Connect with us

Bisnis

Tiga Bulan Gratiskan PBB-P2 Rumah Makan dan Perhotelan  

Diterbitkan

pada

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kapuas Andres Nuah. foto: ags
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN. COM, KUALA KAPUAS – Pemkab Kapuas mengratiskan pajak dan retribusi Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2) bagi pelaku usaha rumah makan dan perhotelan selama tiga bulan mulai dari Mei-Juli 2020.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kapuas Andres Nuah mengatakan, akibat pandemi Covid-19 sangat berpengaruh bagi pelaku usaha di bidang jasa perhotelan dan rumah makan.

“Oleh sebab itu Pemkab Kapuas mengratiskan pajak dan retribusi PBB-P2 bagi pelaku usaha perhotelan dan restoran selama tiga bulan dari Mei hingga Juli 2020,” kata Andres Nuah, Rabu (24/6/2020)

Ia menjelaskan, pengratisan pajak dan restribusi ini bagi pelaku usaha ini karena dampak Covid 19. Sehingga melemahnya daya beli masyarakat tentu dan berpengaruh terhadap omset mereka.



Sementara untuk PBB-P2 berlaku bagi masyarakat hanya membayar pajaknya setiap tahun sebesar  Rp 20 ribu.

“Berdasarkan data ada sekitar 80 ribu wajib pajak yang digratiskan untuk PBB-P2 di Kabupaten Kapuas,” beber dia.

Menurutnya, upaya yang diberikan Bupati Kapuas bisa meringankan dunia usaha.

Ia meminta agar semua mentaati imbauan pemerintah untuk tetap di rumah, gunakan masker saat beraktivitas dan menjauhkan diri dari kerumunan orang banyak.

“Ini merupakan kebijakan Bupati Kapuas agar percepatan pemulihan ekonomi dan memutus mata rantai penularan Covid-19 menuju new normal,” pungkas Andreas Noah. (kanalkalimantan.com/ags)

Reporter : ags
Editor : bie

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bisnis

Indonesia Resesi Usai BPS Rilis Kuartal III Minus 3,49 Persen

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Indonesia alami masa resesi ekonomi usai BPS Rilis Kuartal III Minus 3,49 Persen. Ilustrasi foto: pexels.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2020 sebesar minus 3,49 persen, itu artinya Indonesia resmi menyandang status resesi akibat pada triwulan sebelumnya juga minus sebesar 5,32 persen.

“Ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga masih mengalami kontraksi sebesar minus 3,49 persen,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (5/11/2020).

Kecuk mengungkapkan, dari segi angka, pertumbuhan yang minus ini telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya karena masih tumbuh 5,05 persen.

“Tetapi kalau kita bandingkan dengan triwulan II tahun 2020 perekonomian kita tumbuh positif 5,05 persen,” katanya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2020 sebesar minus 3,49 persen, itu artinya Indonesia resmi menyandang status resesi akibat pada triwulan sebelumnya juga minus sebesar 5,32 persen.



“Ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga masih mengalami kontraksi sebesar minus 3,49 persen,” ucap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (5/11/2020).

Kecuk mengungkapkan, dari segi angka, pertumbuhan yang minus ini telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya karena masih tumbuh 5,05 persen. “Tetapi kalau kita bandingkan dengan triwulan II tahun 2020 perekonomian kita tumbuh positif 5,05 persen,” katanya.

Meski begitu secara kumulatif sepanjang tahun ini dari triwulan I hingga III, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen. “Apa yang bisa kita lihat dari triwulan III, yang pertama secara PDB Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif dan cukup tinggi yaitu sebesar 5,05 persen, kalau kita bandingkan dengan triwulan kedua yang artinya terjadi perbaikan ekonomi yang cukup signifikan dan ini bisa menjadi modal yang bagus untuk ekonomi kedepannya,” pungkasnya.(suara)

Editor: Suara


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Bisnis

Lima Tahun Budidaya Madu, Produk Madu Chairul Sampai Keluar Negeri

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Chairul Mufti, pengusaha madu yang sukses membudidayakan madu lebah dan madu kelulut. Foto: dok.pribadi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Seorang pria warga jalan Karang Karya, Loktabat Utara, Kota Banjarbaru, sukses membudidayakan lebah madu dan lebah kelulut hingga ekspor ke sejumlah negara.

