Connect with us

HEADLINE

Tak Tercantum Duet Haris Makkie-H Yuni di Rekomendasi DPP Golkar, Supian HK: Lihat Saja Nanti!

Diterbitkan

pada

Pasangan Haris Makkie- H Yuni belum terima rekomendasi DPP Golkar. Foto: kanal
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Ada kejutan dari acara ‘Penyerahan Surat Keputusan Pasangan Calon Partai Golkar di Pilkada Serentak 2020’ di DPP Partai Golkar, Minggu (12/7/2020) kemarin. Pasalnya, nama pasangan calon kandidat di Pilkada Banjarmasin Haris Makkie- H Yuni Abdi Nur Sulaiman tidak masuk dalam daftar yang hadir menerima SK rekomendasi tersebut. Ada apa?

Nama-nama kandidat yang sebelumnya diusulkan oleh DPD Golkar Kalsel melalui pengajuan rekomendasi No A-054/GOLKAR-KS/V1/2020 tentang Laporan Hasil Pelaksanaan Tahapan Seleksi Bakal Calon Kepala Daerah Partai Golkar di Pilkada 2020, terlihat datang ke acara tersebut untuk menerima ‘mandat’ pencalonan. Sebut saja pasangan H Rusli-Guru Fadlan di Pilkada Banjar, Darmawan Jaya (yang mewakili duet Nadjmi-Jaya) di Pilkada Banjarbaru, Ansharuddin- M Noor Iswan di Pilkada Balangan, Saban Effendi- Habib Abdillah di HST, dan Syafruddin H Maming- Andi Rudi Latif di Tanbu.

Lantas, bagaimana dengan nama Abdul Haris Makkie – H. Yuni Abdi Nur Sulaiman yang digadang-gadang akan diusung Golkar di Pilwali Banjarmasin?

Dikonfirmasi terkait tak munculnya nama Haris Makkie-H Yuni, Ketua Harian DPD Partai Golkar Kalsel H. Supian HK sempat celetuk bahwa nama-nama tersebut sudah beredar di media massa. Ia  mengatakan dalam waktu dekat surat rekomendasi untuk pasangan Haris-Yuni akan keluar. “Mungkin, Insyaallah dalam minggu ini sudah keluar,” kata Supian usai rapat paripurna DPRD Kalsel, kepada Kanalkalimantan.com pada Senin (13/7/2020) pagi.



 

Supian menyebutkan masih ada dua pasang bakal calon kepala daerah yang belum mendapatkan surat rekomendasi DPP Partai Golkar. Yaitu untuk Pilwali Banjarmasin dan Pilbup Kotabaru. “Tinggal dua lagi. (Yaitu) Kotabaru dan Haris Makkie (di Banjarmasin). Itu hanya soal teknis saja,” lugas Supian.

Ditanya soal peluang kader Golkar lainnya yaitu Hj. Ananda yang juga digadang-gadang akan ikut bertarung di Pilwali Banjarmasin, Supian menanggapinya dengan santai. “Lihat sajalah nanti. Karena yang diusulkan bukan bu Nanda (sapaan Hj. Ananda),” tegas Supian.

Supian pun menegaskan bahwa nama-nama yang sudah tercantum di surat rekomendasi DPP Partai Golkar sudah final. “Nama Paman Birin sudah final. Hanya dua saja yang belum,” tutur Supian. Ia sendiri memastikan, surat rekomendasi untuk bakal calon kepala daerah di Pilwali Banjarmasin dan Pilbup Kotabaru akan keluar dalam waktu tiga hingga empat hari ke depan.

Lalu, mengapa nama bakal calon kepala daerah ini belum juga ditetapkan? “Tanyakan pada rumput yang bergoyang,” pungkas Supian sambil celetuk.

Terpisah, ketika ditanya soal namanya yang tidak muncul di surat rekomendasi DPP Partai Golkar, Abdul Haris Makkie memilih untuk irit bicara. “Itu urusan partai, bukan urusan saya,” singkat Haris yang juga Sekdaprov Kalsel ini.

