Connect with us

Sejarah

Menguak Sepak Terjang PKI di Kalimantan Selatan (4-Habis)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Wacana Pelurusan Sejarah 65 Harus Libatkan Kampus atau LIPI sebagai Institusi Independen


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Film G30S PKI yang menjadi gambaran versi pemerintah terkait peristiwa 65. Foto: Courtesy PPFN/Arifin C Noer
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Tragedi 1965 yang menyebabkan banyaknya korban jiwa dalam sejarah Indonesia, mesti menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini. Diskursus komunisme, bahaya PKI, maupun isu kebangkitannya, tetap harus dalam bingkai pembelajaran agar peristiwa kelam tersebut tak terjadi lagi.

“Isu (kebangkitan PKI) tersebut diramu ulang agar layak dipakai lagi sebagai kendaraan politik masa kini, tujuannya untuk merusak pola pikir masyarakat dan mengkritik pemerintah.

Makanya, bagi generasi sekarang jagalah pola pikir dan sikap agar tak jatuh dalam pengaruh ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” kata Mansyur.

Maka terpenting, pesan Mansyur adalah, berpikir dan bertindaklah seperti orang modern yang tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu masa lalu, tapi menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik.



Terkait desakan adanya pelurusan sejarah peristiwa 65, ia mengakui ada beberapa pihak saat ini menuntut hal tersebut. Tentu saja mereka menganggap bahwa sejarah yang diakui oleh pemeritah saat ini terutama terkait Gerakan 30 S PKI perlu diluruskan.

“Ide atau bahkan provokasi pelurusan sejarah inilah yang memancing reaksi dari pihak pendukung sejarah versi pemerintah,” ungkapnya.

Ia mengtakan, jika memang ditemukan bukti-bukti akurat yang mengarah kepada diperlukannya pelurusan sejarah, sebaiknya pihak-pihak yang melakukan penelitian guna pelurusan sejarah tersebut yaitu lembaga independen dan dipercaya.

Lembaga yang kompeten dalam bidang penelitian seperti LIPI dan perguruan tinggi yang terakreditasi lebih relevan dan bisa diterima oleh masing-masing pihak yang berkepentingan dengan sejarah Gerakan 30 S PKI. Bersama melakukan penelitian terkait keinginan pelurusan sejarah.

“Jika hanya pihak-pihak tertentu yang melakukan usaha pelurusan, apalagi hanya sepihak, maka dikhawatirkan akan memunculkan kembali kebencian dan sakit hati dari pihak yang berlawanan.

Pelurusan oleh satu pihak tidak akan menjadi kebenaran tetapi hanya menjadi pembenaran yang justru memperkeruh suasana kebangsaan,” pesannya.

Terkait film pengkhianatan G30S/PKI yang kerap menjadi pembahasan, Mansyur mengatakan bisa menjaga kesadaran bahwa apapun yang terjadi di negara ini, tidak boleh ada sedikitpun ruang bagi ideologi komunis.

“Tentunya kita tidak rela jika anak-anak muda penerus generasi bangsa lupa akan sejarahnya. Anak-anak muda yang akan melanjutkan estafet bangsa ini harus terus diingatkan bahwa ancaman untuk merusak NKRI dan mengganti Pancasila akan terus ada selama Republik ini berdiri,” tegasnya.

Anak-anak muda Indonesia jangan sampai berbangga diri berdiskusi dan bicara komunisme sementara nun jauh waktu silam telah terjadi kekejaman PKI di tanah air tercinta.

Anak-anak muda harus menyerap, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai agama dan harus terus dibumikan.

“Peristiwa berdarah dan pembantaian yang kejam terhadap para jenderal tahun ’65 serta pemberontakan tahun ’49 di Madiun sudah cukup menjadi dasar ideologi ini harus dilarang sepanjang sejarah Indonesia selama negara ini masih berdiri tegak dalam kemerdekaan,” katanya. (Kanalkalimantan.com/putra)

 

Reporter: Putra
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan
Komentar

Sejarah

Berusia 2.700 Tahun, Batu Syikal Ditemukan di Yerusalem

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Batu Syikal. Foto: Times of Israel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Sebuah batu kapur berusia 2.700 tahun dengan berat dua syikal, baru-baru ini ditemukan di dekat Western Wall di Yerusalem.

Syikal sendiri merupakan ukuran timbangan di Timur Tengah pada zaman Alkitab sebesar 11,4 gram dan biasanya dipakai untuk ukuran jumlah uang.

Selama periode First Temple, batu bundar berukuran koin tersebut adalah bagian dari satu set untuk ukuran dan berat yang diakui secara internasional, diimpor dari Mesir untuk penyembahan di kuil dan pasar.

Sistem bobot atau berat Mesir didasarkan pada delapan unit, berlawanan dengan sistem desimal yang lebih dikenal, yaitu basis 10, yang sering muncul dalam Alkitab.



Batu itu ditemukan oleh Monnickendam-Givon dan Tehillah Lieberman, arkeolog dari Israel Antiquities Authority di bawah markas Western Wall Heritage Foundation.

