Connect with us

RELIGI

Shalat Istisqo Digelar Santri Ponpes Ihya Ulumudin Nur Sufiiyah

Diterbitkan

pada

Shalat Istisqo santri Ponpes Ihya Ulumudin Nur Sufiyah, Kecamatan Banjang, HSU, Selasa (17/9). Foto : dew
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

AMUNTAI, Ratusan santri Pondok Pesantren Ihya Ulumudin Nur Sufiiyah, Kecamantan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) melaksanaan shalat Istisqa -meminta hujan- dan doa bersama agar terhindar dari bala musibah, Selasa (17/9).

Shalat Istisqo berlangsung di halaman Ponpes Ihya Ulumudin Nur Sufiiyah, jalan Jermani Husin Km 3 Kecamantan Banjang, dipimpin KH Ahmad Suhaimi. Sementara KH Barkatullah Amin bertindak sebagai khatib.

“Tujuan kegiatan dimaksud untuk meminta rezeki dari Allah SWT berupa hujan karena pada saat itu musim kemarau puncak,” ujar KH Barkatullah Amin dalam khutbahnya

Sementara itu, Kapolsek Banjang yang diwakili Kanit Binmas Bripka Marjuni mengajak para santri dan masyarakat HSU khususnya Kecamantan Banjang untuk tidak membakar hutan dan lahan yang berakibat pada kabut asap.

Baca : Tata Cara Sholat Istiqo atau Meminta Hujan

Selain itu dirinya juga menghimbau kepada para santri dan masyarakat tidak menyebarkan berita bohong -hoaks- yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di masyarakat. (dew)

Reporter : Dew
Editor : Bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

RELIGI

Fenomena Ustadz Tanpa Mazhab

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Ilustrasi foto: nuonline
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tanya: bolehkah beragama tanpa mazhab?

Jawab: tidak boleh.

Memang ada orang yang beragama terkesan tidak bermazhab, tapi sejatinya mereka bermazhab. Hanya saja mereka tidak mampu menjelaskan ke-bermazhaban-nya karena tidak pernah ngaji (belajar) secara serius soal rincian ilmiah cara beragama.

Mereka shalat pakai mazhab, puasa pakai mazhab, haji pakai mazhab, dan seterusnya.

Ketika ditanya ikut mazhab siapa, mereka tidak bisa menjawab. Inilah yang disebut sebagai orang awam dalam ilmu-ilmu agama. Salahkah mereka? Tidak. Selama menjalankan semua itu untuk diri sendiri, maka mereka tidak bersalah. Meski demikian, seharusnya setiap muslim tahu dari siapa (imam mazhab) dia mengambil ilmu urusan agamanya; mengikuti mazhab siapa. Muslim model ini adalah sebagian besar.

Muslim model begini tidak boleh jadi seperti ustadz, kiai, ulama, atau tokoh agama. Karena, untuk menjadi tokoh agama yang dijadikan rujukan oleh masyakarat, orang harus mengerti soal bermazhab dalam beragama. Tokoh agama harus dapat menjelaskan dengan rinci soal metodologi dan dasar-dasar bermazhab. Jika tidak, sebaiknya jadi pendengar saja, jangan ceramah.

Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi. Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi‘in, tabi‘it tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Jadi, tidak bisa anda beragama kemudian mengaku guru anda adalah Nabi dan para sahabatnya secara langsung. Apalagi kemudian ceramah ke sana ke mari.

Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran.

Dalam Kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal. 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w. 1176 H.) menyatakan, “Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari oleh beberapa alasan:

1.Semua ulama sepakat bahwa untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat). Generasi tabi‘in berpegang teguh pada para sahabat. Generasi tabi‘it tabi‘in berpegang teguh pada para tabi‘in. Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya. Ini masuk akal karena syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath).

Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishal). Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath), mereka tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan dapat dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.

2.Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawād al-a‘zham).” Setelah aku mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat mazhab berarti mengikut golongan paling besar.

3.Karena zaman telah jauh dari masa awal Islam, maka banyak ulama palsu yang terlalu berani berfatwa tanpa didasari kemampuan menggali hukum dengan baik dan benar. Banyak amanat keilmuan yang ditinggalkan oleh mereka, dan mereka berani mengutip pendapat generasi salaf tanpa dipikirkan. Mereka mengutipnya lebih didasari oleh hawa nafsu belaka.

Ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunnah langsung dirujuk. Sementara mereka tidak memiliki otoritas keilmuan untuk istinbath. Mereka terlalu jauh dibanding para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan selalu berpegang teguh pada amanat ilmiah.

Kenyataan ini persis dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, “Islam akan hancur oleh perdebatan orang-orang yang bodoh terhadap Al-Qur‘an.” Ibnu Mas‘ud RA juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).” Wallahu alam.

Penulis: KH Taufik Damas  Lc, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta. (nuonline)

Reporter : nuonline
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ragam

Mengintip Kualitas Speaker di Masjidil Haram Makkah

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Imam Masjidil Haram. (Foto: Dok. Haramain)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagi Anda yang pernah shalat di Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi, mungkin akan merasa kagum pada kualitas speaker (pelantang) dan sound system (tata suara) yang digunakan. Di setiap sudut masjid, nyaris suara bacaan imam dan muadzin dapat terdengar merata dan jelas. Tidak terdengar sedikit pun gangguan suara-suara seperti storing ‘nging’, ‘kresek-kresek’ ataupun check sound ‘test… satu, dua, tiga’.

Dikutip dari laman Haramain, jumlah speaker yang digunakan di masjid terbesar di dunia ini sebanyak 6.000 buah. Pelantang-pelantang itu ditempatkan di pelataran dalam dan luar serta sepanjang jalan. Sound system di Masjidil Haram ini menjadi salah satu rangkaian tata suara terbesar di dunia.

Ruang kontrol. foto: dok.Haramain

Tata suara ini terhubung ke ruang kontrol yang dikendalikan oleh 50 teknisi khusus. Tidak hanya satu unit mesin yang digunakan untuk menjaga kualitas suara di masjid suci umat Islam ini. Ada tiga mesin sound system keluaran Sennheiser, Jerman, yang dioperasikan dengan fungsi masing-masing.

“Setiap imam dan muadzin memiliki pengaturan suara khusus disesuaikan dengan jenis suara dan nadanya untuk memastikan kejernihan dan keseimbangan suara di seluruh sudut Masjidil Haram,” jelas laman Haramain.

Microfon di tempat imam Masjidil Haram Makkah. foto: dok.Haramain

Tiga mesin yang digunakan ini terdiri dari satu mesin utama dan dua mesin sebagai cadangan (back up). Ini bisa terlihat dari mikrofon yang berada di depan imam saat shalat. Mikrofon sebelah kanan merupakan mic utama, bagian tengah adalah cadangan pertama dan bagian kiri merupakan cadangan kedua.

Ketika tata suara utama tidak berfungsi, maka cadangan pertama akan secara otomatis hidup dan berfungsi. Dan ketika cadangan pertama juga tidak berfungsi, maka cadangan kedua akan hidup secara otomatis. Inilah sistem yang menjadikan hampir tidak ada masalah tata suara di Masjidil Haram.

Teknisi khusus sound system di Masjidil Haram. foto: dok. Haramain

Kualitas tata suara ini sangat mendukung kekhusyuan dan kualitas jamaah dalam beribadah khususnya shalat berjamaah. Para jamaah mampu meresapi dan menikmati suara adzan dan bacaan imam Masjidil Haram yang terkenal memiliki kekhasan suara masing-masing.

Para imam dan muadzin di Masjidil Haram pun memiliki kriteria khusus yang telah ditentukan oleh pihak pengelola masjid.

Muadzin ditentukan oleh pengelola Masjidil Haram. foto: dok.Haramain

Di antaranya harus berkebangsaan Arab Saudi, tidak boleh berumur di bawah 30 tahun, dan minimal lulusan S2 dari salah satu perguruan tinggi Ilmu Agama Islam di Arab Saudi. Imam juga harus hafal Al-Qur’an dan memiliki kualitas suara yang bagus.

Di samping suara yang bagus, muadzin Masjidil Haram juga harus memiliki kemampuan ilmu di bidang hukum dan tata cara adzan serta shalat.

