Connect with us

Bisnis

Pebisnis Handmade Banjarbaru Kesulitan Jual Produk Olahan

Diterbitkan

pada

Nurcahyaningsih Dwi Kurniawati saat membuat berbagai produk handmade berbahan dasar kain sasirangan. Foto : Arief Rahman

BANJARBARU, Kurangnya tempat rekreasi outdoor yang bisa membuat para turis datang berkunjung, membuat pebisnis handmade di Banjarbaru kesulitan menjual berbagai produk olahan mereka.

Salah satu pebisnis handmade di Banjarbaru Nurcahyaningsih Dwi Kurniawati mengakui, sulitnya pihaknya menjual produk olahannya karena terbatasnya tempat rekreasi outdoor yang ada di Banjarbaru.

“Tempat rekreasi outdoor di Banjarbaru kini paling hanya tersisa Lapangan Murjani, selebihnya tidak ada lagi. Itu pun ramainya hanya akhir pekan saja, selebihnya kita tidak bisa berjualan karena sepinya turis yang datang,” ungkap Owner Laningdewe Handmade tersebut, Senin (22/10).

Agar bisa tetap menjual banyak produk olahan, dirinya mengaku kini lebih banyak mengandalkan penjualan secara online dan mengikuti even bazaar yang dilakukan oleh dinas atau pihak swasta.

“Kalau dulu di akhir pekan selain menjual produk handmade di lapangan Murjani, kita juga bisa menjualnya di Danau Seran. Namun kini objek wisata tersebut sudah mulai ditinggalkan karena kurang dirawat oleh pengelola setempat,” keluhnya.

Ia pun berharap kedepannya, Pemerintah Kota Banjarbaru bisa lebih banyak membangun objek wisata outdoor yang unik dan menarik agar bisa mendatangkan banyak turis lokal hingga mancanegara bisa berkunjung ke Kota Banjarbaru.

“Seperti di daerah Malang misalnya, di sana kan banyak sekali dibangun berbagai objek wisata outdoor yang menarik. Akibatnya pebisnis handmade pun mudah untuk menjual berbagai produk olahannya, di berbagai objek tempat wisata,” tambahnya.

Sementara itu, Owner Caca Sasirangan, Sigit Eko Prabowo juga mengaku kesulitan menjual produk sasirangannya di Kota Banjarbaru. Hal ini karena minimnya para turis yang datang ke Banjarbaru untuk berwisata.

Akibatnya kini produk kain sasirangan olahannya banyak dijual di Kota Banjarmasin melalui berbagai toko oleh-oleh. Hal ini karena pasarnya jauh lebih menjanjikan dibanding Kota Banjarbaru.

“Saya harapkan Kota Banjarbaru bisa lebih berbenah untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan. Caranya bisa dengan membuat berbagai objek wisata baru yang unik dan menarik hingga menyelenggarakan even budaya yang punya daya tarik bagi turis,” pungkasnya. (arief)

Reporter : Arief
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari

Bisnis

Garuda Kandangkan 70% Pesawatnya Selama Pandemi Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Garda mengandangkan 70% pesawatnya imbas corona. Foto: liputan6

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA –  PT Garuda Indonesia Tbk mencatat hampir 70% pesawatnya dalam kondisi tak dapat terbang atau grounded. Sebab, rute penerbangan maskapai tersebut berkurang drastis akibat pandemi covid-19.

Berdasarkan data per September 2019, GIAA mengoperasikan sebanyak 204 unit pesawat yang terdiri atas 139 pesawat dioperasikan oleh Garuda Indonesia, dan 62 unit pesawat dioperasikan oleh Citilink. Dari jumlah tersebut, sebanyak 105 unit pesawat berjenis narrow body (Boeing 737 Max 8, 737-800 NG, CRJ1000 NextGen, ATR72-600) dan 34 unit berjenis wide body atau berbadan lebar (Boeing 7770300 ER, 747-400, Airbus A330-200, Airbus A330-300).

Sebanyak 181 pesawat yang dioperasikan GIAA merupakan pesawat sewaan dengan pihak lessor, sedangkan sebanyak 20 pesawat merupakan pesawat yang dimiliki perseroan ataupun leasing.

“Saat ini hampir 70 persen pesawat kami ‘beristirahat’ di darat. Menjaga keadaannya agar tetap prima dan memastikan ketika tiba waktunya mereka untuk terbang kembali tetap memenuhi kelaikan udara adalah prioritas kami,” ujar Direktur Pemeliharaan Garuda Indonesia, Rahmat Hanafi dalam akun @garuda.indonesia.

Manajemen menyebut, pesawat-pesawat yang tidak mengudara sementara tersebut akan menjalani sejumlah proses perawatan. Aspek keselamatan menjadi fokus utama perseroan pada saat pesawat-pesawat tersebut mengudara kembali pada waktu mendatang.

“Para teknisi kami dari @gmfaeroasia bekerja siang dan malam merawat mereka di darat melalui Prolong Inspection sesuai manual perawatan masing-masing pesawat,” jelas manajemen dilansir asiatoday.id.

Selain itu, upaya manajemen Garuda Indonesia untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya adalah dengan merumahkan sementara tenaga kerja kontrak atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 14 Mei 2020 lalu.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, kebijakan merumahkan karyawan dengan status PKWT tersebut merupakan upaya lanjutan yang perlu ditempuh disamping upaya-upaya strategis lain yang telah dilakukan, untuk memastikan keberlangsungan perseroan tetap terjaga ditengah kondisi operasional penerbangan yang belum kembali normal sebagai dampak pandemi Covid-19.

