Connect with us

Ekonomi

Triwulan III PT AP I Catat 272.338 Penumpang di Bandara Syamsudin Noor

Diterbitkan

pada

Pergerakan penumpang pesawat pada triwulan III mengalami pertumbuhan sebesar 217 persen. Foto: bandara syamsudin noor
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pergerakan penumpang pesawat udara di Bandara Internasional Syamsudin Noor mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada triwulan III 2020 dari 1 Juli-30 September.

Bahkan, menurut data yang diterima pergerakan penumpang pesawat pada triwulan III mengalami pertumbuhan sebesar 217 persen, jika dibandingkan pada triwulan II dari 1 April-30 Juni.

Hal itu dibuktikan dengan total jumlah penumpang di Bandara Internasional Syamsudin Noor pada triwulan III yang tercatat mencapai 272.338 penumpang. Sementara, pada triwulan II tercatat hanya sebanyak 85.791 penumpang.

Walaupun begitu, Communication and Legal Section Head PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional Syamsuddin Noor Aditya Putra tak ingin menyebut bahwa kenaikan ini tergolong signifikan. Sebab, angka persentase itu naik lantaran kondisi pada triwulan II yang hanya di dominasi oleh flight kargo.



“Kalau dibilang signifikan nggak juga ya mas. Angka persentase itu naik karena pada triwulan kedua mayoritasnya adalah penerbangan kargo,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (7/10/2020) sore.

Menurut Aditya, ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan jumlah penumpang di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Salah satunya, kemudahan memenuhi persyaratan terbang yang saat ini telah diterapkan.

“Sekarang untuk memenuhi persyaratan terbang terbilang sangat mudah. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Kemudian, kita melihat perlahan kepercayaan masyarakat untuk terbang juga menunjukan tren positif,” lanjutnya.

Meningkatnya pergerakan jumlah penumpang, secara otomatis juga berpengaruh pada pergerakan pesawat.

Pada triwulan III 2020 tercatat ada 4.560 pesawat yang mendarat dan lepas landas dari bandara berjuluk “Jewel Of Borneo” tersebut. Jika dibandingkan pada triwulan II yang tercatat hanya 1.935 pesawat saja, maka telah terjadi kenaikan sebesar 136 persen.

Pergerakan kargo juga meningkat, dari 4.972.030 kilogram pada April-Juni 2020 menjadi 5.755.684 kilogram pada periode Juli-September 2020, atau tumbuh 16 persen.

“Selama triwulan III, rata-rata untuk satu harinya ada 2.960 penumpang yang dilayani di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Sedangkan, untuk pergerakan pesawat perharinya bisa mencapai 50 penerbangan,” tambah Aditya.

Saat ini, penerbangan domestik di Bandara Internasional Syamsudin Noor dilayani oleh maskapai Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Citilink, Sriwijaya Air, Batik Air, dan Express Air.

Lion Air menjadi maskapai penerbangan dosmetik dengan tujuan terbanyak, meliputi Jakarta (CGK), Surabaya (SUB), Bali (DPS), Yogyakarta (YIA), Majalengka (KJT), Semarang (SRG), Bandung (BDO), Balikpapan (BPN), dan Makassar (UPG).

Dalam operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor, kata Aditya, pihaknya terus berupaya menciptakan penerbangan yang selamat, aman, dan sehat meskipun masih dalam situasi Covid-19. Upaya pencegahan sekaligus memudahkan syarat bagi penumpang, pihaknya telah menyediakan layanan rapi test di area bandara.

“Untuk penerapan protokol kesehatan Covid-19, kita disiplin menerapkan physical distancing, wajib menggunakan masker di bandara dan pemeriksaan suhu tubuh. Petugas kita juga pakai APD. Terminal beserta area publik juga rutin didisinfektan secara berkala. Kita juga menyediakan layanan rapid test di shelter bus, dekat area kedatangan. Biayanya Rp 85 ribu,” pungkasnya.

Pihak Bandara Internasion Syamsudin Noor telah mengumumkan jadwal operasional selama Oktober 2020. Untuk setiao harinya, jam operasional bandara dimulai dari pukul 07.30-18.00 Wita. Kendati demikian, untuk layanan pemeriksaan berkas, check in, dan lain sebagainya sudah bisa sejak pukul 06.00 Wita. (kanalkalimantan.com/rico)

Reporter : Rico
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
iklan
Komentar

Ekonomi

OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit Selama Setahun

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto: Antara
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit selama setahun.

