Connect with us

Bisnis

Stafsus Menkeu: Omnibus Law Strategi Paling Mungkin Atasi Masalah Ekonomi di Tengah Pandemi  

Diterbitkan

pada

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo. Foto: courtesy via webinar
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menilai Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja menjadi strategi yang paling mungkin diambil untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang muncul karena pandemi Covid-19.

Hal tersebut seperti dikemukakannya dalam rilis survei “Sikap Publik Terhadap RUU Cipta Kerja” yang diselenggarakan SMRC, Selasa (14/7/2020) di Jakarta.

Yustinus berpendapat apabila dilihat secara objektif dan faktual, ia mengakui bahwa kondisi Indonesia saat ini mengalami over regulated dan terlalu banyak aturan tumpang tindih karenanya dibutuhkan perampingan regulasi.

“Butuh diet dan perampingan regulasi supaya bisa bergerak gesit setelah pandemi ini. Omnibus Law Cipta Kerja ini strategi paling mungkin untuk diambil bagi kebutuhan-kebutuhan objektif ekonomi kita saat ini,” kata Yustinus.



 

Menurutnya, secara objektif Indonesia sebelum terjadinya pandemi Covid-19 sudah mengalami kesulitan untuk mengerek peringkat kemudahan memulai usaha atau Ease of Doing Business (EoDB). Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index) yang sempat membaik pada tahun 2017 pun akhirnya mentok dan turun kembali karena regulasi dan investasi yang terganjal.

“Di saat pandemi ini, ekonomi kita yang biasanya ditopang oleh belanja rumah tangga dan pemerintah praktis turun. Belanja pemerintah yang terus didorong juga punya batas. Otomatis kita sangat memerlukan investasi untuk menopang ekonomi kita ini,” jelas Yustinus.

Disamping itu, secara kepastian hukum RUU Cipta Kerja juga mendorong kepastian hukum untuk memulai usaha. Berbagai perizinan untuk pengusaha dan masyarakat yang ingin memulai usaha mikro kecil menengah juga dipermudah.

“Perizinan yang mempersulit dihilangkan, terutama untuk usaha yang tidak berisiko tinggi. Pelaku UMKM juga coba di-mainstreaming, mandat untuk melakukan kemitraan dan didorong untuk membentuk PT. Ini membantu mereka untuk mendapat akses ke perbankan,” kata Yustinus.

Soal klaster ketenagakerjaan yang menuai pro kontra, Yustinus menyebut harusnya publik bisa melihat lebih jernih dan tak perlu berada dalam posisi yang dikotomis.

“Soal outsourcing, saya rasa ini tetap bisa dikomunikasikan jalan tengahnya. Terkait pesangon yang jumlahnya diperkecil, pemerintah menawarkan unemployment benefit yang justru lebih menjamin keberlangsungan pekerja,” tutupnya. (kanalkalimantan.com/dew)

Reporter : dew
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan
Komentar

Bisnis

Ketua Dekranasda HSU Optimis Kerajinan Purun Bisa Bangkit

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Dekranasda HSU Hj Anisah Rasyidah Wahid. foto: dew
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Hj Anisah Rasyidah Wahid meyakini kerajinan purun asal HSU bisa bangkit di masa adaptasi kebiasaan baru.

Purun merupakan tumbuhan rawa yang banyak yang dijumpai di Kabupaten HSU karena hampir 80% di seluruh wilayah HSU dikelilingi rawa, sehingga tumbuhan purun mampu di manfaatkan oleh sebagian masyarakat HSU.

Anisa menjelaskan, kerajinan purun merupakan salah satu produk Industri Kecil Menengah (IKM) dari Kabupaten HSU yang telah banyak dikenal baik di dalam daerah hingga nasional.

Purun sampai kini menjadi sumber ekonomi selain bertani bagi sebagian masyarakat desa di HSU karena sudah membudaya dikalangan masyarakat HSU.



“Tanpa harus dipaksa, banyak tangan yang terampil membuat kerajinan khas alam ini,” kata Anisah.

Anisah menambahkan dari purun berbagai kerajinan dapat dihasilkan oleh para pengrajin diantara seperti tas, tikar, topi, bakul, hiasan dinding, aksesoris lainnya bahkan sedotan yang kini diekspor sampai ke luar negeri.

Selain itu, kata Anisah tak jarang kerajinan purun asal kabupaten HSU ini mengikuti ajang di pameran-pameran nasional untuk dipromosikan.

