Connect with us

HEADLINE

Tindak Pidana Menurun, Tapi Kejahatan Konvensional di Kalsel Meningkat!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Yang paling menonjol dari sejumlah pelanggaran yang digelar Polda Kalsel selama 2017, adalah peningkatan pelanggaran lalu-lintas. Dimana terjadi peningkatan 82.335 kasus, dari ditahun 2016 sebanyak 15.079 kasus, sedangkan tahun 2017 menjadi 97.414 kasus.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Kapolda berserta jajaran membeberkan kasus yang menonjol selama 2017 di wilayahnya. Foto : ammar
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

BANJARMASIN, Polda Kalsel membeber kondisi Kamtibmas selama 2017. Dari sejumlah kasus yang muncul, tindak pidana mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun beberapa kasus lain, seperti tindak kejahatan konvensional justru meningkat. Terutama pada kasus pelanggaran lalu lintas yang meningkat signifikan.

Paparan kondisi Kamtibmas Kalsel selama 2017 ini disampaikan Kapolda Kalsel Brigjen Pol Drs Rachmat Mulyana dalam acara Press Conference Akhir Tahun 2017, yang berlangsung di Mapolda Kalsel, Sabtu (30/12). Turut hadir pada kesempatan tersebut, Wakapolda Kombes Pol Nasri, SIK, Irwasda dan para JPU Polda Kalsel.

Pada kesempatan itu, Kapolda membeber berbagai pengungkapan kasus menonjol yang berhasil dilakukan, termasuk juga kesiapan Pengamanan Pilkada tahun 2018 di sejumlah kabupaten.

Kapolda Rachmat Mulyana mengatakan, dari data SIT Kamtibmas, dibandingkan dengan tahun 2016 terjadi penurunan kasus tindak pidana pada 2017 sebesar 3,77 % (283 kasus).

“Hal ini dapat terlihat di setiap data satuan wilayah Polda Kalsel di tahun 2016, data Sat Kamtibmas mencapai 81,96 %. Tapi kini kini menurun di tahun 2017 menjadi 81,10%,” jelasnya.

Walau demikian, kejahatan konvensional seperti curanmor (pencurian kendaraan bermotor), curbis (pencurian biasa), curat (pencurian dengan pemberatan),  meningkat 3,96 % (223 kasus).  Beberapa kasus yang diprioritaskan oleh Polda Kalsel menurun.

“Tapi adapun yang meningkat di tahun 2017 yaitu kasus human trafficking dengan adanya 1 kasus dari 2 kasus yang belum terselesaikan,” katanya.

Yang paling besar, adalah pelanggaran lalu lintas di Kalimantan Selatan meningkat  82.335 kasus. Jumlah pelanggaran lalu lintas di tahun 2016 sebanyak 15.079 kasus, sedangkan di tahun 2017 menjadi 97.414 kasus.

Kasus menonjol lain yang ditangani oleh DIT Reskrimum, yakni tentang pengungkapan kasus curat seperti pembobolan ATM pada 19 juli 2017 yang dilakukan 4 tersangka dengan mengambil uang sebesar Rp 110.000.000 dari beberapa ATM. Lalu ada kasus pencurian yang membobol 20 rumah dan ruko di daerah Banjarmasin, Banjarbaru, dan Banjar oleh 7 tersangka yang ditangkap di Makassar pada  1 Agustus 2017 untuk menyimpan hasil pencuriannya.

“Disamping ada pula kasus kesediaan farmasi tanpa izin edar (zenith/carnophen) terjadi pada 8 Oktober 2017 disebuah ruko di Kota Banjarmasin yang menyimpan 7.320.000 butir zenith serta mengamankan 3 tersangka dan kasus bahan peledak yang dicuri dari gudang PT Adaro,” papar Kapolda Rachmat Mulyana.

Sementara struktur kriminal yang menonjol dari Dit Reskrimum seperti kasus tindak pidana pencucian uang atas nama H Subhan Sauri selaku distributor Obat daftar G yang ditarik izin edarnya dari  tahun 2009, namun masih melakukan penjualan obat daftar G (Dextro dan Zentih) di apotek daerah Hulu Sungai Utara (HSU).