Hal ini setelah memperhatikan asesmen terakhir OJK terkait debitur restrukturisasi sejak diputuskannya rencana memperpanjang relaksasi ini pada saat Rapat Dewan Komisioner OJK pada tanggal 23 September 2020.

“Perpanjangan restrukturisasi ini sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi.

Namun kebijakan perpanjangan restrukturisasi diberikan secara selektif berdasarkan asesmen bank untuk menghindari moral hazard agar debitur tetap mau dan mampu melakukan kegiatan ekonomi dengan beradaptasi ditengah masa pandemi ini,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.



OJK segera memfinalisasi kebijakan perpanjangan restrukturisasi ini dalam bentuk POJK termasuk memperpanjang beberapa stimulus lanjutan yang terkait antara lain pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah (loan at risk) dalam penilaian tingkat kesehatan bank, governance persetujuan kredit restrukturisasi, penyesuaian pemenuhan capital conservation buffer dan penilaian kualitas Agunan yang Diambil Alih (AYDA) serta penundaan implementasi Basel III.

Realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan per tanggal 28 September 2020 sebesar Rp 904,3 Triliun untuk 7,5 juta debitur. Sementara NPL di bulan September 2020 sebesar 3,15% menurun dari bulan sebelumnya sebesar 3,22%.

Untuk menjaga prinsip kehati-hatian, bank juga telah membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang dalam 6 bulan terakhir menunjukkan kenaikan.

OJK senantiasa mencermati dinamika dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kestabilan di sektor jasa keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi nasional. (kanalkalimantan.com/ril)

Editor : kk


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Ekonomi

Sempat Melambung, ESDM Kalsel: Harga Gas 3 Kg Mulai Stabil

Diterbitkan

pada

Diunggah oleh

Gas tabung 3 Kg hanya diperuntukan untuk warga miskin. Foto: dok.kanalkalimantan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kelangkaan dan meningkatnya harga LPG (Liquified Petroleum Gas) 3 KG di Provinsi Kalimantan Selatan diklaim mulai dapat ditanggulangi.
Hal itu atas upaya pihak kepolisian yang aktif menindak para oknum penjual yang menimbun serta menjual LPG 3 Kg di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kepala Bidang Energi ESDM Kalsel Sutikno mengapreasiasi upaya tegas yang dilakukan oleh pihak kepolisian.  Menurutnya, para oknum pangkalan itu telah diberikan tindakan tegas seperti shock therapy untuk memberikan efek jera.

“Kalau ada kesalahan atau kekhilafan mungkin saat ini akan ada tindakan tegas, seperti diberi shock therapy, tetapi kalau mengulangi bisa saja dipidana, karena ini melanggar undang-undang,” ujarnya, Selasa (6/10/2020) siang.

Sutikno mengatakan mereka yang ditangkap nantinya akan dibina terkait kebijakan mendistribusikan gas bersubsidi ke masyarakat. Pihaknya meminta agen dan pangkalan mempunyai daftar orang miskin yang akan didistribusikan gas 3 Kg.



“Akan kita bina terkait LPG 3 kg ini, karena LPG 3 kg ini tidak diperjual belikan tetapi didistribusikan. Pangkalan nantinya kita minta harus mempunyai daftar orang miskin yang akan mendapat distribusi,” ujarnya.

Berdasarkan hasil evaluasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pertamina melalui pola operasi pasar di beberapa daerah, kata Sutikno, dinyatakan penjualan LPG 3 Kg dan harganya perlahan sudah mulai stabil.

“Ada 2,5 juta tabung gas yang disalurkan per bulan dan laporan Pertamina lancar dan normal. Kalau per tahun dialokasikan sekitar hampir 89.000 metrik ton atau setara hampir 89 juta kilogram, dan ini sudah sangat mencukupi untuk kuota LPG 3 Kg di Kalimantan Selatan,” paparnya.

Terakhir Sutikno membantah isu yang beredar pemerintah akan menghapuskan subsidi gas 3 Kg. Ia berharap kepada warga agar tidak panik, sebab dipastikan stok tersedia.  “Isu itu tidak benar.

Pemerintah hingga 2021 masih akan subsidi tabung gas 3 kilogram dimana dialokasikan nasional 7 juta metrik ton. Ke depan diharapkan distributor diminta untuk mendata mana warga yang berhak mendapatkan gas 3 kilogram yang disubsidi dari pemerintah. Karena ke depan, penjualan akan dilakukan semi terbuka. Artinya, bagi yang punya kartu saja yang dapat,” pungkasnya. (kanalkalimantan.com/rico)

 

Reporter: Rico
Editor : Bie


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca

Paling Banyak Dibaca

-->