Connect with us

KOLOM MAHASISWA

Mengenal Larutan Isotonik dan Pengaruhnya pada Tubuh Kita

Diterbitkan

pada

Minuman isotonik bisa berbahaya jika diminum terlalu sering Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Masyarakat sudah mengenal istilah larutan isotonik sejak lama. Saat ini pun banyak berkembang minuman yang mengandung larutan isotonik di dalam kemasan yang biasanya disebut minuman elektrolit atau ion. Isotonik yang mulai digemari banyak orang, biasanya dikonsumsi oleh mereka yang memiliki banyak aktivitas. Orang mengenalnya sebagai minuman pemulih atau penjaga stamina. Sedangkan atlet atau dokter menyebutnya dengan istilah isotonik.isotonik, minuman, kesehatan, kimia, FMIPA, ULM, kanalkalimantan
———————–
Oleh: Nafisah, Siti Indah Sulistyaningsih, dan Azidi Irwan.
(Mahasiswa dan dosen program studi kimia FMIPA ULM)
—————
Selama ini orang hanya mengenal minuman isotonik sebagai pengganti cairan, namun sebenarnya ada dua jenis minuman lain yang memiliki fungsi sama, yaitu hipotonik dan hipertonik. Bedanya adalah pada sasaran penggunanya. Sebagai awalnya, mari kita cari tahu mengenai larutan isotonik itu sendiri.

Larutan isotonik merupakan larutan yang mirip dengan larutan fisiologis manusia yang bisa menggantikan cairan di dalam tubuh. Larutan isotonik mengandung elektrolit dan karbohidrat sebesar 6-8%, osmolalitasnya sama dengan darah. Itu sebabnya, minuman isotonik cenderung lebih cepat diserap oleh tubuh dibanding jenis lainnya.

Larutan isotonik adalah suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) seperti larutan yang lain, sehingga tidak ada pergerakan air. Gerakan bersih molekul pelarut melewati membran semi permeabel dari pelarut murni atau dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat disebut osmosis. Tekanan osmotik (Ï€) suatu larutan adalah tekanan yang diperlukan untuk menghentikan osmosis. Jika osmosis berhenti, aliran molekul pelarut tetap berlangsung, tetapi laju mengalir molekul dari kedua arah adalah sama.

Larutan isotonik dengan larutan pada sel tidak melibatkan pergerakan jaringan molekul yang melewati membran biologis. Larutan-larutan yang tersisa dalam kesetimbangan osmotik yang berhubungan dengan membran biologis tertentu disebut isotonik. Larutan iso-osmotik (isotonik) yang tidak melibatkan pergerakan jaringan molekul ketika dipisahkan oleh membran semipermeabel.

Sebuah larutan yang mempunyai konsentrasi garam yang sama contohnya sel-sel tubuh yang normal dan darah. Hal ini juga berbeda dengan larutan hipertonik ataupun larutan hipotonik. Minuman isotonik dapat diminum untuk menggantikan fluida dan mineral yang digunakan tubuh selama aktivitas fisik.
Dibalik kesegarannya, larutan isotonik harus dikonsumsi secara hati-hati dan tidak boleh dikonsumsi secara sembarangan. Larutan isotonik sangat baik dikonsumsi untuk orang yang mengalami dehidrasi ringan atau orang yang suka melakukan olahraga berat yang mengalami banyak kehilangan cairan dan elektrolit.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, isotonik memang mengandung natrium, kalium, magnesium, hingga elektrolit yang akan dengan mudah diserap oleh tubuh. Karena kandungannya tersebut, minuman ini sangat baik dikonsumsi untuk orang yang suka melakukan olahraga berat. Namun, jika orang mengonsumsi minuman ini terlalu sering tanpa melakukan aktivitas olahraga, akan sangat berbahaya untuk kesehatan. Isotonik tidak bisa dikonsumsi sembarangan karena minuman ini mengandung garam natrium (NaCl).