Lalu ada kasus pungli perizinan yang dilakukan oleh 3 tersangka ditemukan selisih pembayaran SKRD (surat ketetapan Retribusi Daerah) sebanyak Rp 30.321.000, kasus pengerjaan jembatan Mandastana yang tidak sesuai kontrak oleh direktur  PT Citra Bakumpai Abadi atasnama H. Rusman Adji, dugaan tipikor terhadap penggunaan serta pertanggungjawaban Keuangan dan melakukan pembayaran kegiatan fiktif dan mark-up dengan dana APBN dengan kerugian sebesar Rp 3. 579.739.250  oleh KPU Kabupaten Banjar TA 2013  dengan tersangka Hairul Isnaeni, S.Sos selaku Bendahara KPU Banjar untuk tipikor dan H Gusti M. Ihsan Perdana selaku sekertaris KPU Banjar untuk pembayaran kegiatan fiktif dan mark-up.

Lalu, ada pula pungli penerimaan siswa di SMAN 10 Banjarmasin yang kedapatan OTT hasil pungutan orang tua siswa sebesar  Rp 113.320.000, dengan tersangka wakil kepala sekolah Muhammad Kastalani, M. Pd.

Kasus menonjol yang ditangani oleh Dit Resnarkoba Polda Kalsel yaitu kasus di Bandara Syamsudin Noor oleh 7 tersangka yang membawa 2069,65 gr sabu dan 2.020 butir ekstasi dan 2 kasus penimbunan obat tanpa izin edar yaitu penyimpanan 4.000.000 zenith dengan TKP di Pelabuhan Trisakti dan Jl Kampung Melayu di Banjarmasin oleh 2 tersangka. “Termasuk penimbunan 4.647.380 butir obat golongan IV digudang obat yang berada di Jl. Cempaka,” tambaanya.

Kapolda juga mengungkapkan kesiapan dan kerawanan untuk Pilkada 2018. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan personel di setiap wilayah kabupaten yang mengadakan Pilkada seperti Tapin, Tabalong, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan. Seluruh jajaran polda akan menempatkan di titik-titik tertentu untuk kelancaran Pilkada berlangsung.

“Kami juga mengadakan sosialisasi tentang kriteria aman TPS dan kriteria rawan TPS yang nanti akan kami himbau kemasyarakat untuk kelancarannya Pilkada setiap Kabupatan,” ujar Kapolda. (ammar)

 

Reporter : Ammar
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

HEADLINE

Sepekan Kabur hingga Dicari Pakai Drone, PDP Asal Landasan Ulin Akhirnya Pulang Sendiri

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diantar Petugas ke Gedung LPMP Jalani Karantina Lanjutan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

PDP asal Landasan Ulin yang kabur dari RS Idaman Banjarbaru akhirnya kembali ke rumahnya Foto : BPBD Banjarbaru for kanal
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Sepekan lebih usai kabur saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru, warga Kecamatan Landasan Ulin yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) akhirnya ditemukan.

Menurut informasi, PDP yang merupakan pria berusia 61 tahun tersebut ditemukan di rumahnya di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin. Pria tersebut ditemukan dalam kondisi sehat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie, mengatakan warga yang sebelumnya kabur tersebut, dengan inisiatif sendiri memilih untuk mengakhiri aksi pelariannya.

Rabu (3/6/2020) pukul 11.00 Wita, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Banjarbaru bersama aparat kepolisian setempat mendatangi kediaman warga tersebut. Pendekatan persuasif oleh petugas akhirnya membuat warga tersebut setuju untuk kembali menjalani karantina.

“Yang bersangkutan dengan inisiatif sendiri memilih pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarganya. kita sudah lakukan pendekatan dan yang bersangkutan setuju untuk di karantina,” kata Zaini, saat dihubungi Kanalkalimantan.com.

Rencananya, pria berusia lanjut tersebut akan dijemput oleh petugas pada Kamis (4/6/2020) pagi, dan akan diantar ke gedung LPMP, Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, untuk menjalani karantina.

Zaini mengatakan bahwa anggota keluarga dari pria tersebut juga di ikutkan untuk menjalani karantina. Pasalnya, hasil rapid test dari pihak keluarga pria tersebut juga ada yang dinyatakan reaktif.

“Jadi yang PDP yang kabur beserta keluarganya akan kita antar ke Gedung LPMP untuk menjalani karantina. Karena PDP yang kabur itu mau istirahat dulu hari ini, jadi kita jemput besok pagi. Tadi kita sudah salurkan bantuan sembako kepada pihak keluarga,” tungkas Kepala BPBD.

