Connect with us

HEADLINE

Protes KPU Kalsel, Mahasiswa Tuntut Santunan KPPS yang Belum Cair!

Diterbitkan

pada

Mahasiswa demo KPU Kalsel terkait santunan terhadap petugas KPPS yang belum cair Foto: mario
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kalsel turun ke jalan menyuarakan aspirasi di kantor KPU Kalsel, di Jl A Yani Km 3,5 Banjarmasin, Kamis (9/5) sore. Mereka menuntut pencairan santunan bagi petugas KPPS yang meninggal yang sampai saat ini belum dilakukan.

Korlap aksi Ghulam Reza mengatakan, salah satu diantara anggotaKPPS yang meninggal adalah seorang mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (UNISKA). “Sebelumnya kami pernah demo di Bawaslu saat pra pemilu. Di sini kami ingin tahu bukti konkrit KPU dalam memberi santunan atau mengayomi. Apabila KPPS tidak ada, sudah pasti pemilu tidak berjalan. Siapa lagi lembaga yang kita percayai,” ungkapnya.

Ia mengatakan, mestinya para pahlawan demokrasi yang gugur mesti mendapat santunan yang layak. Namun kenyataan sampai kali ini belum ada iktikad dari KPU untuk mencairkan santunan tersebut.



“Kami juga menuntut agar pemilu menjaga demokrasi. Jurdil dan bersih. Hentikan (dugaan) kecurangan yang dilakukan KPU. Kita tak memihak siapa-siapa, tapi kita mau jurdil siapa lagi yang kita minta selain Bawaslu,” paparnya.

Menanggapi hal ini, Komisioner KPU Kalsel Edy Ariansyah di sela-sela rapat pleno datang menghadiri aksi tersebut. Ihwal santunan terhadap para pejuang demokrasi yang terkena musibah ataupun meninggal dunia, Edy mengatakan KPU sedang melakukan proses verifikasi dan validasi data.

“Pada tanggal 2 Mei 2019 melalui Sekjen KPU RI telah mengeluarkan surat dinas untuk melakukan verivikasi dan validasi untuk data anggota yang betugas saat proses pemilu yang meninggal dunia agar dilaporkan paling lambat tanggal 11 Mei 2019,” ungkapnya. Sejauh ini ada, khusus Kalsel ada 9 penyelenggara pemilu yang telah meninggal dunia dan 70 orang yang sedang dirawat akibat sakit.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman menuturkan pihaknya telah menyiapkan dana hingga Rp 40 miliar untuk pemberian santunan kepada keluarga petugas KPPS yang meninggal dan sakit. Namun, angka tersebut masih bisa berubah karena jumlah korban diperkirakan meningkat.

“Yang sudah disiapkan sampai sekarang kita masih mengandalkan kurang lebih sekitar Rp 40 miliar,” ujar Arief, Jumat (3/5) lalu.

Dalam proses pemberian santunan, KPU melakukan verifikasi ke pihak-pihak terkait, mulai dari kelurahan hingga keluarga untuk ahli warisnya. Verifikasi dilakukan dengan memastikan siapa ahli waris hingga mencocokkan data dengan korban.

Menurut Arief, verifikasi dilakukan agar tak terjadi kesalahan dalam pemberian santunan kepada pihak yang berhak. “Selanjutnya kami akan melakukan verifikasi secara detail kepada seluruh penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah. Baik yang meninggal dunia, maupun yang sedang dirawat di rumah sakit. Ini kami akan tuntaskan, mudah-mudahan tidak dalam waktu yang terlalu lama semua bisa di selesaikan,” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan telah menyetujui usulan KPU terkait santunan bagi petugas KPPS yang meninggal dan sakit. Anggaran ini diambil dari belanja KPU.

Bagi petugas KPPS yang meninggal akan menerima santunan sebesar Rp 36 juta. Sementara, petugas yang cacat permanen mendapat santunan sebesar Rp 30 juta, luka berat sebesar Rp 16,5 juta, dan luka sedang sebesar Rp 8,25 juta.(mario)

Reporter:Mario
Editor:Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Wali Kota Nadjmi Wafat, Begini Kondisi Terakhir Menurut RSUD Ulin Banjarmasin

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Plt. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin MS Jehan menyampaikan kondisi terakhir Wali Kota Nadjmi saat perawatan di RS. Foto: fikri
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Wali Kota Banjarbaru H. Nadjmi Adhani meninggal dunia pada Senin (10/8/2020), setelah dua pekan berjuang melawan Covid-19. Nadjmi sempat menjalani perawatan di RSD Idaman Banjarbaru, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin hingga menghembuskan nafas terakhir.

Lalu, bagaimana kondisi terakhir Nadjmi sebelum wafat? Kepada awak media usai salat jenazah di Gedung Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Ulin Banjarmasin, Plt. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin MS Jehan mengatakan, pihaknya telah maksimal dalam memberikan perawatan kepada Nadjmi selama di rumah sakit. “Kami juga berikan ventilator kepada beliau,” kata Jehan.

Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Ulin Banjarmasin dr. Among Wibowo, Mkes, SpS menambahkan,  Nadjmi telah mendapatkan perawatan standar Covid-19. Salah satunya, menjalani perawatan di ruang ICU Covid-19 di rumah sakit terbesar di Kalsel ini.

“Beliau sudah mendapatkan terapi plasma konvalesen, kemudian terapi-terapi lainnya untuk menaikkan hemoglobin,” kata Among.



