Connect with us

HEADLINE

Menembus ‘Tol Baru’ Poros Awang Bangkal, Banjar-Km 52 Mentewe, Tanah Bumbu (Bagian-1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Megaproyek prestisius jalan ‘tol baru’ Paman Birin cum Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor sepanjang kurang lebih 164,5 Km yang menghubungkan Awang Bangkal di Kabupaten Banjar ke titik Km 52 Mentewe, Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, terus dikerjakan.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Jalan poros Awang Bangkal-Batulicin. Foto : bie
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 Abi Zarrin Al Ghifari, Awang Bangkal-Batulicin.

Beberapa warga mengendarai sepeda motor terlihat melintasi jalan selebar 50 meter lebih yang masih dalam tahap pembangunan tersebut. Mereka berasal dari desa-desa di hulu waduk Riam Kanan seperti Desa Bunglai, dusun Sungai Luar Desa Tiwingan Baru, Desa Apuai, Desa Rantau Bujur serta Desa Rantau Balai. Lima desa tersebut masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar yang berada di pinggiran waduk Riam Kanan.

Selama dua tahun terakhir, sejak jalan poros Awang Bangkal-Batulicin dibuka tahun 2016, warga kampung di hulu waduk PLTA Riam Kanan Kecamatan Aranio lebih banyak melintas di jalur poros Awang Bangkal-Batulicin, ketimbang menggunakan akses jalur air di waduk Riam Kanan. Ya, setelah terbukanya akses jalan poros baru tersebut, desa-desa di kawasan waduk Riam Kanan lebih cepat ke ibukota Kabupaten Banjar, meski tetap harus menempuh jalan menurun dan menanjak belum beraspal -hanya hamparan pengerasan batu-.

Poros jalan Awang Bangkal-Batulicin, adalah akses jalan baru bagian dari pengembangan jalan ‘tol baru’ Banjarbaru-Tanah Bumbu yang mulai dikerjakan sejak 21 Oktober 2016 lalu hingga awal tahun 2019 ini.

“Memang sekarang untuk ke Martapura (Ibukota Kabupaten Banjar) jadi lebih cepat, tapi di musim penghujan seperti saat ini, jalan jadi licin, ada beberapa titik yang jadi lumpur, jadi harus lebih hati-hati,” ucap Baihaqi, warga Rantau Balai, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, kepada Kanalkalimantan.com, ketika berpapasan di jalur poros ‘tol baru’ ini.

“Kalau dulu, naik klotok ke pelabuhan Riam Kanan saja harus makan waktu 2 jam, sekarang 1 jam sudah bisa sampai ke Awang Bangkal, tambah 1 jam lagi sudah sampai ke Martapura,” ujar pria berumur 39 tahun ini.

Memang dari titik 0 di Awang Bangkal ke Rantau Balai hanya berjarak 13 Km, tapi ‘tol baru’ jalan poros Awang Bangkal-Batulicin ini, tak mudah dilintasi. Meski roda empat bisa menembus jalan yang digadang-gadang menjadi pembuka keterisoliran kawasan pelosok di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Bumbu, belum sepenuhnya layak dilalui mobil. Hanya beberapa mobil angkutan milik warga yang berani ‘bertarung’ di jalan poros baru ini. Seperti, diakui Anang Bani, warga Rantau Balai lainnya, mobil miliknya bisa melintas dengan syarat penuh kehati-hatian dan kemahiran menyetir naik turun gunung. “Bila tak mahir membawa mobil ke gunung, dengan rute turun naik ditambah licin saat musim hujan seperti sekarang, jangan coba-coba ke sini,” katanya.

Berbeda ketika musim kemarau atau kering, mengemudikan mobil di jalur poros Awang Bangkal-Batulicin jauh lebih mudah. “Orang biasa pun saat kering, saya rasa bisa masuk ke sini,” sambungnya.

Tapi beberapa mobil angkutan warga seakan tak peduli dengan kondisi basah maupun kering, bagi mereka bisa keluar masuk ke kampung dengan lebih mudah tak menjadi halangan. Kanalkalimantan.com sempat mendapati mobil angkutan umum melintas berpapasan menuju Awang Bangkal. “Yang agak curam itu ada di Sungai Luar, di titik itu ada dua jalur pilihan, satu jalan lama tapi sempit hanya muat satu mobil, sementara jalur baru yang dibuka sangat curam, kondisi saat ini, saya lebih memilih jalur baru, meski lebih memutar,” kata sopir angkutan dari Desa Bunglai.