Kandungan dalam minuman isotonik adalah elektrolit (Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl), sedangkan kandungan gula cukup rendah hanya 6%-7% per 100 mL-nya (rata-rata= kurang lebih 26 kkal/100 mL, kebutuhan orang dewasa = kurang lebih 2.100 kkal/ hari). Gula dalam hal ini dibutuhkan untuk membantu mempercepat penyerapan elektrolit dan sudah tentu kandungan yang terbanyak adalah air. Komposisi isotonik 98 % berupa air. Dua persen lainnya berupa ion natrium klorida, kalium fosfat, magnesium sitrat, dan kalsium laktat. Fungsi ion-ion ini dapat mengganti elektrolit tubuh yang hilang.

Larutan isotonik bisa didapatkan dari bahan-bahan alami di sekitar kita, contohnya air kelapa sebagai minuman pengganti elektrolit. Air kelapa menyegarkan dan mengandung kalium tingkat tinggi. Ini juga mengandung elektrolit penting lainnya dan merupakan cara alami untuk mengisi kembali mineral yang hilang. Contoh lainnya, air garam yang membantu menjaga tubuhmu bermuatan listrik dan mengandung mineral seperti natrium, kalium, magnesium dan kalsium. Garam adalah bahan aktif yang akan mengisi elektrolit yang hilang dalam tubuh. Natrium adalah elektrolit yang hilang saat kamu berkeringat. Dan lain-lainnya seperti minuman jahe, jus semangka, garam dan air gula, dan minuman mentimun.

Air kelapa dipercaya sebagai tambang emas gizi di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan, air kelapa adalah minuman yang penuh elektrolit alami. Di dalamnya ada beberapa komponen mineral yang gizinya sangat luar biasa. Bahkan air kelapa disebut-sebut sebagai minuman isotonik terbaik di dunia. Air kelapa adalah minuman isotonik alami yang mengandung elektrolit kalsium, magnesium, fosfor, natrium dan kalium. Minuman ini bisa digunakan untuk rehidrasi seluruh tubuh setelah olahraga. minuman kesehatan yang rendah lemak, tanpa aditif buatan, atau pemanis, bebas kolesterol, 99 % bebas lemak, rendah karbohidrat, dan rendah gula.

Larutan isotonik memberikan manfaat yang baik bagi tubuh. Jika Anda berolahraga lebih dari satu jam, mengonsumsi minuman elektrolit lebih bermanfaat dalam memulihkan kembali kadar air serta elektrolit dalam tubuh. Saat terjadi kekurangan elektrolit, diperlukan minuman yang mengandung elektrolit agar kadarnya di dalam tubuh bisa kembali normal, sekaligus juga memulihkan energi. Beberapa produk minuman elektrolit mengandung sodium, potasium, dan karbohidrat yang dibutuhkan saat olahraga. Elektrolit dalam minuman tersebut dapat menggantikan elektrolit yang keluar dari keringat, sedangkan kandungan karbohidratnya akan memberi energi tambahan.

Meminum larutan isotonik terlalu banyak akan membuat garam masuk secara berlebihan ke dalam tubuh tanpa adanya aktivitas yang berat sehingga menimbulkan akan berdampak negatif bagi tubuh. Seperti menyebabkan tekanan darah tinggi karena isotonik mengandung kadar garam natrium (NaCl) yang cukup tinggi sehingga efek minuman isotonik dapat muncul sewaktu-waktu jika minuman isotonik digunakan sebagai minuman sehari hari. Penggunaan sehari-hari dapat menyebabkan penyumbatan aliran darah yang memicu tekanan darah menjadi naik. Kondisi ini bisa mengakibatkan serangan stroke mendadak bagi seseorang yang memiliki kadar kolesterol tinggi didalam tubuhnya.

Larutan isotonik yang diminum secara berlebihan bisa menyebabkan terhambatnya fungsi organ pada tubuh, seperti gangguan ginjal dan kelainan jantung. Ginjal dapat bermasalah karena zat garam natrium (NaCl) yang terkandung di dalamnya maka ginjal tidak akan mudah menyerapnya. Untuk bisa menyerapnya maka ginjal dipaksa untuk membuang kelebihan natrium dalam jumlah besar yang tidak lagi bermanfaat bagi tubuh.

