Connect with us

HEADLINE

Pasar Tradisional, Medan Pertempuran Politik ‘Sesungguhnya’ Saat Ini

Diterbitkan

pada

Cawapres Sandiaga Uno saat deklarasi tim pemenangan di Kalsel beberapa waktu lalu. Foto : istimewa
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Adakah arena pertarungan politik sekarang telah bergeser? Elite politik tidak lagi melontarkan serangan dari sekretariat partai, markas tim pemenangan, atau pun ruang diskusi di sebuah cafe atau hotel. Pemilu 2019 ini, mengubah konsep kampanye lebih populis lewat kehadirannya di ruang publik. Makam dan pasar tradisional menjadi medan pertarungan baru, dari pasangan capres, elite partai, hingga caleg nomor buntut!

Bagaimana publik belakangan ini disuguhkan oleh media, kedatangan para capres yang datang secara masih ke pasar-pasar tradisional untuk kampanye. Terutama oleh calon incumbnet nomor 01 Joko Widodo dan calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno. Hampir di setiap kunjungan mereka ke daerah untuk kampanye, selalu mendatangi Pasar Tradisional. Termasuk saat kunjungan ke Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.

Cawapres Sandiaga Uno misalnya, saat melakukan Deklarasi Relawan Prabowo-Sandi di Kalsel, Sabtu (10/11) lalu, juga tak lupa berkunjung ke pasar tradisional. Ia mengunjungi Pasar Martapura dan singgah di pusat pertokoan permata Cahaya Bumi Selamat (CBS). Di CBS, ia mengunjungi toko Permata Kalimantan membeli tas kerajinan tangan manik-manik. Sandi Uno menganggap potensi intan alias berlian yang ada di Martapura adalah yang terbesar di dunia.

Tak lupa pula, Sandi melanjutkan ke Masjid Agung Al Karomah Martapura melaksanakan Shalat Zuhur berjamaah. Juga berziarah ke makam Guru Sekumpul.

Sementara Jokowi, meski belum melakukan kampanye secara langsung di Kalsel, namun beberapa kali dalam kunjungannya ke tanah Banua ini, ia juga menyempatkan datang ke sejumlah ruang publik. Termasuk kehadirannya ketika itu saat haul Guru Sekumpul.

Dibandingkan Jokowi, Sandi memang lebih intensif menginjakkan kaki di pasar untuk berinteraksi dengan masyarakat. Hampir di setiap kunjungannya ke daerah, ia selalu hadir di sana untuk bertemu emak-emak dengan membawa wacana sulitnya kondisi ekonomi saat ini. Salah satu momentumnya, adalah ketika dalam kunjungannya di sebuah pasar ia mengatakan; “tempe yang setipis ATM.”

Kampanye Sandi di pasar tradisional ini memang cukup efektif. Terbukti, ia mampu mendorong wacana emak-emak soal sulitnya kondisi ekonomi bangsa saat ini!

Maka tak heran, Jokowi pun kini sibuk meng-counter dengan serangan balasan ke sejumlah pasar tradisional juga. Yang dibawa, tentu saja bawa kondisi ekonomi saat masih baik-baik saja. Artinya, harga-harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional masih dalam koridor angka yang ‘tercatat’ oleh pemerintah. Paling kentara, ketika ia berfoto sedang memborong tempe di pasar yang dalam ukuran besar. Tidak setipis ATM!

Menurut Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan, langkah keduanya berkunjung ke pasar merupakan strategi dalam menggaet masyarakat kelas menengah ke bawah. Pasar merupakan lokasi di mana masyarakat segmen tersebut banyak berinteraksi.

Apalagi, saat ini isu yang digunakan dalam Pilpres 2019 lebih kepada persoalan ekonomi yang lekat dengan masyarakat kelas menengah ke bawah. “Itu strategi yang dipakai untuk memberikan persepsi kepada masyarakat bahwa mereka peduli dengan persoalan-persoalan rakyat kecil,” kata Djayadi seperti dilansir Katadata.co.id.

Menurut dia, tak heran suara masyarakat menengah ke bawah menjadi rebutan bagi para kandidat Pilpres 2019. Sebab, segmen tersebut merupakan pemilih mayoritas di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya lebih mengkhususkan segmen tersebut kepada ibu-ibu rumah tangga. Sebab, mereka paling berdampak terhadap persoalan ekonomi terkait harga kebutuhan pokok. “Pasar ini simbolisasi paling kuat dari segmen emak-emak yang sering disebut belakangan,” katanya.

