Connect with us

Hukum

Tewas Overdosis di THM, KNPI Kalsel : THM Mestinya Ditutup, Banyak Mudharatnya

Diterbitkan

pada

Ilustrasi tempat hiburan malam. Foto : net
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, DPD KNPI Kalsel menilai pengawasan Tempat Hiburan Malam (THM) masih sangat lemah, sehingga berujung hilangnya nyawa gadis 15 tahun usai mengunjungi THM. Wanita belia berinisial PA itu kehilangan nyawanya karena overdosis usai ‘party’ di Hotel Banjarmasin International (HBI).

Atas kejadian ini pun, KNPI Kalsel menyatakan sikap kepada pihak kepolisian dan pemerintah kota meminta polisi melakukan penyelidikan serta pengawasan ketat terhadap dugaan penyalahgunaan narkoba atau obat-obatan terlarang di THM tersebut. Apalagi diduga THM tersebut telah melakukan kelalaian atau kesengajaan membiarkan anak di bawah umur masuk ke THM. Pihak THM juga dapat diminta pertanggungjawaban hukum yang mana kelalaiannya tersebut menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, dalam hal ini gadis muda berusia 15 tahun .

KNPI Kalsel juga mendesak kepada Pemerintah Kota Banjarmasin dan DPRD Kota Banjarmasin untuk lebih ketat mengawasi pelaksanaan Perda THM dan praktik pelaksanaannya mengenai jam kerja ataupun penertiban pengunjung THM.

“Kematian gadis ini sebagai petir bagi kita bersama yang membuat kita lebih menyadari bahayanya THM bagi generasi muda,” ujar Ketua DPD KNPI Kalsel, Fazlur Rahman. Ia pun mengajak masyarakat Kalimantan Selatan akan lebih mengawasi bersama praktek THM di Banjarmasin.

“Banyak laporan bahwa bebasnya peredaran narkoba di THM dan anak-anak di bawah umur 21 tahun bisa masuk menikmati THM,” terangnya.

Adanya kejadian ini KPNI Kalsel akan menggelar kajian, diskusi dan rangkaian advokasi bersama-sama ormas lain tentang mudharatnya THM bagi warga Kalsel, dimana di sana terdapat dugaan maraknya Narkoba, minuman keras dan pergaulan bebas.

“Untuk itu dalam rangka melindungi generasi muda banua kami menyatakan sikap bahwa THM di Kota Banjarmasin tidak hanya ditutup pada bulan Ramadhan, tapi harus ditutup selama-lamanya,” pungkas Fazlur.

Seperi diwartakan Kanalkalimantan.com sebelumnya, diduga overdosis seorang perempuan didapati dalam kondisi meninggal dunia, usai ‘party’ di salah satu tempat hiburan malam di kota Banjarmasin, Sabtu (4/5/2019) dinihari.

Penemuan sosok perempuan itu, awalnya dari petugas klinik Hotel Banjarmasin International (HBI) yang mendapat seorang perempuan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Informasi yang berhasil didapat Kanalkalimantan.com, perempuan tersebut merupakan salah satu tamu di salah satu tempat hiburan malam (THM) di jalan A Yani Km 5 itu adalah PA, seorang perempuan asal Nagara, Kabupaten HSS yang sudah lama bermukim di kota Banjarmasin. (mario)

Reporter : Mario
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Hukum

Sidang Kasus Pecabulan Anak, Eks Ketua KPU Banjarmasin Tolak Kesaksian Korban

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

JPU Banjarbaru meghadirkan sejumlah bukti dalam sidang pencabulan di PN Banjarbaru Foto: rico
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Eks Ketua KPU Banjarmasin, Gusti Makmur, kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Banjarbaru, atas dugaan tindak pidana pencabulan terhadap anak. Sidang pada Senin (13/7/2020) siang ini mengagendakan pembuktian dari Jaksa Penutut Umum (JPU).

JPU memaparkan berbagai temuan alat bukti kepada majelis hakim. Termasuk juga menghadirkan saksi, yang mana dalam hal ini ialah korban dan ibu korban.

Dari pantauan Kanalkalimantan.com, sidang yang digelar tertutup ini tidak menghadirkan terdakwa, lantaran protap persidangan di tengah situasi pandemi Covid-19. Gusti Makmur mengikuti jalannya sidang melalui video call dari Lapas Banjarbaru, tempat dimana ia saat ini ditahan.

Kendati demikian, dua kuasa hukum Gusti Makmur tetap dihadirkan di ruang sidang. Samsul Bahri, salah satu kuasa hukum terdakwa, mengakui selama berjalannya sidang, kliennya -terdakwa Gusti Makmur- menyanggah berbagai pernyataan yang disampaikan oleh para saksi. “Apa yang menjadi kesaksian dari korban dan orang tua korban, disanggah oleh klien kami,” akunya.

