Bupati berhasil meredam gejolak tersebut dengan mengkandaskan penggalangan yang dilakukan sejumlah fraksi, namun goresan peristiwa itu masih tak mudah hilang. Di pemerintahan sendiri, seringnya mutasi juga kerap menjadi kinerja yang disorot oleh dewan. Dari sisi Guru Khalil sendiri, bisa jadi hal tersebut cukup melelahkan!

Tapi, bisa jadi pula, isyarat yang disampaikan Guru Khalil berupakan wujud over convident yang bersangkutan akan terpilih kembali jika maju sebagai petahana.

Walaupun saat ini memang belum muncul nama sosok yang akan mendampingi Guru Khalil jika maju kembali. Baru muncul dari Gerindra, yang siap membawa gerbong di belakang petahana.

Apalagi pecah kongsi, jelas tak bisa dihindari! Wabup Saidi Mansyur memang santer akan maju menjadi penantang kuat. Meskipun sebelumnya, pada Pilbup 2015 lalu, mereka diusung bersama oleh PKB, PKPI dan Partai Nasional Demokrat.

Kabarnya, nama Saidi Mansyur saat ini terbilang moncer, karena menemukan pasangan duet dengan Fauzan Asnian, tokoh muda di Kabupaten Banjar. Persoalannya adalah, saat ini Fauzan masih berstatus sebagai ASN. Sehingga jika ia memutuskan satu paket dengan Saidi Mansyur, yang bersangkutan harus rela pensiun dini.

Hal tersebut, juga yang dilakukan Sekda Banjarbaru Said Abdullah, yang memutuskan pensiun dini untuk berlaga di Pilbup Banjar. Berbekal pengalaman di birokrasi, Said mantab maju sebagai salah satu kandidat. Hanya saja, sampai saat ini masih belum terlihat perahu apa yang akan dipakai. “Jabatan saya sebagai Sekda yang seharusnya sampai tahun 2025. Siap saya tinggalkan untuk maju di Pilbup Banjar,” tegasnya kepada kanalkalimantan.

Menurut Said Abdullah, saat ini pembangunan dan kesejahteraan Kabupaten Banjar harus terus ditingkatkan. Hal tersebut diyakininya sebagai salah satu alasan dirinya maju sebagai salah satu calon Bupati Banjar. “Keputusan saya sudah bulat dan penuh pertimbangan. Apalagi saya juga bertempat tinggal di Kabupaten Banjar. Kita akan membuat Kabupaten Banjar jadi lebih baik dan lebih sejahtera,” lanjutnya.

Lalu, terkait jalur apa yang dipilih dalam pencalonannya nanti, Said Abdullah mengatakan keinginannya maju lewat Partai Politik (Parpol). Namun, ia masih belum mau membeberkan Parpol mana yang akan dituju. “Waktunya kan masih lama dan Parpol masih belum membuka pendaftaran. Nanti kalau sudah baru saya umumkan,” tandasnya.

Meski demikian, nama yang bersangkutan saat ini menjadi salah satu alternatif yang akan digandeng oleh Aditya Mufti Ariffin, jika nanti berbalik haluan maju di Pilkada Banjar dibanding berlaga di Banjarbaru.

Di sisi lain, keberadaan tokoh partai Golkar H Rusli juga tak bisa ditepis dari wacana Pilkada Banjar. Peraih suara tertinggi untuk caleg DPRD Kalsel ini, dengan mengantongi 51 ribu suara, tak bisa dianggap enteng jika memutuskan maju di Pilkada. Nah, bisa jadi tekad tersebut akan lebih kuat mengingat ‘tahta’ Ketua DPRD Kalsel kabarnya terlepas dari genggamannya lantaran DPP Partai Golkar lebih memilih pengurus harian DPD Golkar Kalsel, H Supian HK sebagai ketua dewan.

Merujuk pada Pilkada Banjar tahun 2015 silam, memang banyak calon yang maju dalam pertarungan. Ketika itu, KPU Banjar menetapkan empat pasang calon bupati dan wakil bupati. Yakni Fauzan Saleh- Teja Sukmana yang maju melalui jalur perseorangan berbekal 53.594 berkas dukungan masyarakat, lalu ada KH Khalillurahman-Saidi Mansyur yang akhirnya menjadi pemenang dengan diusung PKB, PKPI dan Partai Nasional Demokrat. Kemudian ada Gusti Chairiansyah yang didukung enam parpol yakni Gerindra, PDIP, Demokrat, PAN, Hanura dan PKS. Dan pasangan Gusti Abidinsyah-Mawardi Abbas yang diusung Partai Golkar.

