Connect with us

RELIGI

Resmi! Idul Adha 1441 Hijriah Jatuh Hari Jumat 31 Juli

Diterbitkan

pada

Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan penetapan Idul Adha Foto: suara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Kementerian Agama RI resmi menetapkan awal Zulhijjah, Rabu (22/7), dan Hari Raya Idul Adha pada Jumat (31/7/2020). Keputusan itu adalah hasil sidang itsbat yang berlangsung di kantor Kementerian Agama dan melalui konferensi video, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2020).

“Berdasarkan hisab, posisi hilal di seluruh Indonesia, maka secara mufakat dinyatakan 1 Zulhijjah 1441 Hijriah pada hari Rabu 22 Juli 2020 dan dinyatakan Idul Adha tanggal 10 Zulhijjah jatuh pada Jumat tanggal 31 Juli 2020,” ujar Menteri Agama Fachrul Razi.

Baca juga :

Kasus Sembuh Covid-19 Bertambah 159 Orang, Persentase Sembuh Capai 40 Persen



Fachrul menuturkan, informasi hitungan hisab telah terkonfirmasi di 84 titik rukyat yang tersebar di 34 provinsi. Dari 84 titik rukyat, petugas yang telah disumpah oleh hakim pengadilan agama setempat di lebih dari 12 titik melihat hilal.

Infografis : Kanalkalimantan/yuda

Fachrul berharap seluruh umat muslim bisa melaksanakan Salat Idul Adha secara bersamaan. “Tentu kami berharap seluruh umat Islam secara bersamaan. Ini adalah simbol kebersamaan.”

Sidang Isbat juga dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyiddin Junaidi, Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, dan Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin.

Sidang juga diikuti perwakilan ormas melalui aplikasi daring. (suara)

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RELIGI

Nisan Syekh Ali Jaber Dibuat Kaligrafer Bersanad Hingga ke Juru Tulis Nabi

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Syeikh Bel'eid Hamidy, kaligrafer internasional Maroko membuat kaligrafi nisan Syeikh Ali Jaber, Kamis (14/1/2021). Foto: Suara.com/Wivy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. JAKARTA– Kabar meninggalnya Syekh Ali Jaber pada, Kamis (14/1/2021) pagi, menjadi duka bagi umat Islam di Indonesia. Tak terkecuali para pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran, Cipondoh, Tangerang.

Diketahui, pihak keluarga telah memutuskan memakamkan Syekh Ali di Ponpes Daarul Quran.

Sebagai salah satu sosok ulama yang dicintai, pihak Ponpes Daarul Quran pun sengaja menyiapkan papan nisan khusus bagi Syaikh Ali Jaber.

Salah satu Pimpinan Ponpes Daarul Quran, Ustaz Ahmad Jameel mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan papan nisan khusus dan spesial.



Bukan karena papan nisannya yang spesial, tapi karena goresan kaligrafi nisan Syaikh Ali Jaber bukan dibuat oleh orang sembarangan.
Jameel mengatakan, papan nisan itu dibuat oleh kaligrafer internasional asal Maroko yang memiliki sanad dari juru tulis saat zaman Rasulullah SAW.

“Pembuat nisan beliau Syeikh Bel’eid Hamidy, kaligrafer internasional bersanad. Jadi kalau bacaan Quran kita ada sanad nyambung sampai Rasulullah, tulisan ini nyambung sampai kepada para sahabat juru tulis rasul,” kata Jameel ditemui di sekitar lokasi pemakaman di Ponpes Daarul Quran, Kamis (14/1/2021).

Jameel menerangkan, kaligrafi yang dibuat di papan nisan Syeikh Ali Jaber itu sementara masih ditulis menggunakan spidol.
“Sudah selesai, tadi dibuat 10 menit, kaligrafinya ditulis sementara pakai spidol.

Nanti baru akan dibuatkan granitnya dan papannya diukir atau dipahat,” terang Jameel.
Lebih lanjut ,Jameel menuturkan, pihaknya memang sengaja meminta Syeikh Bel’eid untuk menuliskan papan nisan Syaikh Ali Jaber itu dan direspon dengan suka cita.

“Beliau sangat senang sekali, kemulian untuk kami katanya begitu,” tutur Jameel.
Jameel juga mamaparkan, bahwa Syeikh Bel’eid merupakan penulis 8 mushaf Al Quran salah satunya dengan kaligrafi magribi Maroko.

“Beliau menulis 8 mushaf Al Quran salah satunya dengan kaligrafi magribi maroko. Ini masih sangat ori, jarang orang bisa. Beliau yang kemudian mempersembahkan tulisannya untuk nisan Syeikh Ali Jabeer. Beliau juga dewan juri kaligrafi internasional,” pungkasnya. (suara)

Editor: cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Terkubur 30 Tahun, Jasad Soewardi Utuh, Kain Kafan Tak Rusak

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Jasad kakek Soewardi masih utuh meski terkubur 30 tahun. Foto: via Suaraindonesia.co.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Sebagian warga Kabupaten Banyuwangi dihebohkan dengan jasad seorang kakek yang telah terkubur puluhan tahun ternyata masih utuh. Sontak, kondisi jasad bernama Soewardi itu mengejutkan warga dan keluarga.

Selain utuh, kain kafan yang melekat pada jasadnya juga utuh dan bahkan tidak berbau.

Kondisi jasad kakek Soewardi terungkap masih utuh usai makamnya dibongkar oleh pihak keluarga pada Minggu (20/12/2020).

Makam kakek Soewardi dibongkar karena keluarga hendak memindahkan jasadnya dari makam keluarga di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, ke makam umum di wilayah setempat.



 

Dikarenakan makam istri dan anaknya berada di pemakaman umum wilayah tersebut.

Dilansir dari Suaraindonesia.co.id -jaringan Suara.com-, cucu Soewardi, Dedi Utomo merasa kaget setelah melihat jenazah kakeknya yang masih utuh usai dibongkar.

Kata dia, sudah 30 tahun kakeknya meninggal. Namun setelah dibongkar jenazah almarhum masih utuh, kain kafannya juga utuh tidak ada yang sobek.

“Saya sempat kaget saat dibongkar karena masih utuh jenazahnya dan tidak ada bau sama sekali, hanya saja warna kain kafan yang kecoklatan, tapi tidak ada yang sobek sama sekali,” ungkap Dedi.

Dedi pun menceritakan, kalau semasa hidupnya kakek Soewardi menjadi pengurus masjid. Dedi juga ingat betul bagaimana didikan kakeknya soal agama.

“Saya dulu pernah dipukul karena lebih mementingkan main daripada sholat dan beribadah. Kakek sangat keras kalau ada anak atau cucunya yang meninggalkan sholat,” ujar Dedi.

Masih kata Dedi, sebelum jadi pengurus masjid, kakek Soewardi aktif menjadi veteran yang berjuang melawan partai komunis Indonesia (PKI), orangnya pun dikenal baik di kalangan masyarakat.

Dedi juga menceritakan nasab dari almarhum kakeknya ini, bahwa kakek Soewardi masih keturunan dari Bupati pertama Banyuwangi, yakni Tumenggung Wirogono I atau biasa disebut Mas Alit.

Dari situlah, jiwa agamis dan nasionalisnya tumbuh, dikarenakan masih ada hubungan darah dari Mas Alit yang (keturunan Prabu Tawangalun, raja pertama Blambangan).

“Semoga dengan kejadian ini masyarakat lebih menebalkan imannya dalam hal ibadah,” imbuh dia. (suara.com)

Reporter: suara.com
Editor: KK


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->