Beberapa warga yang keluar masuk dengan menggunakan motor roda dua memang lebih banyak melintas, karena jauh lebih mudah ketimbang roda empat. Bahkan ada beberapa warga berboncengan naik sepeda motor menuju aspal terdekat di titik 0 Awang Bangkal. “Harus pelan-pelan saat menanjak atau melewati lumpur atau sungai kecil di bawah jembatan yang belum bisa dilintasi, tapi yang jelas bisa sampai lebih cepat ke Awang Bangkal,” kata Samiun, kepada penulis bercerita.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan siap membangun tiga jembatan untuk menghubungkan jalan bebas hambatan dari Desa Awang Bangkal, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar ke Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu

Kepala Dinas PUPR Provinsi Kalsel, Roy Rizal Anwar mengungkapkan dalam APBD Tahun 2018, telah dimasukkan anggaran untuk pembangunan tiga jembatan yang menghubungkan jalan tol dari Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Bumbu tersebut.

“Dua jembatan didahulukan dengan panjang sekitar 60 meter. Tiap jembatan ini senilai Rp 25 miliar. Berarti totalnya Rp 50 miliar dan bersumber dari APBD murni Kalsel tahun anggaran 2018,” ucap Roy kepada wartawan, Selasa (11/9/2018).

 

Ia menjelaskan untuk pembangunan jembatan yang satunya lagi, dengan bentang panjang lebih dari 100 meter akan dilanjutkan pada anggaran berikutnya. Hal ini dilakukan, karena keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemprov Kalsel.   Proses pembangunan jalan masih berjalan dan dikerjakan atas bantuan TNI. Sebagian jalan sudah dalam tahap pengerasan dan diharapkan bisa cepat selesai.

Pada saat awal pembukaan jalur poros baru pada Sabtu 19 November 2016, Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor ingin mewujudkan pembangunan jalan ‘tol baru’ poros Awang Bangkal-Batulicin sepanjang 164,5 kilometer yang sebagian pembangunannya dilaksanakan oleh TNI.
Menurut Paman Birin kala itu, pembangunan jalan ‘tol baru’ poros Awang Bangkal-Batulicin ini dinilai akan menghemat jarak tempuh yang sebelumnya memakan waktu sampai enam jam menjadi hanya sekitar dua sampai tiga jam. (bie)

Reporter:Bie
Editor:KK

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

HEADLINE

Kalsel Tak Lagi Zona Aman Terorisme, Ulama Perlu Bentengi Anak Muda dari Paham Radikalisme

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Perlu peran ulama dalam memberikan pemahaman ajaran agama yang benar pada anak-anak muda agar tak terpapar radikalisme/ilustrasi. Foto: langgam.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Penyerangan di Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Senin (1/6/2020) dini hari lalu, membuka mata banyak orang! Bahwa ancaman aksi terorisme di Kalimantan Selatan (Kalsel) saat ini bukan ilusi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar didampingi Tim Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban (LPSK)‎,‎ dalam kunjungannya ke Kalsel, Sabtu (6/6/2020) mengatakan, aksi tersebut menjadi kasus pertama penyerangan terbuka oleh jaringan terorisme di Provinsi Kalimantan Selatan!

Mirisnya, aksi teror dilancarkan AR, yang baru berusia 20 tahun. Komjen Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya ingin mendalami secara langsung aksi teror untuk mengkaji bagaimana upaya pencegahan agar terorisme di Kalsel tidak terjadi lagi. Salah satu upayanya ialah melalui pendekatan agama.

“Tersangka aksi teror ini adalah seorang remaja. Itu artinya yang harus kita upayakan adalah bagaimana caranya agar anak-anak muda tidak terpapar paham radikalisme. Kita harus patahkan pemikiran dan pemahaman sesat dengan pendekatan agama,” ujarnya kepada Kanalkalimantan.com.

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar saat datang di Kalsel. Foto: kanalkalimantan/Rico

Aksi teror di Mapolsek Daha Selatan, kata Kepala BNPT, adalah bentuk pelaku menebarkan kebencian tidak pada tempatnya. Untuk itu, BNPT mengajak seluruh alim ulama di Provinsi Kalsel, untuk meluruskan paham-paham ini, agar kasus yang sama tidak terulang.