Kelainanjantung disebabkan karena di dalam minuman isotonik selain terdapat garam natrium (NaCl) cukup tinggi yang ternyata terdapat pula kalori sebesar 500 ml dan kandungan kafein. Dimana ketiga zat tersebut bisa menyumbat dan mengganggu kelancaran fungsi pembuluh darah menuju jantung. Akibatnya, menyebabkan efek minuman isotonik tak dapat dihindari yaitu berupa detak jantung menjadi tidak beraturan, jantung kehilangan kemampuannya dalam memompa darah untuk disebarkan ke seluruh tubuh.(*)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kepala Cyber Kanal Kalimantan

Advertisement

KOLOM MAHASISWA

Awas, Waspada Dampak Negatif Styrofoam bagi Kesehatan!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

penggunaan styrofoam untuk pembungkus makanan bisa membahayakan kesehatan Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Styrofoam memiliki nama lain polystrene adalah hidrokarbon cair yang dibuat secara komersial dari minyak bumi. Polystrene pertama kali ditemukan oleh Eduard Simon, seorang ilmuwan Jerman pada tahun 1839. Pada suhu normal umumnya bersifat padat, namun dapat bersifat cair pada suhu yang lebih tinggi dan merupakan salah satu jenis plastik golongan 6.
—————
Oleh: Raida Aulia, Henny Amelia, Muna Masyu Abbas, dan Azidi Irwan
(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Kimia FMIPA ULM)
—————–
Styrofoam adalah plastik yang terbuat dari busa atau polystrene ekstruksi sel tertutup (XPS) atau biasa disebut “Blue Board”. Styrofoam terbuat dari monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk pelunakkan resin dan menguapkan sisa blowing agent.
Lembaga kesehatan dunia (WHO), Internatonal Agency for Research on Cancer dan EPA(Enfiromental Protection Agency) telah mengkategorikan styrofoam sebagai bahan karsinogen. Pada plastik berbahan polysterene juga mengandung formalin(zat pengawet mayat). Bahan dasar yang digunakan adalah 90-95% polistirena dan 5-10% gas seperti butana dan pentana.

Polistirena umumnya berwarna putih, bersifat ringan, kaku, rapuh, tahan air, dan tembus cahaya. Pada masyarakat awam lebih dikenal dengan sebutan gabus atau busa, dan biasanya digunakan sebagai pengganjal alat-alat elektronik seperti kulkas, televisi, mesin cuci, dan lainnya maupun pembungkus bahan pangan. Hal ini didasarkan pada keunggulannya yang praktis, murah, dan tahan lama sehingga menjadi daya tarik pemakaian styrofoam.

Namun tanpa disadari dibalik kelebihan dari penggunaan styrofoam juga terdapat dampak negatif bagi kesehatan. Hal ini karena styrofoasm mengandung benzena dan stirena yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Badan kesehatan dunia, World Health Organization menyatakan”benzena adalah zat kimia yang bersifat karsinogenik atau menyebabkan tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh”. Sedangkan fakta untuk stirena tidak jauh berbeda dengan benzena karena zat ini juga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Styrofoam berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan secara terus-menerus dan dalam jangka panjang. Bahaya styrofoam berasal dari kontaminasi stirena ke dalam makanan terutama makanan panas dan berkuah. Perpindahan zat kimia ini didasari beberapa faktor, diantaranya suhu makanan, lama kontak dengan makanan, dan tingginya lemak makanan.

Apabila styrofoam digunakan sebagai wadah makanan dalam keaadaan panas maka perpindahan stirena ke dalam makanan akan semakin mudah dan sangat cepat. Oleh karena itu hindari penggunaan styrofoam untuk makan dalam keadaan panas. Lamannya kontak makanan dengan styrofoam juga berbahaya bagi kesehatan karena zat stirena yang melekat pada makanan akan memicu penyakit berbahaya.

