Connect with us

HEADLINE

‘Ritual’ Menunggu Kuorum Sebelum Paripurna di DPRD Banjar!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kembali, rapat paripurna yang mestinya bisa digelar harus tertunda karena tidak tercapai kourum kehadiran anggota dewan. Sampai kapan?


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Rapat paripurna kembali batal karena tidak tercapai kuorum Foto: rendy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARTAPURA, Minimnya tingkat kehadiran DPRD Banjar seolah sudah menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Terbukti, dalam berbagai agenda—bahkan untuk Rapat Paripurna, pasti didahului dengan ‘ritual’ menunggu kuorum. Termasuk saat paripurana dengan agenda penyampaian hasil reses anggota dewan yang terhormat pada Senin (28/5) tadi. Dan lagi-lagi, hasilnya paripurna ditunda karena tidak tercapai kuorum!

Walhasil, dari rencana rapat pukul 10.00 Wita pagi itu akhirnya baru bisa dimulai pukul 11.00 Wita. Itupun, dari 45 anggota DPRD Banjar 19 di antaranya masih absen dengan alasan yang tidak jelas. Dari pantauan Kanalkalimantan.com,  hanya ada tujuh (7) anggota dewan saja yang datang tepat waktu yaitu pukul 10.00 wita.

Ketidakhadiran 19 anggota dewan tersebut, dan terkait seringnya mereka bolos kerja mendapat perhatian khusus dari Ketua DPRD Kabupaten Banjar H Rusli S. AP, MM. Menurutnya, perlu adanya ketegasan sanksi kepada anggota dewan yang tidak hadir dalam setiap agenda. Untuk itu, dia menyerahkan sepenuhnya proses tersebut kepada Badan Kehormatan (BK) DPRD Banjar.

“Di DPRD Kabupaten Banjar kan ada yang namanya pengawasan yang langsung dilakukan oleh BK, sekarang tinggal BK saja yang nantinya menindaklanjuti hal tersebut, nantinya bagaimana,” tegasnya.



Rusli juga tidak mempungkiri bahwa sebelumnya juga telah terjadi dua kali rapat paripurna yang tertunda akibat kurangnya anggota dewan. Namun ia berdalih tidak tahu dan tidak bisa berbuat banyak karena sedang berada di Bali untuk mendampingi anaknya yang sedang sakit.

“Hari ini pun sebenarnya kita tunda lagi agenda pengambilan keputusan terhadap Raperda karena tidak kourum. Anggota yang berhadir hanya 26 orang anggota DPRD, ya paling sedikit bisa dilaksanakan harusnya 30 orang,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri tertundanya agenda pengambilan keputusan Raperda berdampak fatal pada Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ). “LKPJ harus disampaikan, jika LKPJ tidak disampaikan kita tidak bisa membahas perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), apakah anggota DPRD paham dan mengerti akan hal ini, jika mengerti mereka ya harus hadir,” tegas Rusli.

Kewajiban DPRD membahas masalah LKPJ di sidang paripurna menurut Rusli membuat mereka harus hadir dalam sidang tersebut. Karena dia menilai anggota dewan yang tidak hadir pada sidang tersebut akan berdampak kepada mereka sendiri.

“Mereka menghukum diri mereka sendiri, karena tidak berhadir, dan mau tidak mau Raperda ya harus kita tunda,” pungkasnya.

Memang ironis, gaji tinggi dan fasilitas lengkap yang diterima anggota DPRD Banjar ternyata tak dibarengi kinerja optimal. Sebelumnya, agenda rapat paripurna membahas hasil kinerja Pansus Hak Angket pada Senin (9/4) untuk kedua kalinya gagal terlaksana juga gara-gara ketidakhadiran sejumlah anggotanya. Dari 45 anggota dewan, hanya 19 anggota yang hadir dalam rapat paripurna sehingga belum tercapai kuorum.

Sebelumnya, paripurna agenda sama yang diagendakan pada Senin (26/3) lalu, juga batal dilaksanakan dengan sebab sama. Saat itu, hanya 10 orang yang hadir dalam paripurna.