Usai di karantina, PDP bersama keluarganya yang dinyatakan rekatif itu selanjutnya akan menjalani pemeriksaan swab. Guna memastikan apakah mereka terpapar Covid-19 atau tidak. Seperti yang sudah diberitakan, PDP tersebut kabur dari ruang isolasi Rumah Sakit Idaman, pada 23 Mei 2020. Kala itu, pasien dengan sengaja melepaskan jarum infus di tangan dan kabur melalui tangga darurat.

Pengejaran pasien terbilang tak mudah mengingat, sang anak pasien juga membantu aksi melarikan diri ini hingga ke tempat tinggal mereka. Alih-alih niat untuk kembali, petugas kepolisian yang mendatangi rumah pasien tersebut, justru diancam akan dilempar batu. Petugas yang saat itu menjaga jarak, kembali dibuat tercengang, lantaran aksi nekat pasien yang kabur lagi ke semak-semak kawasan hutan. (Kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Pasca Penyerangan Polsek Daha Selatan, Kapolres HSS Ditarik ke Polda Kalsel

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Pelaksanaan sertijab Kaporles Hulu Sungai Selatan di Mapolda Kalsel. Foto : Polda Kalsel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pasca kasus penyerangan di Polsek Daha Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada Senin (1/6/2020) lalu, Kapolres HSS AKBP Dedy Eka Jaya Helmi dimutasi ke Polda Kalsel pada Selasa (2/6/2020) lalu.

AKBP Dedy digantikan oleh AKBP Siswoyo. Sebelum menggantikan posisi Kapolres HSS, AKBP Siswoyo menjabat sebagai Kasat PJR Ditlantas Polda Kalsel.

Pihak Polda Kalsel menepis mutasi tersebut terkait kasus penyerangan Mapolres yang menyebabkan seorang polisi atas nama Brigadir Leonardo Latupapua, yang merupakan anggota Polsek Daha Selatan. Brigadir Leonardo, merupakan salah satu dari personil yang berjaga saat terjadinya aksi penyerangan oleh dua orang tidak dikenal pada dini hari tadi. Informasi yang dihimpun, Brigadir Leonardo mendapati luka bacok usai diserang menggunakan senjata tajam jenis samurai.

Polda Kalsel mengegaskan pergantian pucuk pimpinan Polres HSS sudah lama ditetapkan. Bahkan, jauh sebelum adanya penyerangan Mapolsek Daha Selatan yang menyebabkan adanya korban jiwa, yaitu (alm) Bripka Leonardo Latupapua.AKBP Dedy Eka Jaya Helmi sendiri, ditarik ke Mapolda Kalsel menduduki jabatan Wadir Lantas Polda Kalsel. Serah terima jabatan (sertijab) sendiri dipimpin langsung oleh Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta di aula Mathilda Batleyeri Polda Kalsel.

Jenderal bintang dua itu mengatakan, serah terima jabatan dalam lingkup Polri adalah merupakan hal yang sudah biasa. “Kepada Pejabat lama saya mengucapkan terimakasih karena sudah membantu tugas Polri khususnya di wilayah Kalsel. Sedangkan untuk pejabat baru, saya ucapkan selamat bergabung menjadi keluarga besar Polda Kalsel dan diminta agar dapat meneruskan kebijakan-kebijakan yang dapat mengoptimalkan kinerja Polri,” kata Irjen Nico.

Sebelumnya, Penyerangan Polsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan (Kalsel) oleh pelaku yang diduga anggota ISIS, pada Senin (1/6/2020) dini hari tadi, menjadi perbincangan media luar negeri.

Kantor berita AFP dan Xinhua serta laman berita daring seperti The Straits Times dan Bangkok Post misalnya, rata-rata menulis judul “polisi Indonesia tewas diserang terduga militan ISIS”.

The Straits Times dan Bangkok Post yang mengutip sumber dari AFP menyebutkan pelaku lebih dari satu orang. Kedua media itu menggunakan kata militants (bentuk jamak) untuk menggambarkan penyerang Kantor Polsek Daha Selatan tersebut.

“Para militan bersenjatakan pedang membunuh seorang polisi Indonesia dan melukai seorang lainnya hingga kritis pada Senin dalam sebuah aksi yang oleh pihak berwenang digambarkan sebagai serangan teror oleh para terduga ekstrimis yang terkait dengan ISIS,” ungkap Bangkok Post.

