Connect with us

SERI PSIKOLOGI

Sudahkah Anda Tersenyum Hari Ini?

Diterbitkan

pada

Senyuman membuat hari terasa lebih indah Foto : net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Rifqoh Ihdayati,S.Psi, MAP (Psikologi RSUD Panembahan Senopati)

Aktivitas harian yang melelahkan terkadang membuat suasana pikiran menjadi tidak nyaman. Di tengah rasa tersebut, teringat perkataan seorang teman yang sering menyampaikan bahwa; kita layak berbahagia! Dan yang menentukan kebahagiaan itu tak lain kita sendiri.

Maka cobalah tersenyum terhadap peristiwa. Maka fantastis, kita akan merasa lebih bahagia daripada sebelum tersenyum. Saya jadi berpikir, sebenarnya apakah karena bahagia kita kemudian bisa tersenyum,atau apakah dengan tersenyum kita bisa merasakan rasa bahagia?

Baik, coba kita bahas satu persatu hasil studi yang akhirnya saya lakukan. Tahukah Anda, bahwa ternyata dengan tersenyum banyak hal yang akan kita dapatkan. Berdasarkan penelitian, senyum adalah obat gratis yang mujarab yang bisa menghilangkan rasa nyeri. Kita coba uraikan satu per satu hal yang saya ketahui yang saya peroleh dari membaca beberapa penelitian:

Yang pertama, saya mencoba mencari tahu yang mana yang benar, antara apakah emosi mempengaruhi ekspresi wajah atau sebaliknya ekpresi wajah mempengaruhi emosi? Menurut Rathus (1986) biasanya keadaan emosi seseorang direfleksikan melalui ekspresi wajah. Ia menyebutkan bahwa keadaan emosional yang bahagia tampak pada wajah yang bahagia, dan keadaan emosional yang sedih akan tampak pada wajah yang sedih.

Teori James – Lange menyatakan bahwa ketika pertama kali seseorang mengalami suatu peristiwa, tubuh akan bereaksi dan kemudian orang tersebut akan membuat interpretasi bahwa perubahan tubuh merupakan suatu emosi yang spesifik. Atau dengan kata lain emosi adalah persepsi terhadap reaksi tubuh (dalam Huffman, dkk, 1991).

Selanjutnya teori James – Lange ini banyak menerima kritikan, salah satunya dari Cannon – Bard yang menyatakan bahwa suatu peristiwa akan memicu respon tubuh (reaksi dan tindakan) dan pengalaman emosi secara bersama sama.

Selanjutnya dalam perkembangannya facial feedback Hypothesis atau disingkat FFH (dalam Huffman, dkk, 1991) mengalami beberapa perubahan cara pandang, yakni ketika saat awal FFH menyatakan bahwa perubahan dalam ekspresi wajah akan memberikan informasi tentang emosi yang dirasakan,  yang maksudnya adalah jika seorang tersenyum tentu orang itu bahagia. Akan tetapi beberapa penelitian selanjutnya menyatakan sebaliknya, seperti yang disampaikan oleh Darwin ( dalam Kleinke & Walton, 1982) dimana ia menyatakan bahwa ekpresi wajah mempunyai pengaruh  langsung terhadap pengalaman emosional.

Penelitian terakhir yang penulis baca adalah dalam penelitian Strack, dkk (1988), manipulasi ekpresi wajah dilakukan dengan meminta subjek untuk menahan pena dimulutnya. Ketika pena ditahan oleh gigi, hasilnya adalah seperti tersenyum dimana subjek merasakan lebih bahagia ketika subjek menahan pena di bibir.

Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa seseorang tidak tersenyum  karena bahagia, tetapi seseorang merasa bahagia karena tersenyum. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa efek ekspresi wajah terhadap pengalaman emosional cukup spesifik, yaitu bahwa ekpresi senyum akan mengakibatkan perasaan bahagia dan bukan perasaan yang lain.

Dari berbagai penelitian di atas, penulis menyimpulkan bahwa ada 2 kemungkinan, yakni orang bahagia kemudian bisa menghasilkan sebuah senyuman, dan sebaliknya kita bisa merasakan kebahagiaan ketika kita tersenyum, walaupun dalam keadaan dipaksakan seperti pada penelitian Strack dkk.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, kenapa hanya dengan tersenyum dan atau tertawa kita bisa merasakan bahagia?Kendati saat itu kita tengah menghadapi berbagai macam masalah?