Tingginya kandungan lemak akan menyebabkan kontaminasi stirena lebih banyak dibandingkan dengan makanan yang lemaknya sedikit. Walaupun demikian, baik makanan berlemak tinggi maupun rendah apabila sudah terkontaminasi dengan zat stirena akan berbahaya bagi kesehatan.

Kontaminasi zat stirena

Bahaya styrofoam disebabkan oleh perpindahan zat kimia yang ada di dala m styrofoam ke makanan atau minuman yang dikonsumsi. Disamping dapat memicu tumbuhnya sel kanker, zat stirena juga berpotensi menyebabkan insomnia, sakit kepala, sakit ginjal, gangguan pada sistem saraf, mempercepat detak jantung, meningkatkan risiko leukimia dan limfomia, mengganggu siklus mensrtuasi, serta dapat menghambat perkembangan dan pertumbuhan janin bahkan menyebabkan cacat pada bayi.

Akan tetapi gangguan kesehatan tersebut masih bisa dicegah dengan tidak menggunakan styrofoam secara berulang atau digunakan hanya untuk sekali pakai, hindari penggunaan styrofoam untuk makanan panas, hindari kontak langsung dengan styrofoam menggunakan kertas nasi sebagai alas terhadap styrofoam, serta menghindari penggunaan styrofoam pada makanan berminyak dan berlemak.

Melihat dari banyaknya bahaya dibalik penggunaan styrofoam, tentu saja kita setuju bahwa wadah ini buka lagi pilihan tepat untuk kemasan pangan terutama makanan panas dan basah. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak lama melarang penggunaan styrofoam untuk kemasan pangan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Namun, masih banyak negara yang belum menyadari terhadap bahaya yang ditimbulkan dari zat stirena apabila masuk ke dalam tubuh, sehingga mereka masih menggunakannya sebagai wadah makanan, salah satu contohnya adalah negara Indonesia. Lalu kemasan apa yang aman dan dapat dijadikaan alternatif untuk tempat makanan?

Berikut adalah jenis tempat makanan atau minuman yang aman digunakan sebagai alternatif pengganti styrofoam yaitu tempat makan berbahan kaca, plastik yang tidak mengandung polistirena, kayu, tembikar, stainles steel, keramik, dan sebagainya yang bisa digunakan berulang kali.(*)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

KOLOM MAHASISWA

Bahaya Zat Kimia Formalin dalam Makanan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Saat ini di pasaran masih banyak terdapat bahan-bahan tambahan makanan berbahaya pada sejumlah produk pangan olahan industri rumah tangga dan industri kecil. Hal itu terjadi karena kurangnya wawasan pengusaha terhadap keamanan pangan (food safety). Banyak contoh pelanggaran telah terjadi di lapangan, sebagai wujud ketidaktahuan akan resiko bahaya yang tersembunyi di balik tindakan tersebut.
————-
Oleh: Afiah Misfir, Muhammad Sauqi Ridhoni, dan Azidi Irwan
(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Kimia FMIPA ULM).
————-
Seorang pedagang ikan asin menyemprotkan obat pembasmi serangga ke dagangannya dengan tujuan agar dagangannya tidak dikerubungi lalat. Akhirnya, zat beracun obat nyamuk tersebut malahan menempel pada ikan asinnya.

Praktisi di Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) beberapa kali menemukan produk-produk seperti sirup, mie, tahu, bakso mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, seperti : pengawet berbahaya (benzoat, formalin), pengenyal berbahaya (boraks), pewarna berbahaya (Rhodamin-B, Methanyl Yellow), Pemanis buatan (aspartame, sorbitol, dll.) dan bahan tambahan lain dengan dosis yang berlebihan.

Secara kasat mata memang agak sulit untuk menentukan apakah produk pangan olahan yang ditemukan mengandung bahan-bahan kimia berbahaya atau tidak. Apalagi bila dosisnya sangat sedikit. Akan tetapi, apabila dosisnya cukup banyak, maka kita bisa mengetahuinya dari penampilan luar yang nampak nyata (penampilan visual).