Yunarto menilai porsi Jokowi dan Sandiaga berkunjung ke pasar diperbanyak lantaran sosok keduanya lebih mudah dijual ketimbang pasangan mereka, Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto. Yunarto menyebut, Jokowi sudah identik dengan gaya blusukan ke pasar, bahkan sejak menjadi Walikota Solo.

Sandiaga memiliki penampilan politik yang lebih muda dan secara emosional dapat menarik perhatian ibu-ibu rumah tangga. Sementara, Yunarto menganggap pemilih Ma’ruf lebih tersegmentasi kepada pemilih santri dan agamis.

Prabowo, lanjut Yunarto, memiliki segmen yang cenderung kepada laki-laki. Citra Prabowo pun akan lebih sulit dipromosikan karena sudah dua kali kalah pada Pilpres 2009 dan 2014. “Jadi itu konsekuensi dua brand yang masih fresh, Jokowi dan Sandi. Mereka bertemu pada satu titik perdebatan mengenai isu ekonomi sehingga pasar lebih dipilih untuk lokasi kampanye,” kata Yunarto.

Kiranya, tak hanya capres dan cawapres saja yang membawa aura pertarungan ke Pasar Tradisional. Bahkan calon kepala daerah, legislatif yang berusaha duduk di kursi dewan pun, juga tak ketinggalan ikut berupaya merebut pasar sebagai citra politisi yang pro rakyat kecil. Pro wong cilik..

Pasar dan Politik

Pasar memang memiliki kekuatannya sendiri. Baik sebagai simbol ekonomi masyarakat, maupun simpul dari gerakan arus bawah. Sehingga tak heran, jika setiap momen Pilkada maupun Pemilu, selalu menjadi penanda yang direbutkan.

Pengamat politik Agus Subagyo dalam salah satu tulisan diblog bribadinya mengatakan, pasar telah memiliki posisi sangat strategis, khususnya dalam konstelasi politik. Kekuatan pasar tidak hanya mempengaruhi para pelaku ekonomi, seperti pengusaha, produsen, distributor, dan konsumen. Lebih dari itu, pasar secara mengejutkan telah menjadi kekuatan dahsyat dalam mewarnai kehidupan politik, terutama dalam proses pergantian kepemimpinan nasional dan penempatan posisi jabatan publik.

Di Indonesia, kekuatan pasar telah menjadi pertimbangan utama bagi setiap entitas politik dalam melakukan interaksi baik interaksi dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam proses pencalonan figur-figur kepemimpinan nasional. Berkait dengan sirkulasi kepemimpinan nasional, jika sosok yang diajukan untuk menjadi pemimpin nasional direspons secara positif oleh pasar, maka kemungkinan besar ia akan berhasil menduduki jabatan utama tersebut. Demikian pula sebaliknya, apabila calon yang dimunculkan ke permukaan direspon secara negatif oleh pasar, maka kemungkinan besar tidak akan terpilih.

“Memang benar bahwa keputusan untuk memilih dan menentukan jabatan-jabatan publik sangat ditentukan oleh proses-proses politik yang ada dalam lembaga politik yang bersangkutan, namun kekuatan pasar cenderung berpengaruh besar dalam mempengaruhi perilaku memilih para pengambil keputusan,” ungkapnya.

Namun begitu politik usai, sayangnya pasar kembali sepi. Jauh dari riuh politisi yang ramah membeli beberapa barang untuk difoto oleh media. Pasar hidup dengan keringat para pendagang, bukan dari kata-kata politisi.. (cel)

Reporter : Cel
Editor : Chell

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

RESMI. Menkes Setujui PSBB di Kapuas, Ini Dasar Pertimbangannya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rapid test di kawasan pasar Kapuas beberapa waktu yang lalu. foto: ags
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. COM, KUALA KAPUAS – Permohonan usulan pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas, Kalimantan Tengah disetujui Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto.

Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan Nomor HK 01.07/Menkes/339/2020 tentang PSBB di wilayah Kabupaten Kapuas dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 yang ditandatangani Menkes 28 Mei 2020.

Ketua Harian Gugus Tugas P2 Covid-19 Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga membenarkan persetujuan PSBB dari Menkes tersebut.

“PSBB Kapuas telah disetujui kata Sinaga, kita akan rapatkan ini untuk tindak lanjutnya,” ujar Panahatan Sinaga, Kamis (28/5/2020) malam.

