Connect with us

HEADLINE

Terapi Plasma Konvalesen Sebuah Alternatif Penyembuhan Covid-19 ataukah Hanya Coba-coba?

Diterbitkan

pada

Seorang pasien Covid-19 yang pulih menyumbangkan plasma darah untuk penelitian antibodi Covid-19. Foto: Alexander Hassenstein / Getty Images
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Ketiadaan vaksin Covid-19 hingga kini membuat beberapa ahli medis mulai mempertimbangkan alternatif lain guna menyembuhkan pasien dan mengurangi dampak penyebaran Covid-19.

Salah satu opsi yang coba diambil adalah dengan menerapkan terapi konvalesen terhadap pasien positif Covid-19. Dilansir dari Media Indonesia opsi ini sudah mulai diinisiasi sejak medio April 2020 lalu.

Adalah Theresia Monica Rahardjo ahli genetika dan biologi molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha bersama tim yang telah mengusulkan opsi ini kepada pemerintah. Pada 18 Maret 2020, ia mengirimkan surat ke Presiden Joko Widodo. Dalam surat tersebut saya mengajukan usul atau saran agar pemerintah melaksanakan Terapi Plasma Konvalesen (TPK) dalam rangka menolong rakyat sembuh dari covid-19.

Melansir The Verge, terapi plasma darah konvalesen yang sudah dipakai oleh dunia medis selama seabad itu dilakukan dengan cara menyedot darah dari pasien yang sembuh Covid-19 dan memasukkannya kembali ke orang sakit.

Apa yang Dimaksud dengan Terapi Plasma Konvalesen

Terapi plasma konvalesen (kon-vuh-LES-unt PLAZ-muh) adalah pengobatan eksperimental yang digunakan beberapa dokter untuk orang dengan penyakit coronavirus 2019 (Covid-19).

Tidak ada obat yang terbukti aman dan efektif untuk mengobati Covid-19. Administrasi Makanan dan Obat-obatan A.S. Amerika Serikat (FDA) belum menyetujui obat apa pun khusus untuk mengobati orang dengan Covid-19.

Tetapi, orang yang telah pulih dari Covid-19 memiliki antibodi – protein yang digunakan tubuh untuk melawan infeksi – terhadap penyakit dalam darah mereka. Darah dari orang yang sudah pulih disebut plasma pemulihan. Plasma adalah bagian cair dari darah.

Para peneliti berharap bahwa plasma penyembuhan dapat diberikan kepada orang-orang dengan Covid-19 parah untuk meningkatkan kemampuan mereka melawan virus.

Mengapa ini dilakukan?

Dikutip dari sebuah laman jurnal medis mayoclinic.org, terapi plasma konvalesen mungkin bermanfaat bagi orang dengan Covid-19 yang tidak dibantu oleh perawatan lain. Beberapa orang dengan Covid-19 menjadi sangat sakit dan tidak mampu merespon perawatan atau obat lain. Orang-orang ini sering mengalami sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) – kondisi paru-paru yang parah. Mereka sering membutuhkan bantuan mekanik, seperti ventilator, untuk bernafas. Orang-orang ini juga berisiko mengalami kegagalan organ.

Ini juga dapat membantu orang lain yang memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit serius, seperti orang dengan kondisi medis kronis, misalnya, penyakit jantung atau diabetes, atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Plasma konvensional dapat membantu orang-orang ini agar tidak sakit jika mereka terpapar Covid-19.

Plasma konvalesen juga dapat dipertimbangkan untuk anggota keluarga atau petugas kesehatan yang telah terpapar dari seseorang dengan Covid-19.

Risiko

Darah dan plasma telah digunakan untuk mengobati banyak kondisi lain, dan biasanya sangat aman. Risiko tertular infeksi Covid-19 dari menerima terapi plasma konvalesen belum diuji. Tetapi para peneliti percaya bahwa risikonya sangat rendah karena donor plasma telah sepenuhnya pulih dari infeksi.

Terapi plasma konvalesen membawa risiko:

Reaksi alergi

Kerusakan paru-paru dan kesulitan bernapas

Penularan infeksi, termasuk HIV dan hepatitis B dan C

Risiko infeksi ini sangat rendah, karena darah yang disumbangkan harus memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan oleh FDA. Sebelum darah yang disumbangkan dapat digunakan, harus diuji keamanannya. Kemudian melewati proses untuk memisahkan sel-sel darah sehingga yang tersisa hanyalah plasma dengan antibodi.

Meskipun banyak orang tidak mengalami gejala, yang lain memiliki komplikasi medis ringan hingga parah yang menyebabkan kematian pada beberapa orang.