Lalu, bagaimana dengan isyarat yang dikatakan Guru Khalil tadi? Maju atau tidak? Tinggal tunggu waktu untuk memastikannya. (rendy)

Reporter: Rendy
Editor: Chell

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

RESMI. Menkes Setujui PSBB di Kapuas, Ini Dasar Pertimbangannya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rapid test di kawasan pasar Kapuas beberapa waktu yang lalu. foto: ags
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. COM, KUALA KAPUAS – Permohonan usulan pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas, Kalimantan Tengah disetujui Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan Nomor HK 01.07/Menkes/339/2020 tentang PSBB di wilayah Kabupaten Kapuas dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 yang ditandatangani Menkes 28 Mei 2020.

Ketua Harian Gugus Tugas P2 Covid-19 Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga membenarkan persetujuan PSBB dari Menkes tersebut.

“PSBB Kapuas telah disetujui kata Sinaga, kita akan rapatkan ini untuk tindak lanjutnya,” ujar Panahatan Sinaga, Kamis (28/5/2020) malam.

Adapun dalam surat keputusan Menkes perihal disetujuinya PSBB di Kabupaten Kapuas atas dasar beberapa pertimbangan. Dalam poin A disebut bahwa data yang ada menunjukkan telah terjadi peningkatan dan penyebaran kasus Covid-19 yang signiflkan dan cepat serta diiringi dengan kejadian transmisi lokal di Kapuas.

Ketua Harian Gugus Tugas P2 Covid-19 Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga. foto: ags

Kemudian pada poin B dikatakan, berdasarkan hasil kajian epidemiologi dan pertimbangan kesiapan daerah dalam aspek sosial, ekonomi, serta aspek lainnya, perlu dilaksanakan PSBB di Kapuas guna menekan penyebaran Covid-19 semakin meluas.

Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf A dan B, perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang penetapan PSBB di Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

Update data terbaru, per Kamis (28/5/2020) pukul 17.00 WIB, sudah 72 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Kapuas. Di antaranya 52 orang dalam perawatan, 9 orang dinyatakan sembuh dan 11 orang meninggal dunia.

Data, 28 Mei 2020 dari 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, Kabupaten Kapuas terbanyak jumlah meninggal dunia yaitu 11 dari 17 kasus kematian.

Kasus positif Covid-19 Kapuas 72 orang, urutan kedua terbanyak di bawah kota Palangka Raya 99 orang. (kanalkalimantan.com/ags)

Reporter : ags
Editor : bie

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Enam Klaster Dominan Penyebaran Covid-19 di Kalsel, dari Gowa hingga Pasar Tradisional!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rapid test yang digelar di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin beberapa waktu lalu Foto: fikri
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kalimantan Selatan yang cukup signifikan tercatat pada Kamis (28/5/2020). Di mana, ada 116 kasus baru positif Covid-19 yang didominasi dari hasil tracing di Kota Banjarmasin. Sehingga, kini tercatat ada 819 kasus positif Covid-19.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (P2) Covid-19 Kalsel Muhamad Muslim mengungkapkan, jajarannya telah memetakan penyebaran Covid-19 di Kalsel. Tercatat ada enam klaster penyebaran Covid-19 di Bumi Lambung Mangkurat. “Paling tidak ada enam klaster yang tercatat,” ungkap Muslim di Banjarbaru, Kamis (28/5/2020) sore.

Jika diurutkan, Muslim mengungkapkan klaster yang menduduki peringkat pertama adalah Klaster Gowa. Di mana, klaster ini menyumbang sedikitnya 137 kasus atau 53,30 persen dari total kasus keseluruhan.

Disusul klaster pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin. Yaitu di Pasar Sudimampir, Pasar Sentra Antasari, Pasar Binjai, Pasar Pekauman yang dilakukan tracing pada pertengahan Mei 2020 lalu.

“Hari ini dilaporkan ada 102 kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 atau 39 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel ini.

Kemudian, klaster-klaster lainnya seperti Klaster Jawa Barat, Klaster Kalimantan Tengah, dan klaster kontak pertama kasus positif Covid-19 di Kalsel.

Sehingga untuk menekan laju penyebaran Covid-19 terutama di pasar-pasar, berbagai upaya dilakukan seperti memberikan edukasi secara masif dan humanis kepada warga pasar agar sadar dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. Terutama, ditargetkan pada pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin.

“Yaitu sebanyak 38 pasar, di mana personel yang diturunkan sebanyak 324 personel yang masing-masing angkatan sebanyak 81 personel dari unsur TNI-Polri dan Satpol PP,” tutur Muslim.

Diharapkan, upaya ini dapat memberikan pemahaman kepada warga pasar baik pedagang maupun pembeli untuk sadar dalam menerapkan protokol kesehatan. Agar pencegahan Covid-19 dapat dilakukan oleh masyarakat. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Epidemiolog: Penerapan New Normal di Indonesia Prematur!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

: Penerapan New Normal mengandung resiko tinggi ledakan Covid-19 jilid II/ilustrasi Foto: suara
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin menilai, rencana penerapan hidup normal baru atau new normal yang dipilih pemerintah terkesan prematur. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus virus corona covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

Ridwan menjelaskan, setiap negara pasti akan memikirkan dua hal, yakni bagaimana menangani covid-19 dan bagaimana roda perekonomian tetap berjalan. Diandaikan sebagai piramida, sebuah negara akan menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan publik, lalu ketika pandeminya sudah dapat dikendalikan, barulah masuk ke konsen ekonomi.