Adapun dalam surat keputusan Menkes perihal disetujuinya PSBB di Kabupaten Kapuas atas dasar beberapa pertimbangan. Dalam poin A disebut bahwa data yang ada menunjukkan telah terjadi peningkatan dan penyebaran kasus Covid-19 yang signiflkan dan cepat serta diiringi dengan kejadian transmisi lokal di Kapuas.

Ketua Harian Gugus Tugas P2 Covid-19 Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga. foto: ags

Kemudian pada poin B dikatakan, berdasarkan hasil kajian epidemiologi dan pertimbangan kesiapan daerah dalam aspek sosial, ekonomi, serta aspek lainnya, perlu dilaksanakan PSBB di Kapuas guna menekan penyebaran Covid-19 semakin meluas.

Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf A dan B, perlu menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang penetapan PSBB di Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

Update data terbaru, per Kamis (28/5/2020) pukul 17.00 WIB, sudah 72 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Kapuas. Di antaranya 52 orang dalam perawatan, 9 orang dinyatakan sembuh dan 11 orang meninggal dunia.

Data, 28 Mei 2020 dari 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, Kabupaten Kapuas terbanyak jumlah meninggal dunia yaitu 11 dari 17 kasus kematian.

Kasus positif Covid-19 Kapuas 72 orang, urutan kedua terbanyak di bawah kota Palangka Raya 99 orang. (kanalkalimantan.com/ags)

Reporter : ags
Editor : bie

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Enam Klaster Dominan Penyebaran Covid-19 di Kalsel, dari Gowa hingga Pasar Tradisional!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rapid test yang digelar di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin beberapa waktu lalu Foto: fikri
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kalimantan Selatan yang cukup signifikan tercatat pada Kamis (28/5/2020). Di mana, ada 116 kasus baru positif Covid-19 yang didominasi dari hasil tracing di Kota Banjarmasin. Sehingga, kini tercatat ada 819 kasus positif Covid-19.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (P2) Covid-19 Kalsel Muhamad Muslim mengungkapkan, jajarannya telah memetakan penyebaran Covid-19 di Kalsel. Tercatat ada enam klaster penyebaran Covid-19 di Bumi Lambung Mangkurat. “Paling tidak ada enam klaster yang tercatat,” ungkap Muslim di Banjarbaru, Kamis (28/5/2020) sore.

Jika diurutkan, Muslim mengungkapkan klaster yang menduduki peringkat pertama adalah Klaster Gowa. Di mana, klaster ini menyumbang sedikitnya 137 kasus atau 53,30 persen dari total kasus keseluruhan.

Disusul klaster pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin. Yaitu di Pasar Sudimampir, Pasar Sentra Antasari, Pasar Binjai, Pasar Pekauman yang dilakukan tracing pada pertengahan Mei 2020 lalu.

“Hari ini dilaporkan ada 102 kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 atau 39 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel ini.

Kemudian, klaster-klaster lainnya seperti Klaster Jawa Barat, Klaster Kalimantan Tengah, dan klaster kontak pertama kasus positif Covid-19 di Kalsel.

Sehingga untuk menekan laju penyebaran Covid-19 terutama di pasar-pasar, berbagai upaya dilakukan seperti memberikan edukasi secara masif dan humanis kepada warga pasar agar sadar dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. Terutama, ditargetkan pada pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin.

“Yaitu sebanyak 38 pasar, di mana personel yang diturunkan sebanyak 324 personel yang masing-masing angkatan sebanyak 81 personel dari unsur TNI-Polri dan Satpol PP,” tutur Muslim.

Diharapkan, upaya ini dapat memberikan pemahaman kepada warga pasar baik pedagang maupun pembeli untuk sadar dalam menerapkan protokol kesehatan. Agar pencegahan Covid-19 dapat dilakukan oleh masyarakat. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Epidemiolog: Penerapan New Normal di Indonesia Prematur!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

: Penerapan New Normal mengandung resiko tinggi ledakan Covid-19 jilid II/ilustrasi Foto: suara
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin menilai, rencana penerapan hidup normal baru atau new normal yang dipilih pemerintah terkesan prematur. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus virus corona covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

Ridwan menjelaskan, setiap negara pasti akan memikirkan dua hal, yakni bagaimana menangani covid-19 dan bagaimana roda perekonomian tetap berjalan. Diandaikan sebagai piramida, sebuah negara akan menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan publik, lalu ketika pandeminya sudah dapat dikendalikan, barulah masuk ke konsen ekonomi.

