Connect with us

HEADLINE

Pemerintah Berencana Bangun 10 Kota Metropolitan, Banjarbakula 1 Diantaranya

Diterbitkan

pada

Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro Foto : setkab
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selain merencanakan pemindahan ibu kota baru, pemerintah juga berencana membangun kota metropolitan lain selain Jakarta di Indonesia. Total ada 10 kota metropolitan yang akan dibangun untuk pemerataan ekonomi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, sistem perkotaan di Indonesia tidak ideal karena hanya terpusat di Jakarta dibuktikan dengan kepadatan penduduk yang mencapai 150 ribu orang dalam radius 1 km persegi.

Sehingga Bappenas merencanakan pengembangan kota yang berpotensi menjadi kota metropolitan seperti Jakarta di beberapa kota di Indonesia sebagai solusi pemerataan penduduk dan ekonomi.

“Kita akan membuat perencanaan kota itu tidak berdasarkan kota administratif tapi berdasarkan wilayah metropolitan karena itu realitasnya, percuma kita ngutak-ngutik Jakarta, kalau Bekasinya didiamkan, Tangerangnya didiamkan, atau konektifitas antar kota tidak menjadi prioritas, maka perencanaan kita tidak efektif,” kata Bambang dalam diskusi di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Kamis (16/5/2019).

Adapun 10 kota yang akan dijadikan kota metropolitan oleh pemerintah antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, Banjarmasin, Denpasar, Makassar, dan Manado.

“Di Jawa yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Tapi di luar yang empat tadi, ada 6 wilayah metropolitan yang akan dibangun di luar Jawa yaitu di (Mebidangro) Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo, (Patungagung) Palembang-Betung-Indralaya-Kayu Agung, (Banjarbakula) Banjarmasin-Banjar-Banjarbaru-Barito Kuala, (Sarbamanta) Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan, (Maminasata) Minasa-Maros dan seterusnya di Makassar, dan Manado,” papar Bambang.

Bambang menjelaskan, ke sepuluh kota tersebut sangat berpotensi menjadi kota metropolitan dengan pusat bisnis yang berkembang dan berdampak pada penyebaran penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang merata.

Pengembangan kota metropolitan ini ditargetkan Bappenas akan rampung seiring dengan pembangunan ibu kota baru yakni selama lima tahun.

Sementara, untuk pemindahan ibu kota sendiri Bappenas hingga kini masih belum bisa mengumumkan lokasinya karena belum diputuskan oleh Presiden Joko Widodo.

Namun, Bappenas menargetkan kajian teknis pemindahan Ibu Kota akan rampung di akhir 2019, dilanjutkan dengan konsultasi ke DPR untuk membahas produk hukum pemindahan ibu kota hingga awal 2020.

Selanjutnya, 2020 hingga 2022 adalah penyiapan lahan, termasuk memastikan status tanah yang akan dijadikan lokasi infrastruktur dasar, dan lama pembangunan ini diprediksi akan memakan waktu sekitar tiga tahun hingga 2024. (suara.com)

Reporter:suara.com
Editor:Cell

Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Enam Klaster Dominan Penyebaran Covid-19 di Kalsel, dari Gowa hingga Pasar Tradisional!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rapid test yang digelar di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin beberapa waktu lalu Foto: fikri
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Lonjakan kasus positif Covid-19 di Kalimantan Selatan yang cukup signifikan tercatat pada Kamis (28/5/2020). Di mana, ada 116 kasus baru positif Covid-19 yang didominasi dari hasil tracing di Kota Banjarmasin. Sehingga, kini tercatat ada 819 kasus positif Covid-19.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (P2) Covid-19 Kalsel Muhamad Muslim mengungkapkan, jajarannya telah memetakan penyebaran Covid-19 di Kalsel. Tercatat ada enam klaster penyebaran Covid-19 di Bumi Lambung Mangkurat. “Paling tidak ada enam klaster yang tercatat,” ungkap Muslim di Banjarbaru, Kamis (28/5/2020) sore.

Jika diurutkan, Muslim mengungkapkan klaster yang menduduki peringkat pertama adalah Klaster Gowa. Di mana, klaster ini menyumbang sedikitnya 137 kasus atau 53,30 persen dari total kasus keseluruhan.

Disusul klaster pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin. Yaitu di Pasar Sudimampir, Pasar Sentra Antasari, Pasar Binjai, Pasar Pekauman yang dilakukan tracing pada pertengahan Mei 2020 lalu.

“Hari ini dilaporkan ada 102 kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 atau 39 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel ini.

Kemudian, klaster-klaster lainnya seperti Klaster Jawa Barat, Klaster Kalimantan Tengah, dan klaster kontak pertama kasus positif Covid-19 di Kalsel.

Sehingga untuk menekan laju penyebaran Covid-19 terutama di pasar-pasar, berbagai upaya dilakukan seperti memberikan edukasi secara masif dan humanis kepada warga pasar agar sadar dan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. Terutama, ditargetkan pada pasar-pasar yang ada di Kota Banjarmasin.