 

Rencananya, pihak kuasa hukum Gusti Makmur juga akan turut menghadirkan sejumlah saksi yang akan meringankan. Hanya saja, mereka tak ingin membeberkan siapa dan berapa jumlah saksi yang nantinya akan dibawa.

“Jumlah saksi yang meringankan tidak bisa saya sebutkan saat ini. Kami masih melakukan pertimbangkan, karena pembuktian dari JPU masih akan berlanjut pada agenda sidang pekan depan,” tutur Samsul.

Di sisi lain, JPU Kejari Banjarbaru, Budi Muklis, menilai sanggahan yang dilakukan Gusti Makmur adalah hal yang biasa. Ia sendiri meyakni bahwa dua saksi yang dihadirkan pihaknya pada hari ini memiliki kualitas untuk membuktikan mantan ketua KPU Banjarmasin tersebut telah melakukan aksi pencabulan.

“Memang dari awal terdakwa menolak pernyataan yang disampaikan oleh saksi-saksi kita. Tapi, ada beberapa juga yang diakui terdakwa. Ini hal yang biasa. Dua saksi yang kita hadirkan hari ini berkualitas dan saya yakin majelis hakim mempunyai penilaian tersendiri. Jangan dilihat dari banyaknya saksi, tapi lihat kualitasnya,” lugas Budi.

Tak hanya kedua saksi tersebut, Budi juga mengklaim berbagai alat bukti petunjuk yang dipaparkan dalam sidang kali ini dinilai cukup kuat untuk membuktikan terdakwa bersalah. Seperti halnya, surat ajakan damai yang ditulis Gusti Makmur terhadap korban.

“Kita menampilkan isi oborolan di WhatsApp terdakwa dan korban. Lalu, ada juga surat berisi ajakan damai yang dikirim terdakwa kepada korban. Kami yakin, sudah cukup alat bukti,” pungkasnya.

Dua saksi yang dihadirkan pihak oleh JPU, turut mendapat pengawalan dari pihak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Wajar saja, sebab saksi yang juga adalah korban dalam kasus ini masih tergolong anak di bawah umur.

Sidang lanjutan akan kembali digelar pekan depan, masih dengan agenda yang sama. Rencananya, pihak JPU akan kembali menghadirkan sejumlah saksi.

Sebelumya, JPU melayangkan dakwaan terhadap mantan Ketua KPU Banjarmasin tersebut dengan pasal 82 UU Perlindung Anak, atas dugaan tindak asusila terhadap anak. Ancamannya minimal 6 tahun penjara.

Seperti yang sudah diberitakan, Polres Banjarbaru resmi menahan mantan Ketua KPU Banjarmasin Gusti Makmur atas tindak pidana pencabulan anak di bawah umur, pada Januari 2020. Penahanan yang bersangkutan menyusul pemeriksaan terhadap 7 orang saksi termasuk tersangka.

Kapolres Banjarbaru, AKBP Doni Hadi Santoso, menceritakan awal terjadinya aksi pencabulan yang dilakukan Gusti Makmur yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua KPU Banjarmasin. Terjadi pada tanggal 25 Desember 2019, saat korbannya sedang membersihkan toilet. Korban merupakan anak magang di Grand Dafam Q Hotel, Banjarbaru.

“Korban dan GM -Gusti Makmur- bertemu di toilet dan terjadilah aksi pencabulan itu. Tersangka mengiming-imingi korban akan dibelikan pakaian sambil melakukan aksi pencabulan itu. Setelah aksi ini, kondisi korban trauma. Untuk itu, kita melakukan trauma healing kepada korban,”terang Kapolres. (Kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter : Rico
Editor : Cell


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Profil Maria Pauline Lumowa, Buron Pembobol Dana BNI Rp 1,7 Triliun  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Maria Pauline Lumowa, buron kasus pembobolan bank BNI senilai Rp 1,7 triliun tiba di Indonesia. (Suara.com/Stephanus Aranditio).
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Nama Maria Pauline Lumowa menjadi perbincangan publik. Lantas siapa Maria Pauline Lumowa? Berikut profil dan rekam jejak Maria Pauline Lumowa!

Kamis, (9/7/2020), Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly membawa Maria Pauline Lumowa buron pembobol dana BNI Rp 1,7 T yang diekstradisi dari Serbia ke Indonesia.

Bersama delegasi Indonesia, Yasonna tak hanya mengekstradisi Maria Pauline Lumowa, namun juga melakukan kerjasama bilateral di berbagai sektor, terutama hukum dan hak asasi manusia di Serbia.