Anisah mengakui, meski pada masa pandemi covid 19 ini pemasaran kerajinan menurun hampir 30% yang disebabkan oleh menurunnya daya beli konsumen, kenaikan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi. Serta terhambatnya distribusi produk, namun hal itu tidak serta merta membuat para pengrajin berhenti sama sekali.

Karena segala permasalahan tersebutlah Dekranasda HSU semakin berupaya kembali untuk meningkatkan kembali produksi kerajinan, antaralain melalui pelatihan digital marketing kepada pelaku IKM. Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga untuk pemasaran produk di antaranya dengan Bank Indonesia (BI) dan Badan Restorasi Gambut (BRG).

“Di era saat ini pemasaran produksi kerajinan meningkat  20%, Alhamdulilah kenaikan sudah terlihat signifikan untuk pemasaran produksi dan pemasaran produk kerajinan,” kata Ketua Dekranasda HSU.

Lebih jauh, Anisa menghimbau kepada masyarakat HSU untuk bersama-sama menggunakan produk buatan kabupaten HSU sembari berharap agar produk kerajinan asal HSU dapat kembali normal dipasarkan seperti biasanya baik di dalam negeri maupun keluar negeri. (kanalkalimantan.com/dew)

Reporter: dew
Editor: bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Bisnis

Besek Purun Ramah Lingkungan, Pengrajin Kebanjiran Order Jelang Idul Kurban

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Kelompok Pengrajin Purun “Berkat Ilahi” Desa Pulantani, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten HSU kebanjiran order pembuatan tempat besek untuk daging kurban. foto: dew
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Kelompok Pengrajin Purun “Berkat Ilahi” Desa Pulantani, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) kebanjiran order pembuatan tempat besek untuk daging kurban.

Pengemasan daging kurban harus menggunakan bahan yang ramah lingkungan tanpa menggunakan kantong plastik.

Pengrajin “Berkat Ilahi” mendapatkan pesanan sebanyak 2.000 buah, besek merupakan tempat berbentuk kotak setinggi sekitar 10 hingga 15 cm, terbuat dari anyaman purun dilengkapi dengan tutup.

Untuk panitia penyelenggara penyembelihan hewan kurban yang ingin lebih ramah lingkungan, biasanya menggunakan besek ini untuk mengurangi penggunaan kantong plastik.



 

“Pembuatan besek hampir sama dengan pembuatan bakul hanya saja berbeda dalam bentuk dan ukuran menggunakan cara disusuk,”  ungkap Sekretaris Kelompok Kerajinan Berkat Ilahi, Siti Rahmah kepada Kanalkalimantan.com, Kamis (30/7/2020). Untuk pembuatan satu besek bisa dikerjakan antara 1 hingga 1,5 jam dengan bahan yang sudah tersedia.

“Dalam 1 hari pengrajin biasanya bisa mengerjakan antara 5 hingga 6 buah besek, tergantung kecepatan pengrajinnya, kelompok kerajinan ini juga menerima berbagai jenis macam kerajinan seperti bakul dan tas,”kata Siti Rahmah.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerajinan Ahmad Baihaqi mengatakan, kelompok usaha bersama “Berkat Ilahi” ini awalnya hanya diikuti sekitar 20 pengrajin, saat ini sudah sekitar 50 pengrajin.

Kelompok kerajinan “Berkat Ilahi” saat ini sudah berusia hampir 2 tahun dan akan terus dikembangkan dengan membangun jaringan ke desa sekitar. “Untuk memaksimalkan hasil hasil kerajinan baik secara jumlah maupun kualitas,” kata Baihaqi.

Ia mengharapankan semakin banyaknya pengrajin yang ikut terlibat, maka semakin banyak pula warga yang mendapatkan keuntungan dan mampu meningkatkan perekonomian keluarga.

Jelang Idul Adha 1441 H Bupati HSU H Abdul Wahid HK sendiri mengeluarkan surat edaran nomor 660/431/DISPERKIM-LH/2020 tentang imbauan pelaksanaan Idul Adha tanpa kantong plastik di Kabupaten HSU. Ini juga merupakan tindak lanjut Surat Edaran yang dikeluarkan tahun 2018 dengan nomor 660/496/Disperkim-LH/2020 tentang Himbauan untuk Mengurangi Penggunaan Kantong Plastik yang Tidak Ramah Lingkungan.  Ditambah dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia MUI Nomor 41 Tahun 2014 terkait tentang pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan. (kanalkalimantan.com/dew)

Reporter : dew
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->