Connect with us

RELIGI

Rocker Era 80-an Sinead O’Connor Putuskan Jadi Mualaf

Diterbitkan

pada

O’Connor menjadi seorang mualaf dan saat ini memakai jilbab Foto : net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penyanyi rock asal Irlandia, Sinead O’Connor, kini sedang menjadi perhatian karena kehidupan pribadinya. Saat ini, penyanyi 51 tahun itu telah memeluk Islam dan bahkan mengenakan hijab. O’Connor beberapa waktu lalu mengumumkan kabar tersebut melalui akun Twitternya.

Sebelum memeluk Islam, ia sudah mencoba mendalami agama lain. Namun dari proses belajar yang terus ia lakukan, akhirnya ia memilih Islam sebagai tambatan kalbunya. “Ini untuk mengumumkan bahwa saya bangga telah menjadi seorang Muslim. Ini adalah kesimpulan alami dari perjalanan teologi yang cerdas,” ungkap Connor.

Setelah masuk Islam, Connor kemudian mengubah namanya menjadi Shuhada Davitt. Di akun Twitternya, Shuhada juga mencoba adzan, meskipun ada beberapa kata yang salah. Ia pun mengaku tak akan memajang foto lagi, karena alasan privasi.

Setelah memeluk agama baru, saat ini O’Connor mengaku sangat bahagia.



“Saya seorang wanita tua yang jelek. Tapi saya seorang wanita tua yang sangat, sangat, sangat bahagia,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Sinead O’Connor adalah penyanyi dan penulis lagu Irlandia yang mulai terkenal pada akhir tahun 1980-an. Debut albumnya adalah The Lion and the Cobra. Ia mencapai kesuksesan internasional pada tahun 1990.

Beberapa hal tentang O’Connor mengundang kontroversi, seperti penahbisannya sebagai seorang imam Katolik, meskipun ia wanita. Pada tahun 2017, ia mengumumkan bahwa nama resminya adalah Magda Davitt, tetapi kini berubah menjadi Shuhada Davitt.

Awal pekan ini, O’Connor mengatakan kepada Daily Mail bahwa dia akan berkolaborasi dengan Ronnie Wood dari Rolling Stones, serta aktor Cilliam Murphy, Pink Floyd Nick Mason dan penyanyi Imelda Mei untuk lagu barunya. (cel/dml)

Reporter : Cel/dml
Editor : Chell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RELIGI

Nisan Syekh Ali Jaber Dibuat Kaligrafer Bersanad Hingga ke Juru Tulis Nabi

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Syeikh Bel'eid Hamidy, kaligrafer internasional Maroko membuat kaligrafi nisan Syeikh Ali Jaber, Kamis (14/1/2021). Foto: Suara.com/Wivy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. JAKARTA– Kabar meninggalnya Syekh Ali Jaber pada, Kamis (14/1/2021) pagi, menjadi duka bagi umat Islam di Indonesia. Tak terkecuali para pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran, Cipondoh, Tangerang.

Diketahui, pihak keluarga telah memutuskan memakamkan Syekh Ali di Ponpes Daarul Quran.

Sebagai salah satu sosok ulama yang dicintai, pihak Ponpes Daarul Quran pun sengaja menyiapkan papan nisan khusus bagi Syaikh Ali Jaber.

Salah satu Pimpinan Ponpes Daarul Quran, Ustaz Ahmad Jameel mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan papan nisan khusus dan spesial.



Bukan karena papan nisannya yang spesial, tapi karena goresan kaligrafi nisan Syaikh Ali Jaber bukan dibuat oleh orang sembarangan.
Jameel mengatakan, papan nisan itu dibuat oleh kaligrafer internasional asal Maroko yang memiliki sanad dari juru tulis saat zaman Rasulullah SAW.

“Pembuat nisan beliau Syeikh Bel’eid Hamidy, kaligrafer internasional bersanad. Jadi kalau bacaan Quran kita ada sanad nyambung sampai Rasulullah, tulisan ini nyambung sampai kepada para sahabat juru tulis rasul,” kata Jameel ditemui di sekitar lokasi pemakaman di Ponpes Daarul Quran, Kamis (14/1/2021).