WHO Imbau untuk Terapkan Prosedur Tinggi Saat Lakukan Terapi Plasma Konvalesen

WHO menyampaikan penggunaan klinis plasma darah atau serum konvalesen harus dianggap sebagai pemeriksaan penunjang. Karena keamanan dan kemanjuran plasma darah atau serum konvalesen tidak terbukti dalam pengaturan epidemi baru.

WHO mengimbau standar untuk pembuatan produk plasma harus memaksimalkan keselamatan donor dan penerima.

WHO meminta pengumpulan dan persiapan harus dilakukan oleh staf terlatih yang beroperasi di bawah prosedur operasi standar di fasilitas yang punya regulasi ketat dan bersertifikat, serta secara rutin terlibat dalam pengumpulan darah dan plasma dan persiapan sesuai dengan pedoman internasional.

Pedoman pemberian dosis, kata WHO, harus disediakan dan pertimbangan harus diberikan untuk penggunaan unit dari setidaknya dua donor yang berbeda dalam pengakuan variasi biologis dalam respon imun.

Terapi kekebalan pasif umumnya lebih efektif bila diberikan lebih awal dalam perjalanan penyakit dan dapat diberikan dengan dosis lebih rendah. Namun, WHO menegaskan tidak mengetahui apakah pengobatan dini atau lambat pada pasien akan sama efektifnya.

Seperti terapi plasma darah lainnya, WHO berkata perhatian harus diberikan untuk inkompatibilitas ABO . Inkompatibilitas ABO tidak akan menjadi perhatian utama untuk produk imunoglobulin murni yang dibuat dari kolam plasma besar.

Inkompatibilitas ABO sendiri adalah kondisi yang muncul karena pasien menerima darah yang berbeda dengan golongan darahnya. Hal itu memicu reaksi sistem kekebalan tubuh yang dapat menimbulkan beragam gejala, di antaranya adalah ikterus (penyakit kuning), pusing, dan sesak napas.

Antibodi terhadap antigen leukosit, seperti yang sering dikembangkan oleh wanita selama kehamilan dapat menimbulkan penyakit paru-paru parah yang disebut Transfusion Related Acute Cedera Paru (TRALI). Penyakit itu merupakan sindrom langka yang terjadi dalam waktu 6 jam setelah transfusi plasma darah.

Lebih dari itu, WHO menyampaikan studi ilmiah tentang kelayakan dan efektivitas medis untuk pengumpulan dan penggunaan plasma darah atau serum yang sembuh harus dieksplorasi melalui uji klinis yang dapat dilakukan bersamaan dengan penggunaan empiris mereka. (kanalkalimantan.com/andy)

Reporter : andy
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

HEADLINE

10 Nakes Terpapar Covid-19, Puskesmas Guntung Payung dan Guntung Manggis ‘Lockdown!’

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Puskesmas Guntung Payung yang sementara ditutup karena adanya tenaga kesehatan terpapar Covid-19 Foto : rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Dua Puskesmas di Kota Banjarbaru ditutup sementara. Ini karena sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) dinyatakan terpapar Covid-19. Kedua fasilitas kesehatan tersebut berada di Kecamatan Landasan Ulin, yakni Puskesmas Guntung Payung dan Puskesmas Guntung Manggis.

Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani, saat dihubungi Kanalkalimantan, Minggu (5/7/2020) sore, turut membenarkan kabar tersebut. “Iya benar, ada karyawan terpapar sehingga layanan Puskesmas untuk sementara kita hentikan,” ujarnya.

Menelisik lebih lanjut terkait kabar mengejutkan ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, Rizana Mirza, turut angkat bicara. Dirinya mengungkapkan temuan kasus awal di dua Puskemas tersebut terjadi pada pertengahan Juni lalu.

“Saat itu tenaga medis di Puskemas melaksanakan pelayanan kesehatan terhadap warga yang mengeluh sakit. Ternyata warga itu terkonfirmasi positif Covid-19. Sebagaian besar tenaga medis kita terpapar saat sedang menjalankan tugas,” katanya.

Adapun mereka yang terpapar Covid-19, untuk di Puskemas Guntung Payung ada sebanyak 3 orang tenaga kesehatan. Sedangkan, di Puskesmas Guntung Manggis, jumlah tenaga kesehatan yang terpapar mencapai 7 orang.

Rizana mengungkapkan bahwa penutupan kedua Puskemas dilakukan selama 2 hari, tepatnya 6-7 Juli besok. Pihaknya juga dalam hal ini akan melakukan sterilisasi lewat penyemprotan disinfektan ke seluruh sisi ruangan di kedua Puskesmas tersebut.