Sementara itu, informasi yang dihimpun Kanalkalimantan.com terkait belum keluarnya SK untk Banjarmasin karena belum kelarnya hasil survai di ibukota provinsi tersebut. DPP terkesan berhati-hati menelurkan kandidat karena medan pertarungan di Banjarmasin diprediksi akan cukup sengit dan memiliki nilai strategis.

Sebelumnya disebutkan, apalagi, Banjarmasin sebagai ibukota provinsi memiliki nilai startegis. Selain kantong massa lantaran banyaknya jumlah pemilih, Banjarmasin menjadi simbol pemerintahan Kalsel yang harus bisa digandeng oleh Gubernur nantinya.

Dari data pemilu sebelumnya yang dihimpun Kanalkalimantan.com, Banjarmasin memiliki jumlah pemilih terbesar sebanyak 423.392 orang. Disusul kemudian Kabupaten Banjar sebanyak 401. 445 pemilih, Kabupaten Tanah Laut (Tala) sebanyak 230.136 pemilih, Kabupaten Tanah Bumbu sebanyak 220.789 pemilih dan Kabupaten Kotabaru sebanyak 216.845 pemilih.

Lalu Barito Kuala sebanyak 217.969 pemilih, Banjarbaru sebanyak 144.275 pemilih, Tapin sebanyak 131.510 pemilih, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sebanyak 166.196 pemilih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sebanyak 184.435 pemilih, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sebanyak 160.318 pemilih. Kemudian Kabupaten Tabalong sebanyak 167.897 pemilih dan Kabupaten Balangan sebanyak 89.144 pemilih.

Melihat data tersebut, memenangkan Banjarmasin menjadi salah satu kunci kemenangan untuk Pilgub Kalsel.

Disamping itu, ada juga pertimbangan untuk menilai posisi wakil dari Haris Makkie. Apakah memasang Ketua DPRD Banjarmasin Hj Ananda yang sebelumnya aktif melakukan sosialisasi pencalonannya sebagai ‘orang nomor 2’ atau tetap mempertahankan posisi H Yuni yang juga kader Golkar, sebagai wakil dari Haris Makkie.

Walau sebelumnya Supian HK mengatakan, alasan memilih H Yuni sebagai pendamping Haris Makkie lantaran yang bersangkutan mampu menghubungkan dengan sejumlah partai untuk diajak koalisi di Pilkada Banjarmasin.

Dalam surat pengajuan rekomendasi DPD I Golkar Kalsel ke DPP Golkar, No A-054/GOLKAR-KS/V1/2020 tentang Laporan Hasil Pelaksanaan Tahapan Seleksi Bakal Calon Kepala Daerah Partai Golkar di Pilkada 2020, yang dikeluarkan tanggal 26 Juni 2020 lalu, disebutkan sejumlah parpol yang diajak. Termasuk PAN Banjarmasin yang memberikan 9 kursinya secara gratis! Selain itu, ada pula PDIP dengan 5 kursi, Nasdem 1 kursi.

Sebelumnya, disebutkan bahwa PKS ikut mendukung. Tapi hal tersebut diklarifikasi oleh Ketua DPD PKS Banjarmasin Hendra kepada Kanalkalimantan.com, mengatakan masih merupakan klaim sepihak.

Ia mengatakan, partainya belum menyampaikan dukungan apapun terkait bakal pasangan calon di Pilkada Banjarmasin. “Jadi surat yang beredar itu masih merupakan klaim sepihak dari Partai Golkar. Karena kami sesuai mekanisme masih menunggu keputusan DPP PKS,” katanya.

Hendara mengatakan, peluang petahana Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina, untuk kembali diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwali) Banjarmasin 2020, cukup besar. (Kanalkalimantan.com/fikri)

 

Reporter : Fikri
Editor : Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HEADLINE

WHO: Mungkin Tak Akan Pernah Ada Obat untuk Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto : Reuters/Dennis Balibouse
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTA.COM, JENEWA – Harapan dunia untuk memutus siklus penularan dan penutupan wilayah kini bertumpu pada vaksin. Tetapi dalam konferensi pers secara virtual hari Selasa, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa mengatakan pemerintah dan warga seharusnya berfokus pada apa yang diketahui ampuh yaitu testing, pelacakan kontak, jaga jarak fisik dan pemakaian masker.

