Connect with us

RELIGI

Terpesona Konsep Pernikahan Islam, Wanita Rusia Ini Putuskan Jadi Mualaf

Diterbitkan

pada

Wanita Rusia Jadi Mualaf. Foto: youtube.com/mustafa hosny

Perjalanan mualaf seorang wanita asal Rusia berhasil menarik perhatian orang-orang. Wanita bernama Julia tersebut mengaku ingin menjadi mualaf karena Islam memperlakukan wanita seperti permata.

Julia, yang memiliki nama muslim Aysil, mengaku sangat bahagia karena bisa pindah agama dan memeluk Islam.

Melansir dari laman About Islam, Julia menyebutkan bahwa hidupnya mulai berubah sejak dia percaya pada keberadaan Tuhan.

“Aku mulai percaya pada Tuhan dan itu memberiku kekuatan. Apa pun yang kuminta, Allah akan memberikannya pada waktunya. Aku sangat berterima kasih dan insya Allah semua orang akan merasa sama,” ungkapnya.

Salah satu alasan Julia sendiri adalah dirinya terpesona dalam konsep pernikahan dalam Islam.

Menurutnya, wanita Islam dilindungi seperti permata. Bahkan sebelum pernikahan, pria harus melakukan banyak hal demi mempersunting calon istrinya.

Wanita Rusia Jadi Mualaf. Foto: youtube.com/mustafa hosny

Selain itu, Julia juga menyukai konsep di mana Islam memberikan perlindungan kepada perempuan jika perceraian atau hal buruk lainnya terjadi.

“Dalam Islam, hak suami lebih sedikit dari istrinya. Dan untuk perempuan, lebih mudah menjadi istri karena kewajibannya lebih sedikit dari suami.”

“Tapi perempuan juga harus menjadi tangan kanan suami, mendengarkan, dan mendukungnya, juga menjadi ibu dan istri yang baik,” imbuh Julia.

Sosok gadis Rusia ini juga terkesan dengan cara Nabi Muhammad SAW memperlakukan istri-istrinya.

Salah satunya adalah kisah ketika Aisyah ingin naik unta, dan Nabi Muhammad berlutut serta membiarkan sang istri menginjaknya demi naik ke atas unta.

Inilah yang membuat Julia begitu terkesan. Dosok Nabi Muhammad terkenal selalu bersikap baik pada istri-istrinya.

“Itu bukan hal memalukan baginya, beliau tidak sombong. Dia jika kau membaca soal bagaimana beliau memperlakukan istri-istrinya dan membantu mereka… Nabi Muhammad adalah idola bagi lelaki zaman sekarang,” pungkasnya. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk

 

Advertisement
Komentar

RELIGI

Besok Matahari Tepat di Atas Kabah, Saatnya Sejajarkan Arah Kiblat

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Besok matahari tepat berada di atas Kabah Foto: bmkg

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan peristiwa Matahari berada tepat di atas Kabah pada Rabu (27/5/2020) dan Kamis (28/5/2020). Fenomena ini waktu yang tepat untuk mengecek arah kiblat arah salat untuk umat Muslim.

Menurut BMKG untuk mengecek kembali arah kiblat yakni tepatnya pada pukul 16.18 WIB dengan menggunakan sebuah batang.

“Besok pada pukul 16.18 WIB, kita bisa mencoba mengukur dengan menancapkan tiang pada permukaan tanah yang datar. Kalau misalkan ada bayangan dari tiang itu, maka dari bayangan tiang itu sampai ke tiang adalah arah kiblatnya,” ucap Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Hendra Suwarta, Selasa (26/5).

“Jadi kalau tiang kita tancapkan, kemudian ada bayangan berkat sinar Matahari. Nah, dari titik bayangan yang di tanah itu sampai ke tiang, itulah arah kiblat kita. Itu yang tepat,” katanya dilansir Antara.

Jika arah kiblat yang ditentukan dari arah bayangan tiang tersebut berbeda dengan arah kiblat di masjid, maka masyarakat, katanya, cukup dengan memiringkan arah sajadah sesuai dengan arah yang ditentukan dari bayangan tersebut.

“Jadi kalau memang ada penyimpangan agak melenceng sedikit, masjidnya, bukan berarti masjidnya harus dirobohkan. Tidak. Hanya sajadah saja dimiringkan dengan kondisi bayangan yang kita lihat besok itu,” katanya.

Namun demikian, jika Matahari pada pukul 16.18 WIB besok tidak terlihat sehingga tidak bisa memunculkan bayangan, maka masyarakat bisa menentukan arah kiblatnya dengan menggunakan aplikasi arah kiblat.