Saya mendapatkan jawabannya setelah membaca beberapa penilitian dan salah satunya mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Darwin (dalam Hodgkinson, 1991) sebagai  orang yang pertama kali menyatakan bahwa, gerakan otot zygomatic major (otot yang dapat menarik sudut bibir ke atas sampai tulang pipi) merupakan pusat ekpresi pengalaman emosi positif.

Otot tesebut menurut Waynbaum akan menyebabkan aliran darah ke otak meningkat, sehingga semua sel dan jaringan tubuh menerima oksigen dan hal ini menyebabkan perasaan gembira. Ekpresi sedih akan menyebabkan darah kekurangan oksigen, sehingga darah akan mengalami “kelaparan” dan hasilnya adalah depresi, kecemasan, dan perasaan menderita. Waynbaum menyimpulkan bahwa bahagia karena tersenyum merupakan obat untuk semua penyakit.

Selanjutnya Waynbaum menyatakan, bahwa seseorang yang membuat dirinya tersenyum akan merasa lebih bahagia dan hal ini jelas lebih baik untuk dikerjakan daripada menunggu sampai merasa bahagia agar dapat tersenyum. Selain uraian tersebut, penulis juga membaca sebuah artikel yang menyebutkan apa yang sedang terjadi di dalam otak ketika kita sedang tersenyum, otak secara alami mengaktifkan pusat syaraf yang mengatur emosi manusia dan rasa kebahagian.

Begini ceritanya : senyum akan mengaktifkan pelepasan neuropeptida – yaitu molekul kecil yang menjadi perantara antar sel saraf agar bisa berkomunikasi untuk menghilangkan stress. Tidak hanya stress, neuropeptida juga menjadi jembatan emosi dan perasaan yang Anda rasakan. Lewat semua neuropeptida tersebut, semua organ tubuh akan tahu jika terjadi perubahan suasana hati, entah itu sedih, marah, atau bersemangat.

Kemudian, seiring dengan Anda tersenyum hormon dopamin, serotin, serta endorfin yang disebut sebagai hormon bahagia juga dilepaskan. Pelepasan ini mengakibatkan denyut jantung menurun, tubuh menjadi rileks, dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, endorfin juga dikenal sebagai pereda nyeri alam yang tubuh miliki dan tidak ada efek samping apapun jika kadarnya meningkat. Tidak hanya sampai disitu saja, serotonin diketahui sebagai obat anti depresan yang ampuh mengobati rasa stress dan depresi  Anda. Dan tetap, zat terebut merupakan zat alami yang tubuh Anda hasikan sendiri

Berdasarkan penelusuran bacaaan bacaan yang dilakukan penulis, membuat penulis memiliki keinginan untuk menjadikan senyuman sebagai proses sebuah terapi, adapun yang sudah dilakukan oleh penulis adalah :

Meminta pasien bipolar yang sebelumnya selama ini raut wajahnya sangat nampak sangar dan menakutkan, yang bersangkutan pun merasa dirinya tidak menarik sehingga membuat dirinya tidak percaya diri untuk memasang foto di profil picture di sosmed yang dia miliki. Awalnya saya menanyakan kenapa dirinya susah sekali tersenyum, dia menjawab karena memang tidak terbiasa senyum, selain tidak ada hal yang membahagiakan sehingga membuat dia harus tersenyum.

Akhirnya dia saya suruh berusaha untuk bisa senyum paling tidak kepada saya sebagai psikolog yang dia hormati, akhirnya setelah beberapa kali mencoba dia berhasil memberikan senyum terbaik. Selanjutnya saya tanyakan apa yang dia rasakan setelah bisa tersenyum, dia menyatakan hatinya menjadi senang, lebih bahagia sampai dia keluar dari ruangan saya dia selfie dan pertama kali dalam sejarah dia memasang foto dirinya di sosmednya. Dan luar biasa dipertemuan pertemuan selanjutnya dia nampak jauh lebih baik, dia pun sempat bercerita sudah banyak sekali perubahan yang dia alami, sehingga  obat yang diberikan oleh osikiater dosisnya sudah dikurangi.