Ditanya apakah Provinsi Kalsel akan ditetapkan dalam zona merah teroris, Kepala BNPT membantah wacana tersebut. Dirinya mengungkapkan bahwa status di Kalsel hanya ditingkatkan dalam kategori waspada.

“Tidak zona merah. Kita hanya meningkatkan kewaspadaan saja,” tungkasnya. Di sisi lain, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, Hafiz Anshari mengecam aksi teror yang terjadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Dirinya, secara tegas mengatakan bahwa apapun tindakan kekerasan meskipun mengatasnamakan agama, tidak pernah dibenarkan.

“Saya tekankan di agama Islam, bahkan di semua agama, tidak pernah membenarkan tindakan kekerasan. Dengan adanya kasus ini, provinsi Kalsel bukan lagi zona aman dari aksi teror. Jadi ini kewajiban kita semua untuk menanggulanginya,” katanya.

Sebelumnya, dalam suatu acara ‘Bersama Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan’ yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel pada Selasa (31/12/2019), disebutkan bahwa sepanjang 2019, skala masyarakat Kalsel yang terpapar paham radikalisme dan terorisme berada pada angka 55.

Berdasarkan besaran angka yang didapatkan dari hasil riset dan suvei FKPT Kalsel tersebut, maka ancaman tersebut dikatakan masih dalam ambang menengah.

Sekretaris FKPT Kalsel, Mariatul Asiah menyebutkan, skala tersebut berarti paham radikalisme maupun terorisme di Bumi Lambung Mangkurat masih berada pada posisi tengah. “Masih sebatas pemikiran masyarakatnya, tidak ada aksi-aksi radikal yang ditemukan,” katanya ketika itu.

Namun demikian, posisi itu bukan berarti Kalsel yang dikenal kondusif ini dikategorikan aman dari paham-paham tersebut. “Kita harus tetap waspada agar Kalsel yang kondusif ini tetap bisa terjaga, serta yang terpenting bagaimana agar kita selalu mensinergikan semua elemen maupun kelompok masyarakat guna bersama-sama menangkal paham radikalismen dan terorisme,” tuturnya.

Sejauh ini, FKPT Kalsel telah melakukan berbagai upaya guna mencegah paham-paham tersebut supaya tidak tumbuh ataupun mengakar di kalangan masyarakat. Upaya-upaya tersebut dituangkan dalam riset tentang kearifan lokal sebagai daya tangkal berkembangnya paham radikalisme dan terorisme.(Kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

BREAKING NEWS. BNPT: 5 Terduga Teroris terkait Penyerangan Mapolsek Daha Selatan Ditangkap!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kepala BNPT Komjen Baoy Rafli Amar dalam kunjungannya ke Kalsel terkait kasus penyerangan Mapolsek Daha Selatan Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, KANDANGAN– Kasus penyerangan Mapolsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Senin (1/6/2020) dini hari lalu, menjadi perhatian khusus Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar didampingi Tim Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban (LPSK)‎,‎ melakukan kunjungan ke Mapolsek Daha Selatan, Sabtu (6/6) guna melakukan supervisi kasus terorisme yang menyebabkan gugurnya seorang anggota polisi.

Terkait kasus tersebut, Komjen Boy Rafli Amar juga menyampaikan telah melakukan penangkapan beberapa terduga teroris pada Jumat (5/6/2020) di sejumlah lokasi. Dimana penangkapan tersebut masih terakait dengan aksi penyerangan di Polsek Daha Selatan yang dilakukan oleh AR, warga lokal yang mengaku sebagai simpatisan ISIS.

Komjen Boy mengatakan, penangkapan tersebut hasil pengembangan pemeriksaan yang dilakukan penyidik. Semuanya dirunut dari awal adanya kegiatan perencanaan penyerangan Mapolsek Daha Selatan, hingga bantuan yang dilakukan sejumlah pihak. Diduga dari mereka yang diamankan adanya unsur perbantuan terhadap AR yang tewas usai melakukan aksinya tersebut.