Wakil ketua DPRD Banjar Saidan Pahmi ketika itu, selaku pimpinan sidang sebenarnya sempat memberikan waktu dua kali sepuluh menit skrosing untuk menunggu anggota lain hadir. Namun anggota yang hadir masih tetap, dan tak memenuhi kuorum. Skorsing sidang dilakukan merujuk peraturan DPRD Banjar No 1 tahun 2014 tentang Tatib, utamanya Pasal 80 tentang kuorum.

Sebelum paripurna akhirnya dibatalkan, sempat terjadi protes oleh anggota komisi IV, Jum’ani Shabran yang dengan nada keras menginginkan agar batas waktu skorsing segera diutuskan. Mengingat ternyata molor selama satu setengah jam.

“Memang kita tidak kuorum pimpinan, tapi setidaknya pukul 13.00 Wita harusnya sidang sudah harus dibuka. Biar waktu tidak molor, ini sudah terlalu molor, padahal ini merupakan hari yang penting dan seharusnya anggota hadir semua,” tegas Jum’ani.

Akhirnya, setelah ditunggu lama tak ada perkembangan, Saidan Pahmi pun akhirnya kembali membatalkan paripurna tersebut. “Sesuai tata tertib DPRD paripurna tidak bisa dilaksanakan jika tidak memenuhi kuorum. Kita akan mengingatkan menyangkut etik kepada teman-teman, atas ketidakhadiran anggota dewan tersebut,” ungkap Fahmi.(rendy)

Reporter: Rendy
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

Wali Kota Nadjmi Wafat, Begini Kondisi Terakhir Menurut RSUD Ulin Banjarmasin

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Plt. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin MS Jehan menyampaikan kondisi terakhir Wali Kota Nadjmi saat perawatan di RS. Foto: fikri
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Wali Kota Banjarbaru H. Nadjmi Adhani meninggal dunia pada Senin (10/8/2020), setelah dua pekan berjuang melawan Covid-19. Nadjmi sempat menjalani perawatan di RSD Idaman Banjarbaru, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin hingga menghembuskan nafas terakhir.

Lalu, bagaimana kondisi terakhir Nadjmi sebelum wafat? Kepada awak media usai salat jenazah di Gedung Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Ulin Banjarmasin, Plt. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin MS Jehan mengatakan, pihaknya telah maksimal dalam memberikan perawatan kepada Nadjmi selama di rumah sakit. “Kami juga berikan ventilator kepada beliau,” kata Jehan.

Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Ulin Banjarmasin dr. Among Wibowo, Mkes, SpS menambahkan,  Nadjmi telah mendapatkan perawatan standar Covid-19. Salah satunya, menjalani perawatan di ruang ICU Covid-19 di rumah sakit terbesar di Kalsel ini.

“Beliau sudah mendapatkan terapi plasma konvalesen, kemudian terapi-terapi lainnya untuk menaikkan hemoglobin,” kata Among.



Ditambahkannya, sehari sebelum wafat, kondisi Nadjmi mengalami penurunan atau desaturasi. Bahkan, saturasi Nadjmi sempat menyentuh angka 40 persen.

“Normalnya saturasi itu 95 hingga 100 persen. Sedangkan ini saturasi turun jauh sampai 40 persen. Sehingga diberikan tindakan-tindakan khusus,” imbuh Among.

Lantas, setelah diketahui mengalami desaturasi, dilakukan penatalaksanaan oleh tim dokter yang merawat. Pada Minggu (9/8/2020) pukul 09:00 Wita, Nadjmi pun diberikan ventilator.

“Kondisi beliau sempat mengalami penurunan, hingga pukul 21:00 Wita, dilakukan pemantauan terus. Pukul 00:00 Wita (Senin, 10/8/2020) kondisinya kurang membaik dan beliau meninggal dinihari tadi sekitar pukul 02:30 Wita,” bebernya.

Diakui dokter spesialis saraf ini, selama dirawat, kondisi Nadjmi sempat membaik. Namun, seiring bejalannya waktu, kondisi mantan Camat Landasan Ulin ini kembali memburuk. “Hingga saat kemarin pagi itu, kondisinya perlu penanganan dengan ventilator,” tandasnya.