“Yaitu sebanyak 38 pasar, di mana personel yang diturunkan sebanyak 324 personel yang masing-masing angkatan sebanyak 81 personel dari unsur TNI-Polri dan Satpol PP,” tutur Muslim.

Diharapkan, upaya ini dapat memberikan pemahaman kepada warga pasar baik pedagang maupun pembeli untuk sadar dalam menerapkan protokol kesehatan. Agar pencegahan Covid-19 dapat dilakukan oleh masyarakat. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Epidemiolog: Penerapan New Normal di Indonesia Prematur!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

: Penerapan New Normal mengandung resiko tinggi ledakan Covid-19 jilid II/ilustrasi Foto: suara
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin menilai, rencana penerapan hidup normal baru atau new normal yang dipilih pemerintah terkesan prematur. Pasalnya, penerapan new normal dilakukan ketika kasus virus corona covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

Ridwan menjelaskan, setiap negara pasti akan memikirkan dua hal, yakni bagaimana menangani covid-19 dan bagaimana roda perekonomian tetap berjalan. Diandaikan sebagai piramida, sebuah negara akan menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan publik, lalu ketika pandeminya sudah dapat dikendalikan, barulah masuk ke konsen ekonomi.

Kalau melihat dari piramida itu, Indonesia justru langsung lompat ke tahap kedua yakni memikirkan menjalankan roda perekonomian meski pandemi covid-19 belum selesai. “Ini Indonesia masih dipuncak bahkan belum mencapai puncak sudah mau implementasi jadi terlalu dini, prematur ini. Jadi ini new normal yang prematur,” kata Ridwan dalam sebuah diskusi publik yang dilakukan secara virtual, Kamis (28/5/2020).

Ia mencontohkan Jepang. Di negeri matahari terbit itu pelonggaran baru dilakukan enam pekan setelah kurva kasus covid-19 dinyatakan sudah menurun. Sedangkan di Indonesia justru hendak melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketika jumlah penularan covid-19 masih tinggi.

Padahal, ada enam kriteria yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bisa digunakan untuk menerapkan new normal. Salah satunya ialah pandemi Covid-19 sudah terkendali di dalam suatu wilayah. Sementara di Indonesia belum bisa dianggap sudah terkendali.

Dengan begitu, ia melihat new normal yang akan diterapkan pemerintah itu akan menimbulkan banyak korban yang berguguran. Ancaman penularan yang masih tinggi itu akan menyasar lingkungan sekolah, mall ataupun tempat-tempat lainnya yang akan mulai beroperasi normal.

“Jatuhnya banyak korban terutama pada anak sekolah kita, pada pengunjung mall, pengunjung pasar yang di mana mereka belum bisa mempraktekkan social distancing.”

Sebelumnya, akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Dr. M. Ahsar Karim memaparkan, dalam kajian permodelan penyebaran Covid-19 berdasarkan perhitungan Matematika juga memprediksi puncak kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan. Baik itu puncak infeksi maupun puncak kematian akibat Covid-19.

Kajian dilakukan dengan estimasi parameter pada permodelan SIR yang mengakomodir kasus kematian pada data dengan didukung beberapa metode. Yaitu, Metode Runge Kutta dan Metode Kuadrat Terkecil Nonlinear.

Dari hasil analisis data dan model diperoleh laju penularan penyakit melalui kontak sebesar 𝛽 = 0.1050, laju kesembuhan dari infeksi penyakit sebesar 𝛾 = 0.0178 dan laju kematian karena terinfeksi sebesar 𝜇 = 0.0128.

Dari set parameter tersebut diperoleh Bilangan Reproduksi Dasar R0 ≈ 3, yang artinya dari 1 orang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan kepada 3 individu lainnya. Sedangkan hasil prediksi menunjukan bahwa kasus terinfeksi dapat mencapai 37,82% dan kematian 0,49 % dari jumlah penduduk yang tetap beraktivitas normal di masa PSBB.

Hal itu diperkirakan terjadi pada pekan ke-2 bulan Agustus hingga pekan ke-1 bulan Oktober 2020 mendatang. Saat itu, kemungkinan terburuknya jutaan warga Kalsel tertular virus mematikan dari Wuhan, China itu. “Puncak infeksi yang kami prediksi, itu dibagi berdasarkan enam skenario,” kata Dr. Ahsar, Rabu (27/5/2020) malam.

Skenario pertama, jika satu persen masyarakat tetap beraktivitas normal seperti biasa dan di dalamnya ada orang yang suspect Covid-19, maka puncak kasus infeksi terjadi di pekan kedua bulan Agustus 2020. Ini didapat berdasarkan data dan model SIR (Suspectable, Infected dan Recovered) yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ahsar.

Kemudian, pada skenario kedua, jika empat persen masyarakat masih beraktivitas normal, diprediksi angkanya menjadi cukup lama dan waktunya cukup lama. Puncaknya akan terjadi di pekan keempat bulan Agustus 2020.