Kalau melihat dari piramida itu, Indonesia justru langsung lompat ke tahap kedua yakni memikirkan menjalankan roda perekonomian meski pandemi covid-19 belum selesai. “Ini Indonesia masih dipuncak bahkan belum mencapai puncak sudah mau implementasi jadi terlalu dini, prematur ini. Jadi ini new normal yang prematur,” kata Ridwan dalam sebuah diskusi publik yang dilakukan secara virtual, Kamis (28/5/2020).

Ia mencontohkan Jepang. Di negeri matahari terbit itu pelonggaran baru dilakukan enam pekan setelah kurva kasus covid-19 dinyatakan sudah menurun. Sedangkan di Indonesia justru hendak melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketika jumlah penularan covid-19 masih tinggi.

Padahal, ada enam kriteria yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bisa digunakan untuk menerapkan new normal. Salah satunya ialah pandemi Covid-19 sudah terkendali di dalam suatu wilayah. Sementara di Indonesia belum bisa dianggap sudah terkendali.

Dengan begitu, ia melihat new normal yang akan diterapkan pemerintah itu akan menimbulkan banyak korban yang berguguran. Ancaman penularan yang masih tinggi itu akan menyasar lingkungan sekolah, mall ataupun tempat-tempat lainnya yang akan mulai beroperasi normal.

“Jatuhnya banyak korban terutama pada anak sekolah kita, pada pengunjung mall, pengunjung pasar yang di mana mereka belum bisa mempraktekkan social distancing.”

Sebelumnya, akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Dr. M. Ahsar Karim memaparkan, dalam kajian permodelan penyebaran Covid-19 berdasarkan perhitungan Matematika juga memprediksi puncak kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan. Baik itu puncak infeksi maupun puncak kematian akibat Covid-19.

Kajian dilakukan dengan estimasi parameter pada permodelan SIR yang mengakomodir kasus kematian pada data dengan didukung beberapa metode. Yaitu, Metode Runge Kutta dan Metode Kuadrat Terkecil Nonlinear.

Dari hasil analisis data dan model diperoleh laju penularan penyakit melalui kontak sebesar 𝛽 = 0.1050, laju kesembuhan dari infeksi penyakit sebesar 𝛾 = 0.0178 dan laju kematian karena terinfeksi sebesar 𝜇 = 0.0128.

Dari set parameter tersebut diperoleh Bilangan Reproduksi Dasar R0 ≈ 3, yang artinya dari 1 orang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan kepada 3 individu lainnya. Sedangkan hasil prediksi menunjukan bahwa kasus terinfeksi dapat mencapai 37,82% dan kematian 0,49 % dari jumlah penduduk yang tetap beraktivitas normal di masa PSBB.

Hal itu diperkirakan terjadi pada pekan ke-2 bulan Agustus hingga pekan ke-1 bulan Oktober 2020 mendatang. Saat itu, kemungkinan terburuknya jutaan warga Kalsel tertular virus mematikan dari Wuhan, China itu. “Puncak infeksi yang kami prediksi, itu dibagi berdasarkan enam skenario,” kata Dr. Ahsar, Rabu (27/5/2020) malam.

Skenario pertama, jika satu persen masyarakat tetap beraktivitas normal seperti biasa dan di dalamnya ada orang yang suspect Covid-19, maka puncak kasus infeksi terjadi di pekan kedua bulan Agustus 2020. Ini didapat berdasarkan data dan model SIR (Suspectable, Infected dan Recovered) yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ahsar.

Kemudian, pada skenario kedua, jika empat persen masyarakat masih beraktivitas normal, diprediksi angkanya menjadi cukup lama dan waktunya cukup lama. Puncaknya akan terjadi di pekan keempat bulan Agustus 2020.

“Demikian seterusnya sampai dengan 80 persen beraktivitas normal dan itu ngeri sekali, kami tidak berani memprediksi jika 100 persen normal,” ungkapnya.

Puncaknya, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal, maka puncak infeksi dari Covid-19 terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020 dengan jumlah yang cukup besar. Atau mencapai 1.283.600 jiwa terpapar Covid-19.

Hal yang sama juga terjadi pada prediksi puncak kematian akibat Covid-19. Di mana, skenario prediksi kematian juga mengikuti skenario prediksi infeksi Covid-19. Di mana, puncak kematian terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal. Atau diprediksi, sebanyak 16.491 jiwa akan meninggal dunia akibat Covid-19. (kanalkalimantan.com/suara/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->