Connect with us

Ulas Kitab

Salah Kaprah Pengertian Thaun dan Wabah dalam Hadits Rasulullah SAW

Diterbitkan

pada

Sebagian ulama menyamakan pengertian kata “tha’un” dan “waba’ untuk merujuk pada penyakit mematikan-berbahaya yang menular, menyerang, dan memakan korban sebagian besar masyarakat di suatu daerah. Ilustrasi: via wejdan.org
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pemakaian kata “thaun” dan “waba’” sering dipertukarkan untuk menyebut wabah atau penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (misalnya wabah cacar, disentri, pes, kolera). Kata “thaun” dan “waba’” sering digunakan untuk menyebut epidemi.

Dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW kita mengenal kata “jārif,” “waba’,” dan “tha’un” untuk menyebut sebuah penyakit sejenis wabah yang menyerang dan mematikan (biasanya menyapu bersih) banyak orang di suatu daerah.

Kata “waba’” dan “tha’un” ini yang kemudian sering disematkan oleh ahli agama untuk Covid-19 atau virus corona yang terjadi pad awal 2020 di Indonesia dan berbagai negara di dunia. Sedangkan untuk kata “jarif” sendiri, kita jarang mendengarnya dari mereka.

Pemakaian kata “waba’” dan “tha’un” yang kerap dipertukarkan biasanya disandingkan dengan riwayat hadits perihal Sayyidina Umar RA yang mengurungkan niatnya memasuki Negeri Syam karena sedang terjadi penyebaran penyakit wabah di dalamnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ فَلَمَّا جَاءَ سَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ فَرَجَعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ سَرْغَ

Artinya, “Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sargh adalah sebuah desa di ujung Syam yang berbatasan dengan Hijaz. (An-Nawawi, Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, [Kairo, Darul Hadits: 2001 M/1422 H], juz VII, halaman 466).

Sebagian ulama juga menyamakan pengertian kata “tha’un” dan “waba’.” Kata “tha’un” dan “waba’” merujuk pada penyakit mematikan-berbahaya yang menular, menyerang, dan memakan korban sebagian besar masyarakat di suatu daerah. Pandangan ini dibantah oleh mayoritas ulama yang membedakan kedua pengertian kata tersebut, seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Menurut An-Nawawi, kata “tha’un” lebih khusus, sempit, atau spesifik dibandingkan kata “waba’.” Tha’un adalah luka bernanah yang muncul pada siku, ketiak, tangan, jari, atau sekujur badan. Luka yang muncul disertai dengan memar, rasa pedih dan nyeri. Luka ini muncul bersama dengan rasa panas. Sekitar luka kulit menghitam, memerah, menghijau, dan memerah agak ungu. Gejala lainnya adalah peningkatan detak jantung dan muntah-muntah. (An-Nawawi, 2001 M/1422 H: VII/466).

Adapun “waba’” mengandung pengertian lebih umum dan luas. Waba’ adalah penyakit tha’un itu sendiri, jenis penyakit lain, atau segala jenis penyakit umum sebagaimana menurut Al-Khalil. Tetapi yang shahih menurut kebanyakan ulama, waba’ adalah penyakit yang menimpa banyak orang di suatu daerah tertentu, yaitu wabah atau epidemi. Jenis penyakitnya dapat berbeda dari jenis penyakit kebanyakan. Jenis penyakit waba’ dapat berbeda-beda. Jenis penyakitnya boleh jadi adalah jenis penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya atau sesudahnya. (An-Nawawi, 2001 M/1422 H: VII/466).

وقالوا كل طاعون وباء وليس كل وباء طاعونا والوباء الذي وقع بالشام في زمن عمر كان طاعونا وهو طاعون عمواس وهي قرية معروفة بالشام

Artinya, “Ulama (yang membedakan kedua kata itu) mengatakan, setiap tha’un adalah waba’. Tetapi tidak setiap waba’ adalah tha’un. Hanya saja waba’ yang menimpa negeri Syam di zaman Sayyidina Umar adalah tha’un, yaitu tha’un Amwas, desa terkenal di Syam,” (An-Nawawi, 2001 M/1422 H: VII/466).