Bahan kimia yang digunakan sebagai tambahan makanan yang dikategorikan berbahaya di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, pengawet berbahaya yang biasanya terdapat dalam bentuk formalin, benzoat (bila terlalu banyak). Kedua, pewarna berbahaya yang biasanya terdapat dalam bentuk pewarna merah Rhodamin-B, pewarna kuning Methanyl Yellow. Ketiga, pemanis buatan (yang berlebihan) yang biasanya terdapat dalam bentuk natrium (sodium), saccharine (sakarin), Na-Cycla-mate (siklamat), aspartame, sorbitol. Keempat, pengenyal (bakso) berbahaya yang biasanya dalam bentuk boraks.

Nah,salah satu bahan kimia yang akan kita bahas disini adalah formalin. Formalin adalah nama populer dari zat kimia formaldehida yang dicampur dengan air. Larutan formalin tidak berwarna, berbau menyengat, larut dalam air dan alkohol. Larutan formalin mengandung 37% formalin gas dan methanol. Formalin biasanya digunakan sebagai pengawet mayat, disinfektan, antiseptik, anti jamur, fiksasi jaringan, industri tekstil dan kayu lapis, juga sebagai germisida dan fungisida (pada tanaman/sayuran), sebagai pembasmi lalat dan serangga lainnya. Formalin sering dipakai untuk mengawetkan produk mie basah, tahu, dan ikan segar ini biasanya disebut sebagai suatu penyimpangan.

Makanan yang mengandung formalin tentu akan berdampak buruk bagi kesehatan. Apalagi sangat sulit untuk mengetahui sebuah makanan mengandung formalin atau tidak karena formalin tidak berwarna. Karena itulah, formalin sangat mudah dicampurkan ke beberapa makanan seperti bakso, ikan, ayam dan lain-lain.

Senyawa berbahaya bila dikonsumsi ini merupakan pengawet mayat, pembunuh hama, dan bahan disinfektan dalam industri plastik. Formalin memiliki efek toksik yang sangat tinggi dan bersifat karsinogenik. Di dalam formalin terkandung 37% formaldehid dalam air, dan bila digunakan untuk mengawetkan, ditambahkan metanol hingga 15%. Bila bahan-bahan ini masuk ke dalam tubuh manusia, maka akan berakibat fatal.

Berbagai penyakit akut maupun kronis akan menyerang tubuh. Ciri makanan mengandung formalin wajib diketahui agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan. Harganya yang cenderung lebih murah daripada pengawet makanan yang diperbolehkan, membuat beberapa pedagang lebih memilih formalin untuk menghemat pengeluarannya.

Selain makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ada juga bumbu dapur yang mengandung bahan pengawet seperti formalin, yaitu gula merah. Gula merah yang biasanya memiliki warna yang agak gelap, agak meleleh, dan lembek, bila diberi formalin akan berwarna lebih terang, bentuknya padat, dan kering.

Jadi dengan mengetahui beberapa ciri makanan yang mengandung formalin, kamu bisa memilih dengan lebih cermat dan terhindar dari bahaya formalin. Formalin adalah bahan kimia yang larut dalam air dan sangat cepat diproses oleh tubuh ketika Anda menghirup atau menelannya. Bahkan, paparan dalam jumlah yang sangat kecil saja dapat diserap melalui kulit.

Dampak Formalin

Berikut beberapa bahaya formalin bagi kesehatan yang perlu Anda waspadai. Pertama, menghirup udara yang terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya ini dapat menyebabkan saluran pernapasan anda teriritasi. Akibatnya bisa mengalami berbagai gejala, seperti batuk-batuk, radang tenggorokan, nyeri dada, dan mengi.

Jika sebelumnya sudah memiliki riwayat penyakit asma dan bronkitis, lebih mungkin mengalami kekambuhan ketika menghirup senyawa ini. Paparan senyawa ini dalam jangka pendek yang didapat melalui udara juga dapat menyebabkan iritasi pada rongga mata, hidung, dan tenggorokan. Sementara itu, paparan dalam jangka waktu lama atau bersifat kronis dapat menyebabkan luka parah di paru-paru.

