Connect with us

Teknologi

Segera Bertemu, Kimi Hime Ajak Menkominfo Nge-Vlog?

Diterbitkan

pada

Plt Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu (kiri) bertemu dengan kuasa hukum Kimi Hime di Jakarta, Senin (29/7). Foto : Suara.com/Tivan Rahmat
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dijadwalkan bertemu dengan Kimberly Khoe atau yang lebih kondang dipanggil Kimi Hime pada pekan ini. Seandainya, tidak ada perubahan rencana, kedua figur ini bakal bersua pada Jumat siang (2/8/2019) di kantor Kominfo, Jakarta Pusat.

“Jum’at 2 Agustus jam 12.30 WIB usai sholat Jum’at, dijadwalkan Kimi bertemu Pak Menteri (Rudiantara),” terang Plt Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, kepada Suara.com –jejaring Kanalkalimantan.com-, Selasa (30/7/2019).

Perihal agenda yang akan dibahas pada pertemuan nanti, lelaki yang karib disapa Nando ini memberikan sedikit bocoran.

“Bahkan, Kimi dijadwalkan akan nge-vlog bareng Pak Menteri,” katanya.



Selain ngevlog, kedua belah pihak juga direncankan akan membahas seputar kejelasan regulasi tentang batasan kesusilaan dalam platform digital, seperti YouTube dan Instagram.

Secara terpisah, anggota tim kuasa hukum Kimi Hime, Irfan Akhyari, menerangkan bahwa saat ini kliennya tidak memiliki persiapan khusus untuk bertemu dengan Menkominfo.

“Nggak ada persiapan khusus. Agendanya ngobrol-ngobrol biasa saja,” jelas Irfan via pesan instan.

Kominfo: Kalau Ada yang Lebih Vulgar dari Kimi Hime, Kirim Link-nya

Youtuber gaming fenomenal, Kimi Hime. (Instagram/@kimi.hime)
Foto : Suara.com/Tivan Rahmat

Kominfo meminta masyarakat untuk melaporkan video atau konten digital yang memuat unsur vulgarisme yang melebihi video panas Kimi Hime.

Himbauan Kominfo ini sekaligus menampik asumsi beberapa pihak yang menilai pemerintah tebang pilih dalam menegakkan regulasi, dalam hal ini pasal 27 UU ITE tentang kesusilaan.

“Kalau ada (video yang lebih vulgar dari Kimi Hime) silakan sampaikan. Memang ada satu-dua konten yang lebih vulgar dari Kimi, jadi tolong sampaikan. (Masyarakat) jangan hanya bilang ada (video hot) saja tapi tidak kirimkan link,” kata Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu, usai bertemu dengan tim kuasa hukum Kimi Hime pada Senin (29/7/2019).

Menurut pria yang karib disapa Nando ini, pihaknya memang memiliki mesin AIS yang bisa memfilter konten-konten digital yang memuat hoaks, SARA, dan pornografi, termasuk vulgarisme.

Meski begitu, pemerintah memerlukan pengaduan dari masyarakat agar bisa cepat ditindaklanjuti, seperti yang saat ini menimpa Kimi Hime.

Adanya pemblokiran 3 video YouTube Kimi Hime dan 6 video bersyarat (penonton harus lebih dari 18 tahun) yang dilakukan Kominfo adalah karena adanya laporan dari masyarakat yang menyerahkan link video hot Kimi Hime di YouTube lewat aduan konten Kominfo.

“Laporan dari masyarakat dengan menyertakan link atau tautan nama website atau akunnya, monggo sampaikan. Kami akan menindaklanjuti semua laporan, tidak hanya kepada Kimi. Kasus Kimi hanyalah momentum pembuka atau pintu masuk, tapi (aturan ini) tidak hanya untuk Kimi,” tandasnya.

Sekali lagi, Nando juga menjelaskan bahwa Kominfo memiliki layanan pengaduan terkait konten-konten yang bermuatan negatif di internet yang bisa masyarakat laporkan melalui email aduankonten@kominfo.go.id, akun Twitter @aduankonten, atau melalui WhatsApp di nomor 08119224545. (suara.com)

Reporter :Siara.com
Editor :KK


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan

Teknologi

Canggih, Peneliti Sebut Apple Watch Bisa Deteksi Gejala COVID-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Apple Watch 6 Series. [Apple]
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Smartwatch, termasuk produk Apple yang dinamai Apple Watch ternyata tidak cuma seru digunakan untuk ekplorasi fungsi internet sampai e-mail. Atau menjadi pencatat saat berolah raga dengan fitur seperti pengukur detak jantung. Nah, fitur ini, ditambah beberapa hal seperti pengukur detak jantung, suhu tubuh, dan sebagainya juga mampu memberikan bantuan pengenalab gejala awal infeksi virus COVID-19.

Para peneliti di Mount Sinai, New York, menemukan bahwa Apple Watch dapat mendeteksi perubahan halus dalam detak jantung seseorang. Perangkat ini mampu menunjukkan kondisi itu sebelum pengguna merasa sakit atau terdeteksi melalui pengujian lab.

“Tujuan kami adalah menggunakan alat untuk mengidentifikasi infeksi pada saat mereka terinfeksi atau bahkan sebelum orang tahu bahwa mereka sakit,” kata Rob Hirten, Asisten Profesor Kedokteran di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York City, dikutip dari CBS News, Sabtu (19/1/2021).