Among mengatakan, Nadjmi juga memiliki penyakit komorbid, atau penyakit penyerta. Salah satunya, obesitas. “Serta faktor-faktor lainnya,” pungkas Among. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter: Fikri
Editor: Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Nadjmi Adhani, Wali Kota Pertama di Indonesia yang Meninggal karena Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Berpulangnya Wali Kota Nadjmi Adhani menjadi duka mendalam bagi seluruh masyarakat Banjarbaru. Nadjmi tercatat sebagai wali kota pertama di Indonesia yang meninggal karena Covid-19.

Kabar meninggalnya Nadjmi Adhani disampaikan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie. Nadjmi Adhani menghembuskan nafas terakhir, Senin (10/8/2020) tepat pada pukul 02.30 waktu Indonesia Bagian Tengah (Wita).

“Innalillahiwainnailaihi rojiun, telah meninggal dunia bapak Wali Kota Banjarbaru H Nadjmi Adhani, pukul 02:30 Wita di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin,” singkat Zaini Syahranie.

Senin (27/9/2020), Nadjmi mengumumkan dirinya terpapar Covid-19. Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru melalui bidang Humas dan Protokol merilis video rekaman Wali Kota Banjarbaru Nadjmi Adhani yang memberitahukan kepada masyarakat bahwa dirinya terkonfirmasi positif.



Sahabat dunia akhirat ungkap wakil walikota Banjarbaru Darmawan Jaya, mengenang Walikota Nadjmi Adhani

Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit itu, Wali Kota menyatakan selain dirinya, sang istri Ririn Nadjmi Adhani juga ikut terpapar virus tersebut. Di video itu juga melihatkan bahwa saat Nadjmi tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru.

“Berdasarkan hasil swab, hari ini saya dan istri dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Untuk itu saya minta doa untuk kesembuhan kami, agar diberi kekuatan dan kemudahan dalam berobat bisa melewati ini dengan baik,” katanya ketika itu.

Sempat di RS Idaman, akhirnya Wali Kota Nadjmi dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin untuk perawatan lebih intensif selama dua minggu. Dalam perawatan tersebut, kondisi Nadjmi sempat turun. Sehingga sempat mengirimkan perwakilan pemkot Banjarbaru ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) mengambil plasma darah untuk mempercepat penyembuhan wali kota dan istri.

Namun, kemarin kondisi Nadjmi drop kembali. Hingga akhirnya pria kelahiran Banjarmasin tersebut meninggal dunia setelah berjuang melawan infeksi Covid-19 selama lebih dari dua pekan.

Nadjmi Adhani  menjabat Wali Kota Banjarbaru sejak 2016 lalu dan akan mengakhiri masa periode pada 2021 mendatang. Memimpin roda pemerintahan bersama Wakil Wali Kota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan, sosok Nadjmi begitu dikenal masyarakat, khusus program inovasi yang digalakkannya selama beberapa tahun terakhir.

Covid-19 di Kalsel

Kasus positif Covid-19 di Kalimantan Selatan belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Data terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kalsel pada Minggu (9/8/2020) sore mencatat, sudah ada 6.715 kasus positif Covid-19 secara keseluruhan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.354 kasus atau 35,06 persen masih menjalani perawatan. “Panambahan positif Covid-19 hari ini sebanyak 98 orang. Berasal dari Kabupaten Banjar 1 orang, Kabupaten Barito Kuala 22 orang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 3 orang. Disusul Kabupaten Hulu Sungai Utara 1 orang, Kabupaten Tanah Bumbu 2 orang dan Kota Banjarmasin 69 orang,” kata Juru Bicara GTPP Covid-19 Kalsel M. Muslim.

Sedangkan kasus positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh juga bertambah sebanyak 33 orang. Kini total ada 4.054 atau 60,37 persen kasus positif Covid-19 yang sembuh.

“Pasien Covid-19 sembuh sebanyak 33 orang. Yang berasal dari karantina Kabupaten Banjar 13 orang, karantina Kabupaten Barito Kuala 9 orang, karantina Kabupaten Hulu Sungai Selatan 1 orang dan Karantina Kota Banjarmasin 10 orang,” imbuh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel ini.

Sedangkan kasus kematian akibat Covid-19 juga dilaporkan bertambah satu orang yang berasal dari Kota Banjarmasin. Total sudah ada 307 kasus atau 4,57 persen kasus positif Covid-19 yang meninggal dunia. (Kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter: Rico

Editor: Cell/Andy


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->