“Demikian seterusnya sampai dengan 80 persen beraktivitas normal dan itu ngeri sekali, kami tidak berani memprediksi jika 100 persen normal,” ungkapnya.

Puncaknya, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal, maka puncak infeksi dari Covid-19 terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020 dengan jumlah yang cukup besar. Atau mencapai 1.283.600 jiwa terpapar Covid-19.

Hal yang sama juga terjadi pada prediksi puncak kematian akibat Covid-19. Di mana, skenario prediksi kematian juga mengikuti skenario prediksi infeksi Covid-19. Di mana, puncak kematian terjadi di pekan pertama bulan Oktober 2020, jika 80 persen masyarakat beraktivitas normal. Atau diprediksi, sebanyak 16.491 jiwa akan meninggal dunia akibat Covid-19. (kanalkalimantan.com/suara/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

PSBB Banjarbaru Tak Berlanjut, Draft Perwali untuk New Normal Sedang Disusun

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pelaksanaan PSBB di Kota Banjarbaru Foto: Rico
Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru memutuskan tidak memperpanjang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Itu artinya, PSBB di Kota Banjarbaru yang berakhir pada Jumat (29/5/2020) besok.

Keputusan itu diambil pada rapat yang digelar Kamis (28/5/2020).

Keputusan untuk tidak memperpanjang PSBB atau kerap disebut jilid II tersebut diutarakan oleh Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani. Hal ini setelah dilakukannya pertimbangan lewat evaluasi pelaksanaan PSBB dalam dua pekan terakhir.

“Kami sudah lakukan evaluasi bahwa pelaksanaan PSBB relatif berhasil menekan angka ODP, PDP ataupun tingkat kesembuhan pasien. Tapi, saya tegaskan petugas kesehatan akan terus bekerja. Jadi bukan berarti PSBB selesai, lalu semua berhenti,” katanya.

Berakhirnya PSBB bukan berarti penanganan Covid-19 Banjarbaru telah berhenti. Justru ini menjadi awal mula dimulainya upaya penanganan yang baru yakni New Normal -normal yang baru-. Secara, umum New Normal adalah protokol tatanan hidup baru di tengah wabah, yang diadopsi dari arahan pemerintah pusat.

Wali kota mengakui konsep New Normal yang akan diterapkan Banjarbaru sendiri tidak akan sepenuhnya mengikuti draft yang dari pusat. Pasalnya, akan ada penyesuaian dengan karakteristik daerah. Termasuk penerbitan payung hukum berupa Perwali PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

“Konsep New Normal kita arahkan ke istilah kenormalan yang baru, tapi menerapkan kewaspadaan. Secara umumnya Perwali PKM ini, lebih longgar dari Perwali PSBB. Tapi tetap ada batasnya,” jelas dia.

Pertimbangan tidak melonggarkan secara keseluruhan, kata Nadjmi, agar mengantisipasi terjadi euforia di lingkungan masyarakat. Meski diklaim telah siap menerapkan konsep New Normal, Pemko Banjarbaru saat ini sedang membahas teknis konsep New Normal bersama. Termasuk dengan unsur TNI-Polri.

“Kita tidak memperpanjang PSBB, agar sektor perekonomian juga bisa perlahan jalan. Kegiatan ibadah juga bisa buka tapi tetap dengan protokol. Kemudian sektor usaha, misalnya toko dan tempat makan boleh buka, bisa makan di tempat tapi jaga jarak dan memerhatikan protokolnya,” tutur dia.

Khusus di sektor pendidikan, rencana sekolah juga akan dibuatkan aturan dan protokol yang sistematis. Mulai dari berangkat dari rumah hingga proses belajar mengajar di sekolah.

“Ini kita sudah mulai siapkan SOP nya. Nanti protokolnya dari dinas pendidikan, kita siapkan arahnya kepada normal yang baru ini. Bisa saja salah satunya penerapan shift belajar mengajar,” jabarnya.

Ditanya kapan diberlakukannya konsep New Normal, Nadjmi tak menjawab secara gamblang. Alasannya saat ini baru diputuskan dan tengah dilakukan penyusunan draft Perwalinya.

“Pekan depan mungkin sudah efektif. Ini kita di tahap persiapan dan juga sekalian sosialisasi kepada masyarakat,” pungkas dia.

Terpisah, Sekretari Daerah Banjarbaru, Said Abdullah, menambahkan meski PSBB tidak dilanjutkan dan beralih ke New Normal. Petugas kesehatan dipastikannya tetap akan bekerja guna menangani Covid-19.

“Jangan dipahami tidak ada sektor kesehatan, ini tetap jalan. Hanya konsep ini sektor lain tetap berjalan, termasuk ekonomi. Karena kami banyak dapat laporan dari masyarakat soal ekonomi ini, nah ini yang kita pikirkan,” tandas dia. (kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Dhani

 


Bagikan artikel/berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->