Connect with us

Pemerintahan

Pengelolaan Arsip yang Benar, Ada Kertas Arsip Jadi Bungkus Kacang Bisa Diusut Polisi!

Diterbitkan

pada

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Penyelanggaraan kearsipan bertujuan untuk menjamin terciptanya arsip yang autentik dan terpercaya, terwujudnya pengelolaan arsip yang andal, perlindungan kepentingan negara, kesalamatan dan keamanan arsip serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Untuk menjamin agar pencipta arsip baik di pusat maupun di daerah dapat menyelanggarakan kearsipan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka perlu dilaksanakan pengawasan kearsipan. Pasalnya, pengelolaan arsip dapat saja berujung pada pidana.

Maka dari itu, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar sosialisasi pengawasan kearsipan se-Kalimantan Selatan, Senin (11/1) di Hotel Roditha Banjarbaru.

Kepala Pusat Akreditasi Kearsipan ANRI Rudi Anton mengatakan, sosialisasi ini merupakan langkah awal dalam melaksanakan pengawasan kearsipan. Dirinya mengakui, masih banyak pemerintah kabupaten/kota yang masih belum layak dalam tata kelola pengarsipan

“Kalau boleh dibilang, dari 10 sampai 100 nilainya masih banyak yang di bawah 50,” katanya.

Jika meruncing ke Kalimantan Selatan, Rudy menuturkan bahwa pengelolaan kerasipan sudah cukup baik. Bahkan, ada satu kabupaten yang pengarsipannya telah masuk 10 besar terbaik nasional pada tahun ini.

“Kabupaten HSU sudah masuk 10 besar nasional. Itu pencapaian yang luar biasa. Intinya adalah pengawasan yang harus ditekankan, baik dari internal maupun eksternal,” kata dia.

Rudy juga menegaskan bahwa pengelolaan kearsipan tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab, sudah ada Undang-Undang Kearsipan yang mengatur lewat Undang Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.

“Kalau ada arsip yang digunakan tidak semestinya. Misal dijual ke pasar maka itu bisa dipidana. Jadi kalau misalnya lagi ada menemukan bungkus kacang menggunakan kertas arsip pemerintahan, maka berhak diusut polisi,” tandasnya.

Tentu saja, penataan arsip secara baik dan benar akan sangat penting karena tidak sedikit di antara arsip-arsip tersebut memiliki nilai tinggi bagi pemerintah. Bahkan ketidakmampuan mengelola kearsipan bisa berakibat sangat fatal, seperti potensi kehilangan aset atau bahkan kehilangan informasi-informasi bernilai sejarah.

Sementara itu, Kadispersip Kalsel Hj Nurliani Dardie melalui Sekretaris Dispersip Kalsel M Ramadhan mengatakan, dengan kegiatan ini diharapkan pengarsipan di Kalsel semakin membaik. “Kita harap semua makin sadar dengan pentingnya pengarsipan, sudah ada undang-undang yang mengatur jadi tidak boleh sembarangan,” kata dia. (rico)

Reporter : Rico
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Pemerintahan

Pasar Rakyat Laura Mulai Beroperasi, 163 Lapak Disiapkan Untuk Para Pedagang

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Walikota Banjarbaru hadiri acara syukuran Pasar Rakyat Laura Foto : Humas Pemkot Banjarbaru
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Pemerintah Kota menaruh perhatian serius terhadap perbaikan, penataan, dan pengelolaan pasar yang ada di Banjarbaru. Terutama, pasar rakyat yang lebih modern khusus dalam hal sarana dan prasarana yang dimiliki.

Hal tersebut dibuktikan, saat Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani meresmikan pasar rakyat Laura yang berlokasi di jalan Sukamara, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Landasan Ulin, Sabtu (23/11).

Walikota Banjarbaru dalam sambutannya mengaku sangat senang dengan selesainya pembangunan pasar rakyat ini, karena akan berdampak pada bergeliatnya ekonomi masyarakat Kota Banjarbaru dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

“Kita (Pemkot Banjarbaru) telah membangun dan merevitalisasi 9 pasar rakyat yang ada di beberapa kelurahan antara lain Kelurahan Landasan Ulin Utara, Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Tengah, landasan Ulin Timur, Guntung Manggis, Palam, Bangkal, Cempaka, Loktabat Utara,” katanya.

Pasar rakyat Laura yang telah berdiri megah di atas tanah seluas 1,4 hektar dan memiliki 35 buah kios serta 163 lapak, diperkirakan mampu menampung jumlah pegadang di Pasar landasan Ulin Utara.

Kepala Dinas Perdagangan kota Banjarbaru, Drs Abdul Basit, M.M, mengatakan pasar rakyat Laura dibangun melalui dana anggaran tugas pembantuan tahun 2018, dan disempurnakan tahun ini dengan penambahan sarana dan prasarana.