Sebenarnya perbedaan persepsi atas kedua kata tersebut beranjak dari perbedaan bidang ulama yang digeluti. Ulama bahasa memiliki pengertian sendiri atas kata “waba’” dan “tha’un.” Demikian juga ulama kedokteran dan ulama fiqih. Oleh karena itu, tidak heran jika ulama yang mensyarahkan hadits mengakomodasi semua pendapat ulama dari berbagai bidang itu untuk memberikan pengertian atas kata “waba’” dan “tha’un.”

Badruddin Al-Ayni dalam Kitab Umdatul Qari, Syarah Shahih Bukhari, menyebut ragam pendapat ulama perihal kata “tha’un.” Tha’un, menurut sebagian ulama, adalah jatuhnya banyak korban wabah. Adalagi ulama yang mengatakan tha’un adalah luka bernanah, memar, dan sangat nyeri dan pedih…” (Badruddin Al-Ayni, Umdatul Qari, juz XXIII, halaman 487).

Ibnu Hajar Al-Asqalani pada Kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari juga tidak dapat menghindar dari perbedaan pendapat ulama perihal kata ini. Al-Asqalani mengutip pendapat ulama bahasa seperti Al-Khalil, penulis Kitab An-Nihayah, Abu Bakar Ibnul Arabi, Abul Walid Al-Baji, Ad-Dawudi, Iyadh, Ibnu Abdil Bar, An-Nawawi, Al-Mutawalli, Al-Ghazali, dan sejumlah ulama kedokteran seperti Ibnu Sina.

قلت فهذا ما بلغنا من كلام أهل اللغة وأهل الفقه والأطباء في تعريفه والحاصل أن حقيقته ورم ينشأ عن هيجان الدم أو انصباب الدم إلى عضو فيفسده وأن غير ذلك من الأمراض العامة الناشئة عن فساد الهواء يسمى طاعونا بطريق المجاز لاشتراكهما في عموم المرض به أو كثرة الموت والدليل على أن الطاعون يغاير الوباء ما سيأتي في رابع أحاديث الباب أن الطاعون لا يدخل المدينة

Artinya, “Menurut saya, itu semua pandangan ulama bahasa, ahli fiqih, dan profesi dokter yang sampai kepada kita. Tetapi walhasil, tha‘un sebenarnya adalah bengkak atau memar yang muncul karena kenaikan atau tekanan darah pada anggota tubuh yang bengkak sehingga membuatnya rusak. Sedangkan penyebutan ‘tha‘un’ untuk penyakit wabah lain yang muncul karena kerusakan udara hanya bersifat majaz atau kiasan karena persamaan pada kedua penyakit tersebut dari segi penyebaran dan jumlah korban. Dalil atas perbedaan tha‘un dan waba’ akan disebutkan pada hadits keempat, yaitu bab tha‘un tidak masuk Kota Madinah,” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, [Kairo, Darul Hadits: 2004 M/1424 H], juz X, halaman 203).

Pemakaian dan pemahaman secara tertukar kata “tha‘un” dan “waba’” di masyarakat dapat dimaklumi sebagai majaz belaka, di mana keduanya merujuk pada wabah atau epidemi. Adapun pengertian keduanya harus dipisahkan ketika kita memahami hadits yang berkaitan dengan keduanya. Kira-kira demikian menurut An-Nawawi, terlebih Al-Asqalani. Wallahu a’lam. (alhafiz kurniawan/nuonline)

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Ulas Kitab

Durasi dan Puncak Wabah Penyakit dalam Sejarah Umat Islam

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi: vipis.org
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis karya seputar wabah thaun dari segi teologi, hadits, dan historis yang pernah terjadi di dunia Islam. Al-Asqalani juga menyinggung beberapa peristiwa wabah dengan beragam durasinya bertahan di masyarakat. (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun]).

Cerita Ibnu Katsir, kutip Al-Asqalani, menyebut suatu masa wabah bertahan sejak Rabiul Awal hingga akhir tahun di Damaskus. Selama 9 bulan wabah memakan korban hingga pernah mencapai 1000 jiwa per hari dari warga yang terhitung di dalam gerbang Kota Damaskus. (Al-Asqalani: 329).