“Dalam serangan dini hari di sebuah pos polisi di Kecamatan Daha Selatan di Kalimantan—wilayah bagian Indonesia di Pulau Borneo—tersebut, satu dari para gerilyawan itu juga ditembak,” kata media asal Thailand itu lagi.

Sementara, Xinhua menyebut hanya satu pelaku yang terlibat dalam serangan teroris dini hari tadi. “Seorang polisi tewas dan seorang lainnya terluka ketika seorang pria yang bersenjatakan pedang, yang dicurigai sebagai militan yang terkait ISIS, menyerang kantor polisi di Provinsi Kalimantan Tengah (yang benar Kalimantan Selatan—red), Indonesia, Senin,” demikian kantor berita asal China itu melaporkan, Senin (1/6/2020).

AFP melaporkan, polisi telah menyita pedang samurai yang diacungkan oleh seorang penyerang. Polisi pun mengonfirmasi bahwa salah satu anggota mereka meninggal dalam serangan itu.

“Tersangka meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, sementara seorang polisi meninggal di tempat kejadian,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol Ahmad Ramadhan, kepada AFP.

Penyerangan Polsek Daha Selatan terjadi pada dini hari tadi, sekitar pukul 02.15 Wita. Orang tak dikenal menyerang menggunakan senjata tajam jenis samurai hingga Brigadir Leonardo Latupapua yang sedang piket jaga mengalami luka bacok dan akhirnya meninggal.

Ketika menyerang masuk ke Mako Polsek Daha Selatan, pelaku terlebih dulu membakar mobil patroli polisi yang terparkir di depan Mapolsek. Lantaran tak mau menyerah dan terus menyerang anggota, pelaku akhirnya ditembak dan tewas. Pelaku kemudian dievakuasi ke RSUD Hasan Basry Kandangan.

Saat dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan sejumlah barang bukti yaitu satu unit sepeda motor yang dipakai pelaku, sebuah jerigen bahan bakar jenis premium dan sebilah samurai serta dokumen ISIS. (Kanalkalimantan.com/fikri)

Reporter : Fikri
Editor : Chell

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

HEADLINE

Di Balik Aksi ‘Teroris Lokal’, Paparan Paham Radikalisme dan Terorisme di Kalsel Meningkat?

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Terorisme dan radikalisme menjadi ancaman yang harus diwaspadai/ilustrasi. Foto: Tempo
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kasus penyerangan Mapolsek Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, pada Senin (1/6/2020) dini hari lalu, menjadi catatan khusus akan potensi ancaman paham radikalisme dan terorisme. Sebab diketahui pelaku penyerangan berinisial AR yang mengaku sebagai simpatisan ISIS ini, ternyata adalah warga lokal.

Lalu, seberapa besar ancaman paham ini bagi Kalsel yang selama ini masyarakatnya dikenal memiliki sikap toleransi dan pemahaman keagamaan inklusif?

Sebelumnya, dalam suatu acara ‘Bersama Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan’ yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalsel pada Selasa (31/12/2019), disebutkan bahwa sepanjang 2019, skala masyarakat Kalsel yang terpapar paham radikalisme dan terorisme berada pada angka 55.

Berdasarkan besaran angka yang didapatkan dari hasil riset dan suvei FKPT Kalsel tersebut, maka ancaman tersebut dikatakan masih dalam ambang menengah.

Sekretaris FKPT Kalsel, Mariatul Asiah menyebutkan, skala tersebut berarti paham radikalisme maupun terorisme di Bumi Lambung Mangkurat masih berada pada posisi tengah. “Masih sebatas pemikiran masyarakatnya, tidak ada aksi-aksi radikal yang ditemukan,” katanya ketika itu.

Namun demikian, posisi itu bukan berarti Kalsel yang dikenal kondusif ini dikategorikan aman dari paham-paham tersebut. “Kita harus tetap waspada agar Kalsel yang kondusif ini tetap bisa terjaga, serta yang terpenting bagaimana agar kita selalu mensinergikan semua elemen maupun kelompok masyarakat guna bersama-sama menangkal paham radikalismen dan terorisme,” tuturnya.