Kalau melihat dari piramida itu, Indonesia justru langsung lompat ke tahap kedua yakni memikirkan menjalankan roda perekonomian meski pandemi covid-19 belum selesai. “Ini Indonesia masih dipuncak bahkan belum mencapai puncak sudah mau implementasi jadi terlalu dini, prematur ini. Jadi ini new normal yang prematur,” kata Ridwan dalam sebuah diskusi publik yang dilakukan secara virtual, Kamis (28/5/2020).

Ia mencontohkan Jepang. Di negeri matahari terbit itu pelonggaran baru dilakukan enam pekan setelah kurva kasus covid-19 dinyatakan sudah menurun. Sedangkan di Indonesia justru hendak melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketika jumlah penularan covid-19 masih tinggi.

Padahal, ada enam kriteria yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bisa digunakan untuk menerapkan new normal. Salah satunya ialah pandemi Covid-19 sudah terkendali di dalam suatu wilayah. Sementara di Indonesia belum bisa dianggap sudah terkendali.

Dengan begitu, ia melihat new normal yang akan diterapkan pemerintah itu akan menimbulkan banyak korban yang berguguran. Ancaman penularan yang masih tinggi itu akan menyasar lingkungan sekolah, mall ataupun tempat-tempat lainnya yang akan mulai beroperasi normal.

“Jatuhnya banyak korban terutama pada anak sekolah kita, pada pengunjung mall, pengunjung pasar yang di mana mereka belum bisa mempraktekkan social distancing.”

Sebelumnya, akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Dr. M. Ahsar Karim memaparkan, dalam kajian permodelan penyebaran Covid-19 berdasarkan perhitungan Matematika juga memprediksi puncak kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan. Baik itu puncak infeksi maupun puncak kematian akibat Covid-19.

Kajian dilakukan dengan estimasi parameter pada permodelan SIR yang mengakomodir kasus kematian pada data dengan didukung beberapa metode. Yaitu, Metode Runge Kutta dan Metode Kuadrat Terkecil Nonlinear.

Dari hasil analisis data dan model diperoleh laju penularan penyakit melalui kontak sebesar 𝛽 = 0.1050, laju kesembuhan dari infeksi penyakit sebesar 𝛾 = 0.0178 dan laju kematian karena terinfeksi sebesar 𝜇 = 0.0128.

Dari set parameter tersebut diperoleh Bilangan Reproduksi Dasar R0 ≈ 3, yang artinya dari 1 orang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan kepada 3 individu lainnya. Sedangkan hasil prediksi menunjukan bahwa kasus terinfeksi dapat mencapai 37,82% dan kematian 0,49 % dari jumlah penduduk yang tetap beraktivitas normal di masa PSBB.

Hal itu diperkirakan terjadi pada pekan ke-2 bulan Agustus hingga pekan ke-1 bulan Oktober 2020 mendatang. Saat itu, kemungkinan terburuknya jutaan warga Kalsel tertular virus mematikan dari Wuhan, China itu. “Puncak infeksi yang kami prediksi, itu dibagi berdasarkan enam skenario,” kata Dr. Ahsar, Rabu (27/5/2020) malam.

Skenario pertama, jika satu persen masyarakat tetap beraktivitas normal seperti biasa dan di dalamnya ada orang yang suspect Covid-19, maka puncak kasus infeksi terjadi di pekan kedua bulan Agustus 2020. Ini didapat berdasarkan data dan model SIR (Suspectable, Infected dan Recovered) yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ahsar.

Kemudian, pada skenario kedua, jika empat persen masyarakat masih beraktivitas normal, diprediksi angkanya menjadi cukup lama dan waktunya cukup lama. Puncaknya akan terjadi di pekan keempat bulan Agustus 2020.

“Demikian seterusnya sampai dengan 80 persen beraktivitas normal dan itu ngeri sekali, kami tidak berani memprediksi jika 100 persen normal,” ungkapnya.

Puncaknya, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal, maka puncak infeksi dari Covid-19 terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020 dengan jumlah yang cukup besar. Atau mencapai 1.283.600 jiwa terpapar Covid-19.

Hal yang sama juga terjadi pada prediksi puncak kematian akibat Covid-19. Di mana, skenario prediksi kematian juga mengikuti skenario prediksi infeksi Covid-19. Di mana, puncak kematian terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal. Atau diprediksi, sebanyak 16.491 jiwa akan meninggal dunia akibat Covid-19. (kanalkalimantan.com/suara/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->