Sama seperti batu pemberat yang sudah ditemukan dalam penggalian di Israel sejak tahun 1950-an, batu bulat halus yang ditemukan selama penyaringan basah tanah yang digali, diukir dengan simbol Mesir yang menyerupai gamma Yunani (y).

Menurut siaran pers IAA, simbol Mesir digunakan pada periode First Temple untuk mewakili unit yang disingkat syikal dan di samping simbol syikal besar, dua garis sejajar diiris untuk menunjukkan nilai massa ganda atau dua syikal.

Menurut Monnickendam-Givon, ini adalah penemuan yang sangat langka karena pertama kali ditemukan selama penggalian saat ini dan menunjukkan pembuatan yang sangat lokal. Ia menduga, pengrajin tidak mengetahui simbol Mesir yang tepat yang umumnya digunakan untuk menandai batu-batu itu.

“Di sebagian besar batu, simbol syikal berbentuk bulat. Di kami, itu segitiga. Mungkin salah satu alasannya adalah siapa pun yang menorehkannya tidak mengetahui bentuk aslinya yang sebenarnya, jadi dia membuat yang mirip,” kata Monnickendam-Givon, seperti dikutip Times of Israel, Rabu (14/10/2020).

Meski simbolnya meragukan, tetapi berat batu itu tepat. Batu syikal tunggal yang ditemukan dalam penggalian arkeologi menunjukkan rata-rata berat 11,3 gram, sehingga batu syikal ganda harus memiliki berat 23 gram, persis seperti batu ini.

“Keakuratan bobot membuktikan keterampilan teknologi canggih serta bobot yang diberikan untuk perdagangan yang tepat di Yerusalem kuno. Koin belum digunakan selama periode ini, oleh karena itu keakuratan timbangan memainkan peran penting dalam bisnis,” kata para arkeolog.

Penggunaan umum lainnya dari sistem pemberat syikal adalah untuk pengumpulan pajak melalui pajak setengah syikal per kapita. Praktik pajak setengah syikal terus berlanjut selama periode Second Temple. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : KK


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Sejarah

Menguak Sepak Terjang PKI di Kalimantan Selatan (3)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

NU dan Sistem Bubuhan Mampu Redam Kekerasan Pasca 1965 di Banua


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sejumlah tokoh NU dan sistem kekerabatan yang kuat di Kalsel mampu redam aksi kekerasan masif pasca 1965 seperti di daerah lain. Foto: arsip nasional
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Bagi warga Kalsel, trauma terkait peristiwa 1965 hanya muncul di beberapa kelompok dan daerah tertentu saja. Di Kalsel tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya, dalam hal ini para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa.

Memang, kata Mansyur, ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah.

Relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu, yang menurutnya merupakan pengagum Sukarno. Namun hal tersebut meragukan.

“Ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI. Pertama, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan,” kata Mansyur kepada Kanalkalimantan.com. Tapi selain itu, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang Nahdlatul Ulama (NU). “Jadi NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan,” tambahnya.



Menurut penuturan Toga Tambunan, bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang. Toga yakin mereka tahu siapa sebenarnya ia, tetapi mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya.

Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini. Ketua Umum NU saat itu adalah KH Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut. Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itulah yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI.

Menurutnya, dia sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia). Sebelum ke Banjarmasin, adalah redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo.  Dari data sejarah yang ada, hanya dikatakan bahwa tanggal 3 Oktober 1965, Komandan Kodim Banjarmasin Letkol Rahmatullah melaporkan ± 100 orang tokoh PKI termasuk Amar Hanafiah dan AD Gani, dan pada tanggal 4 oktober 1965 Komandan Kodim Banjar Letkol AR Manji melaporkan bahwa orang-orang PKI yang ditahan ± 1.000 orang, tetapi setelah diteliti maka yang bukan pengurus segera dibebaskan.

Yang mengherankan karena dalam aksi pembersihan juga tertangkap Pendeta Gultom (Wakil Partai Kristen Indonesia di dalam Front Nasional), karena dari bukti-bukti yang ada ternyata Pendeta Gultom adalah tokoh PKI yang ditugaskan bekerja di kalangan pendeta.

“Data yang berhasil didapatkan menuliskan bahwa keseluruhan tahanan politik sejak terjadinya G30S/PKI yang ditangkap di Kalimantan Selatan berjumlah ± 1.700 orang. Setelah diadakan penyaringan oleh Tim Pemeriksa yang dibentuk oleh Pepelradahan Kalimantan Selatan dan setelah dikurangi dengan yang meninggal dunia dan yang dibebaskan menjadi tahannan rumah, tahanan kota dan lain-lain, maka sisa tahanan tersebut bersisa 401 orang terdiri dari Tapol A 174 orang, Tapol B 159 orang, serta Tapol C 128 orang,” terangnya. (bersambung)
(kanalkalimantan.com/putra)

 

Reporter: Putra
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->