Basit menjelaskan pembangunan pasar rakyat ini adalah bentuk nyata realisasi program Walikota Banjarbaru untuk membangun pasar rakyat, sesuai misi kota Banjarbaru untuk memperkuat kemandirian, peningkatan kerjasama investasi, penyediaan prasarana dan sarana perekonomian, peningkatan kelembagaan dan peluang kewirausahaan.


“Pasar Rakyat ini dibangun agar para pedagang memiliki tempat yang nyaman dan layak untuk berjualan, dan masyarakatpun dapat berbelanja dengan nyaman,” jelas Kadis Perdagangan.

Pada kesempatan ini, Walikota Banjarbaru juga mencanangkan program Ayo Beparak yang merupakan singkatan dari Ayo Berbelanja ke Pasar Rakyat. Ayo Beparak adalah program Dinas Perdagangan untuk mengajak masyarakat berbelanja ke pasar rakyat.

Untuk mensukseskan program ini, Dinas Perdagangan Kota Banjarbaru menggandeng organisasi masyarakat seperti LPM, Forum RTRW juga TP PKKK Kota Banjarbaru untuk turut mensosialisasikan gerakan Ayo Baparak di tengah-tengah masyarakat.

Setelah syukuran dan pencanganan Ayo Baparak, kegiatan dilanjutkan dengan dialog antara Walikota Banjarbaru dengan para pedagang Pasar. Para pedagang memberikan masukan dan pertanyaan yang langsung dijawab oleh Walikota Banjarbaru.

Setelah acara selesai, Walikota Banjarbaru memotong untaian Bunga untuk menandai difungsikannya Pasar Rakyat Laura sekaligus melakukan penijauan pasar. (Rico)

Reporter : Rico
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Pemerintahan

Komisi I DPRD Kalsel Siapkan Raperda Inisiatif Bahaya dan Penanggulangan Kebakaran

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Bencana kebakaran di Kalsel disiapkan payung hukumnya melewat Perda. Foto : fikri
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Bencana kebakaran di Kalimantan Selatan yang sering terjadi, baik kebakaran pemukiman maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama pada musim kemarau, menjadi perhatian serius wakil rakyat yang duduk di DPRD Provinsi Kalsel. Hal ini terbukti dengan langkah Komisi I DPRD Provinsi Kalsel yang mengajukan Raperda inisiatif tentang bahaya kebakaran, pada rapat paripurna internal DPRD Provinsi Kalsel, Kamis (7/11) siang. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalsel Hj. Mariana.

Dalam pemaparannya, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Kalsel Hj Rachmah Noorlias menyebutkan, hingga kini belum ada payung hukum tentang bahaya dan penanggulangan kebakaran untuk skala provinsi. “Oleh sebab itu, pemerintah daerah harus memberikan kepastian hukum dan memberi payung hukum dalam upaya-upaya melindungi masyarakat dalam bahaya kebakaran,” kata Rachmah.

Menurut Hj Rachmah, perlu adanya upaya penanggulangan kebakaran baik dari segi aturan, organisasi maupun tata laksananya. Seperti sumber daya manusia maupun sarpras pendukungnya harus berbasis pada potensi bahaya kebakaran.

“Raperda ini merupakan urusan wajib pemerintah provinsi dalam pelayanan dasar yaitu ketertiban umum, ketentraman dan perlindungan masyarakat dan kontekstual mengatur kawasan pemukiman, perumahan, gedung, pasar dan sekolah dari bahaya kebakaran, yang berkoordinasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota,” paparnya.

Menurut mantan Kepala Disdukcapil Banjarmasin ini, ada beberapa rumusan terkait dengan penyelenggaraan penanggulangan kebakaran. “Perlu dilakukan pengaturan tentang penanganan dan penanggulangan kebakaran. Dalam rancangan perda ini pada dasarnya merupakan refleksi dari dinamika masyarakat, yang fokus pada kelembagaan dan masyarakat itu sendiri,” ucapnya.

Dalam aspek kelembagaan, Rachmah menjabarkan, berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah. Sedangkan dari aspek masyarakat berkaitan dengan keberadaan barisan pemadam kebakaran swasta, baik skala korporasi maupun perorangan. “Sehingga, penanggulangan maupun pencegahan kebakaran bersifat lintas sektoral, sinergi dan integrasi serta berbentuk pelayanan publik,” tambahnya.

Raperda ini mengacu pada amanat di pasal 18 ayat 6 UUD 1945, UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, PP Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja, PP Nomor 37 Tahun 2017 tentang Keselamatan Angkutan Jalan, Permendagri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah dan lain-lain.

“Kami dari Komisi I DPRD Provinsi Kalsel berinisiatif dan mendorong pemerintah daerah agar raperda yang akan dibentuk untuk diberikan kepastian dan landasan hukum terhadap penanggulangan kebakaran di pemukiman, perumahan, gedung dan sekolah di Provinsi Kalsel,” pungkasnya.