Kedua, pada sistem pencernaan formalin adalah salah satu bahan kimia yang sering digunakan untuk mengawetkan makanan. Padahal, senyawa satu ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Ya, mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia ini dalam jangka panjang dapat merusak saluran pencernaan. Hal ini dapat menyebabkan sakit perut hebat, diare, serta peradangan di mulut, kerongkongan, lambung, dan usus.

Bahan kimia satu ini juga dapat menyebabkan perdarahan di lambung atau usus, kerusakan pada hati, limpa, pankreas, dan ginjal. Dalam kasus yang parah, bahan kimia satu ini juga dapat menyebabkan koma hingga kematian.

Ketiga, pada kulit paparan jangka pendek pada kulit dapat menyebabkan gatal, iritasi, dan kulit terbakar. Pada orang yang alergi dengan formalin, paparan rendah untuk waktu yang sebentar saja dapat memicu iritasi kulit parah yang ditandai dengan kemunculan ruam, kulit kering, dan dermatitis. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan jaringan perut.

Cara mengurangi dampak dari formalin seperti yang sudah dijelaskan, formalin banyak terkandung dalam produk-produk rumah tangga. Anda mungkin tidak dapat benar-benar menghindari paparan zat kimia satu ini. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mengurangi paparan formalin di rumah, yaitu: memastikan rumah memiliki ventilasi udara yang baik sehingga udara bisa keluar masuk dengan lancer, menjaga kadar kelembapan udara di rumah dengan menggunakan humidifier atau AC, hindari merokok di dalam rumah, selalu cuci tangan sampai bersih setelah menggunakan produk pembersih atau insektisida, pilihlah produk pangan yang segar.

Hindari memilih makanan yang berwarna mencolok, bertekstur kenyal, tidak mudah hancur, dan tidak mudah busuk, cuci buah dan sayur sampai benar-benar bersih dan cara yang terakhir masaklah makanan Anda dengan cara yang baik dan matang secara sempurna.(*)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

KOLOM MAHASISWA

Plastik dan Tantangan Problem Lingkungan ke Depan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Plastik menjadi problem lingkungan yang saat ini dihadapi Foto: net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Plastik adalah jenis makromolekul yang dibentuk dengan proses polimerisasi, yaitu penggabungan beberapa molekul sederhana (monomer) melalui proses kimia menjadi molekul besar yang disebut dengan polimer. Plastik merupakan senyawa polimer yang unsur penyusun utamanya adalah karbon dan hidrogen. Saat ini, plastik menjadi problem utama lingkungan!
———————–
Oleh: Ikhsan Mustari, Nina Noviyanti, Risaldi Ridwan dan Azidi Irwan.
(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Kimia FMIPA ULM Banjarbaru)
————————
Untuk membuat plastik, salah satu bahan baku yang sering digunakan adalah naphta, yaitu bahan yang dihasilkan dari penyulingan minyak bumi atau gas alam. Sebagai gambaran, untuk membuat 1 kg plastik memerlukan 1,75 kg minyak bumi, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya maupun kebutuhan energi prosesnya. Umumnya sampah plastik memiliki komposisi 46% polyethylene (HDPE dan LDPE), 16% polypropylen (PP), 16% polystyrene (PS), 7% polyvinyl chloride (PVC), 5% polyethylene terephthalate (PET), 5% acrylonitrile-butadiene-styrene (ABS), dan 5% polimer-polimer yang lainnya.

Awalnya, kantong plastik digunakan untuk mengganti penggunaan kantong kertas yang pembuatannya memerlukan banyak energi dan tidak ramah lingkungan. Pada tahun 1959, Sten Gustaf di Swedia menciptakan kantong plastik dengan maksud untuk menyelamatkan bumi karena penggunaan kantong kertas memerlukan bahan baku berupa kayu pohon.

Hal ini mengakibatkan gundulnya hutan karena diperlukan bahan baku kayu yang banyak untuk memenuhi kebutuhan kantong kertas yang semakin menigkat. Sten Gustaf bermaksud menciptakan kantong plastik yang kuat dan tahan lama agar dapat dipakai berkali-kali.