Wabah penyakit juga pernah terjadi selama tiga hari. Hal ini terjadi di zaman Nabi Daud AS. (Al-Asqalani: 82). Allah memberikan tiga pilihan azab kepada Nabi Daud AS atas kedurhakaan umatnya, yaitu kemarau panjang selama dua tahun, penindasan musuh selama dua bulan, atau wabah penyakit selama tiga hari. Pilihan itu disampaikan oleh Nabi Daud kepada umatnya.

“Kau adalah nabi kami. Pilihkan saja untuk kami,” kata umatnya.

Nabi Daud AS kemudian berpikir. Paceklik selama dua tahun jelas bala bencana. Mereka tidak akan tahan kelaparan. Di bawah penindasan musuh, mereka jelas tidak akan tersisa. Nabi Daud AS lalu memilih wabah penyakit selama tiga hari sebagai azab umatnya.

Di hari pertama, wabah thaun menyerang. Sejak pagi hingga gelincir matahari atau sekira waktu masuk Shalat Dzuhur, wabah telah menelan korban sebanyak konon sebanyak 70.000 (bahkan ada yang mengatakan 100.000 jiwa). Nabi Daud AS tidak tahan. Ia berdoa kepada Allah. Wabah pun diangkat dari umatnya.

“Allah telah menurunkan rahmat-Nya untuk kalian. Hendaklah kalian bersyukur atas bala yang diturunkan kepada kalian,” demikian pidato Nabi Daud AS.

Allah memerintahkan mereka untuk membangun masjid yang penyempurnaannya dilakukan di zaman Nabi Sulaiman AS. (Al-Asqalani: 82).

Wabah penyakit pernah terjadi di luar negeri Syam dan Mesir. Wabah itu menyerang masyarakat dalam durasi cukup lama, sekira satu tahun tiga bulan. Wabah mulai menjangkiti masyarakat pada Dzulqa‘dah 48 Hijriyah. Wabah kemudian mereda pada Shafar 50 Hijriyah. (Al-Asqalani: 224).

Al-Asqalani dalam karyanya yang lain, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, menyebut wabah di Damaskus pada 774 Hijriyah bertahan enam bulan. Jumlah korban pernah dalam satu harinya mencapai 200 jiwa. Bertepatan pada Rabiul Awalnya, sungai-sungai di Damaskus meluap yang memorak-porandakan tempat penggilingan tepung dan kolam pemandian umum. (Al-Asqalani, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1986 M/1406 H], juz I, halaman 37).

Pada tahun 782, wabah menewaskan banyak orang di negeri Syam. Sebanyak 10-20 orang dimakamkan pada satu liang kubur tanpa dimandikan dan dishalatkan. Konon wabah ini bertahan di tengah masyarakat selama kurang lebih tiga tahun. Tetapi situasi pada tahun pertama adalah yang paling sulit. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: I/155).

Wabah penyakit juga pernah menjangkiti masyarakat Baridah dan Sa’al. Wabah yang mulai menyerang pada bulan Shafar hingga pertengah tahun 802 Hijriyah ini menewaskan banyak orang. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: IV/115).

Al-Maqrizi menceritakan wabah thaun yang terjadi di Mesir. Menurutnya, kehebatan wabah ini belum pernah terjadi sebelum pada era umat Islam. Wabah mulai turun menyerang pada akhir musim tanam. Wabah itu terjadi tepatnya pada musim rontok pada pertengahan tahun 48 Hijriyah.

Memasuki tahun 49 Hijriyah, wabah terus menyebar hingga seluruh pelosok desa-desa di Mesir. Wabah itu memuncak di negeri Mesir pada bulan Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal. Wabah mereda pada pertengahan bulan Dzulqa‘dah 49 Hijriyah. Wabah penyakit ini menewaskan ribuan warga di sana. (Al-Maqrizi, As-Suluk li Marifati Duwalil Muluk, juz II, halaman 152). (alhafiz kurniawan/nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ulas Kitab

Penglihatan Rasulullah ketika Isra dan Mi’raj, Mimpi atau Kasatmata?

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Mayoritas ulama berpendapat, Isra' dan Mi'raj adalah peristiwa ruh dan jasad sekaligus. foto: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Allah berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 60:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلا فِتْنَةً لِلنَّاسِ

“Dan kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.”