“Kita semua berharap memiliki sejumlah vaksin ampuh yang bisa membantu mencegah orang tertular. Namun, tidak ada obat yang manjur saat ini – dan mungkin tidak akan pernah ada. Jadi, yang bisa dilakukan saat ini untuk menghentikan wabah adalah menerapkan dasar-dasar kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit,” ujar Tedros.

Meskipun sudah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama berbulan-bulan sehingga melumpuhkan ekonomi, pandemi virus corona terus meluas. Kini tercatat hampir 700.000 kematian di seluruh dunia. Di Amerika, penasihat Gedung Putih memperingatkan, virus itu “menyebar sangat luas.”

Di negara-negara yang sebelumnya berhasil mengendalikan, wabah kembali merebak, misalnya Australia. Hari Senin, PSBB baru kembali diterapkan di negara bagian Victoria yang terimbas keras. Jam malam juga diberlakukan di Melbourne, ibu kota negara bagian itu, selama enam minggu ke depan. Semua bisnis yang dinilai non-esensial ditutup, dan pesta pernikahan dilarang.



Di Filipina, pemerintah juga menerapkan kembali penutupan wilayah atau lockdown setelah jumlah penularan melampaui 100 ribu. Lebih dari 27 juta orang – termasuk di ibukota negara itu, Manila, kembali harus diam di rumah selama dua minggu mulai Selasa.

Iran, negara yang paling terimbas pandemi di Timur Tengah, melaporkan jumlah penularan tertinggi dalam satu hari dalam hampir sebulan. Pemerintah memperingatkan, sebagian besar provinsi di sana menghadapi perebakan kembali virus corona.

Tetapi, Amerika masih menjadi negara yang paling terimbas pandemi. Sejauh ini, dilaporkan 4,6 juta kasus dan hampir 155.000 kematian di Amerika.

Deborah Birx, kepala gugus tugas virus corona Gedung Putih, memperingatkan negara itu telah memasuki “fase baru”. “Apa yang kita saksikan sekarang berbeda dari apa yang terjadi pada Maret dan April,” kata Birx kepada stasiun televisi CNN. Ia menambahkan, virus ini “menyebar sangat luas.”

Kepala teknis WHO untuk tanggap COVID-19 Maria Van Kerkhove mengatakan kajian baru-baru ini memperkirakan tingkat kematian akibat virus corona adalah 0,6 persen. “Mungkin angka itu terdengar tidak besar, tetapi cukup tinggi jika memperhitungkan virus yang mudah menular, yang bisa menular dengan cepat,” katanya.

Pandemi mendorong banyak pihak bergegas membuat vaksin. Rusia hari Senin menyatakan akan meluncurkan vaksin secara massal pada September dan memproduksi “jutaan” dosis vaksin setiap bulan sebelum tahun depan. (ka/jm)

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Jalan Panjang Denny Raih ‘Tiket’ Gerindra-Demokrat, Politik Tanpa Fulus Berakhir Mulus!

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Jalan panjang dilakukan Denny-Difriadi mendapatkan dukungan Gerindra dan Demokrat di Pilgub Kalsel. Foto : ilustrasi yuda
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU– Perjalanan panjang ‘hijrah gasan Banua’ Denny Indrayana di Pilgub Kalsel akhirnya sampai pada level pertama untuk mengantongi tiket rekomendasi parpol. Setelah lebih sembilan bulan berjuang meyakinkan Gerindra dan Demokrat, akhirnya kedua parpol tersebut memutuskan memberikan mandat. Terpenting, Denny membuktikan komitmennya bahwa dukungan tersebut diraih tanpa mahar politik uang!

Berawal dari tekadnya maju melawan incumbent Sahbirin Noor, langkah mantan Wamenkum HAM era Presiden SBY ini terasa musykil pertamanya. Betapa tidak, tanpa dukungan apapun dan hanya bermodal niat, ia bertekad maju.

Kepada Kanalkalimantan.com, pegiat anti korupsi ini menceritakan awal mula langkahnya mencebur ke pertarungan Pilgub Kalsel.

