Connect with us

PULPIS

Terapkan PP 49 2018, Semua Honorer di Pulpis Bakal Ikut Tes PPPK

Diterbitkan

pada

Kepala BKPP Pulang Pisau, Saripudin. Foto : sjy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PULANG PISAU, Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 tahun 2018 tentang manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) jadi kabar gembira bagi  kalangan profesional untuk bisa menjadi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN). Khususnya tenaga kesehatan, guru, penyuluh dan tenaga fungsional yang sudah lama mengabdi di Kabupaten Pulang Pisau. Meski begitu imbas dari kebijakan tersebut, disampaikan Kepala BKPP Pulpis, Saripudin tentu akan ada perampingan besar-besaran pada tenaga honorer di pemerintahan saat ini jika tidak lolos tes.

“Dengan terbitnya PP 49 tahun 2018 tentang manajemen ASN, kedepan tidak ada lagi namanya tenaga honorer. Namun yang ada adalah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK. Ini aturan resmi yang dikeluarkan pemerintah pusat dan wajib kita ikuti, termasuk di Pulang Pisau,” ujar Saripudin usai menghadiri tarling di desa Karya Bersama, Kecamatan Pandih Batu.

Dilanjutkan dirinya, untuk pelaksanaan tes PPPK diperkirakan akan digelar pada bulan Juni dengan menggunakan sistem CAT. Jika nanti tenaga honorer yang ikut tes dan tidak lolos, maka perjanjian kerja tidak akan dilanjutkan. Namun bagi yang lolos menjadi ASN berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja alias PPPK.

“Kalau bicara kebutuhan, kita masih memerlukan tenaga honor atau kontrak untuk membantu kinerja pemerintah. Apalagi di beberapa instansi memang ada posisi yang kosong. Namun disatu sisi juga menjadi beban daerah, karena penggajian mereka berasal dari daerah. Untuk saat ini saja misalnya, kita mengeluarkan sekitar 23 miliar pertahun untuk membayar tenaga honorer sebanyak 1.000 lebih yang tersebar di beberapa instansi. Rinciannya, honorer yang di SOPD sekitar 700 orang kemudian tenaga guru 300-an orang,” beber Saripudin. (sjy)



Reporter:Sjy
Editor:Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PULPIS

Kabut Asap makin Pekat, Dewan Imbau Disdik Atur Jam Belajar Siswa

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Anggota DPRD Pulang Pisau, Amilson. Foto: sjy
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PULANG PISAU, Beberapa hari ini masyarakat Kabupaten Pulang Pisau (pulpis) dibuat kerepotan oleh kabut asap akibat dari kebakaran lahan yang terjadi di banyak wilayah. Bahkan pada jelang pagi dan sore, kabut terasa kian pekat hingga terasa perih mata dan mengganggu pernafasan.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Pulang Pisau Amilson mengaku ikut prihatin. “Ikut prihatin ya terutama dampaknya bagi aktifitas masyarakat yang bekerja di lapangan. Selain itu juga sangat mengkhatirkan bagi anak-anak yang sekolah,” ungkap Amilson usai kegiatan dewan.

Politisi Partai Nasdem ini juga mengimbau agar orang tua dan pihak sekolah memperhatikan kondisi kesehatan anak sekolah, misalnya dengan memberikan masker dan mengurangi aktivitas diluar ruangan. Selain itu asupan gizi dan makanan juga menurutnya perlu diperhatikan agar kondisi anak-anak tetap tahan di musim kabut yang dapat membuat gangguan ISPA (infeksi  saluran pernapasan akut).

“Kita juga menghimbau pada pihak sekolah dan dinas Pendidikan agar memperhatikan kondisi kabut yang terjadi. Jika memang tidak memungkinkan untuk beraktivitas, rasanya perlu di ambil kebijakan terkait jam masuk dan jam belajar. Karena sepertinya kabut asap ini hampir merata di semua wilayah Pulang Pisau, ini jadi perhatian bersama agar jangan sampai ada yang malah jatuh sakit nantinya,” tukasnya. ( Sjy)



Reporter : Sjy
Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

PULPIS

Masih Asri, Hutan Desa Tangkahen Mulai Dilirik Turis Asing

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sebagai pelengkap fasilitas wisata hutan Desa Tangkahen di lengkapi dengan keberadaan rumah Pohon
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PULANG PISAU, Belakangan ini, nama Desa Tangkahen di Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau banyak diperbincangkan. Pasalnya daerah paling hulu Pulpis yang berbatasan dengan Kabupaten Gunung mas ini disebut-sebut memiliki potensi wisata alam yang masih asri.

Tidak hanya menarik perhatian wisatawan lokal, beberapa turis seperti dari Amerika hingga Jerman bahkan terpantau pernah mengunjungi tempat ini. Hal tersebut di Katakan Bilem, pengurus Hutan Desa Tangkahen belum lama tadi.

Menurut pria yang juga warga Desa Tangkahen ini , Hutan Desa Tangkahen memang di Usulkan menjadi Ekowisata alam. Beberapa fasilitas yang sudah dibangun seperti rumah pohon, rumah panggung serta perpustakaan hayati yang menawarkan pemandangan alam secara langsung.

Nampak Turis asing saat mengunjungi Hutan Desa Tangkahen.

“Kita telah membuat jalur tracking hutan untuk pengunjung agar bisa melihat langsung keadaan alam, tumbuhan dan binatang yang masih alami di dalam hutan. Semua masih alami, bahkan banyak pohon-pohon besar yang umurnya sudah sangat tua masih bisa di temukan. Kita optimis kedepan trend wisata alami sangat diminati, terbukti pengunjung yang datang kemarin ada yang dari Amerika, Kanada, Jerman, Philipina, Australia dan lainnya,” ujar Bilem.



Hutan desa Tangkahen sendiri dijelaskan Bilem sudah lama digagas oleh masyarakat setempat. Namun baru secara resmi mendapat SK dari Menteri kehutanan sekitar tahun 2016. Pengelolaannya kini di pegang oleh lembaga pengelola hutan desa ( LPHD) serta didukung desa melalui Bumdes. Selain wisata alam dikatakan Bilem, pihaknya juga menawarkan sebagai tempat Wisata pendidikan, riset, dan perkemahan.

Sekelompok pengunjung yang mencoba sensasi rumah pohon. Foto: Sjy

Terpisah Kepala Desa Tangkahen, Jonjonbilo  sangat optimis Hutan Desa Tangkahen mampu membangkitkan ekonomi warga sekitar. Dikatakannya Sejauh ini minat kunjungan dari turis luar cukup tinggi. Untuk mendukung upaya tersebut, pihak desa juga ambil bagian melalui dana desa guna menyulap kawasan tersebut agar fasilitasnya semakin lengkap.

“Luas keseluruhan Hutan Desa tersebut sekitar 162 hektar, yang terpakai saat ini baru sekitar 4 hektar saja. Melalui desa kita dukung membuat rumah pohon, rumah betang, nanti menyusul mobiler serta fasilitas lainnya untuk memudahkan pengunjung. Bagi yang hendak menginap jangan khawatir, di desa Kami juga sudah ada mess milik masyarakat yang disewakan bagi pengunjung yang mau menginap. Kalau untuk jalan menuju Hutan Desa, rencana akan masuk tahun ini dari pemerintah daerah,” ujarnya. ( Sjy).

Reporter : Sjy
Editor : Chell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->