“Kalau di aplikasi menggunakan perhitungan manusia. Hitung-hitungannya itu diketahui dari koordinat di Kabahnya dan koordinat di tempat kita, masjid kita. Nah, arah koordinat itu bisa dihitung antara koordinat itu bisa dihitung dengan rumusan,” kata Hendra.

“Itu aplikasi dari rumusan yang dihitung manusia. Walaupun koreksinya memang tidak terlalu besar, tetapi sudah bisa benar. Hanya saja kalau mau lebih mantap bisa dengan menggunakan alam karena Allah SWT yang tentukan,” katanya.

Sementara itu, Hendra mengatakan peristiwa Matahari di atas Ka’bah tersebut hanya untuk waktu Indonesia bagian barat dan tengah. Sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian timur, masyarakat di sana tidak akan bisa melihat peristiwa itu.

“Karena di timur, di Papua sudah malam. Jadi enggak akan mungkin. Tapi di Papua sana juga bisa melihatnya di hari yang lain. Jadi bukan sama dengan barat dan tengah, tapi di sana itu nanti (akan bisa melihat kejadian itu) pada tanggal 16 Januari atau tanggal 28 November,” kata Hendra. (Antara)

 

Reporter : Antara
Editor : Cell

 

Lanjutkan membaca

Ragam

Khalifa Conversation Diskusi Virtual Muslim Peduli Lingkungan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Sakinah dan Omari bersama anak-anak mereka. Footo: courtesy via VOA

KANALKALIMANTAN.COM, WASHINGTON DC – Kori Majeed biasanya lebih aktif ke masjid selama Ramadan. Ia bahkan mengajak keluarganya berbuka puasa di masjid dan baru pulang setelah tarawih bersama.

Pandemi virus corona mengubah cara warga Muslim menjalankan puasa Ramadan di Amerika Serikat tahun ini, termasuk Majeed. Karena masjid-masjid ditutup, ia lebih banyak berada di rumah.

Walaupun begitu, pendiri Green Ramadan yang tinggal di Maryland, itu aktif secara online. Bekerjasama dengan Green Muslim di Virginia, ia meluncurkan Khalifa Conversation, bincang-bincang di media sosial dengan sesama Muslim pegiat lingkungan.

Dalam pertemuan virtual itu, Majeed dan Muslim lainnya berbagi ide tentang hal-hal yang dilakukan secara lokal. Selepas berbincang dan saling berbagi pengalaman dalam Khalifa Conversation, semua yang terlibat menjadi termotivasi untuk lebih banyak berbuat bagi lingkungan, sesuai ajaran Islam.

Khalifa Conversation secara online merupakan salah satu cara bagi saya menjangkau sekaligus menghubungkan mereka yang tertarik untuk memberi dampak yang lebih positif pada lingkungan berdasarkan ajaran Islam,” tukas Kori Majeed.

Walaupun bentuknya adalah bincang-bincang, bukan berarti dalam kegiatannya setiap minggu, orang-orang yang hadir dalam Khalifa Conversation hanya berbicara panjang-lebar tanpa makna. Dalam setiap pertemuan, ditetapkan materi dan dihadirkan seseorang yang lebih berpengalaman dalam materi pembahasan untuk berbagi ilmu.

Misalnya, ahli berkebun permakultur yang dalam bincang-bincang itu berbagi pengalamannya berkebun. Ia juga memberi sejumlah tips berkebun di tempat terbatas dengan memanfaatkan lahan yang tidak luas. Ia bahkan memotivasi peserta bincang-bincang untuk berkebun secara kecil-kecilan di pekarangan sendiri.

Dalam kesempatan lain, kolaborasi dua perempuan dari Green Muslim dan Green Ramadan itu membahas cara hidup praktis secara Islam dengan semangat peduli lingkungan. Yang berbagi pengalaman adalah pasangan suami istri yang memutuskan keluar dari ingar-bingar kehidupan kota Washington, DC untuk hidup sebagai peternak dan petani organik di Virginia, dan mendirikan Fitrah Farm.

“Kami juga mendatangkan tamu pembicara dengan keluarga beranggotakan 11 orang. Rumah tinggal mereka awalnya tidak menetap, di dalam rumah mobil, lalu membeli lahan di pinggiran Virginia untuk pertanian organik dan menyediakan daging halal bagi masyarakat,” tambah Kori.

Kepada VOA, Sakina dari Fitrah Farm mengemukakan upayanya menyediakan daging dan sayuran organik, dan menjelaskan pentingnya mengonsumsi daging halal dan baik bagi Muslim sesuai ajaran Islam.