“Saya ketika itu gelisah. Masak tidak ada yang berani melawan incumbent? Dengan membaca Bismillah, setelah saya melaksankan sholat malam ketika itu, saya tegaskan untuk maju!” katanya.



Lalu, pada Minggu (13/10/2019) Denny mendeklarasikan pencalonannya sebagai Gubernur Kalsel di hadapan puluhan jurnalis di Kalsel, yang hadir dalam jumpa pers di Varras Resto, Jl A Yani Km 36,6 Banjarbaru, Kalsel.

Dari situlah, langkah demi langkah mulai ditapaki Denny Indrayana. Hanya bermodal solidaritas rekan dan koleganya saat itu, ia mulai mendaftar ke sejumlah partai yang mulai membuka penjaringan kandidat. Hampir semua parpol didatangi, termasuk Gerindra dan Demokrat.

Termasuk, ia menggalang dukungan relawan untuk menyetor KTP sebagai cadangan jika tak ada parpol yang meminangnya. Sehingga ia akan menggunakan jalur independen. Tapi seiring waktu, jalur independen ia tinggalkan. Denny pun fokus kepada dukungan partai.

Denny mengatakan, ia memiliki kedekatan emosional dengan sejumlah partai. “Ya, khususnya dengan Partai Demokrat dan Gerindra. Karena memang secara pribadi kenal dan pernah bersama dengan ketua umumnya,” katanya.

Ia menceritkan, perlu waktu dan kesabaran berjuang di jalur parpol. Terlebih, ia menegaskan bahwa tak menggunakan politik uang. Baginya, terwujudnya good governance harus dimulai dari langkah pertamanya.

“Ibaratnya, wudhu kita harus sah sebelum kita sholat. Kalau langkah pertamanya saja sudah batal dengan melakukan politik uang, maka otomatis semua yang kita idealkan untuk membangun politik yang bersih juga akan batal,” katanya.

Grafis : yuda kanalkalimantan

Hal itu juga yang ia tegaskan, saat diwawancara koleganya, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun dalam video yang diunggah lewat saluran Youtube, Selasa (21/7/2020) malam. Dalam video berjudul “Optimisme Denny Indrayana, Bisa Menang Tanpa Mahar dan Politik Uang”, Refly menyinggung soal pandangan umum soal money politics pada kontestasi politik, termasuk pemilihan kepala daerah (pilkada).

“Orang bilang no money no candidacy. Itu bagaimana mau ngomong anti korupsi? Bagaimana menjawab rumor seperti itu?” tanya Refly kepada juniornya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Denny mengatakan, justru di situlah letak tantangannya. Sejauh ini Denny mengaku mendapatkan surat tugas dari Partai Demokrat tanpa sepeser rupiah pun. Begitu juga dengan surat rekomendasi sementara dari Partai Gerindra. Ada juga relawan-relawan yang dinilainya luar biasa militan.

“Jangankan saya kasih uang, malah mereka yang menyumbang membuat kaos, masker dan lain-lain. Jadi tidak ada yang impossible, tapi memang agak ekstra kerjanya,” ujar mantan Stafsus Presiden SBY ini.

Kini, dengan dukungan 8 kursi Gerindra dan 3 kursi Demokrat, sudah pas untuk menjadikan Haji Denny sebagai Cagub Pilgub Kalsel 2020. Dengan total 55 kursi DPRD Provinsi Kalsel, maka 11 kursi Gerindra-Demokrat sudah memenuhi syarat minimal 20% kursi pencalonan.

Namun, Denny rupanya tidak hanya memastikan 11 kursi DPRD Provinsi. Sedang berada di Jakarta, Denny terus berkeliling dan memastikan mendapatkan dukungan partai lainnya. Ketika ditanya, ia tidak mau mengungkapkan partai mana saja yang ditemuinya. “Saya terus membangun komunikasi dengan partai lain untuk berkoalisi. Insya Allah dalam waktu dekat partai koalisi kami akan mendeklarasikan dukungannya,” katanya. (kanalkalimantan.com/cel)

Reporter : Cel
Editor : Cell



  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->