Kualitas suara imam dan muadzin masjid yang dipadu dengan kualitas tata suara ini tentu semakin menjadikan umat Islam seluruh dunia yang beribadah di dalamnya kian menikmati ibadahnya. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor munculnya rasa kangen setiap muslim untuk dapat datang kembali ke Masjidil Haram. (muhammad faizin/nuonline)

Reporter : muhammad faizin/nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Kisah Sufi

Saat Ibnu Hajar al-Asqalani Digugat karena Kekayaannya

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Keimanan dan kekayaan adalah dua hal yang berbeda, meski keduanya bisa saling mempengaruhi. Foto ilustrasi: ebctv.net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ibnu Hajar al-Asqalani adalah ulama kenamaan pada masanya. Ibnu hajar al-Asqalani termasuk salah satu ulama yang mendapat sebutan “al-Hafidh”, sebuah gelar yang diberikan kepada ulama ahli hadits, dengan syarat mampu menghafal 100 ribu hadits lebih, lengkap dengan rawi, matan, asbabul wurud, serta rijalul haditsnya.

Tidak hanya itu, Ibnu Hajar al-Asqalani yang ahli hadits ini juga kaya raya. Pada masa itu, ketika akan berkunjung ke suatu daerah, ia menunggang kuda yang paling gagah. Di punggung kudanya terdapat kain lembut menyelimutinya. Sungguh, kuda itu layaknya mobil super mewah di masa kini.

Hingga suatu ketika di tengah jalan. Ada seorang non-Muslim nan fakir miskin memandang sinis al-Asqalani yang sedang  lewat dengan kuda gagahnya. Tiba-tiba ia berujar dengan suara meninggi,

“Wahai kisanak, sesungguhnya siapakah yang bergelar pembohong, engkau atau Nabimu?”

Tiba-tiba saja orang itu melontarkan pertanyaan nyinyir nan  menyakitkan hati. Padahal, Ibnu Hajar merasa pernah melukai si non-Muslim. Lantas, gerangan apakah yang membuatnya seperti banteng yang lepas dari kendali, menyeruduk penuh emosi?

“Apa maksudmu?” al-Asqalani menimpali keheranan.

“Ya, bukankah nabimu pernah bilang bahwa dunia itu adalah penjara bagi orang yang mengimaninya dan menjadi surga bagi orang yang ingkar terhadapnya,” non-Muslim pun mengutarakan argumentasinya.

Oh ternyata, ia menggugat salah satu hadits Nabi yang berbunyi:

  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah  radliallahu ‘anhu  ia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dunia adalah penjara orang yang beriman, dan surganya orang kafir” (HR Muslim).

Seketika, Ibnu Hajar al-Asqalani terkekeh sambil menjawab,

“Kau memandang kehidupanku begitu indahnya. Memilki harta melimpah nan kaya raya, tungganganku kuda tergagah seantero kota, tak hanya itu, aku pun Muslim pula. Sungguh kenikmatan yang tiada bandingannya.”

“Sedang engkau, kau tak beriman pada nabiku. Hidupmu pun serba kurang tak menentu. Sungguh, mungkin bagimu, hal itu sudah cukup pilu.”

“Lantas, adakah yang keliru dengan sabda nabiku?”

“Ketahuilah, kehidupanku yang engkau lihat senyaman ini, sungguh jika dibanding dengan nikmat surga nanti, adalah layaknya penjara dunia yang disabdakan nabi. Sedang hidupmu yang sudah kau rasa pilu di dunia ini sudah merupakan gambaran surgamu di akhirat nanti. Tidak merasakan panasnya api neraka di dunia ini, sudah merupakan bentuk nikmat surga dunia bagi engkau di kemudian hari nanti,” terang al-Asqalani sambil berlalu, meninggalkan non-Muslim yang masih saja menggerutu.

Pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut seolah hendak menjelaskan bahwa tak ada larangan menjadi kaya dalam Islam. Hadits “dunia itu penjara orang mukmin” hanyalah gambaran minimal tentang kenikmatan yang bakal diterima kelak. Status mukmin dan kaya adalah dua hal yang berbeda meskipun keduanya bisa saling mempengaruhi. Bagi orang alim yang zuhud seperti Ibnu Hajar al-Asqalani, kekayaan harta tak lebih dari sekadar alat: tempatnya hanya di genggaman tangan, tak sampai menghujam ke dalam hati.  (ulin nuha karim/nuonline)

Dikisahkan oleh KH. Arifin Fanani, Pengasuh Ponpes. Ma’had Ulumis Syari’ah Yambu’ul Quran (MUS-YQ) Kudus dalam tausiahnya pada momen Reuni Alumni Angkatan Tahun 2007 di Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.

Reporter : ulin nuha karim/nuonline
Editor : kk

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->