Namun pada kenyataannya, masyarakat sekarang menggunakan kantong plastik untuk sekali pakai dan membuangnya begitu saja. Hal ini menimbulkan masalah yang baru lagi, dimana kantong plastik yang sulit terurai di lingkungan pada ujungnya akan mencemari lingkungan.

Zaman semakin maju, jenis-jenis plastik pun semakin banyak ditemukan dan menjadi kebutuhan utama manusia. Kini masyarakat hampir mustahil untuk bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap plastik ini. Mulai dari perabotan rumah tangga hingga kemasan dari produk-produk hasil industri, sebagian besar semuanya menggunakan plastik.

Padahal di zaman dahulu, manusia bisa hidup tanpa plastik sama sekali. Namun, ditemukannya plastik dan jenis-jenis plastik lainnya, hingga ketergantungan manusia terhadapnya bukan menjadi sumber permasalahan utama. Pada akhirnya, pola hidup manusia yang tak memikirkan dampak atas perbuatannya lah yang menghancurkan masa depan bumi sebagai lingkungan tempat tinggal manusia itu sendiri.

Menurut salah satu badan penelitian mengatakan bahwa setiap hari masyarakat ketergantungan terhadap plastik semakin tinggi, namun bahaya yang timbulkannya kurang disadari oleh masyarakat. Penggunaan bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari tidak perlu dikhawatirkan jika kita tau cara penggunannya. Plastik yang aman untuk digunakan pada suhu tertentu dan minyak/lemak untuk kemasan makanan adalah plastik yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun, tidak semua produk kemasan plastik memenuhi standar SNI. Maka dari itu kita harus lebih teliti untuk memasukan makanan atau minuman panas ke dalam plastik.

Beberapa bahaya yang ditimbulkan plastik bagi kesehatan tubuh, pertama dapat menyebabkan kanker yang mana plastik mengalami penguraian sebagai dioksin di lingkungan, kemudian terbawa gas dan ikut masuk ke dalam rantai makanan yang berujung kepada manusia.

Kedua menganggu sistem saraf, plastik yang telah terurai di lingkungan menjadi dioksin yang jika terhirup oleh manusia menyebabkan kerusakan sistem saraf berimbas pada kinerja organ dalam lain. Selain itu, juga menyebabkan gangguan reproduksi dimana bahan kimia yang terkandung dalam plastik masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang kita makan dan yang terakhir dapat menyebabkan radang paru-paru.

Selain menganggu kesehatan tubuh ternyata plastik juga menggangu ekosistem lingkungan, seperti pembuangan plastik yang tidak pada tempatnya dapat menyumbat aliran seperti sungai sehingga menyebabkan terjadinya banjir. Plastik yang tertimbun di dalam tanah susah untuk dihancurkan oleh tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah, selain itu pembuangan sampah plastik di laut dapat menganggu kehidupan hewan di laut dan menjerat hewan tersebut. Bahan kimia yang terkandung dalam plastik dapat juga menyebabkan pencemaran air, dan yang terakhir plastik yang dibuang sembarangan seperti ke sungai atau laut maka hewan yang tinggal di laut akan makan plastik tersebut dan meracuni hewan.

Umumnya proses terurai sampah plastik berlangsung sangat lambat, diperlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun agar plastik terdegradasi menjadi butiran atau puing-puing plastik melalui berbagai proses fisik, kimiawi, maupun biologis. Plastik yang terdegradasi menjadi butiran-butiran plastik yang sering disebut dengan mikroplastik.

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya berukuran kurang dari 5 mm. Mikroplastik berdasarkan ukurannya terbagi lagi menjadi dua, yaitu ukuran besar (1-5 mm) dan ukuran kecil (<1 mm). Morfologi mikroplastik secara luas digolongkan menurut ukuran, bentuk dan warna. Ukuran menjadi faktor penting berkaitan dengan jangkauan efek yang diakibatkan pada organisme. Luas permukaan yang lebih besar bila dibandingkan dengan volume membuat mikroplastik berpotensi melepas bahan kimia dengan cepat. (*)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->