Ekstradisi Maria Pauline Lumowa di Serbia sempat mendapat gangguan dan juga upaya hukum dari Maria sendiri untuk melepaskan diri dari proses ekstradisi.

 

Keberhasilan ekstradisi ini tidak lepas dari hubungan baik antara Serbia dan Indonesia juga asas resiprositas (timbal balik). Apresiasi juga diberikan kepada Duta Besar Indonesia untuk Serbia, M Chandra W Yudha.

Indonesia sebelumnya sempat mengabulkan permintaan Serbia untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015.

Baca juga: Cerita 17 Tahun Perburuan Pembobol Dana BNI Rp 1,7 Triliun Maria Pauline

Siapa Maria Pauline Lumowa? Berikut profil Maria Pauline Lumowa

Disadur dari Hops.id  -jaringan Suara.com, Maria Pauline merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

Perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958 itu ditetapkan menjadi tersangka oleh tim khusus Mabes Polri sejak Oktober 2003.

Rekam Jejak Maria Pauline Lumowa, Buron Pembobol Dana BNI

  1. PT Gramarindo Group yang dimiliki oleh Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu mendapat pinjaman dari Bank BNI senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro (Rp 1,7 Triliun) pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003.
  2. Aksi PT Gramarindo Group diduga dapat bantuan dari ‘orang dalam’ karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.
  3. Juni 2003, pihak BNI yang curiga mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.
  4. Dugaan L/C fiktif ini dilaporkan ke Mabes Polri, namun Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003.
  5. Maria diketahui keberadaannya di Belanda pada 2009 dan sering bolak-balik ke Singapura.
  6. Pemerintah Indonesia sempat mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda pada 2010 dan 2014.
  7. Maria Pauline Lumowa ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979.
  8. Pemerintah Kerajaan Belanda menolak pengajuan ekstradisi dan memberikan opsi agar Maria Pauline Lumowa disidangkan di Belanda.
  9. NCB Interpol Serbia menerbitkan red notice Interpol pada 22 Desember 2003.
  10. Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria Pauline Lumowa. Ekstradisi ini sekaligus menunjukkan komitmen kehadiran negara dalam upaya penegakan hukum terhadap siapa pun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia,” kata Yasonna. (suara.com)

Reporter : suara.com
Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Hukum

Seorang Dokter di Banjarbaru Dilaporkan Istri ke Polisi, Diduga Lakukan Tindak Kekerasan

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ilustrasi tindak kekerasan terhadap perempuan. foto: Pexels
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Seorang dokter berstatus Apratur Sipil Negara (ASN) diduga melakukan tindakan penganiayaan terhadap istri sendiri. Tak terima atas perlakuan sang suami tersebut, perempuan yang diketahui berusia 35 tahun tersebut melapor ke pihak kepolisian.

Informasi yang berhasil dihimpun, dokter tersebut berdinas di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru berinisial AH. Bahkan, kabarnya video penganiayaan yang dilakukan dokter tersebut sempat beredar luas di sosial media Facebook.

Kepada Kanalkalimantan.com, Kasatreskrim Polres Banjarbaru AKP Aryansyah membenarkan, adanya kasus dugaan tindak kekerasan yang telah dilaporkan ke Polres Banjarbaru dan tengah dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

“Benar, tiga hari yang lalu kita sudah menerima laporannya. Saat ini kita masih melakukan penyelidikan,” kata AKP Aryansyah, Kamis (9/7/2020) siang.

 

Belum diketahui bagaimana awal mula terjadinya tindak penganiayan di dalam rumah tangga tersebut. Namun, sang istri mengaku ke petugas kepolisian mendapati luka lebam di sekujur tubuhnya atas aksi tak patut yang dilakukan suaminya sendiri.

Selang pelaporan kasus ini ke pihak kepolisian, pasangan suami istri tersebut dikabarkan telah menempuh jalan damai. Namun, kabar ini nyatanya dibantah Kassubag Humas Polres Banjarbaru, Iptu Tajudin Noor.

“Laporannya masih ada dan belum dicabut oleh pelapor  (istri). Jadi kasus ini tetap berjalan dan rencananya, beberapa hari ke depan, kami akan memanggil telapor  (dokter),” bantahnya.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) TU RSD Idaman Banjarbaru Muhammad Firmansyah, mengaku telah mengetahui kejadian ini. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ikut campur dengan kasus rumah tangga yang menjerat salah satu dokter di rumah sakit milik Pemko Banjarbaru itu. “Kita serahkan semuanya ke pihak kepolisian,” ujarnya. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : rico
Editor : bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->