Penelitian ini menganalisis metrik yang melihat variasi waktu pada setiap detak jantung. Selain itu, penelitian ini juga mengukur sistem kekebalan tubuh para pengguna smartwatch. Riset ini juga dilakukan mulai dari 29 April dan 29 September.



Apple Watch SE. (Apple)

Menurut Hirten, detak jantung seseorang akan berubah ketika mereka terinfeksi COVID-19. Selain detak jantung, orang-orang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala peradangan dalam tubuhnya.

“Ini memungkinkan kami untuk memprediksi bahwa orang sudah terinfeksi sebelum mereka menyadarinya,” tambahnya.

Bagi para pengidap COVID-19, mereka akan merasakan detak jantung yang lebih rendah. Berbeda dengan orang-orang yang dinyatakan negatif dari COVID-19.

Variabilitas detak jantung yang tinggi ini justru tidak berarti detak jantung orang itu meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem saraf orang yang diuji ternyata aktif, mudah beradaptasi, dan lebih tahan terhadap stres.

“Ini bisa menjadi cara pertama untuk mengendalikan penyakit menular dengan lebih baik,” jelas Hirten.(Suara)

Editor : Suara 

 

 

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Teknologi

Apa itu Signal? Benarkah jadi Pesaing WhatsApp yang Lebih Aman?

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Elon Musk, pemilik Tesla sekaligus orang terkaya di dunia, mengajurkan warganet pindah dari Whatsapp ke Tesla. Foto: Google Play Store
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM – Aplikasi berbagi pesan, Signal sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Apa itu Signal? Benarkah aplikasi yang disebut sebagai pesaing WhatsApp ini lebih aman?

Perubahan kebijakan privasi yang baru saja diumumkan oleh WhatsApp pada 7 Januari 2021 kemarin, membuat sebagian orang yang konsen terhadap data pribadi mulai berniat untuk meninggalkan aplikasi tersebut. Salah satunya adalah orang terkaya di dunia, yaitu Elon Musk selaku pemilik perusahaan mobil listrik Tesla dan roket SpaceX.

Elon Musk, baru-baru ini menyarankan apalikasi Signal kepada para followers-nya di Twitter. Signal adalah sebuah aplikasi perpesanan pesaing WhatsApp.

Karena termasuk tokoh yang cukup berpengaruh dalam dunia teknologi, ajakan Elon Musk ternyata banyak mendapatkan sambutan dari followers-nya. Hal ini terbukti dari banyaknya pengguna baru yang mendaftarkan diri ke aplikasi Signal. Dalam cuitan di Twitter, akun resmi Signal menyebutkan bahwa pengiriman kode verifikasi mengalami delay karena banyaknya orang yang mau mendaftar.



Apa itu Signal?
Sebenarnya, apa itu Signal? Signal merupakan aplikasi perpesanan sebagaimana WhatsApp. Aplikasi ini dapat diunduh di platform Android maupun iOS dan tersedia pula untuk versi desktop.

Seperti WhatsApp, Signal juga dapat digunakan secara gratis dan terenkripsi. Antarmuka aplikasi ini hampir serupa dengan WhatsApp, termasuk juga fitur-fitur yang ada di dalamnya. Tidak heran, karena ternyata pembuatnya adalah orang yang sama.

Signal dikembangkan oleh Signal Foundation dan juga Signal Messenger LLC. Signal Foundation adalah lembaga non-profit yang didirikan oleh founder WhatsApp, yaitu Brian Acton pada tahun 2018 silam, setelah dirinya hengkang dari Facebook Inc.

Berbeda dengan WhatsApp, Signal dikembangkan dengan model swadaya, di mana pengguna bisa menjadi donatur untuk Signal Foundation yang menyebut ingin mengembangkan layanan komunikasi yang mengutamakan privasi. Aplikasi ini disebut-sebut tidak menyimpan data penggunanya sama sekali.

Hal ini juga diungkapkan oleh Forbes yang memaparkan perbandingan metadata dari berbagai aplikasi perpesanan, seperti WhatsApp, iMessage, Facebook Messenger, hingga Signal. Dari tabel yang ditampilkan, Signal tidak menghimpun data apapun dari penggunanya, selisih yang jauh berbeda dari metadata yang dihimpun dari WhatsApp dan Facebook Messenger.

Bagaimana Sistem Keamanan Signal?
Dalam laman kebijakan privasinya, Signal mengklaim bahwa mereka telah menggunakan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption) dan sistem keamanan yang lebih modern. Semua pesan dan panggilan yang dilakukan setiap pengguna akan dienkripsi sepenuhnya.

Tidak hanya pesan, namun informasi pengguna, termasuk nomor yang digunakan untuk registrasi, profil, serta foto profil juga akan dienkripsi. Bahkan pada 2018 lalu, Signal telah memperkenalkan Sealed Sender, yaitu fitur privasi mutakhir yang akan menyembunyikan siapa pengirim pesan dan siapa penerimanya. Tentu saja fitur ini akan semakin melindungi metadata pengguna di sistem back-end.

Dengan alasan keamanan, apakah kamu tertarik untuk mencoba dan beralih ke aplikasi Signal? Aplikasi Signal dapat diunduh secara gratis di Play Store (Android), atau di App Store (iOS).

Demikian penjelasan apa itu Signal, aplikasi yang disebut-sebut menjadi pesaing dari WhatsApp. (suara.com)

Editor : Kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->