Sejauh ini, FKPT Kalsel telah melakukan berbagai upaya guna mencegah paham-paham tersebut supaya tidak tumbuh ataupun mengakar di kalangan masyarakat. Upaya-upaya tersebut dituangkan dalam riset tentang kearifan lokal sebagai daya tangkal berkembangnya paham radikalisme dan terorisme.

Sementara itu, sebelumnya juga ratusan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari 5 provinsi di Kalimantan mengikuti kegiatan rapat koordinasi daerah (Rakorda) Wilyah V Kalimantan juga membahas isu radikalisme ini.

“Radikalisme itu ada bagai bayang -bayang,” ujar Ketua MUI Kalimantan Selatan, KH Husin Nafarin ketika itu.

KH Husin Nafarin mengatakan, Islam itu Rahmatan lil alamin artinya orang Islam itu rahmat bagi semesta alam sebenarnya. “Tapi kalau ada orang Islam yang membuat kerusakan itu tidak benar Islamnya, tidak sempurna,” tegasnya.

Ditambahkan Sekretaris MUI Kalsel M Fadhli Mansur, bahwa sekarang ini harus terus kita waspadai terutama soal radikalisme. Namun, hal itu juga, katanya harus kita kenali apa saja ciri kelompok yang menganut paham yang bisa saja merugikan orang banyak.

Ia menegaskan, MUI sudah mengeluarkan fatwa! Bahwa perbuatan yang merugikan orang banyak apalagi mencelakakan orang itu haram. “Islam adalah agama wasatiah yakni berada di tengah-tengah. Daerah Banjar ini termasuk mayoritas muslim yang toleran terhadap ragam agama,” katanya dalam sebuah acara ‘Kupas Tuntas Radikalisme Terorisme dan Separatisme’ di Aula Kampus Uniska, ketika itu.

Ia ingin, kajian-kajian dakwah misalnya pada kampus-kampus dan masyarakat, perlu juga dibahas meluruskan apa radikalisme ini. Jangan sampai pemahaman sesuatu agama cendrung ke ekstrim kiri, sedikit sedikit menyalahkan orang seperti itu. Kemudian, ektrim kanan seperti memahami ayat yang hanya sepotong-sepotong.

“Perlu terus didakwahkan, Islam itu wasatiah, tolong menolong, toleransi mau bergandeng tangan ditengah perbedaan,” katanya.

Kegiatan rakor bertema ‘Bersama Mencegah Radikalisme dan Terorisme di Kalimantan Selatan’ yang digelar FKPT Kalsel pada Selasa (31/12/2019). Foto: Rico

Perlu Counter Narasi

Dikatakan Mariatul Asiah, saat ini perlu terus menggalakkan sarana counter terhadap berita atau informasi yang boleh dibilang menyesatkan. Oleh karena itu penting adanya counter narasi yang diinisiasi dari kawula muda sendiri.

Maka, kami sangat mendorong agar anak-anak muda membuat video pendek yang kemudian akan dibagikan kembali ke media-media sosial yang banyak mereka gunakan,” tegasnya.

Apalagi saat ini pelaku terorisme telah menyasar kelompok perempuan. Hal inilah, yang ditegaskan agar menjadi perhatian bersama seluruh komponen masyarakat. “Oleh karena itu ketahanan keluarga harus terus dikuatkan, di antaranya dengan menanamkan nilai-nilai agama yang moderat serta memberikan pendidikan kebhinekaan. Sehingga nantinya perempuan dan anak sebagai kelompok rentan, tidak mudah terpapar paham radikal,” imbaunya.

Kasus penyerangan Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) hingga kini masih didalami oleh Polda Kalsel maupun Polres HSS. Sempat beredar informasi bahwa pelaku penyerangan yang dilumpuhkan oleh kepolisian dengan timah panas ini merupakan warga setempat.

Hal ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Moch Rifa’i, Selasa (2/6/2020) siang. “Ya, betul. Warga setempat,” kata Kombes Rifa’i.

Ia menambahkan, pelaku yang merupakan OTK (orang tak dikenal) ini diketahui tinggal satu kampung dengan Brigadir Leonardo Latupapua. Sehingga, rumah keluarga pelaku dapat diketahui. “Tinggal satu kampung antara pelaku dengan korban. Bahkan agamanya pun sama yaitu Islam,” tambah Kombes Rifa’i. (Kanalkalimantan.com/rico/fikri)

 

Reporter : Fikri/Rico
Editor : Cell

 


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->