“Cara kita memelihara ternak sedemikian rupa menjadi sangat penting sebagai wujud menjalankan kaidah mengonsumsi daging yang halal,” ujar Sakinah.

Sakinah McDowell and Omari Grey pemilik “Fitrah Farm”. Foto: courtesy via VOA

Selain mengutamakan tanaman organik, Fitrah Farm, kata Sakina, memandang penting perlakuan terhadap hewan ternak. Dan di peternakannya, ia menambahkan, ia senantiasa memperhatikan pakan ternak-ternaknya.

Sakina menyayangkan warga Amerika dihadapkan pada pilihan untuk mengonsumsi daging tanpa mengetahui darimana daging itu berasal dan bagaimana hewan itu disembelih, misalnya daging ayam, yang menjadi kesukaan banyak warga dari berbagai kelompok masyarakat di Amerika Serikat.

“Cara hewan itu dipelihara … banyak mengatakan hewan peliharaan itu hidup di kandang ayam besar yang, Anda tahu, ratusan ribu ekor ayam itu tidak pernah keluar, mendapatkan udara segar bahkan sinar matahari,” imbuh Sakina.

Khalifa Conversation berawal dari Kori Majeed dan Sevim Kalyoncu saling bertukar pesan singkat secara spontan dua minggu sebelum Ramadan 2020 di tengah pandemi COVID-19. Perempuan sekaligus ibu dari seorang anak berusia 6 tahun itu agak kecewa karena anak-anak, dan kaum muda Green Muslim khususnya, tahun ini tidak dapat menjalankan Ramadan dengan belajar di alam bebas. Namun, perempuan asal Alabama itu merasa bangga dengan bincang-bincang virtual tersebut.

Sevim Kalyoncu menjelaskan, “Karena melibatkan dua organisasi, maka kami melanjutkan pertemuan bulanan setelah Ramadan. Rencananya tetap mengundang orang untuk menyajikan program atau bisnis mereka, juga pengetahuan tentang lingkungan, dan bisa langsung dikaitkan dengan Islam dan lingkungan hidup.”

Kini, semakin banyak Muslim hadir dalam bincang-bincang itu dan mereka tersebar di kawasan Metropolitan Washington, mencakup Maryland, Washington DC dan Virginia. Baik Kori maupun Sevim sepakat, melanjutkan Khalifa Conversations sekali sebulan.(mg/ka-VOA)

Reporter : Metrini
Editor : VOA

 

Lanjutkan membaca

RELIGI

Hari Ini Pemerintah Bahas Shalat Id saat Pandemi Covid-19

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pemerintah akan membuat kebijakan soal shalat id saat masih terjadi pandemi Covid-19. ilustrasi foto: antara

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menyebut pembahasan terkait Shalat Idul Fitri (Salat Id) berjemaah dalam situasi pandemi virus corona (Covid-19) dilakukan hari ini.

Kamarudin mengatakan Menteri Agama Fachrul Razi akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelum membahas penyelenggaraan Salat Id bersama Presiden Joko Widodo.

Kepada Cnnindonesia.com, Kamaruddin tak menanggapi lebih lanjut apa saja yang akan dibahas. Begitu pula soal kemungkinan pemerintah memperbolehkan Salat Id berjemaah di tengah pandemi.

Namun beberapa hari lalu, Fachrul sempat melontarkan wacana pelonggaran pembatasan rumah ibadah. Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid juga menyampaikan masyarakat di zona hijau boleh salat berjemaah seperti biasa.

Bahasan Salat Id sebelumnya disampaikan Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo. Ia bilang Shalat Id tak akan digelar secara berjemaah jika corona belum mereda. “Kalau bahaya atau ancaman sudah tidak ada, bisa saja shalat dilakukan. Tapi manakala masih terdapat ancaman atau bahaya covid, maka ibadah Salat Id berjemaah tentunya ini tidak dilakukan,” kata Doni dalam jumpa pers, Selasa (12/5/2020).

Pertanyaan terkait pelaksanaan Shalat Id tahun ini muncul karena pandemi virus corona belum usai. Beberapa daerah di Indonesia juga masih menerapkan PSBB sejak April lalu. MUI bahkan telah mengatur larangan Shalat Id melalui fatwa. Larangan itu dituangkan dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wavah Covid-19.

MUI melarang umat Islam di zona merah corona untuk melakukan ibadah berjamaah di tempat umum, seperti shalat wajib, Shalat Tarawih, Shalat Id, dan majelis taklim. (dhf/wis/cnnindonesia)

Reporter : cnnindonesia
Editor : kk

 

Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->