Di antara mufasirin ada yang memahami bahwa “ar-ru’ya” pada ayat ini bermakna mimpi. Yaitu mimpi Rasulullah tentang Perang Badar sebelum perang itu terjadi. Kenyataannya, banyak mufasirin yang mengartikannya sebagai penglihatan kasatmata Rasulullah dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Namun ada juga yang menyatakan bahwa Surat Al Isra’ ayat 60 itu adalah dalil bahwa Rasulullah itu Isra’ dan Mi’raj-nya melalui penglihatan mimpi, yaitu dengan memahami ru’ya itu sebagai penglihatan dalam mimpi.

Benarkah demikian?

Tentu pandangan tersebut menyelisihi keyakinan mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj-nya Rasulullah itu dengan sadar ruh dan jasad.

Syekh Abul Hasan al-Wahidy (w. 467 H) dalam Tafsir Al-Quran Al-Aziz menyatakan bahwa ru’ya dalam ayat ini berhubungan dengan peristiwa Isra’-nya Rasulullah dan hal itu dengan penglihatan terjaga.

يعنى ما أرى ليلة أسرى به وكانت رؤيا يقظة

Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Marah Labid menyatakan:

ليلة المعراج وهي ما رآه النبى صلى الله عليه وسلم على اليقظة بعيني رأسه من عجائب الأرض والسماء

“(Penglihatan itu) pada malam Mi’raj, yaitu apa-apa yang dilihat oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dalam keadaan sadar; dengan kedua mata kepala beliau dari keajaiban-keajaiban bumi dan langit.”

Di bawah ini bukti riwayat bahwa Rasulullah itu melihat dengan mata kepala sendiri.

Pertama, kita lihat riwayat Ibn Abbas. Dikutip oleh Al Hafidz Jalaluddin as Suyuthi dalam ad-Durrul Mantsur.

 

هي رؤيا عين، أريها رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة أسري به إلى بيت المقدس، وليست برؤيا منام

Artinya: “Ibn Abbas (menafsiri Al Isra’ ayat 60) menyatakan bahwa itu adalah penglihatan mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah pada malam beliau di-isra’-kan ke Baitul Maqdis, dan bukan penglihatan tidur (mimpi).”

Yang mentakhrij riwayat dari Ibn Abbas bahwa ini adalah penglihatan mata, dan bukan mimpi adalah:

1.Abdur Rozaq

2.Sa’id Ibn Manshur

3.Ahmad

4.al-Bukhari

5.At-Tirmidzi

6.An-Nasai

7.Ibnu Jarir

8.Ibnu al-Mundzir

9.Ibnu Abi Hatim

10.At-Thabarany

11.Al-Hakim

12.Ibn Mardawaih

13.Al Baihaqi

Periwayatannya berasal dari para pakar hadits, termasuk Imam Bukhari, penulis Shahih al-Bukhari, juga Imam Ahmad, penulis Musnad Ahmad Ibn Hanbal.

Kedua, riwayat dari Ummi Hani’ bahwa ketika Rasulullah mendeskripsikan Baitul Maqdis secara tepat maka ada yang menyebut beliau sebagai seorang penyihir. Karena itulah turun ayat ini yang menjelaskan bahwa rukya itu menjadi fitnah bagi manusia yang ingkar.

Menafsirkan ayat tersebut, al-Hafidz Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Quran Al-Karim menyatakan:

وقوله : (وما جعلنا الرؤيا التي أريناك إلا فتنة للناس) قال البخاري حدثنا علي بن عبد الله حدثنا سفيان عن عمرو عن عكرمة عن ابن عباس (وما جعلنا الرؤيا التي أريناك إلا فتنة للناس) قال هي رؤيا عين أريها رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة أسري به…. وكذا رواه أحمد وعبد الرزاق وغيرهما ØŒ عن سفيان بن عيينة به ØŒ وكذا رواه العوفي عن ابن عباس وهكذا فسر ذلك بليلة الإسراء مجاهد وسعيد بن جبير والحسن ومسروق وإبراهيم وقتادة وعبد الرحمن بن زيد وغير واحد…. وتقدم أن ناسا رجعوا عن دينهم بعدما كانوا على الحق لأنه لم تحمل قلوبهم وعقولهم ذلك فكذبوا بما لم يحيطوا بعلمه وجعل الله ذلك ثباتا ويقينا لآخرين ولهذا قال : (إلا فتنة) أي اختبارا وامتحانا

Artinya: “Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan Al-Isra: 60 bahwa yang dimaksud dengan “rukya” dalam ayat ini ialah pemandangan mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah di malam Isra.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abdur Razzaq, dan lain-lainnya, dari Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.