Jameel menerangkan, kaligrafi yang dibuat di papan nisan Syeikh Ali Jaber itu sementara masih ditulis menggunakan spidol.
“Sudah selesai, tadi dibuat 10 menit, kaligrafinya ditulis sementara pakai spidol.

Nanti baru akan dibuatkan granitnya dan papannya diukir atau dipahat,” terang Jameel.
Lebih lanjut ,Jameel menuturkan, pihaknya memang sengaja meminta Syeikh Bel’eid untuk menuliskan papan nisan Syaikh Ali Jaber itu dan direspon dengan suka cita.

“Beliau sangat senang sekali, kemulian untuk kami katanya begitu,” tutur Jameel.
Jameel juga mamaparkan, bahwa Syeikh Bel’eid merupakan penulis 8 mushaf Al Quran salah satunya dengan kaligrafi magribi Maroko.

“Beliau menulis 8 mushaf Al Quran salah satunya dengan kaligrafi magribi maroko. Ini masih sangat ori, jarang orang bisa. Beliau yang kemudian mempersembahkan tulisannya untuk nisan Syeikh Ali Jabeer. Beliau juga dewan juri kaligrafi internasional,” pungkasnya. (suara)

Editor: cell

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Terkubur 30 Tahun, Jasad Soewardi Utuh, Kain Kafan Tak Rusak

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Jasad kakek Soewardi masih utuh meski terkubur 30 tahun. Foto: via Suaraindonesia.co.id
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Sebagian warga Kabupaten Banyuwangi dihebohkan dengan jasad seorang kakek yang telah terkubur puluhan tahun ternyata masih utuh. Sontak, kondisi jasad bernama Soewardi itu mengejutkan warga dan keluarga.

Selain utuh, kain kafan yang melekat pada jasadnya juga utuh dan bahkan tidak berbau.

Kondisi jasad kakek Soewardi terungkap masih utuh usai makamnya dibongkar oleh pihak keluarga pada Minggu (20/12/2020).

Makam kakek Soewardi dibongkar karena keluarga hendak memindahkan jasadnya dari makam keluarga di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, ke makam umum di wilayah setempat.



 

Dikarenakan makam istri dan anaknya berada di pemakaman umum wilayah tersebut.

Dilansir dari Suaraindonesia.co.id -jaringan Suara.com-, cucu Soewardi, Dedi Utomo merasa kaget setelah melihat jenazah kakeknya yang masih utuh usai dibongkar.

Kata dia, sudah 30 tahun kakeknya meninggal. Namun setelah dibongkar jenazah almarhum masih utuh, kain kafannya juga utuh tidak ada yang sobek.

“Saya sempat kaget saat dibongkar karena masih utuh jenazahnya dan tidak ada bau sama sekali, hanya saja warna kain kafan yang kecoklatan, tapi tidak ada yang sobek sama sekali,” ungkap Dedi.

Dedi pun menceritakan, kalau semasa hidupnya kakek Soewardi menjadi pengurus masjid. Dedi juga ingat betul bagaimana didikan kakeknya soal agama.

“Saya dulu pernah dipukul karena lebih mementingkan main daripada sholat dan beribadah. Kakek sangat keras kalau ada anak atau cucunya yang meninggalkan sholat,” ujar Dedi.

Masih kata Dedi, sebelum jadi pengurus masjid, kakek Soewardi aktif menjadi veteran yang berjuang melawan partai komunis Indonesia (PKI), orangnya pun dikenal baik di kalangan masyarakat.

Dedi juga menceritakan nasab dari almarhum kakeknya ini, bahwa kakek Soewardi masih keturunan dari Bupati pertama Banyuwangi, yakni Tumenggung Wirogono I atau biasa disebut Mas Alit.

Dari situlah, jiwa agamis dan nasionalisnya tumbuh, dikarenakan masih ada hubungan darah dari Mas Alit yang (keturunan Prabu Tawangalun, raja pertama Blambangan).

“Semoga dengan kejadian ini masyarakat lebih menebalkan imannya dalam hal ibadah,” imbuh dia. (suara.com)

Reporter: suara.com
Editor: KK


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->