“Insya Allah, Rabu sudah kembali normal. Bagi masyarakat di wilayah tersebut, untuk sementara bisa mendatangi puskemas di wilayah lain jika mendapatkan layanan kesehatan,” pungkas Rizana. (Kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Kisah Siti Aminah, Tenaga Kesehatan Puskesmas di HSU yang Berhasil ‘Melawan’ Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Aminah, nakes di sebuah puskesmas di HSU yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 Foto : dew
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Dinyatakan positif Covid-19, Siti Aminah, salah satu pasien yang berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), sempat tak percaya. Sebagai salah satu tenaga kesehatan (Nakes) di sebuah puskesmas di HSU, Aminah pun sempat diisolasi di Bapelkes Banjarbaru dengan status orang tanpa gejala (OTG).

Ya, Aminah sempat shock! Itu setelah Pemkab HSU sebelumnya melakukan rapid massal kepada ratusan tenaga kesehatan dan para ASN.

Melihat aktivitas Aminah sebagai tenaga kesehatan, rasanya sesuatu yang luar biasa dirinya terpapar Covid-19. Mengingat selama menjalankan tugas ia selalu mengutamakan keselamatan kerja dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Saya sempat tidak percaya dan tidak percaya setelah tahu hasil rapid dan swab tes yang telah dilakukan beberapa saat lalu,” ungkap Aminah kepada Kanalkalimantan.com, Minggu (5/7/2020).

Padahal menurutnya, selama ini dirinya selalu mematuhi protokol kesehatan. Baik saat bertugas sebagai nakes, ataupun saat di rumah berkumpul keluarga. “Bermacam perasaan ada di diri saya, namun saya sadari mungkin ini adalah resiko yang harus saya terima karena pekerjaan ini menuntut saya harus berinteraksi secara langsung. Harus bersentuhan dengan orang, termasuk orang yang menyebarkan virus ini ke saya, baik orang tersebut pasien atau orang lain,” bebernya.

Diketahui, Covid-19 mempunyai beberapa gejala umum apabila tertular kepada orang tua atau orang yang berisiko seperti mempunyai riwayat penyakit tertentu.

Hal inilah yang dapat membahayakan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi orang yang terinfeksi virus ini. Covid-19 juga dapat menular tanpa adanya gejala apapun sehingga bagi seseorang yang mempunyai daya tahan tubuh yang prima hal ini tidak mempengaruhi aktivitas tubuhnya, namun dampak atau bahaya yang akan ditimbulkannya sangat besar bagi orang yang daya tahan tubuhnya rendah.

Hal inilah juga dirasakan Siti Aminah. Ia menyadari keadaannya saat itu, yang berdampak bagi psikologinya karena harus terpisah dengan keluarga selama di isolasi Meski selama menjalani perawatan, Aminah selalu mendapat dukungan moral dari keluarga juga dari teman-teman sejawat, namun itu tidak membuat perasaannya khawatir akan kondisi keluarganya yang ditinggalkan

“Buat saya dimana harus meninggalkan keluarga yang selama ini selalu bersama, dan harus berpisah untuk beberapa waktu, ada perasaan was-was. Apakah keluarga saya juga terpapar akibat saya, bagaimana anak-anak tanpa saya, itu yang selalu terpikirkan,” ungkapnya.

Menurut pengakuannya, dirinya bersama beberapa orang lainnya dirawat di Balai Pelatihan Kesehatan ( BAPELKES) di Banjarbaru yang disiapkan Pemprov Kalsel sebagai tempat isolasi pasien Covid-19. “Setiap harinya kami selalu mengikuti kegiatan yang dilaksanakan seperti senam pagi, mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi tinggi, serta istirahat yang nyaman. Kami tetap masih bisa berkomunikasi dengan keluarga,” katanya.

“Setelah beberapa hari mengikuti seluruh kegiatan di saat karantina, akhirnya saya dinyatakan sembuh setelah dilakukan swab tes, dan saya bisa berkumpul dengan keluarga serta dapat beraktivitas seperti biasa yang tentunya harus tetap menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan Covid-19,” tambahnya.

Atas kejadian yang dialaminya tersebut, Aminah mengharapkan agar seluruh masyarakat tidak menganggap remeh Covid-19, sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

Dirinya juga berharap masyarakat peduli akan kesehatan diri sendiri dan keluarga dengan menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat, selalu memakai masker ketika beraktivitas, selalu mencuci tangan dan menjaga jarak apabila berinteraksi.

“Saya tidak ingin ada lagi korban-korban lainnya disebabkan prilaku yang tidak mempedulikan kesehatan diri sendiri,” tandasya. (kanalkalimantan.com/dew)

Reporter : Dew
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Menggeliat di Tengah Pandemi, Liga 1 2020 Kembali Bergulir. Mampukah?