Hal yang sama telah ditafsirkan oleh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Masruq, Ibrahim, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa hal itu terjadi di malam Isra’.

Dalam kisah Isra’ disebutkan bahwa ada segolongan orang menjadi murtad dari agama yang hak setelah mendengar kisah ini; karena kisah ini tidak dapat diterima oleh hati dan akal mereka, maka mereka mendustakannya. Akan tetapi, Allah menjadikan kisah ini sebagai kekokohan iman dan keyakinan sebagian manusia lainnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya إِلا فِتْنَةً (melainkan sebagai ujian). Yakni sebagai cobaan dan ujian buat mereka.”

Ustadz Yusuf Suharto, alumni dan pengajar Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar Jombang. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ulas Kitab

Menyoal Ibnu Taimiyah tentang ‘Allah Tersusun dari Bagian-bagian’

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketersusunan merupakan ciri makhluk yang menandakan sifat ketidaksempurnaannya. Ilustrasi: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dzat makhluk yang berukuran besar seluruhnya selalu tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil sehingga bisa dipilah-pilah. Ada bagian atas, bawah, samping, depan dan belakangnya. Ada pula bagian-bagian yang bernama lain, semisal dalam kasus manusia ada bagian berupa kepala, tubuh, tangan dan kaki. Inilah yang disebut sebagai konsep tarkib atau penyusunan.

Lalu apakah Dzat Allah subhanahu wata’ala juga tersusun dari bagian-bagian atau dengan kata lain mempunyai tarkib? Seluruh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) sepakat bahwa tarkib adalah mustahil bagi Allah. Tidak mungkin Allah yang Mahasuci dari kekurangan tersusun dari bagian-bagian sehingga bisa dipilah atau klasifikasi bagian atas, bawah, samping, depan atau belakangnya. Tidak mungkin juga Allah yang Mahasuci dari kekurangan tersusun dari bagian-bagian yang berupa wajah, tangan, kaki, dan seterusnya. Tarkib dianggap sebagai ciri khas makhluk yang mustahil dimiliki Allah. Ini adalah kesepakatan semua ulama Ahlussunnah tanpa kecuali. Terlalu banyak pernyataan mereka untuk dinukil.

Namun sayangnya, Syekh Ibnu Taimiyah menyempal dalam hal ini. Ia menetapkan satu jenis tarkib yang baginya pasti dimiliki seluruh yang wujud, termasuk Allah. Sebagian dari anda mungkin kaget atau menganggap ini fitnah, tapi sayangnya ini betul-betul aqidah beliau yang ditulisnya sendiri sehingga wajar bila ulama Ahlussunnah dari segenap penjuru mengkritik beberapa poin aqidah beliau. Menurut Ibnu Taimiyah, tarkib ada empat jenis. Tiga jenis pertama ia sebutkan di Majmu’ al-Fatawa sebagai berikut:

وَلَفْظُ التَّرْكِيبِ قَدْ يُرَادُ بِهِ أَنَّهُ رَكَّبَهُ مُرَكَّبٍ أَوْ أَنَّهُ كَانَتْ أَجْزَاؤُهُ مُتَفَرِّقَةً فَاجْتَمَعَ أَوْ أَنَّهُ يَقْبَلُ التَّفْرِيقَ وَاَللهُ مُنَزَّهٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ.

“Kata tarkib (penyusunan) kadang dimaksudkan dalam arti bahwa: (1) Allah disusun oleh sosok penyusun, atau (2) bagian-bagian-Nya sebelumnya terpisah-pisah kemudian menyatu, atau (3) Ia bisa dipisah-pisah bagiannya. Allah Mahasuci dari itu semuanya” (Syekh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 5: 419).

Ketiga makna tarkib di atas ia anggap mustahil bagi Allah, dalam hal ini ia benar. Akan tetapi tak ada satu pun orang Islam yang berpikiran demikian, apalagi meyakininya. Ketiganya adalah hal yang bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Dengan demikian perincian beliau ini adalah tindakan tak berguna sebab bukan itu yang dibahas oleh para ulama yang menafikan tarkib bahkan tak ada Muslim yang memikirkan itu.