Meminta pasien dengan gangguan kecemasan, untuk mengubah perasaan cemasnya dengan cara mengawalinya dengan senyuman,  dan efeknya luar biasa, dia merasa bahwa denyut jantungnya lebih teratur (sebelumnya ia merasa lebih cepat), nafasnya juga lebih nyaman, tidak ngos – ngosan lagi, suasana hati pun lebih nyaman.

Dan masih ada beberapa pasien lagi yang tengah saya pantau perkembangannya sejak saya minta mereka melakukan “terapi senyum” setiap harinya terutama saat pikiran dan hatinya sedang tidak nyaman.

So, sudah kah Anda tersenyum hari ini? Karena Anda layak bahagia! (*)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kepala Cyber Kanal Kalimantan

Advertisement

SERI PSIKOLOGI

Memetik Makna di Balik Kematian

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Rifqoh Ihdayati, S.Psi, MAP Foto: Ist
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Rifqoh Ihdayati, S.Psi, MAP

Psikolog RSUD Panembahan Senopati

Beberapa hari lalu di kampung saya menetap, ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia. Sebagai orang baru di kampung ini, saya belum mengenalnya cukup dekat. Namun dari mendengar cerita tetangga dan banyaknya orang yang datang takziah, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa beliau adalah orang baik.

Saya bukan orang yang gampang terharu. Termasuk ketika menghadapi peristiwa meninggalnya seorang teman, kerabat, ataupun keluarga dekat sekalipun. Saya percaya, bahwa kenyataan kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Dan pada akhirnya, semua akan kembali kepada Allah SWT. Sebagaimana kalimat yang selalu terucap saat kita mendapati kabar duka, innalillaji wa inna ilaihi rajiun..

Saya pribadi, memang sangat mendalami kalimat tersebut. Bahwa kehidupan kekal adalah nanti setelah hari akhir tiba. Pun setiap ada pertemuan, perkenalan dengan orang baru, kita harus siap akan adanya perpisahan.

Tetapi entahlah, ketika saat upacara pelepasan jenazah dilaksanakan, saya merasa perasaan terhanyut. Terlebih saat ustadz yang diberikan kewenangan oleh pihak keluarga menyampaikan sambutan mewakili keluarga mengatakan ”nyuwun pamit” (izin untuk berpisah).

Kalimat tersebut, menggores dalam pada diri saya. Membayangkan, bagaimana jenazah mulai saat ini akan berpisah raga dengan keluarga, siap tidak siap keluarga harus ikhlas melepaskan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semua milik Allah SWT dan akan kembali kepadaNya.

Secara lebih luas, kalimat tersebut juga memberikan sebuah penyadaran untuk memaknai kehidupan dengan sikap kerelaan dan berbagi. Hal ini dengan sebuah kesadaran, bahwa apa yang kita dapatkan (rizki) bukan semata karena berkat usaha sendiri. Tapi juga karena kemurahan Allah SWT, serta tak jarang dari bantuan orang lain.

Maka sikap kikir, pelit, egoisme, tentu merupakan manifestasi hilangnya kesadaran bahwa ada hak orang lain yang melakat pada apa yang kita miliki. Sehingga sikap berlebihan dalam memanjakan dan menyenangkan diri, merupakan wujud dari perbuatan mubadzir.

Hal kedua, makna innalillahi wa inna ilaihi rajiun mengisyaratkan keteguhan psikologis bagi orang yang mengucapkannya. Saat kehilangan jabatan, disakiti, ataupun ditinggal pergi orang tercinta, kita yakin bahwa semua itu sangat mungkin terjadi. Karena Allah SWT bisa kapan saja mengambil kembali apa yang dipinjamkan atau diamanatkan kepada kita. Untuk itu, Rasulullah SAW melarang menangisi orang yang meninggal secara berlebihan dan menyalahkan pihak lain (bahkan Tuhan) atas kematian tersebut.

Dan tentu saja, terpenting dari kesadaran akan makna innalillahi wa inna ilaiho rajiun adalah memperbanyak ibadah dan amalan selama hidup di dunia. Agar kelak ketika tiba giliran menghadapNya, kita telah siap dengan amal kebaikan. Terus berusaha menjadi pribadi yang baik.(*)

Untuk mengenang almarhum Bapak H Drs Supriyanto, M.Pd.

Reporter:
Editor:Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->