Adalah Chairul Mufti, menekuni usaha budidaya madu sejak tahun 2015 hingga saat ini. Ia mengaku sudah memiliki dua lokasi usaha budidaya madu kelulut di Tankisung, Kabupaten Tanah Luat dan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Kepada Kanalkalimantan.com, Senin (26/10/2020), Chairul menceritakan kisahnya sebagai pengusaha madu kelulut dan madu lebah.

“Saat itu saya baru resign dari salah satu perusahaan kelapa sawit, saya berpikir mau usaha apa yang bisa dijalankan, usaha yang tidak mudah rusak, tapi mudah didapatkan, serta mudah saat dipasarkan, dan diperlukan semua kalangan umur,” katanya.



 

Ia mengatakan salah satu bentuk usaha yang tidak mudah rusak, mudah didapat, mudah dipasarkan, dan diperlukan semua kalangan umur, adalah jenis produk madu. Ia pun langsung serius menggeluti usaha madu tersebut.

“Ketika sudah menemukan usaha ini, saya mulai fokus dan serius untuk menjalankannya. Memang awalnya bingung bagaimana memulainya, tapi saya tidak menyerah begitu saja, terus belajar dan belajar, Alhamdulillah usaha saya bisa bertahan sampai saat ini,” ungkapnya. Sudah berjalan lima tahun lamanya Chairul mengeluti usaha madu kelulut tersebut.

“Alhamdulillah sudah berjalan lima tahun lamanya dari 2015 sampai saat ini, bagi saya ini adalah usaha yang sangat mengiurkan, disamping karena madu adalah obat kesehatan, juga sangat mudah dipasarkan,” tuturnya.

Selama lima tahun menggeluti usaha madu tersebut, Chairul berhasil memasarkan madu hasil produksinya ke seluruh Indonesia dari Aceh sampai ke Papua, bahkan sampi keluar negeri.

“Selain di Indonesia, produk saya juga sudah diorder sampai luar negeri, diantaranya Arab Saudi, Kuwait, China, Korea dan beberapa negara lainnya,” katanya.

Hasil produk lebahnya ada dua jenis yakni lebah yang tanpa sengat dan lebah yang bersengat.

“Di depan rumah saya memang sengaja saya buat empat tempat madu yang tidak bersengat hanya sebagai contoh saja,” katanya.

Memang waktu awal pandemi Covid-19 melanda, penjualan madu sempat menurun, tetapi sering berjalannya waktu, saat ini penjualan sudah meningkat. “Mungkin saat ini usaha lain lagi turun, tapi untuk madu sampai hari ini pesanan masih terus mengalir,” tuturnya.

Lanjut Chairul, untuk harga jenis madu bantal, madu lebah, rasanya manis untuk ukuran 100ml Rp 35.000, sedangakan ukuran 250ml Rp 80.000 ribu, dan ukuran 500ml Rp 150.000 ribu.

Sedangkan untuk jenis madu kelulut/klanceng dengan rasa asam manis, ukuran 100ml Rp 60.000 ribu, sedangkan ukuran 250ml Rp 130.000 ribu, 500ml Rp 250000 ribu, dan 500ml Rp 300.000 ribu, untuk bee polen kelulut Rp 80.000 ribu/cup.

Tertarik membudidayakan madu, Chairul siap menjadi teman sharing terkait budidaya madu.

“Saya terbuka kepada siapapun yang datang, yang ingin belajar ayo kita sama-sama saling berbagi ilmu,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/wahyu)

Reporter : Wahyu
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->