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

PSSI memutuskan melanjutkan kompetisi Liga I di tengah pandemi, tetapi sejumlah tim sudah menyatakan menolak. Foto: pssi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) merilis Surat Keputusan Bernomor SKEP/53/VI/2020 tentang Kelanjutan Kompetisi Dalam Keadaan Luar Biasa Tahun 2020. Tapi sejumlah tim di liga satu sudah menyatakan penolakan, termasuk tim kebanggakan Banua, Barito Putera!

Terbitnya SKEP baru PSSI memang mengundang pro kontra. Sebelumnya, pada 27 Maret 2020, PSSI telah mengeluarkan SKEP/48/III/2020 tentang penghentian kompetisi sepak bola di Indonesia terkait penyebaran Covid-19 di Indonesia dalam keadaan kahar atau force majeure.

Dikutip dari laman resmi PSSI, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menyatakan, SKEP terbaru yang ditandatangani pada 27 Juni 2020 dan diumumkan secara resmi pada Minggu, 28 Juni 2020 diambil dengan melalui berbagai pertimbangan.

Data dan fakta Liga 1 2020. Foto: grafis kanalkalimantan/andy

“Kita perlu melakukan kampanye lewat sepak bola bahwa Indonesia sudah mulai beradaptasi dan belajar dengan situasi ‘New Normal’ dengan menjalankan protokol kesehatan. Lewat kompetisi sepak bola adalah kampanye yang baik bagi dunia luar,” tegasnya.

Iwan Bule sapaan karib Ketum PSSI juga menjelaskan bahwa hal ini semata mengingat akan pengalaman sepak bola Indonesia yang pernah mendapat sangsi FIFA karena tidak ada kompetisi saat itu.

PSSI juga mendengar masukan dari pemerintah, AFC, FIFA dan masukan pihak-pihak lainnya sebelum memutuskannya bersama Exco PSSI. Menurut Iwan Bule kompetisi akan menggerakan  roda ekonomi seperti pemasukan hotel, transportasi, catering, dan lain-lain.

Atas dasar itulah, Iriawan sebagai Ketua Umum PSSI kemudian membuat Surat Keputusan bernomor SKEP/53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi dalam keadaan luar biasa tahun 2020.

“Kompetisi Liga 1,  Liga 2, dan Liga 3  akan dimulai pada Oktober 2020 dengan memperhatikan ketentuan protokol kesehatan Covid-19 yang ditetapkan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Iriawan menambahkan, terkait hal-hal yang belum termasuk dalam Surat Keputusan ini tentang pelaksaaan Kompetisi Tahun 2020 akan diatur kemudian dalam ketentuan terpisah. “Dengan ini saya nyatakan Surat Keputusan SKEP/53/VI/2020  mulai berlaku terhitung sejak tanggal ditetapkan,” kata Iriawan.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal dipilih karena fasilitasnya yang cukup lengkap. “Rencananya memang ke sana, ke Yogyakarta. Namun, kami harus berkomunikasi lagi dengan klub-klub di luar Pulau Jawa,” kata Ketua PSSI, Mochamad Iriawan.

Adapun, enam dari 18 peserta Liga 1 musim ini berasal dari luar Pulau Jawa. Keenamnya adalah Persiraja Banda Aceh, Borneo FC, Barito Putera, Bali United, PSM Makassar, dan Persipura Jayapura.

Penolakan dari Sejumlah Klub Peserta Liga 1 2020

Jika sebelumnya hanya tiga klub yang secara terbuka menolak Liga 1 2020 dilanjutkan, maka kini bertambah menjadi lima klub. Persebaya Surabaya, Barito Putera, Persik Kediri,  Persipura Jayapura, dan Persita Tangerang.

Logo liga 1 2020. Foto: grafis kanalkalimantan/andy

Presiden Persebaya, Azrul Ananda membeberkan beberapa alasan mengapa mereka menolak Liga 1 2020 dilanjutkan. Setidaknya ada dua alasan: PSSI tak kunjung memberikan panduan teknis yang detail dan situasi Covid-19 yang belum menurun.

“Sampai saat ini, selama tiga bulan kompetisi terhenti, PSSI belum memberikan panduan teknis yang jelas dan detail kepada klub apabila kompetisi dilanjutkan. Padahal, ini sangat diperlukan untuk memberikan kepastian kepada semua stakeholder sepak bola.”

“Keputusan untuk melanjutkan kompetisi di tengah situasi yang serba tidak pasti justru akan menambah risiko dan beban bagi klub. Saat ini, energi pemerintah dan seluruh elemen bangsa fokus pada melawan pandemi Covid-19. Belum ada tanda-tanda pandemi ini kapan akan berakhir,” ujar Azrul Ananda. (kanalkalimantan.com/andy)

Reporter : andy
Editor : cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->