“Ada lima orang yang telah diamankan dan saat ini dalam pemeriksaan pihak kepolisian, unsur perbantuan ini diberikan malam hari kepada pelaku sebelum kemudian melakukan penyerangan,” kata Komjen Boy, ditemui wartawan saat kunjungan ke Kecamatan Daha Selatan.

“Pemeriksaan kepada rekan-rekan tersangka masih kita lakukan. Termasuk kita juga mendalami waktu dan hari terjadinya aksi teror itu, yang mana bertepatan dengan hari lahir Pancasila,” tambahnya.

Terkait profil pelaku aksi teror yang mengklaim dirinya terafiliasi jaringan ISIS, Kepala BNPT belum banyak berkomentar. Namun, yang jelas dirinya membenarkan bahwa pelaku AR memang terafiliasi jaringan terorisme.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Kalsel, Kombes Pol Mochamad Rifa’i, mengungkapkan bahwa 4 hingga 5 orang yang diamankan tersebut, tersebar di wilayah Provinsi Kalsel. “Kemungkinan jumlahnya akan bertambah,” tuturnya.

Sebelumnya, penyerangan Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) diduga dilakukan oleh AR yang terindikasi jaringan ISIS. Dalam keterangan resminya pada Senin (1/6/2020) siang, Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Moch Rifa’i membeberkan kronologi penyerangan Mapolsek Daha Selatan yang mengakibatkan satu personel bernama Brigadir Leonardo Latupapua (30) gugur dalam tugas.

Sekitar pukul 02.15 Wita Bripda M Azmi mendengar keributan di ruang SPKT, pada saat itu posisi Bripda M Azmi berada di ruangan unit reskrim. Kemudian mendatangi ke ruangan SPKT dan melihat keadaan Brigadir Leonardo Latupapua sudah mengalami luka bacok, kemudian Bripda M Azmi mendatangi Kanit Intel Brigadir Djoman Sahat Manik Raja untuk meminta pertolongan dan bersama sama mendatangi ruang SPKT.

“Kemudian OTK tersebut mengejar kedua anggota yang mendatangi ruang SPKT tersebut dengan sajam jenis samurai yang sudah terhunus,” kata Kombes Rifa’i.

Lebih lanjut ia menjelaskan, anggota yang dikejar tersebut lari ke ruang Intel dan Binmas serta mengunci ruangan dari dalam sambil meminta bantuan menelpon ke Polres Hulu Sungai Selatan. Selanjutnya, OTK tersebut bersembunyi di ruangan unit Reskrim, hingga bantuan dari Polres HSS datang, OTK tersebut tidak mau menyerah.

Sehingga aparat kepolisian mau tidak mau mengambil tindakan tegas dan terukur terhadap OTK tersebut dengan menghadiahkan tembakan, hingga akhirnya dinyatakan tewas saat dirujuk ke RSUD Hasan Basry Kandangan.

“Atas kejadian tersebut Kapolri Jenderal Pol Idham Azis turut berbelasungkawa dan memberikan santunan kepada keluarga korban Brigadir Leonardo Latupapua dan menaikan pangkat setingkat lebih tinggi kepada korban.

Di samping itu Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta juga mengunjungi RSUD Hasan Basry Kandangan dan mengunjungi rumah almarhum dan memberikan santunan kepada keluarganya,” tutur Kombes Rifa’i.

Kombes Rifa’i menambahkan, selain melakukan olah TKP, aparat kepolisian juga mengamankan beberapa barang bukti. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Konflik Satwa Liar dan Manusia, Bekantan Masih Menjadi yang Utama

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Koloni bekantan Tanjung Pedada Tua, suaka margasatwa Kuala Lupak. Foto: BKSDA via bksdakalsel.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Konflik antara manusia dan satwa liar menjadi ancaman yang mengakibatkan menurunnya populasi beberapa jenis satwa liar. Konflik melibatkan perebutan sumberdaya yang terbatas antara manusia dan satwa liar pada suatu daerah, menyebabkan kerugian bagi satwa liar atau manusia tersebut.

Konflik tersebut terjadi akibat perubahan hutan menjadi kawasan produktif seperti pemukiman, pertanian, perkebunan, dan industri kehutanan. Hal itu menyebabkan berkurangnya kantong populasi dan mempersempit luasan area jelajah satwa liar. Konflik juga terjadi akibat perburuan berlebihan terhadap satwa liar.