“Kebijakan tersebut dilakukan dengan pertimbangan yang matang dengan memperhatikan kepentingan karyawan maupun perseroan dan dilakukan dalam rangka menghindari dilakukannya pemutusan hubungan kerja (PHK). Disamping itu, implementasi kebijakan ini juga telah melalui kesepakatan dan diskusi dua arah antara karyawan dan Perusahaan” ujar Irfan.

Menurut Irfan, selama periode tersebut karyawan yang dirumahkan tetap mendapatkan hak kepegawaian berupa asuransi kesehatan maupun tunjangan hari raya yang sebelumnya telah dibayarkan.

“Kebijakan ini merupakan keputusan berat yang harus diambil dengan pertimbangan mendalam terkait aktifitas operasional penerbangan yang belum sepenuhnya normal. Namun, kami meyakini Garuda Indonesia akan dapat terus bertahan melewati masa yang sangat menantang bagi industri penerbangan saat ini,” ungkapnya.

Garuda Indonesia telah berupaya melaksanakan sejumlah upaya strategis berkelanjutan dalam memastikan keberlangsungan bisnis perseroan antara lain melalui renegosiasi sewa pesawat, restrukturisasi network, efisiensi biaya produksi dan termasuk penyesuain gaji jajaran komisaris, direksi hingga staf secara proporsional serta tidak memberikan Tunjangan Hari Raya kepada Direksi dan Komisaris. (ATN)

 

Reporter : ATN
Editor : Cell

 

Lanjutkan membaca

Bisnis

Diberi Topping Oreo Supreme, Kopi Ini Dihargai Rp 1,5 Juta per Liter

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kopi diberi topping Oreo Supreme.

KANALKALIMANTAN.COM – Kopi Kaum Hypebeast yang merupakan kopi susu aren dengan topping Oreo Supreme dijual dengan harga fantastis, yaitu Rp 1,5 juta per liter.

Yohanes Auri, Pemilik Kopinya flux mengungkapkan bahwa varian kopi kaum hypebeast dengan topping Oreo Supreme menjadi kopi susu literan termahal sekarang.

Untuk mendapatkannya, kopi kaum hypebeast ini telah dijual di Tokopedia toko Kopinyaflux dan IG @kopinyaflux.

Pelanggan yang ingin menikmati kopi kaum hypebeast yang ekslusif ini juga bisa membelinya dengan cara pembayaran cicilan di Tokopedia.

Saat ini total botol yang terjual sudah mencapai puluhan botol. Baru baru ini yang membeli kopi kaum hypebeast adalah seorang mahasiswa berinisial FI dia memberikan kejutan buat pacarnya lewat kopi kaum hypebeast ini.

Auri menuturkan ide membuat varian minuman kopi kaum hypebeast ini berawal dari kehadiran Oreo Supreme yang kini merupakan biskuit termahal dan tengah digandrungi oleh kaum hypbeast, sebuah sebutan bagi para penyuka merek fesyen Supreme.

“Melihat belum banyak pemain di segmen premium, kami pun mencoba hal kreatif untuk meracik kopi susu aren dengan toping biskuit oreo supreme dan ternyata rasanya enak, unik dan bisa bikin lidah juga usus menjadi auto hypebeast,” kata Auri dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2020).

Auri mengatakan bahwa Kopinya flux selain menyediakan minuman khususnya kopi juga menyediakan makanan yaitu nasi mentai salmon premium yang sudah ratusan kali dipesan karena rasanya berbeda dengan nasi mentai lain.

Target pasar yang diincar adalah segmen milenial yang mengisi 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

“Kopinya flux optimis dapat menguasai market makanan dan minuman ke depannya, untuk sekarang ini kopinya flux sudah ada di tiga tempat, senayan, puri indah dan gading serpong, target selanjutnya adalah menjadikannya perusahaan waralaba,” ungkap Yohanes Auri. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Bisnis

Hotel di DIY Mulai Buka Lagi Awal Juni, SOP New Normal Disiapkan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi hotel. Foto: Pixabay

KANALKALIMANTAN.COM, YOGYAKARTA – Sejumlah hotel di DIY direncanakan untuk kembali beroperasi pada awal Juni. Persiapan yang dilakukan para pelaku wistaa di DIY ini merupakan respons dari wacana pemerintah untuk memasuki skenario penerapan new normal.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pada awal Juni nanti setidaknya akan ada sekitar 20 hotel nonbintang hingga bintang tiga yang buka lagi. Sementara, saat ini yang masih buka ada sekitar 25 hotel, sehingga nantinya di awal Juni total 45 hotel yang beroperasi.

Deddy mengungkapkan, saat ini hotel tengah mempersiapkan sarana prasarana dan memberikan penjelasan ke SDM dalam melayani tamu sesuai protokol pencegahan Covid-19.

“Mungkin tidak lazim atau asing, tetapi harus dilakukan upaya-upaya pencegahan Covid-19 ini. Mengikuti peradaban yang baru, SOP harus mengikuti,” ujar Deddy, Senin (18/5/2020).

HarianJogja.com — jaringan SuaraJogja.id — melaporkan, Deddy menegaskan bahwa hotel yang akan beroperasi harus memastikan standar pencegahan Covid-19, seperti penyediaan tempat cuci tangan, penggunaan masker, jaga jarak, upaya menjaga kebersihan, dan lain sebagainya. Jika memang tidak bisa menerapkan itu, pengelola disarankan tidak membuka dahulu aktivitas hotel karena menyangkut kesehatan dan keselamatan setiap pengunjung maupun pekerja hotel sendiri.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie menyebutkan, untuk menyambut new normal, pelaku wisata pada bidang perjalanan wisata saat ini tengah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan operasional dalam melayani tamu sesuai prosedur new normal. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->
Share via
Copy link
Powered by Social Snap