Usai pemaparan tentang raperda inisiatif oleh Komisi I, sebagian besar fraksi di DPRD Provinsi Kalsel memberikan pandangan yang intinya menyetujui Raperda inisiatif ini, untuk kemudian disampaikan kepada pihak eksekutif pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Kalsel pada Senin (11/11) mendatang. (fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Pemerintahan

Menpan RB Membidik Mahasiswa ULM Jadi Influencer Aplikasi LAPOR

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Menpan RB Syafrudin saat di acara LAPOR! Goes to Campus di ULM Banjarbaru, Kamis (19/9). Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARBARU, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Syafruddin menggelorakan aplikasi mobile bertajuk “LAPOR” (Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat) ke seluruh elemen masyarakat. Salah satu yang menjadi sasarannya yakni para kaum milenial.

Seperti saat kunjungannya ke Kalsel, Menpan RB secara langsung menyebarluaskan informasi aplikasi ini di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di auditorium ULM kampus Banjarbaru, Kamis (19/9) siang.

Kegiatan yang diberi nama “LAPOR! Goes to Campus” ini dihadiri lGubernur Kalsel H Sahbirin Noor, Rektor ULM Banjarmasin Prof Sutarto Hardi serta Bupati dan Walikota se-Kalsel.

Menpan RB Syafurddin mengatakan, ada tiga universitas di Indonesia yang terpilih untuk dikunjungi yakni Universitas Diponegoro, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Universitas Sriwijaya.

Mantan Wakapolri ini menjelaskan, kegiatan Goes To Campus merupakan program khusus Kemenpan RB memperkenalkan aplikasi LAPOR ke kalangan pemuda atau yang saat ini dikenal dengan kaum milenial.

“Mengapa kaum milenial, ya karena kita ingin  generasi bangsa dapat menjadi influencer (pengaruh). Untuk itulah sasaran kita di kampus, sebab ULM mempunyai 30 ribu mahasiswa. Bayangkan 30 ribu mahasiswa menjadi influencer bagi 4 juta jiwa orang di Kalsel,” katanya.

Aplikasi LAPOR, menurut Syafruddin, bertujuan untuk membangun partisipasi publik. Hal ini pula yang diharapkan dapat membuat jarak antar pemerintahan dan publik akan semakin dekat.

“Kalau jauh jaraknya dengan publik, pemerintah sendiri akan sulit berhasil dalam mengatur tata kelola era pemerintahan ini. Apalagi saat ini revolusi digital. Sangat mudah melakukan komunikasi dan salah satunya melalui aplikasi LAPOR,” lanjutnya.

Tercatat, sudah ada 100 ribu lebih laporan yang diterima Kemenpan RB melalui aplikasi LAPOR. Sekitar 50 persennya telah berhasil ditindak lanjuti. Sedangkan yang belum, karena laporannya di luar konteks.

Melihat kondisi tersebut, Menpan RB meyakini keberhasilan aplikasi LAPOR cukup memadai. Meskipun banyaknya laporan yang diterima Kemenpan RB, rupanya juga ada penyaluran apresiasi dari masyarakat.

“Ada juga apresiasi. Pemerintah kita ini kan tidak buruk-buruk banget, sekarang juga sudah bagus. Khusus untuk Pemprov Kalsel misalnya dalam sistem akuntabilitas atau trasnparansi mendapat nilai A. Satu-satunya di luar Pulau Jawa,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor berharap aplikasi LAPOR dapat lebih dikonektivitaskan dan semakin dekat dengan masyarakat. Dirinya mengimbau seluruh jajaran pemerintahan provinsi Kalsel serta kabupaten/kota terus bergerak dan berupaya dekat dengan masyarakat.

“Sebab, dengan begitu akan terjadi komunikasi dan segala sesuatu dapat dibicarakan baik itu masukan, kritikan, tanggapan, dan apa saja. Partisipasi dari masyarakat Kalsel ini luar biasa. Terbukti kita berhasil mendapat nilai A dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah,” kata Gubernur yang akrab disapa Paman Birin tersebut.

Di sisi lain, Rektor ULM Banjarmasin Prof Sutarto Hadi menyambut baik dengan launching aplikasi LAPOR di universitas yang dipimpinnya. Menurutnya, untuk mengoptimalkan aplikasi layanan masyarakat itu, seluruh lembaga pelayanan publik di Kalsel perlu lebih aktif dalam berkomunikasi serta bersentuhan dengan masyarakat. Juga lembaga pendidikan dan universitas yang harus bersikap inklusif.

Dijelaskannya dengan adanya aplikasi LAPOR, membuat komunikasi mahasiswa dengan para dosen pun akan lebih terbuka.

“Dengan aplikasi ini mahasiswa bisa melaporkan sesuatu tanpa harus takut menyebutkan namanya. Laporan itu langsung tekirim ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Dari kementrian akan melaporakannya ke Kampus untuk ditindak lanjuti,” tungkasnya. (rico)

Reporter : Rico
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->