Tinggal satu lagi makna tarkib yang menurut beliau pasti ada, yakni:

وإن قال أريد بالمنقسم أن ما في هذه الجهة منه غير ما في هذه الجهة كما نقول إن الشمس منقسمة يعني أن حاجبها الأيمن غير حاجبها الأيسر والفلك منقسم بمعنى أن ناحية القطب الشمالي غير ناحية القطب الجنوبي وهذا هو الذي أراده فهذا مما يتنازع الناس فيه

“Apabila yang dimaksud dengan terbagi-bagi adalah apa yang ada di sisi ini dari-Nya bukanlah apa yang di sisi lainnya, sebagaimana kita berkata bahwa Matahari terbagi dalam arti permukaan yang sebelah kanan bukanlah permukaan sebelah kiri, dan bahwa gugusan bintang terbagi dalam arti bahwa sisi poros utara bukanlah poros selatan, dan ini yang ar-Razi maksudkan, maka ini termasuk makna yang diperselisihkan orang-orang” (Syekh Ibnu Taimiyah, Bayân Talbîsil Jahmiyah fî Ta’sîs Bida‘ihim al-Kalamiyah, 3: 440).

Ibnu Taimiyah kali ini barulah membahas konsep tarkib yang dimaksudkan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah yang direpresentasikan oleh Imam ar-Razi. Sebagaimana di atas, menurutnya konsep ini diperselisihkan, namun ia kemudian menyebutkan pendapatnya sendiri sebagai berikut:

فيقال له قولك إن كان منقسمًا كان مركبًا وقد تقدم إبطاله وتقدم الجواب عن هذا الذي سميته مركبًا وتبين أنه لا حجة أصلاً على امتناع ذلك بل تبين أن إحالة ذلك تقتضي إبطال كل موجود ولولا أنه أحال على ما تقدم لما أحلنا عليه وتقدم بيان ما في لفظ التركيب والحيز والغير والافتقار من الإجمال وان المعنى الذي يقصدونه بذلك يجب أن يتصف به كل موجود سواء كان واجبًا أو ممكنًا

“Maka dijawab pada ar-Razi: Ucapanmu bahwa bila Allah terbagi-bagi berarti tersusun, dan hal ini sudah dibahas kesalahannya dan telah lalu jawaban dari apa yang engkau sebut sebagai tersusun itu. Dan, telah jelas bahwasanya tidak ada alasan sama sekali untuk menolak ketersusunan itu. Bahkan jelas bahwa memustahilkan hal itu berkonsekuensi meniadakan semua wujud. Andai ia tak menyebutnya sebelumnya, tentu kami tidak menyinggungnya. Telah diterangkan sebelumnya tentang kata tarkib (penyusunan), haiz (batasan diri), ghair (perbedaan), dan iftiqar (butuh) yang masih global dan bahwasanya makna yang mereka maksud darinya pasti disifati oleh seluruh yang ada, baik itu Dzat yang pasti ada (Allah) atau Dzat yang bisa ada dan bisa tidak ada (makhluk).”

Dari pernyataan tersebut jelas sekali dan gamblang bahwa Ibnu Taimiyah menyatakan Allah tersusun dari bagian-bagian sehingga bisa diklasifikasi bagian tertentu dari Dzat Allah sebagai berbeda dari bagian lainnya. Menurutnya, ini adalah keniscayaan bagi seluruh yang wujud. Pemikiran ini disebut tajsim atau menganggap Allah serupa materi, yang bertentangan dengan paham Asy’ariyah-Maturidiyah. Bahkan Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa makna haiz (batasan diri), ghair (perbedaan), dan iftiqar (butuh) yang oleh Ahlussunnah dianggap mustahil dan terlarang untuk disematkan pada Allah, menurutnya juga pasti dimiliki Allah. Ini makin menguatkan bukti bahwa ia meyakini Allah sebagai sosok jism (fisikal) yang mempunyai dimensi panjang, lebar, dan tinggi. Menolak istilah “tajsim” bagi pemikiran semacam ini adalah sama dengan menolak istilah “pencurian” bagi kegiatan mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi.

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, peneliti bidang aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur dan Wakil Sekretaris PCNU Jember. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->