Ditambahkannya, sehari sebelum wafat, kondisi Nadjmi mengalami penurunan atau desaturasi. Bahkan, saturasi Nadjmi sempat menyentuh angka 40 persen.

“Normalnya saturasi itu 95 hingga 100 persen. Sedangkan ini saturasi turun jauh sampai 40 persen. Sehingga diberikan tindakan-tindakan khusus,” imbuh Among.

Lantas, setelah diketahui mengalami desaturasi, dilakukan penatalaksanaan oleh tim dokter yang merawat. Pada Minggu (9/8/2020) pukul 09:00 Wita, Nadjmi pun diberikan ventilator.

“Kondisi beliau sempat mengalami penurunan, hingga pukul 21:00 Wita, dilakukan pemantauan terus. Pukul 00:00 Wita (Senin, 10/8/2020) kondisinya kurang membaik dan beliau meninggal dinihari tadi sekitar pukul 02:30 Wita,” bebernya.

Diakui dokter spesialis saraf ini, selama dirawat, kondisi Nadjmi sempat membaik. Namun, seiring bejalannya waktu, kondisi mantan Camat Landasan Ulin ini kembali memburuk. “Hingga saat kemarin pagi itu, kondisinya perlu penanganan dengan ventilator,” tandasnya.

Among mengatakan, Nadjmi juga memiliki penyakit komorbid, atau penyakit penyerta. Salah satunya, obesitas. “Serta faktor-faktor lainnya,” pungkas Among. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter: Fikri
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Nadjmi Adhani, Wali Kota Pertama di Indonesia yang Meninggal karena Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Berpulangnya Wali Kota Nadjmi Adhani menjadi duka mendalam bagi seluruh masyarakat Banjarbaru. Nadjmi tercatat sebagai wali kota pertama di Indonesia yang meninggal karena Covid-19.

Kabar meninggalnya Nadjmi Adhani disampaikan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie. Nadjmi Adhani menghembuskan nafas terakhir, Senin (10/8/2020) tepat pada pukul 02.30 waktu Indonesia Bagian Tengah (Wita).

“Innalillahiwainnailaihi rojiun, telah meninggal dunia bapak Wali Kota Banjarbaru H Nadjmi Adhani, pukul 02:30 Wita di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin,” singkat Zaini Syahranie.

Senin (27/9/2020), Nadjmi mengumumkan dirinya terpapar Covid-19. Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru melalui bidang Humas dan Protokol merilis video rekaman Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani yang memberitahukan kepada masyarakat bahwa dirinya terkonfirmasi positif.



Sahabat dunia akhirat ungkap wakil walikota Banjarbaru Darmawan Jaya, mengenang Walikota Nadjmi Adhani

Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit itu, Wali Kota menyatakan selain dirinya, sang istri Ririn Nadjmi Adhani juga ikut terpapar virus tersebut. Di video itu juga melihatkan bahwa saat Nadjmi tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru.

“Berdasarkan hasil swab, hari ini saya dan istri dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Untuk itu saya minta doa untuk kesembuhan kami, agar diberi kekuatan dan kemudahan dalam berobat bisa melewati ini dengan baik,” katanya ketika itu.

Sempat di RS Idaman, akhirnya Wali Kota Nadjmi dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin untuk perawatan lebih intensif selama dua minggu. Dalam perawatan tersebut, kondisi Nadjmi sempat turun. Sehingga sempat mengirimkan perwakilan pemkot Banjarbaru ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) mengambil plasma darah untuk mempercepat penyembuhan wali kota dan istri.

Namun, kemarin kondisi Nadjmi drop kembali. Hingga akhirnya pria kelahiran Banjarmasin tersebut meninggal dunia setelah berjuang melawan infeksi Covid-19 selama lebih dari dua pekan.

Nadjmi Adhani  menjabat Wali Kota Banjarbaru sejak 2016 lalu dan akan mengakhiri masa periode pada 2021 mendatang. Memimpin roda pemerintahan bersama Wakil Wali Kota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan, sosok Nadjmi begitu dikenal masyarakat, khusus program inovasi yang digalakkannya selama beberapa tahun terakhir.

Covid-19 di Kalsel

Kasus positif Covid-19 di Kalimantan Selatan belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Data terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kalsel pada Minggu (9/8/2020) sore mencatat, sudah ada 6.715 kasus positif Covid-19 secara keseluruhan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.354 kasus atau 35,06 persen masih menjalani perawatan. “Panambahan positif Covid-19 hari ini sebanyak 98 orang. Berasal dari Kabupaten Banjar 1 orang, Kabupaten Barito Kuala 22 orang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 3 orang. Disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara 1 orang, Kabupaten Tanah Bumbu 2 orang dan Kota Banjarmasin 69 orang,” kata Juru Bicara GTPP Covid-19 Kalsel M. Muslim.

Sedangkan kasus positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh juga bertambah sebanyak 33 orang. Kini total ada 4.054 atau 60,37 persen kasus positif Covid-19 yang sembuh.

“Pasien Covid-19 sembuh sebanyak 33 orang. Yang berasal dari karantina Kabupaten Banjar 13 orang, karantina Kabupaten Barito Kuala 9 orang, karantina Kabupaten Hulu Sungai Selatan 1 orang dan Karantina Kota Banjarmasin 10 orang,” imbuh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel ini.

Sedangkan kasus kematian akibat Covid-19 juga dilaporkan bertambah satu orang yang berasal dari Kota Banjarmasin. Total sudah ada 307 kasus atau 4,57 persen kasus positif Covid-19 yang meninggal dunia. (Kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter: Rico

Editor: Cell/Andy


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->