Kalimantan Selatan sendiri mencatat data cukup besar akan konflik satwa liar dan manusia yang terjadi. Bekantan menjadi satwa liar yang paling sering berkonflik dengan manusia di wilayah Kalimantan Selatan.

Bekantan merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Penyempitan wilayah habitat utama bekantan dan perluasan wilayah permukiman, perkebunan dan tambang menjadi faktor utama penyebabnya.

Berbicara dengan Kanalkalimantan.com kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel Dr Ir Mahrus Aryadi MSc menyampaikan konflik manusia dan bekantan yang terjadi di Kalsel sebagian besar terjadi di lokasi dimana habitat bekantan sebagian besar sudah tidak kompak (terfragmentasi) dan beralihfungsi menjadi berbagai bentuk pemanfaatan lain.

Data sampai bulan Juni 2020 tercatat, ada 6 kasus bekantan yang keluar habitat dan masuk wilayah manusia. Enam kasus terjadi di Balangan, Sengayam (Tanah Bumbu), Banjarmasin (dua kasus), dan Tanah Laut (dua kasus).

“Beragam faktor yang memaksa bekantan keluar habitat.  Faktor-faktor tersebut antara lain perkebunan, tambang, pembangunan (pemukiman, kantor dan lain-lain). BKSDA Kalsel telah mengambil langkah strategis, baik yang bersifat preventif maupun kuratif,” ungkapnya.

Kawasan Hutan Mangrove Suaka Marga Satwa Kuala Lupak. Foto: BKSDA via bksdakalsel.com

Mitigasi Konflik dan Penyadaraan Masyarakat

Menurut Mahrus, persoalan konflik manusia dan satwa liar (bekantan) merupakan persoalan yang multi sektoral dan multilanskap.

BKSDA Kalsel telah mengambil langkah strategis, baik yang bersifat preventif maupun kuratif.

Langkah preventif antara lain:

– Mengintensifkan perlindungan habitat bekantan di Kawasan konservasi melalui patrol kawasan dan monitoring populasi bekantan.

– kerjasama multipihak dengan instansi lain (Dinas Kehutanan, Pemprov/Pemda, swasta) untuk mengalokasikan lahan di luar kawasan konservasi sebagai kawasan ekosistem esensial (KEE) yang salah satu fungsinya untuk habitat bekantan. KEE yang sudah ada: lahan di desa Panjaratan Tanah Laut,  KEE Kuala Lupak, Barito Kuala.

– Sosialisasi melalui berbagai media, Website, Sosmed (FB, IG, Twiter), Poster, spanduk dll, untuk menyadarkan masyarakat agar turut berperan dalam pelestarian bekantan.

Kuratif:

– Melakukan penyelamatan bekantan yang terlibat konflik oleh tim Satgas BKSDA Kalsel

– Penegakan hukum terhadap tindakan ilegal terhadap satwa liar dilindungi bekerjasama dengan aparat penegak hokum Polda dan Polres  (banyak kasus yang sudah berhasil diungkap).

Lebih lanjut Mahrus mengatakan “Persoalan konflik manusia dan satwa liar (bekantan) merupakan persoalan yang multi sektoral dan multilanskap. Artinya pemecahan permasalahan konflik bekantan dan manusia harus melibatkan banyak instansi karena cakupannya tidak mengenal batas administrasi. Konflik satwa bukan hanya urusannya BKSDA Kalsel/KLHK saja tapi perlu dukungan pihak/instansi lain”

Sebagian besar habitat bekantan (60% lebih) berada di luar kawasan konservasi, yang kewenangannya berada di Pemprov/Pemda. Untuk itu peran multipihak sangat diharapkan dalam mencegah dan mengurangi konflik di masa depan.

“Kedepan kami BKSDA Kalsel, sebagai kepanjangan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang ada di daerah berharap pihak-pihak terkait mau untuk memikirkan masa depan bekantan yang ada di luar kawasan konservasi. Peran yang diharapkan adalah dengan melindungi habitat yang saat ini masih ada. Habitat-habitat ini agar ditetapkan dalam RTRW Pemprov/Pemda sebagai areal lindung yang tidak boleh dibuka,” pungkas Mahrus. (kanalkalimantan.com/andy)

 

Reporter : Andy
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->